Telur Rebus

Suatu hari aku-suami ke rumah mas sepupunya yang sangat dia hormati. Sowan tahunan. Pas ada rapat informal ibu-ibu tetangga lagi merundingkan, kalau aku nggak salah, konsumsi sebuah acara RT. Kubilang nggak salah karena nggak nanya langsung sama yang ketempatan rapat. Kusimpulkan sendiri dari mau nggak mau nguping. Rumahnya kecil. Si ibu-ibu rapat di ruang tamu, aku-suami di ruang makan di sebelahnya, nggak ada pintunya. Selama 30 menit 5-10 ibu-ibu tarik-ulur adu mulut mutusi kotak makan siangnya nanti dikasih telur rebus apa nggak.

Yang terlintas di kepalaku waktu itu:

“Perempuan oh perempuan, yang dijadikan pasal, yang diperdebatkan, yang dipilih untuk dibelani kok ya yang gitu itu, yang nggak penting.”

Aku mikirnya telur rebus nggak pengaruh ke kelancaran dan keberhasilan acara. Mutusi ada nggak ada telur rebus nggak perlulah makan 30 menit. Kotak makan siangnya sudah ada protein hewaninya apa belum? Menunya membangkitkan selera makan normalnya orang apa nggak? Menunya lazim nggak untuk makan siang di Jawa Timur? Menunya sudah sesuai anggaran apa belum? Apa masih bisa ditekan lagi supaya dana yang harus ditarik dari kas RT atau dari urunan per warga bisa diturunkan? Pertanyaan-pertanyaan itu mestinya bisa ngatasi perkara telur rebus ini tanpa harus melalui ½ jam debat kusir sampai nyonya rumah nggak bisa duduk nemui tamunya gara-gara rapat yang nggak bubar-bubar. Lha kalau mutusi telur rebus aja butuh debat kusir 30 menit, mutusi yang lain-lain pasti lebih alot dan lebih lama. Atau bisa jadi yang penting-penting yang butuh kerja otak bersama malah diabaikan karena kelewat sibuk di yang remeh-temeh.

Akan tetapi:

Itu penilaianku dulu, waktu kejadian, 7-8 tahun lalu, waktu belum betul-betul paham apa yang harus di-endure ibu rumah tangga.

Dunia kerumahtanggaan dan norma-norma yang ngatur hubungan suami-istri sangat membatasi ruang gerak kita untuk ikut menentukan jalannya sesuatu mau dibawa ke kiri atau ke kanan. Itu bikin pada umumnya IRT sangat tidak terlatih dalam menentukan pilihan dan membuat keputusan. Skill-nya nggak punya. Mutusi menu kotak makan siang di acara RT harus pakai skill decision-making. Mutusi perkara itu dengan skill masak untuk makan keluarga sehari-hari jadinya ya mbulet di telur rebus itu tadi.

Apa itu berarti dunia kerumahtanggaan sama sekali nggak ngelatih skill decision-making-nya seorang IRT?

Nggak, bukan itu yang kukatakan. Malah sebaliknya. Dunia kerumahtanggaan bisa jadi Kawah Candradimuka karena pada hakikatnya kemampuan kita milih dan memutuskan terbangun dan terasah lewat memecahkan masalah. Jadi yang merasa “dihajar” masalah dengan menjadi IRT atau setelah menjadi IRT, berarti lagi kuliah di Universitas Kehidupan, Fakultas Nasib, Jurusan Pengambilan-Keputusan. Manfaatkan. Makin banyak dan pelik masalah yang bisa kita pecahkan, makin bagus pengambilan keputusan kita. Mulai dari yang gampang-gampang dan kecil-kecil aja dulu.

Hari ini masak apa kan pengambilan keputusan juga. Yang selama ini keputusan hari-ini-masak-apanya harus nanya dulu ke suami atau anak, coba putuskan sendiri. Kalau takut yang kita masak nggak kemakan, ambil resiko itu. Kalau beneran nggak kemakan, cari tahu kenapa suami dan anak nggak mau makan. Kali berikutnya mutusi masak apa, perhitungkan hasil cari tahu kita itu tadi dalam memutuskan. Gitu terus.

Cari tahunya jangan cuma di angan, dipikir-pikir sendiri. Tanya langsung ke orangnya, tanya ke mertua, perhatikan yang suami-anak pilih saat makan di luar atau makan di rumah orang. Baca polanya. Cari juga resource masak-masak dan mengelola menu untuk anak-anak yang makannya pilih-pilih. Praktek. Lihat tanggapan. Evaluasi. Pakai hasil evaluasi untuk praktek berikutnya.

Gitu juga kalau selama ini hari-ini-masak-apanya nuruti pingin sendiri. Coba putuskan masak apanya demi tujuan lain selain demi memuaskan selera, contoh, demi bisa masak tanpa belanja (jadi harus kreatif ngolah apa yang ada di dapur dan kulkas) atau demi menyempurnakan olahan dapur kita yang pingin kita jual (jadi harus menyempurnakan takaran, bumbu dan tampilannya). Tentukan sendiri.

Dua latihan itu melenturkan otot pengambilan-keputusan. Sesungguhnya kita sedang latihan, di contoh pertama, menggunakan pengetahuan dan feedback yang kita cari dengan sengaja dalam melakukan/bertindak. Di contoh kedua, melakukan/bertindak demi mencapai sebuah tujuan. Itu skill basic dalam pengambilan keputusan. Kepakai dalam keputusan di bidang apapun, kecil maupun besar. Mantan walikota teladan kita Ibu Risma juga menerapkan dua itu dalam kerjanya ngatur kota Surabaya. Skalanya aja yang beda.

Having said that,

Sekarang mari ngomong soal apa yang harus di-endure IRT.

Menggantungkan hidup ke orang lain siapapun itu dengan sendirinya membatasi seberapa kuat kita bisa berkehendak, seberapa banyak bisa punya kepentingan pribadi, seberapa jauh bisa melindungi kepentingan pribadi kita tadi. Dalam kasus istri yang menggantungkan hidupnya dan anaknya ke suami, lapang-sempitnya ruang gerak ini bener-bener tergantung sama suaminya laki-laki yang seperti apa. Begitupun, laki-laki seperti apapun suaminya, setiap IRT pasti harus mengorbankan sebagian kecil atau sebagian besar dari kehendaknya dan kepentingan pribadinya. Itu kontrak yang kita teken begitu memilih untuk di rumah saja. Ada juga yang demi nggak cerai harus berhenti berkehendak, harus membuang kepentingan pribadi. Jadi robot anget.

Berkehendak itu fitrah manusia. Melekat. Kita bawa sampai mati. Perhatikan anak kecil. Anak-anak mulai bisa berkehendak, mulai punya mau, bahkan sebelum mereka bisa ngomong. Lihat reaksi mereka ketika merasa kehendaknya dihalangi. Minta permen nggak dikasih seperti didzalimi. Bagi mereka kehendaknya apa nggak penting. Yang penting adalah kehendaknya tidak dihalangi.

Seiring umur, dalam pengasuhan yang baik, anak belajar menyesuaikan kehendak dengan yang ada di luar dirinya dan belajar respon lain selain nangis dan tantrum. Tapi tetap, normalnya manusia nggak bisa ngewes gitu aja kalau kehendaknya dihalangi apalagi sampai diberangus. Makin ngotot kita hapus atau makin fitrah berkehendak ini diperlakukan seperti nggak ada, makin banyak dan makin ruwet masalah yang timbul karenanya. Itu yang kulihat di IRT.

Ruang yang sempit untuk berkehendak dan berkepentingan pribadi bikin kita jadi gang-ho, ngotot, mati-matian dalam ngejar dan mempertahankan mau/kehendak kita di urusan-urusan dan hal-hal yang nggak menentukan jalan hidup. Makin kehendak kita dibatasi suami dan uang (=nggak punya penghasilan sendiri), ngototnya makin di hal-hal yang nggak masuk akal. Gitu juga dengan waktu, pikiran dan uang kita, makin kesedot untuk hal-hal yang nggak penting dan nggak perlu.

Yang ingin kukatakan adalah:

Kalau kita merasa ada nggak ada telur rebus di kotak makan siang acara RT segitu pentingnya, berhati-hatilah. Itu pertanda ada yang harus di-address dalam hidup kita. Atau di dalam diri kita. Mungkin harus mengakui kalau kehendak-kehendak kita yang bener-bener menentukan kualitas hidup dipasung sama idealisasi istri dan ibu. Entah itu idealisasi di kepalanya suami, di kepala kita sendiri atau di kepala mertua. Lalu mulailah merenung. Kenali satu kehendak yang sangat penting bagi kita pribadi untuk dikejar, untuk terus diperjuangkan, meski harus berkonflik dengan diri sendiri (karena harus bersusah-payah merubah diri atau karena perasaan bersalah nyalahi ideal kita sendiri tentang menjadi istri/ibu yang baik), berkonflik dengan suami atau dengan orang-orang dekat kita. Apakah punya penghasilan sendiri? Tinggal di rumah sendiri nggak terus-terusan numpang di mertua? Apapun itu pastikan aja secara universal memang pengaruh ke jalan hidup dan kualitas hidup. Maksudku gini:

Bertahun lalu pas lagi di bemo entah dalam perjalanan ke mana aku dengar dua orang sesama penumpang ngobrol. Mereka membicarakan satu orang gadis entah temannya entah saudaranya entah tetangganya yang terobsesi bersuamikan polisi. Orang tuanya sampai menjual sawahnya demi bisa memasukkan anak gadisnya itu bekerja sebagai karyawan sipil di kantor polisi dan dengan begitu –dalam hitung-hitungan si gadis– memastikan terwujudnya kehendaknya bersuamikan polisi.

Sekarang mari kita pikir. Perkawinan yang membahagiakan dan rumah tangga yang mapan apa eksklusif untuk istri polisi? Kita sendiri yang merugi kalau pikiran “dikunci” sama kehendak-kehendak superficial seperti itu. Kehendak Allah mau kita tempatkan di mana?

Sah-sah aja berkehendak tapi nggak semua kehendak layak dibelani sampai segitunya. Sama juga, ada kehendak yang tetap harus dikejar bahkan meskipun kita harus ambil resiko bercerai. Kehendak yang seperti apa itu? Aku nggak bisa ngasih tahu. Harus dipikir dan diputuskan sendiri-sendiri karena yang harus menanggung resikonya bukan aku. Yang bisa kukatakan hanya itu tadi:

Kalau kita merasa ada nggak ada telur rebus di kotak makan siang acara RT segitu pentingnya, berhati-hatilah. Itu pertanda ada yang harus di-address dalam hidup kita. Atau di dalam diri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s