12 Rules for a Higher Income (Part 1)

Memperbaiki keuangan rumah tangga non-PNS kurang dari 10 juta mensyaratkan naiknya tingkat penghasilan yang ternyata nggak cukup dengan ngirim 200-an lamaran untuk dapat pekerjaan atau dapat tempat kerja baru yang gajinya lebih besar. Bahkan menaikkan tingkat pendidikan pun nggak lagi ampuh menaikkan tingkat penghasilan di jaman kita ini. Beda dengan 3-5 dekade lalu.

Ada 12 area yang menurutku harus digarap. Not each and every one of them translate into money coming in but they do set yourself up for a higher income. Kuurut berdasarkan urutan aku menyebutkannya dalam potret nyata kehidupan sehari-hari sebuah keluarga yang kugambarkan di sini.

Meski enam yang kusebut di bawah dan enam berikutnya di Bagian 2 kujelaskan dari sudut pandang IRT, secara umum sama berlakunya untuk lajang. Mestinya lebih gampang karena nggak perlu ngelewati konflik kepentingan dengan suami atau istri.

1#Hard conversations on money

Jangan berharap tingkat penghasilan naik selama kita sekeluarga nggak sepakat atau bahkan nggak nyadar bahwa tingkat penghasilan yang sekarang ini kurang atau menyengsarakan. Nggak sepakat atau nggak nyadarnya ini mungkin karena:

Satu: Rumah tangga kita belum sepenuhnya berdiri di atas kaki sendiri. Masih disokong orang tua atau mertua dalam berbagai bentuk dan rupa. Seperti gadisku dulu; penghasilan kelas bawah tapi berasa kelas menengah karena mobil tinggal pakai, nggak perlu pusing ngumpulkan uang buat DP, penghasilan nggak kepotong separuh buat cicilan rumah.

Dua: Belum ada anak. Jadi nggak mikir biaya melahirkan, ikan salmon, popok, susu, kelengkapan bayi yang ngalah-ngalahi kelengkapan haji, buku dan mainan edukatif, uang masuk sekolah dan SPP, opname gara-gara diare, multivitamin dan obat dokter.

Tiga: Belum kepentok. Pada umumnya orang cenderung ngentengkan kalau belum ngerasakan sendiri sengsaranya pensiun tanpa penghasilan, belum ngerasakan kalutnya kehilangan penghasilan saat anak masih kecil-kecil.

Empat: Pemikiran si istri tentang pembiayaan hidup berumah-tangga terbatas di masak-masak, peralatan dapur, beli-beli baju, mepek’i rumah dengan perabotan dan barang elektronik, listrik-air-pulsa-iuran RT.

Lima: Si kepala keluarga merasa tugasnya sebagai pencari nafkah selesai dengan menyerahkan 100% gajinya ke istri. Mulai dari urusan belanja buat makan sampai urusan nabung buat beli rumah ditaruh di pundak istri. Lalu si istri, karena merasa diserahi seluruh penghasilan suami, menjadikan cukup nggak cukupnya penghasilan si suami sebagai tanggung-jawabnya pribadi. Kalau kurang cari-cari uang sendiri buat nutup defisit. Yang nggak bisa cari uang sendiri terpaksa diam, pusing sendiri, stres sendiri.

Kita nggak akan betul-betul paham seberapa nilai uang di tangan kita sampai kita ambil tanggung-jawab penuh atas pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Seluruh anggota keluarga harus paham tingkat penghasilan yang sekarang ini cukupnya buat:

  • Makan tiga kali sehari dengan tahu-tempe-telur atau dengan daging-ayam-ikan laut?
  • Beli baju baru tiap bulan di Matahari Department Store atau hanya pas Lebaran di pasar?
  • Nyicil rumah subsidi di kawasan jin buang anak atau rumah bergaya minimalis di perumahan pinggiran kota yang jalannya sudah diaspal dan lebarnya cukup buat parkir mobil dikelilingi minimarket pula?
  • Ke mana-mana sepeda motoran, mudiknya naik bis, atau suami-istri pegang motor sendiri-sendiri, di garasi ada mobil untuk jalan-jalan sekeluarga di hari Minggu?
  • Anak-anak sekolah di sekolah negeri yang pulangnya tengah hari atau sekolah swasta Islam yang jam belajarnya dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore?
  • Nerus sampai sarjana di universitas bergengsi sambil cari jodoh atau ambil diploma di akademi swasta nggak dikenal dengan orientasi nang lulus nang kerja?

Jangan berharap suami dan anak ngerti-ngerti sendiri. Apalagi suami yang nggak tahu harga-harga sembako dan lauk-pauk. Menurutku jalan paling lempeng menuju kesepahaman antara suami, istri dan anak-anak yang sudah besar adalah dengan menyatukan kepala menyusun anggaran di awal bulan. Jadi ribet memang. Harus siap ribut. Tapi dengan begitu semua jadi tahu bulan ini pemasukan berapa, mau dipakai buat apa aja, all the while holding each other accountable.

Rutinitas seperti itu membuka jalan untuk omong-omongan yang lebih berat seperti perlu nggaknya istri bekerja, perlu-nggaknya suami cari penghasilan tambahan, mengorbankan pengeluaran X dan Y demi pengeluaran Z, pentingnya punya dana darurat, menyiapkan anak-anak untuk bantu-bantu membiayai kuliahnya sendiri, memastikan rumah satu-satunya menjadi hak milik anak yang mau menanggung dan merawat kita di hari tua, dan sebagainya.

2#Money-generating hobbies

Nggak harus hobi yang menghasilkan sesuatu yang bisa dijual. Pastikan saja kita tidak selama bertahun-tahun dari hari ke hari mengisi waktu luang melakukan yang jelas-jelas hanya membunuh waktu kosong dan/atau menghabis-habiskan uang meskipun kita sangat menikmatinya. Yang langsung terlintas di kepalaku sih merokok, cangkruk di warung kopi, nyusur media sosial, nonton TV, cuci mata di mal, jalan-jalan, kumpul-kumpul.

Bukannya nggak boleh. Berusahalah tetap mengundang uang masuk meskipun tidak sedang bekerja. Kalau dengan cangkruk di warung kopi kita jadi kenal orang-orang yang bisa membantu mencarikan pekerjaan yang lebih baik atau ngasih penghasilan tambahan, by all means, cangkruklah. Tapi kalau nggak, cangkruklah di tempat lain yang sekiranya bisa sekalian networking. Kalau kita menghabiskan 6 jam sehari di media sosial untuk belajar content marketing atau digital marketing secara otodidak dengan metode learning by doing, kalungkan itu smartphone di leher. Tapi kalau nggak, jangan diterus-teruskan melototi smartphone tanpa tujuan sampai 6 jam setiap hari.

Lihat waktu luang sebagai uang tak kasat mata yang bisa kita investasikan. Tanam di kegiatan yang langsung nggak langsung bisa membantu kita menaikkan penghasilan dalam 2-3 tahun.

3#Do what it takes

Yaitu mau melakukan yang tidak kita sukai, yang terasa berat, yang terasa sulit tapi perlu demi memperbaiki keuangan.

Berapapun labanya aku nggak bisa senang menghasilkan uang dari menyewakan rumah yang kutinggali. Menyiapkan rumah untuk check-in ready dan mengembalikan ke keadaannya semula setelah penyewa check-out betul-betul merepotkan. Aku sebel lahir-batin ke nerjemahkan. Berjual-beli dengan orang-orang yang kalau nggak nawar badannya panas, nawarnya nggak lihat-lihat kualitas barang dan harga pasar, bikin darahku mendidih. Tapi tiga pintu itu yang jelas-jelas mendatangkan uang sejak aku berhenti ngajar. Kalau pingin uang yang masuk naik, harus mau melakukan yang lebih tidak kusukai, yang lebih berat, yang lebih sulit, di tiap-tiap pintu. Jualan barang bekas misalnya, aku harus lebih agresif men-sourcing barang (nggak nunggu decluttering tahunan atau dikasih lungsuran), mau repot me-listing di lebih dari satu marketplace, mau belajar seni tawar-menawar.

Bagi orang lain ‘do what it takes’ mungkin nggak mengundurkan diri dulu dari pekerjaan yang sekarang sampai dapat pekerjaan baru. Yang sudah punya pekerjaan tapi ingin hidup dari usaha sendiri mungkin harus kerja sampai tengah malam, tanpa hari libur, demi menguji-coba ide usahanya, memastikan usahanya menguntungkan sebelum terjun fulltime. Bagi IRT mungkin ngalahkan rasa malu nggedor pintu rumah tetangga ke tetangga demi cari orderan pesanan kue.

Prinsipnya gini, makin tinggi kenaikan penghasilan yang kita harapkan, makin banyak juga yang kita nggak suka, yang berat, yang sulit, yang harus kita lakoni.

4#Social circles

Tingkat penghasilan kita yang sekarang berkaitan langsung dengan orang-orang yang ada dalam hidup kita sekarang. Contoh lingkar sosial: keluarga besar, komunitas tetangga, orang-orang yang saling kenal karena urusan pekerjaan, teman-teman sekolah sampai kuliah, orang-orang yang sepemikiran di media sosial; macam-macam. Nah, kebanyakan orang ada di lingkar-lingkar sosialnya yang sekarang semata-mata karena kebetulan, bukan karena niat memperbaiki taraf hidup.

Bagaimanapun awal-mula keterlibatan kita di sebuah lingkar sosial atau komunitas, selama kita berinteraksi dengan mereka, pasti ada pengaruhnya ke tingkat penghasilan. Makin dalam keterlibatan kita, makin besar pengaruhnya. Bisa dalam artian ngangkat, bisa juga menjongkrokkan.

Dengan logika itu, selama kita hanya mau berinteraksi dengan lingkar-lingkar sosial kita yang sekarang, yang kita masuknya ke sana karena kebetulan, tingkat penghasilan juga ngetem di situ-situ aja.

Prinsipnya adalah jangan hanya mencari nyambung, nyaman, akrab dan guyub dalam berinteraksi sosial. Gumbulnya jangan cuma dengan saudara, teman sekolah dan teman kerja. Cari lingkar-lingkar sosial yang bisa berkontribusi ke upaya kita menaikkan penghasilan. Setiap lingkar sosial pasti punya entry supaya orang baru bisa masuk. Lalu ada hukum alam; mereka yang berpenampilan menarik, berkepribadian menyenangkan dan skillful lebih gampang keluar-masuk lingkar sosial yang berbeda-beda.

5#Nyalahi stereotype

Yang namanya stereotype berakar dari konflik nilai antara dua kelompok. Biasanya jadi penilaian negatif satu kelompok ke kelompok satunya. Setiap orang berpenghasilan tinggi pasti punya stereotype yang mereka labelkan ke orang-orang berpenghasilan kecil. Dan sebaliknya. Yang penghasilannya tinggi biasanya menilai mereka yang berpenghasilan kecil sebagai pemalas sementara yang penghasilannya kecil biasanya menilai mereka yang berpenghasilan tinggi sebagai eksploitatif dan manipulatif. Semakin tampilan, bahasa, sikap, gerak-gerik dan prilaku kita meneguhkan stereotype yang menyelimuti IRT, profesi non-PNS, pekerja sektor informal, penghasilan nggak tetap, penghasilan UMR, usaha rumahan dan semua yang dekat dengan penghasilan kecil, makin berat juga upaya kita menaikkan tingkat penghasilan.

Gini:

Untuk naik tingkat penghasilan kita butuh penerimaan dan pengakuan orang-orang yang posisinya di atas kita. Nggak melulu dalam artian kelas sosial ekonomi. Manajer HRD mestinya kelas sosial-ekonominya nggak beda jauh dengan mahasiswi baru lulus (kuliahnya dibiayai orang tua). Tapi dalam posisi pelamar, si manajer HRD ini jelas di atas kan. Cara tercepat menuju penerimaan-pengakuan si manajer adalah dengan menunjukkan bahwa dia bukan tipikal freshgraduate. Rontokkan itu stereotype di kepala si manajer tentang seorang anak muda yang baru lulus kuliah.

Kenali stereotype tentang orang-orang dan rumah tangga-rumah tangga berpenghasilan kecil. Jadikan diri dan rumah tangga kita antithesis strereotype-stereotype itu.

6#Service-oriented

Ini hukum alam: sikap dan prilaku “melayani” mengundang uang masuk. Melayani kutulis dalam tanda kutip karena secara umum maknanya dikaitkan dengan apa yang dilakukan seseorang yang posisinya di bawah untuk seseorang yang posisinya di atas dalam sebuah hubungan kekuasaan. Nggak harus seperti itu.

Sebagai seseorang yang ngerti ajarannya Dave Ramsey aku melayani IRT-IRT yang nggak punya dasar keuangan tapi harus mengelola penghasilan suaminya. Sebagai pemilik rumah yang disewakan aku melayani orang-orang hemat (dan organisasi beranggaran mepet) yang butuh tempat untuk berbagai macam acara karena rumahnya sendiri nggak cukup representatif. Sekaligus melayani kebutuhan tetangga-tetanggaku akan uang tambahan. Dengan menjual barang bekas aku melayani orang-orang yang juga hemat atau beranggaran mepet atau kecanduan barang nyaris gratis. Dalam hubungan-hubungan itu kan posisiku nggak lantas di bawah.

Waktu masih ngajar pun aku terbiasa dengan kerja pelayanan; melayani permintaan staf marketing untuk teaching demo. Memang nggak dibayar tapi dengan tumbuhnya respect+trust antara aku dan staf marketing tadi, dia juga makin pe-de menjual program-program yang kupegang. Itu yang pada gilirannya pengaruh ke honorku.


Enam berikutnya kusimpan untuk Bagian 2.