12 Rules for a Higher Income (Part 2)

Semua yang kutulis di bawah adalah prinsip-prinsip besar menjalani hidup sehari-hari demi tingkat penghasilan yang lebih tinggi. Kalau terasa ngglambyar, baca dulu keseharian sebuah keluarga miskin yang kutulis di sini. Ada 12 prinsip yang bisa kutarik dari keseharian mereka. Enam yang pertama bisa dibaca di sini. Enam di bawah ini lanjutannya.

Langsung aja.

7#“Sebagian dari kamu dilebihkan dari sebagian yang lain”

Kelas-kelas sosial-ekonomi ada untuk sebuah fungsi. Adanya orang-orang yang lebih ditinggikan, lebih diutamakan, dapat lebih banyak dari dunia ini dibanding kita bukannya tanpa sebab, bukannya tanpa tujuan. Mempelajari sebab-sebab dan tujuan-tujuan itu lebih menguntungkan dibanding menghabiskan umur meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa semua orang sama dan sederajat. Atau dengan kata lain yang didapat setiap orang dari dunia harusnya juga sama lalu kecewa dunia-akhirat karena kenyataannya kan nggak.

Menolak menerima kenyataan cuma bikin kita buta sama kekuatan/kelebihan/keunggulan orang-orang di atas kita. Kalau orang-orang seperti itu ada di sekitar kita, daripada mati-matian menghindar atau ngeyel kita sama saja dengan mereka, lebih baik amati, pelajari kebiasaan-kebiasaannya, cara-caranya, apa yang penting dan perlu bagi mereka, apa yang mereka suka dan apa yang mereka nggak suka. Pilih yang bisa kita tiru. Jangan takut bikin penyesuaian yang memperhatikan kelebihan/kekuatan/keunggulan kita sendiri.

Aku punya seorang teman yang sangat kukagumi. Baginya tiada hari tanpa to-do list. Nggak tidur sebelum to-do listnya tuntas meski harus tidur lewat tengah malam. Yang dia taruh di to-do list-nya hanya yang akan memastikan dirinya stand-out di mata bosnya, dosen-dosennya –orang-orang yang bisa membawanya ke tempat lebih tinggi. Meski kemampuan akademis kami setali tiga uang, mana boleh aku iri atau heran lihat karirnya melesat? Aku nggak akan bisa niru persis, tapi menjalani hari dengan to-do list berisi 1-3 item yang memastikan aku menghasilkan produk yang dampaknya gede (karena kelebihanku di situ) mestinya bisa.

8#Deep-rooted gratitude

Sebagaimana halnya mentalitas dan prilaku melayani, mentalitas dan prilaku syukur mengundang apapun itu yang kita syukuri terus mengalir masuk ke dalam hidup kita. Mata yang bersinar karena makanan yang dimasakkan istri, yang dikasih tetangga, yang dipajang di etalase RM Padang (meski nggak beli), menunjukkan penghargaan yang sama ke tempe dan daging, menghabiskan yang ada di piring, tidak membuang-buang makanan, itu semua bikin makanan berdatangan dari empat penjuru mata angin. Kita bahkan nggak perlu cari, nggak perlu minta. Makin kuat dan dalam rasa syukur kita, makin deras juga ngalirnya. Gitu juga dengan uang. Menunjukkan penghargaan yang sama ke uang 5 ribu maupun 5 juta darimanapun datangnya (asal halal) akan memastikan uang terus mengalir masuk.

Tolong diingat hukum alam nggak bisa dibohongi. Jadi nggak usah repot-repot “berusaha” bersyukur. Yang kita bicarakan di sini rasa syukur yang terpancar dari tatapan mata, dari kata-kata yang kita pilih ketika membicarakannya dan yang ditampakkan perlakuan kita atas apapun itu yang kita syukuri. Gratitude bleeds in how we talk about something and what we do with it.

Sekarang, apa hubungannya dengan menaikkan tingkat penghasilan?

Tingkat penghasilan ditentukan kemampuan, kompetensi, ketrampilan, keahlian, kesempatan, mindset progresif, berani ambil resiko, pantang menyerah, cepat menyesuaikan diri dan semacamnya. Lha yang namanya kemampuan, kompetensi, ketrampilan dan keahlian tumbuhnya kan karena tantangan dan kesulitan. Mari dipikir sendiri-sendiri apa yang ditunjukkan sikap dan perlakuan kita selama ini ke tantangan dan kesulitan; syukurkah atau merasa ketiban sial?

Lalu mindset progresif, berani ambil resiko dan lain-lain. Itu semua adanya di orang-orang yang nggak cari aman dan nyamannya hidup. Sama, silakan diukur sendiri-sendiri seberapa besar kebutuhan kita akan aman (=nggak ada yang nyalahkan, nggak ada yang mengkritik) dan nyaman (=nggak perlu merubah diri, nggak perlu menyesuaikan diri). Makin besar kebutuhan kita akan aman dan nyaman, makin tipis syukur kita ke perubahan dan pembaharuan. Nggak mungkin aja penghasilan naik tanpa ada yang berubah sama sekali yang mendahuluinya.

Terakhir, seberapa besar syukur kita atas keberadaan orang-orang yang mau membayar kita dan orang-orang yang bisa mengantar kita ke orang-orang yang mau membayar kita?

9#Over-deliver in getting things done (for other people)

Tempatkan harapan dan ekspektasi orang-orang yang mau membayar kita di atas harapan dan ekspektasi kita sendiri. Pada kenyataannya harapan dan ekspektasi mereka memang lebih penting kalau yang kita bicarakan uang. Lain lagi kalau yang kita bicarakan kepuasan batin. Kerja untuk diri sendiri atau punya usaha sendiri sama sekali nggak berarti bebas dari hukum ini. Cuma beda orang aja. Yang karyawan berarti harapan dan ekspektasinya supervisor, manajer, pemilik perusahaan, majikan. Yang kerjanya dagang atau usaha berarti harapan dan ekspektasinya para pembeli, prospek, pangsa pasar. Yang kerja untuk dirinya sendiri berarti harapan dan ekspektasinya klien.

Kasih sebelum orang-orang ini minta. Mereka mengharapkan satu, kita kasih satu setengah. Jangan berhenti di menjadi karyawan yang baik, yang jujur, nggak pernah telat, nggak pernah bolos. Jadilah karyawan yang menaikkan pendapatan perusahaan, yang bisa menyelesaikan proyek-proyek sulit. Jadilah pedagang/pengusaha yang menjual produk yang memecahkan masalah, yang susah disaingi harga dan kualitasnya, yang pelayanan purna jualnya bikin pembeli beli lagi beli lagi, dan seterusnya.

Ada satu lagi golongan orang yang perlu dapat perhatian khusus: orang-orang yang bisa mengantar kita ke orang-orang yang mau membayar kita. Nggak perlu super peka sama harapan dan ekspektasi mereka. Pastikan aja mereka suka sama kita. Usaha modes ibu mentorku yang keturunan Cina jadi jujugan ibu-ibu pejabat Jawa Timur karena dia pandai membangun hubungan baik dengan para supir dinas. Nggak pakai nyogok atau semacamnya. Modalnya fasih berbahasa Jawa, sangat menyenangkan diajak ngobrol dan ramah-akrab ke para supir dinas itu tadi. Gitu aja mereka sudah merasa diistimewakan. Para supir ini terlalu terbiasa dianggap nggak ada.

10#Home is the training center

Keluarga adalah unit kerja. Seberapa bagus kinerjanya pengaruh langsung ke keuangan. Yang kumaksud bukan suami mencari nafkah, istri mengurus rumah dan anak, anak sekolah. Juga bukan suami-istri sama-sama mencari nafkah atau suami mencari nafkah istri mencari uang tambahan dari rumah. Kalau dibaca baik-baik, semua yang kutulis melepas tingkat penghasilan dari uang.

Ada mindset, prilaku dan kebiasaan yang akan terus mempertahankan kita bahkan keturunan kita di tingkat penghasilan kecil. Yang paling kentara: hanya mau melakukan yang disuka. Sistem pengambilan keputusan yang diatur perasaan nggak akan ngantar kita ke mana-mana. You’ll stay where you are. Yang ada life happens to us. We don’t make things happen.

Nah, di pada umumnya orang, mindset-prilaku-kebiasaan yang beroperasi seumur hidup adalah yang dipelajari di rumah saat tumbuh-besar. Berpikirlah kritis. Kalau kita menginginkan kehidupan yang lebih baik dari yang dicapai orang tua, kenapa yang kita pelajari di rumah orang tua kita terus-teruskan? Kalau konteks dan jaman kita sama sekali berbeda dengan konteks dan jamannya orang tua, apa yang bikin kita yakin dengan menerapkan mindset-prilaku-kebiasaan yang mereka ajarkan hasilnya akan sama seperti yang dicapai orang tua?

Jadi yang kumaksud di sini adalah unit kerja pelatihan; menjadikan rumah dan keluarga sebagai pusat skill-building, membentuk kebiasaan baru, sistem dan routine yang mendukung upaya kita menaikkan penghasilan dalam konteks kita. Bukan hanya di anak tapi juga di diri orang-orang dewasanya. Merencanakan hari dengan to-do list dan merencanakan pengeluaran dengan anggaran bulanan (yang orientasinya jangka panjang) adalah salah dua yang mendukung upaya menaikkan penghasilan. Yang bisa meng-enforce dua itu bukan dunia sekolah atau dunia kerja tapi dunia rumah.

11#Serve persons of wealth and/or power

Soal ada di bawah kuasa orang lain. Itu bukan sesuatu yang buruk dalam dirinya sendiri. Tarik aja ke tingkatan lebih tinggi kalau nggak percaya. Tanpa kuasa besar yang ditaruh di tangan pemerintah, penegak hukum dan militer, gimana jutaan orang bisa hidup aman, tertib dan damai? Tanpa kuasa yang ditaruh di tangan orang tua, gimana anak-anak bisa tumbuh sehat dan bahagia? Tanpa kuasa yang ditaruh di tangan manajemen, gimana usaha bisa jalan? Mematuhi perintah-perintah pihak yang berwenang menghasilkan kebaikan bersama. Mematuhi perintah orang-orang yang lebih tahu, lebih berpengalaman, ilmunya lebih tinggi atau yang bertanggung-jawab atas kita justru meninggikan. Kepatuhan demi kepentingan yang lebih besar itu memuliakan.

Gini lho, kemampuan aja nggak cukup untuk menaikkan penghasilan kecuali nggak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menandingi kemampuan kita tadi. Kita butuh orang yang punya kuasa dan/atau kekayaan. Mereka yang bisa ngasih kesempatan.

Jadi kalau ada orang-orang seperti itu di keluarga besar, di lingkungan tetangga, teman-teman sekolah, di lingkungan kerja, ijinkan mereka berkuasa atas kita. Masuklah dalam sphere of influencenya. Patuhi perintah-perintahnya. Pastikan aja, satu, kekuasaan dan kekayaan mereka berpondasikan karakter dan iman, dua, pelayanan kita berpondasikan skill dan expertise. Selama mereka ini orang-orang yang juga melayani kepentingan yang lebih besar, dan selama yang bisa kita tawarkan jauh lebih bernilai dari sekedar tenaga dan waktu kita, nggak usah khawatir diplokotho [=dimanfaatkan]. Mereka naik, kita pun ikut naik.

12#Actions speak louder than words

Bagi kita yang tumbuh besar berkecukupan dan berpendidikan tinggi, dikasihani karena berpenghasilan kecil setelah dewasa khususnya setelah menikah memang bikin depresi. Dikasihani dan direndahkan beda tipis. Manusiawi ‘lah kalau menolak dikasihani. Hanya saja, belajar dari keseharian keluarga miskin di sekitarku, juga belajar dari pengalamanku pribadi, satu-satunya yang bisa bikin orang berhenti mengasihani adalah konsisten nunjukkan bahwa kita berusaha keras menaikkan tingkat penghasilan. Kita bukannya diam, pasrah nunggu keajaiban dari langit. Dan yang paling penting: bisa nunjukkan hasil.

Menurutku dikasihani orang bisa jadi barometer ngukur cukup keras-cerdas nggaknya ikhtiar kita menaikkan penghasilan. Orang lebih bisa obyektif dalam menilai kita dibanding kita sendiri. Bagi kita ikhtiar mungkin sudah pol-polan. Selama orang masih mengasihani berarti belum bisa menunjukkan hasil. Selama belum bisa menunjukkan hasil berarti usaha kita belum cukup. Atau bisa jadi kurang strategis. Coba tempatkan diri di orang-orang yang mengasihani tadi. What did our actions in the past 1-3 years say to them? Apa yang bisa kita tunjukkan ke mereka? Apa yang nampak di mata mereka?

Aku bukannya bilang kita harus menempatkan pikiran-penilaian orang di atas segalanya. Yang ingin kukatakan adalah cobalah untuk menjadi result-oriented. Mereka yang idealis –aku misalnya—cenderung mengesampingkan hasil demi menghidupkan ideal-idealnya sendiri, yang kita rasa-rasakan sendiri. Bener nggak?

Kehendak yang tidak bisa membuktikan dirinya dengan hasil (yang kelihatan mata orang) setelah sekian tahun jangan dihidup-hidupkan di angan. Kasih diri sendiri deadline.


Teruslah berikhtiar memperbaiki kehidupan. Dalam pengertian sosial-ekonomi atau dalam pengertian lain. Bahkan meskipun ikhtiar kita nggak ngasih hasil yang kita kehendaki karena nggak didukung suami, anak-anak kita akan meneladaninya. Baca lagi Nomor#1 dan 10.