Seri Keuangan IRT: Janda & Cashflow

Yang paling bisa menjaga perempuan IRT dari kesulitan keuangan adalah terlatih cepat-tanggap dan terlatih membuat keputusan dengan hitung-hitungan jangka panjang.

Kita pakai situasiku buat ilustrasi.

Anggap aja suamiku kehilangan penghasilan karena suatu sebab yang dengan akal bisa dipastikan membuatnya sangat sulit dapat pekerjaan lain. Ini nggak bisa dibilang berandai-andai. Resiko itu ada. Seorang supir harus diamputasi kakinya karena terlindas forklift di tempat kerja suamiku. Secara keuangan istrinya sama aja dengan menjanda kan. Makanya polis asuransi jiwa Prudential suamiku nggak mau mengcover kematian karena kecelakaan kerja. Ku-surrender lah itu polis. Waktu maksa suamiku teken polis aku nggak ngitung resiko kematian karena kecelakaan kerja. Di tempat kerjanya yang dulu-dulu nggak pernah ada kejadian seperti itu. Juga nggak pernah tiada angin tiada hujan tiba-tiba aja sekian orang dipanggil ke kantor, dikasihtahu kalau posisi mereka di-outsourcing-kan. Di-PHK tanpa persiapan..

It’s scary, but it happens.

Demi mencegah keuangan terus memburuk, semua pilihan/keputusan yang kubuat sejak H1 kehilangan penghasilan harus ditujukan untuk tidak membiarkan aliran keluar-masuknya uang berlarut-larut ada di posisi negatif/defisit.

Konkretnya gimana?

Langkah#1: Mengoreksi anggaran bulanan. Harus kuturunkan ke titik minimal; memberhentikan Mbak Dama dan menghentikan semua pengeluaran di kategori rekreasi dan sosial. Mengeluarkan uang hanya untuk kebutuhan dasar sampai dapat penghasilan baru yang bisa diandalkan. Selama masih korat-koret, survival mode dulu.

Langkah#2: Pile up cash. Uang bantuan saudara, pesangon, satukan dengan Dana Talangan dan Dana Darurat. Emas-emasan, jual. Semua yang bisa dirupakan uang dalam waktu relatif singkat seperti koleksi pecah-belah ibuku yang jelas-jelas nggak diperlukan untuk dapat penghasilan baru, rupakan uang. Sekarang juga. Nggak nunggu uang di tangan habis.

Langkah#3: Melepas semua aset yang meskipun berharga sayangnya membebani cashflow. Rumah dan mobil warisanku harus dijual. Lebih cepat, lebih baik. Dengan harga rugi sekalipun. Biaya-biaya yang ditimbulkan oleh rumah dan mobil, yang sebetulnya sudah memberatkan bagi penghasilan UMR suamiku (tapi nggak terasa), jadi mencelakakan kalau dipertahankan di saat nggak punya penghasilan tetap. Loh kan, rumah bisa disewakan? Aku punya catatan pemasukan-pengeluarannya selama 6 tahun. Kalau kubilang nyewakan rumah nggak cukup buat makan, itu bukan omongan pesimis.

Langkah#4: Mereview pilihan menghasilkan uang cepat dan membasiskan semua keputusan lain berdasarkan itu. Aku punya pengalaman 12 tahun ngajar. Dalam situasiku skill Bahasa Inggrisku yang paling cepat bisa dijadikan uang tanpa harus keluar modal di depan. Kumulai dengan nyebar email dan WA ke semua kontak dari jamanku ngajar. Bilang kalau aku balik ngajar dan nawarkan program bimbingan online utk segala kebutuhan Bahasa Inggris. Sekarang bukan waktunya pilih-pilih. Ke orang-orang yang bener-bener bisa bantu terus-terang minta tolong dicarikan murid privat. Atau minta info lowongan atau rekomendasi atau kerjaan terjemahan. Apapun yang bisa mendatangkan uang masuk.

Langkah#5: Pindah dari Pacet. Ngekos.

  • Kalau bisa dapat posisi ngajar tetap di Surabaya, Sidoarjo, Gresik atau Mojokerto, langsung pindah, nggak nunggu rumah laku.
  • Kalau nggak ada kerjaan tetap yang menanti, kutunggu setahun di Pacet sambil ngajar online.
  • Kalau dari ngajar online di Pacet bisa mencapai angka minimal 3jt/bulan (nominal utk mempertahankan gaya hidup yang sekarang) dalam waktu kurang dari setahun, rumah tetap kujual tapi beli rumah lagi (yang lebih kecil) di Pacet.
  • Kalau dalam setahun nggak bisa nyampai angka 3 juta per bulan, lebih baik pindah ke Surabaya yang lebih gampang bagiku dapat murid privat dan kerjaan ngajar. Juga nggak nunggu rumah laku.

Rangkaian pilihan itu yang bisa menjamin kami nggak nyambung hidup dari uang menjual aset. Tanpa penghasilan, dana tunai semilyar habis dalam waktu 10 tahunan. Nggak bakalan nyampai 20 tahun. Kok ngekos? Itu yg paling murah dan ribetnya minimal. Aku harus mengerahkan waktu dan energi mengikhtiarkan penghasilan tetap baru.

Langkah#6: Setelah uang masuk per bulan dari skill Bahasa Inggrisku bisa mengcover kebutuhan dasar, mulai mikir men-secure-kan penghasilan. Apa yang bisa kulakukan supaya penghasilanku terus naik, nggak sekedar cukup buat kos-makan-listrik-air-bensin? Ngajar privat nggak bisa dijadikan sumber tunggal. Harus nambah pilihan: Ambil sertifikasi atau ambil TOEFL iBT untuk cari posisi ngajar di kursusan atau untuk naikkan rate-ku? Lanjut S2 untuk cari posisi ngajar di akademi? Punya website/blog tentang Bahasa Inggris? Mana yang paling menjanjikan untukku di umurku? Research, putuskan lalu kejar. Pakai uang hasil menjual mobil sebagai modal. Uang hasil menjual rumah kalau bisa nggak kesentuh.

Langkah#7: Setelah punya penghasilan yang dengan akal bisa dipastikan akan terus naik seiring waktu, baru mikir rumah. Nggak terburu-buru beli rumah supaya bisa dapat lokasi bagus dengan harga 500 jutaan. Dengan begitu dana tunai yang kupegang bisa nyisa. Bisa buat dana darurat dan dana investasi utk kuliah diploma Rafi dan bantu-bantu ngasih pemasukan di hari tua. Itu nggak ambisius. Kalau bisa fokus di cashflow, nggak menggantungkan hidup ke uang hasil menjual aset, mestinya dana tunaiku nggak kurang dari satu milyar. Cari rumahnya yang kudu sabar. Mesti siap waktu setahun lebih. Makanya lebih baik ngekos, nggak bingung cari kontrakan setiap dua tahun, bisa ditinggal pindah ke rumah baru sewaktu-waktu tanpa harus kehilangan uang.


Jangankan bisa mengekskusi semua itu –yang tolong dicatat kendalanya pasti 1007 rupa– bisa mikir seperti itu aja butuh latihan bertahun. Dorongan alamiah kita di situasi krisis penghasilan adalah mempertahankan segala sesuatunya berjalan seperti biasa. Padahal yang namanya krisis itu –krisis apapun– sejatinya “mandat” untuk men-tune in antara yang adanya dalam kendali kita dengan yang adanya di luar kendali kita, untuk bikin perubahan-perubahan yang perlu. Keputusan/pilihan yang kita buat selama setahun pertama nentukan nasib sekeluarga sampai bertahun-tahun setelahnya.

Sampai 1-2 tahun lalu pikiranku masih ngunci; hidup-mati rumah warisan jangan sampai kejual. I love this house. Setelah 3 tahunan mendalami ajaran Dave Ramsey baru aku tahu kalau cashflow lebih utama daripada hemat, rajin nabung, aset, investasi dan nilai sentimentil harta warisan.

Tanpa pemahamanku akan cashflow yang sekarang, dalam situasi kehilangan penghasilan, yang kuandalkan pasti pemasukan dari nyewakan rumah. Hasil jual emas-emasan, koleksi pecah-belah kujadikan modal buat jualan online dan buka cafe. Hidup berjalan seperti biasa kecuali memberhentikan Mbak Dama dan menghentikan sistem bagi hasil dengan Pak Kamto.

Masalah besar dalam rencana itu adalah: selama ini nyewakan rumah dan toko Shopeeku belum bisa menghasilkan laba. Tanpa pengeluaran komisi untuk Pak Kamto pun belum untung. Naruh modal di usaha yang sampai 6 tahun belum bisa membukukan keuntungan bukan keputusan pintar.

Gitu juga dengan buka cafe. Dalam keadaan tidak berpenghasilan, yang harus dikejar adalah uang cepat, bukan uang laba. Usaha apapun butuh waktu sebelum bisa mendatangkan uang masuk. Butuh waktu lebih lama lagi sebelum bisa menghasilkan laba. Dalam keadaan tidak ada penghasilan, ngeluarkan modal untuk kulak’an barang dagangan yang belum pasti lakunya dan mulai usaha baru yang belum tentu untungnya hanya bikin aliran keluar-masuk uang makin parah defisitnya. Lebih-lebih kalau modelnya uang masuk, pakai, uang masuk, pakai. Nggak bakalan tahu kalau defisit.

Selama 1-2 tahun pertama, aliran keluar-masuk uang yang terus-terusan negatif/defisit mungkin belum terasa efek bencananya. Dalam 5-10 tahun pasti terasa. Cepat atau lambat mobil dan rumah warisanku kejual juga setelah semua harta-benda habis kejual. Di titik itu rumah-tanggaku terlanjur terbiasa hidup dari uang hasil menjual aset dan uang bantuan saudara/teman. Sistem pengambilan keputusanku sudah paten terpola. Begitu nggak ada lagi yang bisa dijual, secara mental-emosional aku dah nggak sanggup mengikhtiarkan penghasilan tetap baru. Yang bisa kulakukan hanya bertahan, menunggu keajaiban, while keep making one bad decision after another. Nggak berani mbayangkan hidupku dan anakku seperti apa..

Kalau sistem pengambilan keputusan kita bagus, kita terlatih, janda nggak janda in sya Allah selalu punya pilihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s