Pacet: Pelajaran Hidup Berpenghasilan Kecil

Berpenghasilan kecil memang lebih banyak nggak enaknya.

Mestinya ada yang mbatin, “Ada ya enaknya?

Okelah, nggak bisa disebut “enak”. Akan tetapi, bagi yang mau, berpenghasilan kecil adalah Kawah Candradimuka untuk menempa diri. Yang menyadarkanku lewat mempekerjakan Mbak Dama dan suaminya empat tahun belakangan:

Nggak sedikit kesulitan hidup berpenghasilan kecil yang sebab-akarnya sebetulnya bukan di kecilnya penghasilan.

Kesadaran baru yang bikin aku mempertanyakan sikap dan kelakuanku sendiri selama hampir 45 tahun ini.

Mbak Dama masih terhitung tetangga meski nggak persis sebelah rumah. Penghasilan suaminya yang buruh serabutan nggak memungkinkan Mbak Dama nunggu-nunggu uang dari suami. Dia harus ikut cari uang. Apalagi dia tipe perempuan yang kalau dikasih uang suami diambil, nggak dikasih nggak bakalan minta. Diam meski beras nggak ada, uang nggak punya. Biasanya sepaket dengan nggak tega minta uang ke anak. Lagipula hobi sekaligus kebiasaan suaminya mahal: menghabiskan waktu luang ngerokok sambil ngopi.

Setelah beberapa tahun bisa kubaca raut wajahnya di hari-hari nggak punya uang buat belanja buat makan hari itu. Aku lebih tahu dibanding suami dan anak tunggalnya yang umur 20-an. Laki-laki. Sudah kerja tapi penghasilannya bahkan nggak cukup buat butuhnya sendiri. Sering pinjam aku uang lewat ibunya untuk cicilan motor. Sejak anaknya itu meninggal karena kecelakaan motor dalam perjalanan ke warung kopi bulan puasa kemarin, Mbak Dama nggak pernah lagi pinjam uang. Sebelumnya pinjam, dicicil, lunas, pinjam lagi. Nerus.

Sebelum kerja untukku Mbak Dama menghasilkan uang dari kerja buruh tani. Katanya pernah disuruh cuci baju. Juga pernah momong anaknya orang. Gaji dariku nggak banyak, 550 ribu sebulan, tapi bagi buruh serabutan, uang yang masuknya tetap ngasih kemewahan hidup. Dia mulai beli-beli baju setelah 2 tahunan.

Setelah kerja untukku 2 tahunan itu baru aku tahu rumah yang dia tinggali dibangun di atas tanah orang. Rumahnya dibangunkan desa. Jadi di lingkungan tetanggaku yang rata-rata berpenghasilan di bawah 3 juta, keluarga Mbak Dama ada di bawah dari yang bawah. Dia nggak mau masuk ke rumah tetangga-tetangga kami di pinggir jalan. Di Pacet hanya orang-orang tertentu yang bisa punya rumah di pinggir jalan. Kalau bukan karena tanah warisan atau PNS atau punya pekerjaan tetap atau petani yang tanah sawahnya ada di lebih dari satu lokasi, ya berarti bukan orang asli Pacet.

Langsung gerak cepat kucari pembantu begitu pindah ke Pacet lebih untuk cari teman. Takut cuma berdua dengan Rafi yang waktu itu umur 6 bulan. Nggak ada motor, nggak ada mobil. Suamiku datang seminggu sekali. Keluargaku nggak pernah menetap di sini. Sampai ibuku meninggal tahun 2014 aku cuma 4-5 kali ke rumah ini. Itupun nggak selalu bermalam. Aku nggak kenal siapa-siapa selain Mbak Mul, tukang pijat buta langganan ibuku, dan Pak Pur, pekerja serabutan yang sangat disukai bapakku. Aku minta tolong Mbak Mul mencarikan orang yang mau datang ke rumahku jam 9-10 pagi, nandangi pekerjaan rumah, aku yang momong Rafi, jam 4-5 sore pulang, Minggu libur.

Deskripsi kerja yang seperti itu umurnya cuma 2 hari. Nggak nyamannya Mbak Dama dirumahku nggak mungkin kucuekin. Dia nggak mau duduk, nggak mau makan. Terus aja Rafi dia gendong di luar rumah. Rafi tidur pun tetap dia gendong. Karena pada dasarnya yang kubutuhkan tetangga –bisa kumintai tolong sewaktu-waktu– kuputuskan untuk nggak memberhentikan Mbak Dama. Juga nggak nunggu dia mengundurkan diri. Aku ngalah. Kusuruh dia datang pagi untuk nyapu luar rumah dan nyuci baju. Nggak sampai sejam selesai. Setelah itu kusuruh dia momong Rafi di rumahnya. Jam 5 Rafi diantarnya pulang. Seperti itu sampai sekarang. Kalau nggak gitu nggak mungkin dia bertahan 4 tahun meskipun dia sangat butuh uangnya.

Kalau kuingat-ingat lagi bulan-bulan pertama kenal, ada begitu banyak yang nggak umum kulihat di seorang pembantu dan seorang miskin sebelum kenal dia. Sejak kecil hampir selalu ada pembantu di rumah ibuku. Keluarga besar ibuku banyak yang miskin. Seiring kenaikan pangkat bapakku, kami lumayan terbiasa dengan ajudan dan karyawan sipil yang bantu-bantu di rumah dinas. Sebagian besar dari mereka melayani kami dengan senang hati. Disuruh ataupun nggak. Beberapa terus menjaga hubungan baik dengan bapak-ibuku sampai meninggalnya. Aku nggak lihat itu di Mbak Dama, suami dan anak laki-lakinya. Mereka mati-matian menghindari interaksi dengan orang-orang yang mereka nilai ada di atas mereka. Kesimpulan pertamaku mereka minder. Tapi kupikir lagi, it doesn’t quite explain it. Mindernya itu berakar dari ekspektasi diperlakukan sebagai setara. Tersinggung tiap kali diperlakukan sebagai seseorang yang harus dibantu kecuali kalau yang memperlakukan seperti itu badan pemerintah.

Contoh:

Sepupuku Mbak Titik sering nginap di rumah. Mbak Titik ini ahli sedekah. Semua pengamen dan pengemis yang dia temui dikasihnya uang. Ke rumah siapapun bawa buah tangan. Kalau ada anak kecilnya, pasti ninggali paling nggak 10 ribu seorang. Kalau dia datang kulkasku penuh terisi. Kalau dia pulang aku libur masak sampai berhari-hari setelahnya. Semua orang yang datang ke rumahnya pulangnya dibawai masakan atau makanan (Mbak Dama emoh-emoh tenan dikasih masakan sama Mbak Titik). Tetanggaku pulang haji loh Mbak Titik datang bawa gula 4 kilo!

Suatu hari, pas lagi nginap, Mbak Titik belanja ke warung Mbak Ari, ngelewati masjid, pas suami Mbak Dama lagi bersih-bersih masjid. Itu pemasukan rutinnya, bersih-bersih masjid tiap Jumat. Spontan Mbak Titik buka dompet, ngeluarkan 20 ribu, dikasihkan suami Mbak Dama. Nggak sampai sejam setelahnya Mbak Dama datang ke rumah bawa ubi sekarung buat Mbak Titik. Bikin Mbak Titik sangat nggak enak sekaligus kapok.

Bulan-bulan pertama denganku Mbak Dama jelas nampak nggak senang kukasih makanan atau barang. Beda dengan kalau kukasih upah tambahan karena rumah disewa atau aku ketamuan rombongan. Rafi makannya ikut Mbak Dama karena dia nggak suka Rafi kubawakan nasi, lauk dan peranti makan dari rumah. “Di rumah[ku] juga ada.” Aku ngalah.

Kakunya Mbak Dama itu luntur pelan-pelan seiring makin kenal, makin akrab denganku. Sikapnya kalau kukasih masakan atau bahan makanan nggak lagi seperti bulan-bulan pertama dulu. Nada suaranya mengucapkan ‘terima kasih’ beda. Berani minta barang yang nggak kupakai. Dengan senang hati bawa barang-barang sampah di rumahku yang laku dirombeng. Baru-baru ini –setelah baju-baju nggak kepakai kutaruh gitu aja depan rumah dan diambil tetangga—dia mengekspresikan keberatan barang-barangku yang nggak kepakai diambil orang lain.

Yang sangat menggangguku adalah respon Mbak Dama terutama suaminya ke perintah. Mbak Dama pernah membentakku karena kularang membuang popok Rafi di sungai. Dia betul-betul percaya membuang popok bayi di tempat sampah bikin penyakit ke si anak. Kalau kusuruh ketika dia sedang mengerjakan sesuatu, jawabnya selalu “nanti”. Meskipun apa yang kuperintahkan segera dia kerjakan begitu apapun itu yang sedang dia kerjakan selesai, itu jawaban yang menurutku nggak pantas. Aku nggak akan pakai kata itu kalau disuruh manajerku. Suaminya kusuruh melepas pagar bambu (yang dia pasang tanpa kusuruh), nggak mau. Alasannya dibuat-buat. Alasan sesungguhnya adalah dia nggak mau disuruh melepas pagar yang dia pasang atas kemauannya sendiri. Jadi yang nggak kuperintahkan dia kerjakan, yang kuperintahkan dibantahnya. Anaknya sempat kerja dengan gaji 900 ribu sebulan entah di pabrik apa. Uang segitu bisa merubah kehidupan mereka sekeluarga. Berhenti. Lebih milih kerja di bengkel pakliknya dekat rumah dengan upah mingguan yang sudah lebih rendah nggak tentu pula. Ada garapan dibayar, nggak ada ya nggak. Sekilas kelihatan seperti malas. Bukan.

Suami Mbak Dama masang pagar bambu yang kusuruh mbongkar tadi setelah suatu hari Rafi keluar sendiri ke jalan raya. Waktu itu umurnya baru 2 tahunan. Belum tahu bahayanya jalan raya. Tanpa kusuruh dia nanam singkong di pekaranganku. Tanpa kusuruh dia negakkan pohon pisang yang hampir roboh, memotong buahnya lalu ditatanya di garasi atau di teras. Mbak Dama yang nutup dengan glangsing biar lekas matang. Di depan rumahnya ada sepetak tanah kosong. Dia tanami singkong, terong, cabe, bayam, kacang panjang, tomat. Di tanah kosong di samping dan belakang rumahnya ditanami pisang dan rambutan. Mbak Dama sendiri kusuruh seminggu libur sehari, harinya kusuruh pilih sendiri, nggak mau. Lebaran kukasih libur seminggu, dapat 3 hari datang bilang kangen Rafi. Kalau dia nggak datang berarti hari raya kurban atau dia lagi sakit yang berdiri pun dia nggak sanggup atau diminta tolong rewang di rumah saudaranya atau tetangga dekatnya meninggal.

Sikap negatif ke perintah ini juga mereka tunjukkan antar mereka sendiri. Bukan hanya dalam hal menerima perintah tapi juga memberi perintah. Mbak Dama hampir nggak pernah nyuruh apapun ke suami dan anaknya. Saat dia betul-betul butuh tenaga mereka, jadi terpaksa nyuruh, mereka banyak nggak maunya. Harus menyangkut butuhnya/sukanya mereka sendiri. Mbak Dama kalau butuh bantuan larinya ke salah satu keponakan perempuannya yang ringan tangan dan murah hati.

Nyuruh yang hanya membutuhkan tenaga dan waktu aja Mbak Dama mikirnya 7× apalagi nyuruh sesuatu ke anak apalagi suami demi kebaikan sekeluarga. Gitu juga anak dan suaminya ke Mbak Dama. Memerintahkan sesuatu demi kebaikan bersama berarti menundukkan kehendak individu. Bagi mereka itu pantangan, kurang ajar. Aku melihatnya sebagai kebijakan dont’t ask don’t tell yang kebablasan. Antar anggota keluarga nggak ada ekspektasi, nggak ada feedback.

Jadi jangan bayangkan orang-orang malas. Bayangkan orang-orang yang jiwanya berontak tiap kali merasa berada di bawah kuasa orang lain. Bagi mereka cue ada di bawah kuasa orang lain adalah diperintah oleh orang itu khususnya diperintah oleh orang-orang yang secara sosial-ekonomi ada di atas mereka. Kalau “perintah” ini datangnya dari keluarga atau tetangga dekat, orang-orang yang mereka merasa dekat/akrab, mereka nggak merasa terancam. Mereka melihatnya sebagai request. Lebih banyak nggak diturutinya tapi juga nggak sampai bikin mereka tersinggung.

Kalau harus kusimpulkan:

Sikap dan prilaku mereka kelewat disetir kebutuhan untuk bebas berkehendak sekaligus kebutuhan merasa akrab, merasa dekat, karena itu yang membuat mereka merasa diterima sebagai setara oleh orang lain. Itu sesungguhnya melumpuhkan kemampuan membuat pilihan dan mengambil keputusan yang menguntungkan karena bikin hitung-hitungan di kepala kita mbleset semua. Apa yang kita yakini baik dan benar jadi nggak tune-in dengan dunia nyata yang hirarkis.

Dalam Bahasa Populer: mereka nggak mau keluar dari zona nyaman.

Tunggu, tunggu;

Nggak adil kalau kita memvonis nggak mau. Ada banyak hal di dunia ini yang nggak bisa dipasrahkan ke kemauan individu. Keluar dari kemiskinan menurutku salah satunya. Mungkin yang lebih tepat: mereka nggak cukup diperlengkapi skill dan tool yang membuat mereka berani ambil resiko dan kuat hati nanggung konsekwensi tidak menyenangkan keluar dari zona nyaman sekarang demi masuk ke zona baru yang jauh lebih nyaman nanti. Karena jembatan penghubung antara zona nyaman sekarang dengan zona yang jauh lebih nyaman di masa depan adalah ketidaknyamanan.

Semua yang kutulis dengan huruf tebal yang menurutku akar-sebab sebagian dari kesulitan hidup berpenghasilan kecil. Aku bukannya nampik nominal uang masuk yang sedikit bukan masalah. Upah minimum itu masalah besar bagi kita yang ingin hidup sebagai dan di antara kelas menengah. But rather, yang kutulis tebal itu bikin kesulitan hidup dengan penghasilan kecil menjadi berlipat-lipat sulitnya.

Aku bisa bilang gitu karena setelah kupikir betul-betul, menelusuri perjalanan hidupku, mengesampingkan ego, aku pun melakukan apa yang mereka lakukan. Tidak dalam bentuk yang persis sama tapi pada prinsipnya sama aja karena hasilnya kurang-lebih sama. Hanya saja di aku ketutupan sama intelekku, harta warisanku dan suami, status sosial-ekonomi bapakku dan bantuan keluarga besarku dalam berbagai bentuk dan rupa. Kalau beneran niat menaikkan tingkat penghasilan, aku harus menghindari semua yang kutulis tebal.

Kujelaskan di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s