Surat Terbuka Untuk Pembaca Setia

Aku terobsesi merubah yang tidak diinginkan menjadi sesuatu yang bikin orang tertarik. Mestinya ada hubungannya dengan pengalaman seumur hidup jadi anak bawang.

Kalau menahun, jadi anak bawang tuh nggak enak blast matheni ‘T’. Kalau sesekali, di momen-momen tertentu yang terbatas dan bukan di lingkungan orang-orang terdekat, pengalaman jadi anak bawang sama aja nggak enaknya tapi kurasa nggak sampai “ninggalkan bekas”.

Bukan salahnya siapa-siapa. Nggak perlu cari kambing hitam. Salahku sendiri. Tepatnya salahnya kepribadianku yang low profile, sederhana, apa adanya, tanpa ambisi, nyaris nggak punya keinginan, nggak kenal konsep kepentingan pribadi dan sangat nggak nyaman dengan persaingan. Dibandingkan normalnya orang, caraku bawa diri dan menjalani hidup seolah nggak butuh diakui-dihargai.

Jadi:

Meski aku sendiri merasa nggak pernah minta diperlakukan sebagai anak bawang, orang tidak melihatnya seperti itu. Perasaan nggak pernah minta tadi nggak disupport sama tampilan, sikap, prilaku dan pilihan-pilihan hidupku. Yang bisa kusebut di sini di antaranya:

  • dari bawa mobil ganti ke bawa motor,
  • nggak pegang hp ketika semua orang di sekitarku pegang hp,
  • nggak ganti ke smartphone ketika semua orang di sekitarku pada ngganti hp-nya dengan smartphone,
  • jadi guru les-lesan dengan ijazah S1 yang kudapat lewat jalur UMPTN,
  • nggak pernah kelihatan dengan laki-laki (ketamuan laki-laki juga hampir nggak pernah) sampai umur 35,
  • menikah dengan pekerja kerah biru,
  • jadi ibu rumah tangga,
  • pindah dari kota metropolis ke kota kecamatan di gunung,
  • jualan barang bekas,
  • menyewakan rumah yang kutinggali (kalau ada yang nyewa aku-Rafi harus ngungsi),
  • ngusung content yang sangat tidak keren di media sosial: keuangan rumah tangga pas-pasan.

Jangan kasihan dulu. Nggak enaknya bukannya absolut. Karena orang-orang cenderung ngeremehkan, bikin kaget sampai terpana tuh bagiku effortless. Nggak perlu usaha, nggak perlu pakai mulut. Cukup dengan menjadi diri sendiri tapi situasinya yang disulitkan.

Tempatkan aku di situasi yang bikin pada umumnya orang merasa malu, takut, bingung, resah, gelisah, panik. Mendadak aja aku jadi berkilau di mata orang. Kalau di situasi aman, damai, tentram, sentosa, gemah ripah loh jinawi ya balik ke jadi anak bawang itu tadi.

Nggak apa. Setelah 45 tahun melalui lika-liku hidup, akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri. Memaafkan kecenderungan bawaan lahir yang merugikan diri sendiri. Nggak ada yang terjadinya tanpa tujuan. Apa yang terjadi, itulah yang Allah kehendaki. Ada tujuan yang larger than life dalam kehidupan anak bawangku. Kalau ditanya tujuan apa itu aku juga nggak tahu. Tapi bisa kurasakan ini bukan sekedar buat menyulitkan.

Naluriku jadi sangat tajam. Kemampuanku “membaca” susah dicari tandingannya. Gitu juga dengan kemampuanku berempati. Itu semua bikin kata-kataku bisa menyentuh jiwa orang yang nggak pernah lihat mukaku atau dengar suaraku (walau yang hari-hari ketemu biasanya ngeremehkan).

Aku bukannya meng-endorse kehidupan anak bawang. Suamiku menjalani kehidupan anak bawang juga. Hasil akhirnya sangat berbeda denganku. Aku nggak tahu pasti bedanya itu karena kehidupan anak bawangnya lebih berat atau karena kepribadian kami yang bedanya kontras. Menurutku pada akhirnya yang make all the difference bukanlah pengalaman anak bawangnya melainkan karakter orang yang mengalaminya. Suamiku nggak punya keteguhanku.

Meski blog ini sangat sepi komen, I’m aware that some of you think of me as a lifeline. I see you. Whatever you’re going through at the moment, just hang in there. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi besok.

Ingat-ingat aja ini:

Di dunia ini tidak ada yang terjadinya tanpa tujuan.

4 Comments Add yours

  1. Monika Oktora says:

    Aku suka baca blog dan postingannya Mbak Rinda. Sederhana, simple, tapi memotivasi, sekaligus juga ngasih pandangam baru, terutama utk ngelola keuangan dan memanfaatkan barang yg ada

  2. fransiska paramita says:

    Saya pertama baca blognya Mbak Rinda saat hamil tentang persiapan untuk perlengkapan bayi, sampai sekarang anak saya sudah 2 tahun.
    Tuhan memberkati Mbak Rinda dan keluarga..

  3. sami says:

    gak tahu mo bilang apa, njenengan itu unik dan punya daya tarik…walaupun aku bukan IRT seperti njenengan tetapi ada hal lain yang mungkin sama…tetap berkarya ya mb….tulisannya menambah wawasan dan saya tunggu tunggu

  4. Devania Pury says:

    Saya nyasar ke blog jenengan karena merasa bahwa manajemen keuangan saya kacau balau dan kayaknya sudah kehilangan tujuan buat menikmati hidup buat lepas dari lingkaran yang kayaknya muter-muter terus kayak siklus tanpa akhir. Dan saya ketagihan ya ampun, bener-bener menampar di banyak sisi terutama soal keuangan dan langsung saya lahap semua tulisan seri keuangan IRT … bener-bener jenengan menginspirasi, mengubah beberapa pola pikir saya yang ndablek dan menguatkan diri saya yang sempat goyah … terus menulis njeh mba … kabari saya kalau ada tulisan jenengan lagi … dan ini pertama kalinya saya komentar di blog orang … semoga jadi berkah njeh mba tulisannya … amiiiin

Leave a Reply to fransiska paramita Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s