[Seri Rumah Bahasa] 3 Prinsip Belajar Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Kedua

Ada lebih dari satu cara untuk melakukan segala sesuatu. Termasuk cara belajar Bahasa Inggris. Kita mungkin harus melalui debat kusir yang sangat panjang dan melelahkan sebelum bisa menyepakati cara efektif belajar Bahasa Inggris. Malah mungkin harus jambak-jambak’an dulu untuk sepakat tentang definisi “efektif”.

Kebanyakan orang pasti mengartikan cara “efektif” sebagai cara yang paling cepat atau yang paling gampang. Sebagian lagi mungkin mengartikan cara yang paling murah. Nah, pemahaman akan cara “efektif” yang luput dari pemahaman mainstream tentang metode belajar Bahasa Inggris adalah cara yang menjamin kefasihan. Luput karena cara yang satu ini, sayangnya, tidak cepat. Bisa dibuat rendah-biaya tapi nggak bisa dicepatkan.

So, if you’re looking for someone to show you how to master English in 3 months, you’re in the wrong site.

Tapi bagi yang mencari tip belajar Bahasa Inggris rendah biaya yang akan mengantar pada fasih: Welcome to the club!

Berikut adalah tiga prinsip dasar yang harus dipatuhi selama mempelajari Bahasa Inggris kalau yang kita kejar adalah menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.

Rule#1: Spend more time working on the basic

Yang kumaksud basic di sini: basic grammar dan structure. Tapi tolong: yang kumaksud bukan menghabiskan bertahun-tahun mengerjakan soal basic grammar atau menghapal rumus rupa-rupa tense (yang ngalah-ngalahi jajan pasar) itu.

Struktur dan tata bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sama aja. Ketika kita belajar bahasa Jawa, yang kita pelajari hanya kosakata dan yang berkaitan dengan kosakata seperti pelafalan. Untuk bicara dalam Bahasa Jawa cukup dengan mengganti kata-kata bahasa Indonesianya. “Saya mencari anak-anak” jadi “Kulo madhosi lare-lare”; empat kata jadi empat kata juga. Tapi kalau makna itu kita katakan dalam bahasa Inggris, “I’m looking for the kids”, jumlah katanya nambah, jadi enam.

  1. Ada tiga aturan bahasa dalam kalimat itu yang nggak ada dalam bahasa Indonesia:
  • Tense; nyari anak-anaknya kemarin atau sekarang atau tiap hari nggak merubah bentuk kata kerjanya, tetap “mencari”
  • Phrasal verb; “look” kalau ketambahan “for” berubah maknanya; dalam bahasa kita kata depan nggak sebanyak dalam bahasa Inggris dan hanya digunakan dengan kata benda
  • Definite article; kata “si” dan “sang” kurang-lebih bisa lah menggantikan kata “the” tapi hanya dalam konteks tertentu karena dua kata itu nggak punya fungsi menunjuk “the“; “I’m looking for kids” artinya sudah beda dengan “I’m looking for THE kids“.
  1. Ada satu aturan yang beda dengan bahasa Indonesia: untuk menunjukkan jumlah lebih dari satu kita mengulang bendanya, mereka dikasih akhiran “s/es” dan banyak aturan bentuk jamak lain yang kalau dibandingkan dengan aturan bahasa Indonesia tentang tunggal/jamak kesimpulannya cuma ruwet.

Yang harus kita pahami, aturan-aturan ini bukan untuk dihapal melainkan untuk ditanamkan di kepala tanpa sadar. Jadi jangan bosan hari ini baca tulisan pendek tentang habit, besoknya mewawancarai teman tentang hobinya, besok bikin to-do list, besoknya lagi merespon pertanyaan “Tell me about yourself”; sampai 3 bulan mutar aja di situ karena sesungguhnya yang sedang kita lakukan adalah menanamkan aturan-aturan simple present tense tanpa sadar supaya kalimat seperti “I’m study at Airlangga University” nggak sampai keluar dari mulut. Juga supaya nggak perlu loading dulu untuk bilang “I don’t have his address. Does Nita have his number?” Orang yang nggak cukup lama menghabiskan waktu belajarnya di tingkat dasar pasti kesulitan bikin dua kalimat itu tanpa mikir atau tanpa salah. Yang harusnya ‘don’t’ jadi ‘not’ polosan, ‘his’ jadi ‘her’, ‘does’ jadi ‘do‘, ‘do‘ jadi ‘is‘, dan seterusnya.

Jadi bersabarlah, makin lama kita menghabiskan waktu di tingkat dasar (=menjalani latihan yang berbeda-beda yang tingkat variasinya sangat tinggi untuk tiap-tiap satu aturan bahasa), makin mulus juga perjalanan kita ke tingkat mahir.

Tip: Buat catatan harian untuk meaningful drill menerapkan simple present, simple past dan future tense. Jangan mempelajari tense lain sebelum menguasai tiga itu.

Rule#2: Mind your level of exposure

Pernah lihat orang kita dengar presentasi 30 menitnya orang bule via video YouTube dan si orang kita ini bisa menangkap satu per satu kata? Pernah terpikir berapa jam terbang listening-nya untuk bisa sampai ke level itu? Atau seseorang yang menamatkan buku berbahasa Inggris setebal bantal tanpa sekalipun nengok kamus? Pernah terpikir berapa jam terbang reading-nya?

Ditarik ke tingkat yang sangat sederhana, seseorang bisa menguasai sebuah bahasa, mau itu bahasa ibu atau bahasa asing, karena terpenuhinya dua syarat ini di titik tinggi:

  1. The level of exposure>>>tinggi
  2. The need to communicate>>>sama tingginya

Karakteristik umum pembelajar Indonesia adalah kelewat bernafsu ngomong Inggris. Maunya yang ada di kepala bisa langsung “ceprut!” keluar dari mulut. Nggak cukup sabar mengumpulkan jam terbang mendengar dan membaca.

Iya, benar, kemampuan pasif (listening/reading) sebagus apapun nggak ada artinya tanpa kemampuan aktif (speaking/writing) tapi itu sama sekali bukan berarti kalau kita “Hajar Bleh!” ngomong Inggris lama-lama pasti fasih. Cara itu hanya bisa diterapkan kalau kita hidup di lingkungan native di mana respon/feedback yang kita terima atas penggunaan bahasa Inggris kita sifatnya jujur dan segera. Contoh: nggak bisa melafalkan “egg” dengan benar saat naruh pesanan di McD sampai kasirnya hah-heh ya harus siap malu dan siap diomeli orang banyak karena nahan antrian.

Jadi bersabarlah, banyakkan jam terbang membaca dan mendengar sembari melakukan latihan ngomong dan nulis yang terkendali (=yang didasarkan pada apa yang kita baca dan dengar, bukan dari apa yang kita pikirkan atau rasakan). Buku-buku pegangan program General English disusun dengan mengingat prinsip ini.

Tip: Jangan ambil program Conversation sebelum menyelesaikan paling tidak level Intermediate program General English.

Rule#3: Get strategic with your communication

Jangan merasa cukup dengan “pokoknya yang diajak ngomong ngerti”. Untuk bisa ngobrol santai dengan bule nggak perlu bahasa Inggris bagus. Bikin tweet, caption atau status medsos juga nggak perlu fasih. Tapi: untuk bisa “dianggap” sama direktur tingkat Asia-Pasifik yang lagi kunjungan inspeksi di meja meeting perusahaan cabang tempat kita bekerja, haruskah kujelaskan?
Yang sungguhan pingin bisa, cari lah tujuan-tujuan berkomunikasi yang bikin kita pusing.

Lebih jauh soal ini kusimpan untuk postingan berikutnya.

Membangun Kekuatan Mental Dengan Medsos

Berikut 3 aturan/kebijakan yang menentukan apa yang ku-share di medsos. Tiga ini yang justru menjadikan medsos pilar kekuatanku hidup sesuai tingkat penghasilan, mengkonfrontasi ekspektasiku sendiri akan uang dan gaya hidup ideal termasuk ngasih kekuatan nolak nuruti ekspektasi orang.

Aturan#1: Niat mendulang like tapi yang tanpa perlu “mbayar”

Yang kumaksud bukan beli follower dan like. Tegasnya gini: andai medsos diharamkan, semua yang ku-posting selama ini tetap aja kulakukan. Semuanya kan keseharian, berpusat di rumah. Nggak akan bayar tiket 55 ribu-nya Claket Adventure Park (10 menit dari rumah) yang didirikan khusus untuk foto-foto instagrammable.

Mengertilah ‘like’ medsos punya kekuatan luar biasa.

Bagi IRT terisolasi sepertiku, like yang kita dapat harian bisa jadi satu-satunya penghargaan/pengakuan, satu-satunya yang membuat diri-IRT kita merasa berharga. Tanpa sadar, pelan tapi pasti, kita akan terus nambah porsi segala sesuatu yg gampang-banyak dapat like. Kalau itu selfi, ya makin sering selfi. Kalau itu traveling, ya makin sering traveling. Kalau itu pernik yang kita beli, ya makin sering beli. Kalau itu makan di luar, ya makin sering makan di luar. Kalau itu status supermom ya makin ngoyo jadi supermom. Karena itu lah aku hampir nggak pernah nge-post selfi, makan di luar, trip/traveling/rekreasi atau beli-beliku.

Bisa dibilang aku memanfaatkan para follower. Cari pengakuan dan penghargaan dari follower. Akan tetapi: ini yang nyalahi tren, membatasi diri hanya mencari pengakuan dan penghargaan atas kerja dan keseharianku sebagai IRT yang sekiranya bermanfaat untuk orang lain. Supaya semangat menjalani hari, dapat kepuasan hidup, merasa fulfilled, dari jadi IRT. Aturan ini juga yang memastikan 3-4 jam online per hari nggak cuma buang-buang waktu; nge-scroll tanpa tujuan, nge-stalk orang-orang dari masa lalu, membanding-bandingkan hidupku dengan hidupnya orang.

Kalau ada yang mbatin, “Tapi nggak ada yg istimewa dari keseharian dan kerja IRT-ku. Nggak bisa nulis seperti kamu. Nggak berani blak-blakan seperti kamu gitu,” kujawab dengan Kebijakan No.2 dan No.3.

Aturan#2: Selalu ngomong soal bagaimana atau mengapa

Maksudku di caption. Juga Story.

Ngomong soal bagaimana atau mengapa bikin receh jadi content.

Mereka yang tampilannya seperti Sophia Latjuba, nge-share postingan lagi jongkok di depan tiang listrik pun dikeplok’i orang sak-Indonesia. Yang bukan Sophia apalagi yang hari-harinya memang jongkok di depan tiang listrik jangan berharap efek yg sama. Karena nggak ngasih nilai ke dirinya sendiri, ke follower apalagi.

Nge-share soal Pacet yang hijau, upload foto-foto rumahku yang halamannya luas, sudah bisa menarik perhatian orang kota yang hidupnya desak-desakan, kemana pun mata memandang yang dilihat tembok. Akan tetapi: bandingkan dengan nge-share tentang kenapa pindah dari kota metropolitan seperti Surabaya ke kota kecamatan seperti Pacet, caraku nata rumah supaya kelihatan seolah nggak ditinggali biar orang mau nyewa dan seterusnya. Pikir sendiri mana yang ngasih nilai ke diriku sendiri sekaligus follower.

Aturan nge-share yang ini kurasa bisa menjelaskan dirinya sendiri. Kalau masih kurang, boleh lihat postingan #bukanjagomasak (30-40 postingan terbawah yang ditampilkan). Awal tahun lalu caption 30 postingan masak harianku selama Nopember 2016 kutulis ulang. Tiga puluh tiga puluhnya. Makan hampir 2 minggu. Dari apa yang kumasak hari itu kutulis ulang jadi apa yang kulakukan demi ngurangi makan-jajan di luar dengan anggaran mepet dan ketrampilan masak pas-pasan.

Kebijakan nge-share ini yang bikin Impression-ku (berapa kali postingan Feed dan Story kita dilihat) tinggi. Dua sampai lima kali lipat Reach (berapa orang lihat postingan kita). Itu artinya postingan-postinganku dilihat-baca berulang-ulang.

Yang merasa nggak bisa ngajari apapun ke siapapun:

Sejatinya ngajar atau bagi-bagi ilmu bukan soal nunjukkan kelebihan kita sendiri atau soal kita ngatur orang tapi soal “ngangkat” orang lain. Siapapun yang niatnya tulus ngangkat orang –bukan ngangkat dirinya sendiri– punya kemampuan ngajar via medsos. Mikirnya jangan ngajari orang sekabupaten. Jangan membatasi diri di ilmu mentereng seperti Rekayasa Genetika atau ilmu komersial seperti cara cepat cari uang dengan Instagram. Selalu ada yang bisa kita share untuk ngangkat orang. Akan selalu ada orang yang bisa belajar dari page kita. Syaratnya cuma feed yang kompak dan terarah, yang dibangun dengan kebijakan editorial. Berhubungan dengan aturanku No.3.

Aturan#3: Mau korban waktu-pikiran memastikan akun kita berkontribusi ke gaya hidup hemat

Nggak harus gaya hidup hemat. Ini khusus yang pingin membangun kekuatan mental demi mengatur-kendalikan pengeluaran.

Kita nggak bisa memperbaiki keuangan (tanpa nambah penghasilan secara dramatis) tanpa kekuatan mental.

Pertanyaan berikutnya: haruskah jadi master gaya hidup hemat untuk berkontribusi?

Seperti yang dibilang Pak Mario Teguh: “Semakin kita menempel ke suatu masalah, semakin jelas jalan keluarnya“. Nggak harus mumpuni dulu di pergayahiduphematan. Hanya perlu mau repot nggak dibayar. Pelan tapi pasti akun kita akan jadi magnet masalah (tempat tanya, curhat, “sandaran jiwa”, sasaran skeptis, ragu sampai sebel) sekaligus solusi (bank ide, cara, informasi) dalam pergayahiduphematan.

Prosesku mungkin bisa lebih menjelaskan.

Akun Instagramku mulainya dari garage sale. Mulai dengan 200 kurang dikit follower yang kudapat secara otomatis karena mereka teman Facebook. Lebih dari 100-nya meng-unfollow begitu feed kubombardir dengan foto barang-barang yang kujual.

Setelah pindah ke Pacet, barang dah banyak yang laku, nggak kenal siapa-siapa di Pacet, harus bertahan dengan pegangan 500 ribu per bulan (nggak termasuk listrik, susu-popok, gaji Mbak Dama), Instagram jadi temanku mikir, bukan teman curhat. Sama Instagram dikenalkan ke akun-akun Barat (karena yang ku-follow akun-akun Barat). Kupilih akun desain dan akun yang content-nya gaya hidup hemat. Yang pertama ku-follow dan pengaruhnya besar sekali: @jordanpage (dulu @funcheaporfree).

Ini yg menarik.

Makin aku mendalami (=mencoba) cara-cara berhematnya ditambah kenal akun-akun #debtfreecommunity lewat @anorganizedlife dan kemudian @daveramsey, pikiranku jadi makin kritis ke gaya hidup hemat orang Barat, makin pandai menggali ide/cara, nutup bolong-bolongnya supaya bisa diterapkan di konteks IRT negara dunia ke-3.

Contoh:

Jordan memang 2 tahunan hidup soro demi nyaur hutang tapi dia dan rumah tangganya bisa seperti sekarang lebih karena usaha suaminya sukses besar. Penghasilan mereka naik drastis dalam waktu 5 tahunan. Yang dia tawarkan adalah gaya hidup hemat di konteks tingkat penghasilan kelas atas negara dunia ke-1 pula. Tingkat kesulitan hematnya tingkat penghasilan tinggi nggak bisa disamakan dengan tingkat penghasilan pas-pasan. Ada begitu banyak pertanyaan yg dia nggak punya jawabannya.

Bisa aja bohong kutulis “Alhamdulillah, akhirnya bisa bikin puding lapis”. I won’t. Ini yang akan kutulis: “Baru tahu alpukat jadi pahit kalau dididihkan dengan agar-agarnya. Oh well, paling nggak yang lapisan coklatnya bisa dimakan. Dan nambah stok foto. Dan sekarang tahu untuk mencoba hanya resep yang dilengkapi tip-&-teknik di Cookpad. “Guru dapur” yang niat pasti mewanti-wanti alpukatnya jangan dimasak.”

Aku tahu ini kedengaran sangat aneh: memanfaatkan medsos untuk membangun kekuatan mental.

Kenapa nggak?

Share the battle, not the fear. Share the fight, not the pain.

Sistem Amplop

Kita mulai dengan mengapanya dulu. Mengapa IRT perlu tahu Sistem Amplop. Setelah itu baru kujelaskan cara kerja Sistem Amplop. Terakhir, apa yang harus diperhatikan agar sistem ini nggak bikin frustasi.

Mengapa Sistem Amplop

Alat utama membangun kekayaan adalah penghasilan. Kalau gaji suami kita yang pegang dan/atau kita sendiri punya penghasilan, berarti alat membangun kekayaan ada di tangan kita kan. Pertanyaannya:

Sudahkah kita optimalkan?

Setiap orang pastinya punya idenya sendiri-sendiri tentang mengoptimalkan penghasilan atau tentang membangun kekayaan. Buat salah satu budheku yang berjiwa pendidik, penghasilannya optimal kalau bisa nyekolahkan sebanyak-banyaknya anak berprestasi yang nggak mampu. Budheku yang lain mengoptimalkan penghasilan dari usaha rumahannya untuk ngumpulkan tanah+emas dan umrah-haji satu keluarganya. Pendidikan bukan prioritas. Sah-sah aja. Yang penting kita sanggup membayar “harganya” karena setiap pilihan punya “biaya”.

Sekali lagi, nggak ada pilihan yang salah. Yang ada pilihan yang buruk yaitu memilih yang nggak sanggup kita “beli”, yang nggak sanggup kita tanggung resikonya, yang nggak mau kita jalani konsekwensinya.

Buat nambah wawasan, membangun kekayaan juga berarti melindungi diri dan keluarga dari situasi-situasi yang menempatkan kita sekeluarga dalam posisi tidak berdaya atau tidak punya pilihan.

Contoh yang bikin takut: kehilangan penghasilan mendadak akibat PHK atau pencari nafkah cacat tetap/meninggal dunia. Yang non-PNS pasti tahu gimana gentingnya situasi mendadak di-PHK. Contoh yang bikin semangat: tekad “mengantar” anak ke kelas sosial-ekonomi yang lebih tinggi dengan pendidikan-pelatihan bernilai tinggi di dunia usaha dan/atau dunia kerja.

Ketika kita mengoptimalkan penghasilan untuk tujuan besar-jangka panjang seperti dua yang kusebut di atas, caranya nggak bisa disamakan dengan mengoptimalkan penghasilan untuk bayar tagihan-cicilan dan nyenangkan hati. Kita butuh rencana berupa budget yang memperhitungkan pemasukan-pengeluaran dengan seksama, yang setiap rupiah yang keluar keluarnya demi mengemban tugas. Boleh jadi salah satu yang kita tugaskan ke penghasilan adalah menyenangkan hati atau menyenangkan keluarga tapi berapa-berapanya kita tetapkan setelah tugas perlindungan diri dan keluarga. Traveling-nya setelah kita menyisihkan untuk dana darurat.

Karena itu Sistem Amplop sesungguhnya adalah sistem pengendalian pengeluaran yang akan memastikan setiap rupiah yang keluar dari dompet/rekening kita keluarnya sesuai tugas yang kita tetapkan untuknya.

Cara Kerja Sistem Amplop

Pertama: Sebelum terima gaji harus sudah siap dengan budget bulanan

Latih diri untuk tidak melihat gaji satu bulan sebagai 100%. Bagi jadi dua atau tiga bagian. Satu-dua bagian utk masa sekarang, sisanya utk masa depan.

Yang buat masa sekarang berapa, yang buat masa depan berapa, sesuaikan dengan kondisi dan kemampuan (=tingkat penghasilan) masing-masing. Jangan lihat orang.

Ratio yang menurutku nggak kelewat berat tapi juga nggak kelewat nyantai adalah 70/30. Semua pengeluaran di bulan itu termasuk cicilan-cicilan dan pengeluaran tabungan jangka pendek seperti biaya Lebaran dan pajak mobil usahakan nggak lebih dari 70%. Sisa yg 30% untuk tabungan jangka panjang (pengadaan rumah, dana darurat, pendidikan tinggi anak, dana pensiun, naik haji) dan investasi (menafkahi orang tua, sedekah, zakat, kurban dan wakaf kugolongkan sebagai investasi; investasi akhirat). Kalau ada hutang atau cicilan yang ingin dilunasi lebih cepat, ambilkan dari 30% ini.

Jangan berkecil hati kalau kita sanggupnya 90/10 atau 95/5 atau bahkan 100/0. Mereka yang penghasilannya 10 juta ke bawah, hidup di kota besar dengan 2 anak usia sekolah, harus menanggung orang tua yang nggak punya asuransi kesehatan ditambah nyicil rumah pastinya sangat kesulitan nyisihkan. Bagi yang penghasilannya kecil, fokus lah di bebas hutang. Pastikan aja 100% itu cukup tanpa bantuan kas bon, Penggadaian atau orang tua. Nggak usah bingung dengan nabung demi masa depan.

Kedua: Otomatiskan sebanyak mungkin kewajiban pembayaran seperti tagihan listrik-air dan setoran tabungan lalu siapkan amplop sebanyak jenis pengeluaran yang nggak bisa diotomatiskan dan yang nggak bisa dibayarkan dengan cara transfer via ATM atau e-banking

Makin banyak yang didebet otomatis dari rekening gaji, makin sedikit yang kita pegang tunai. Makin sedikit yang kita pegang tunai, makin sedikit amplop. Makin sedikit amplop, makin enteng kerja mengendalikan pengeluaran. Bayangkan pegang 20 amplop. Lihatnya aja pening.

Dari contoh budget bulanan di bawah ini misalnya:

  1. Zakat profesi (transfer)
  2. Uang saku orang tua (transfer)
  3. Asuransi jiwa (transfer)
  4. Tabungan haji (debet otomatis)
  5. Tabungan pajak mobil (debet otomatis)
  6. Tabungan Lebaran (debet otomatis)
  7. Dana talangan (transfer)
  8. Cicilan smartphone (debet otomatis)
  9. Tagihan listrik (transfer)
  10. Tagihan air (tunai)
  11. Iuran sampah (tunai)
  12. Iuran RT (tunai)
  13. Gaji ART (tunai)
  14. Belanja bulanan (tunai)
  15. Belanja lauk-pauk (tunai)
  16. Lain-lain (tunai)

Berarti harus siap 7 amplop karena hanya 7 jenis pengeluaran yg dibayar tunai.

Makin lama kita memakai sistem amplop, biasanya jumlah amplopnya akan makin sedikit.

Ketiga: Disiplin menjalankan prinsip “when it’s gone, it’s gone

Andai uang di amplop rekreasi habis di minggu ke-2 misalnya, sampai gajian berikutnya rekreasinya di rumah aja dulu. Nonton VCD sambil makan gorengan.

Andai kita tetapkan angka 1 juta untuk belanja bulanan susu, popok, sembako, toiletries dan produk pembersih, bikin daftar belanja yang akurat untuk kebutuhan sebulan. Perhitungkan yang masih ada stoknya di rumah biar belinya nggak dobel-dobel. Menghindari situasi di akhir bulan punya minyak goreng 4 liter tapi nggak ada uang tunai buat beli gas.

Kalau ternyata sejuta kurang? Turunkan standar. Biasanya popok Mamy Poko, turun ke Sweety. Biasa sabun cair, turun ke sabun batangan, dstnya.

Kalau masih kurang juga? Berarti ada yang harus dicoret dari daftar belanjaan. Yang nggak esensial seperti pewangi cucian, obat pel, pelicin setrikaan, conditioner, obat kumur, baby oil, hair lotion, coret dulu.

Prinsipnya adalah lakukan yang perlu demi belanja bulanan nggak lebih dari sejuta. Utak-utiknya di per amplopnya, bukan di budget bulanannya. Jadi jangan karena sejuta kurang lantas setoran tabungan Lebaran kita hilangkan demi nambah anggaran belanja bulanan. Khususnya kalau selama bertahun-tahun penghasilan di bulan Lebaran selalu defisit. Nggak bisa putar otak di per amplop berarti nggak akan pernah bisa mutus siklus gali lubang tutup lubang atau gali saldo tutup saldo.

Begitu kita bisa mengendalikan uang yang keluar sehari-harinya sesuai budget bulanan, mengelola penghasilan untuk membangun kekayaan nggak lagi terasa seperti pungguk merindukan bulan. Gaji bukan lagi cuma bisa buat bertahan hidup sebulan, uang tambahan nggak lagi habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Sampai lah kita di poin terakhir yang paling penting.

Apa hanya butuh disiplin diri untuk sukses ngatur pengeluaran dengan Sistem Amplop?

Nggak.

Pertama, gunakan sistem amplop hanya setelah kita tahu persis semua jenis pengeluaran rumah-tangga kita.

Hitungannya bukan lagi jenis pengeluaran dalam sebulan tapi semua jenis pengeluaran minimal dalam satu tahun. Kalau yang kita hitung cuma pengeluaran sebulan, ada begitu banyak yang luput. Antara lain:

  • biaya penggantian & perbaikan peralatan rumah tangga (magic jar, kompor gas, AC, smartphone, Sanyo dll)
  • perbaikan kendaraan
  • perbaikan kecil rumah (genteng bocor, lampu putus, kunci rusak dll)
  • biaya sosial (iuran Agustusan, sumbangan slametan, sumbangan hajatan, tilik bayi, bezuk, takziyah)
  • biaya dokter+obat

Tanpa tahu persis berapa banyak jenis pengeluaran rumah tangga kita, sangat sulit untuk patuh. Harus ke dokter, karena nggak nyiapkan amplop dokter, akhirnya pakai uang di amplop belanja bulanan. Kekurangan belanja bulanan kita ambilkan dari amplop lauk-pauk. Sini kurang, ambil dari sana. Sana kurang, ambil dari sini. Terasa seperti lingkaran setan.

Kedua: pastikan kita punya paling nggak satu rekening yang dananya kita siapkan khusus untuk semua pengeluaran yang nggak punya amplop

Ini fungsi Dana Talangan. Dana yang kita siapkan khusus untuk darurat kecil. Artinya pengeluaran yang nggak rutin setiap bulan atau setiap minggu atau setiap hari yang nggak bisa kita tunda atau hindari. Contohnya ya pengeluaran-pengeluaran yang sering luput dari perhitungan yang ku-list tadi. Dana utk nalangi pengeluaran-pengeluaran seperti ini jangan dipegang tunai. Baiknya pisahkan dari rekening gaji dan dari rekening tabungan.

Ketiga: gunakan sistem ini hanya untuk:

1. Pengeluaran yang bisa kita pastikan dan tetapkan

Yaitu pengeluaran yang bisa kita perkirakan sebulannya habis berapa. Contoh: pengeluaran belanja bulanan. Setelah setahunan berumah-tangga mestinya sudah bisa bikin daftar belanja bulanan yang bisa dipakai terus, sudah bisa memastikan habisnya berapa. Kalau toh perkiraan kita meleset, nggak terlalu jauh dan nggak terus-terusan meleset. Kalau sampai setahun terus-terusan mbleset berarti anggaran belanja bulanan kita harus dikoreksi dulu, daftar belanjaan harus direvisi dulu, kebiasaan belanja harus dirubah dulu, sebelum Sistem Amplop bisa efektif.

2. Pengeluaran yang sedikit-sedikit tapi terus-menerus, yang sifatnya harian atau mingguan

Pengeluaran seperti ini yang dapat manfaat paling besar dari Sistem Amplop. Yang keluarnya tiap hari atau sering baiknya kendalikan per minggu. Lebih gampang. Dana satu bulannya bagi lagi dalam 4-5 amplop sejumlah minggu dalam bulan itu.

Kalau mengendalikan per minggu masih juga selalu habis sebelum waktunya, coba kendalikan per hari, pakai amplop harian. Istri teman kerjaku menerapkan sistem amplop harian untuk suami dan anaknya. Satu amplop berlaku utk semua pengeluaran mereka selama satu hari (transport+jajan utk anaknya; bensin+parkir+makan siang+rokok utk suaminya).

3. Pengeluaran yang relatif bebas dari campur-tangan dan/atau penilaian orang

Pengeluaran yang bagi kita menyangkut harga diri bukan untuk Sistem Amplop. Begitu juga dengan pengeluaran yang “disetir” pihak luar. Malah bikin frustasi.

Pengeluaran apa yang termasuk dalam pengeluaran harga diri pastinya beda-beda di tiap keluarga. Ada yang di penampilan, ada yang di slametan/hajatan, macam-macam lah. Dalam kasus ini baiknya siapkan dana khusus di luar Dana Talangan. Begitu juga dengan pengeluaran yang “disetir” pihak luar.

Mestinya ada yang mbatin, “Gimana bisa punya dana khusus kalau nyisihkan penghasilan nggak bisa???

I get it.

Yang bisa kita lakukan adalah memastikan penghasilan tetap/gaji bisa nutup semua kebutuhan rumah tangga termasuk rekreasi dan selalu punya Dana Talangan 1-3 juta. Dengan begitu pemasukan selain gaji seperti uang tambahan yang masuknya dari kita, ceperan dan bonus tahunan suami, uang dikasih/hadiah dan uang warisan nggak habis terpakai untuk senang-senang, nutup butuh, nutup defisit atau ngelunasi hutang.

Alternatif lain adalah menjual harta benda atau menahan diri dari membeli aset atau berinvestasi. Kesehatan mental kita dan ketentraman rumah tangga lebih penting daripada harta-benda dan aset. Salurkan ke rekening Dana Taktis atau mungkin bisa juga disebut Dana Waras atau Dana Penangkal Gugatan Cerai.

Prinsipnya adalah kalau kita memang sangat kesulitan mengendalikan pengeluaran tertentu maka siapkan dana khusus, ambilkan dari pemasukan selain gaji, pengelolaannya harus terpisah dari belanja rumah tangga.

Akan tetapi yang menurutku lebih baik adalah duduk dan me-review orang-orang di sekeliling kita. Pastikan kita tidak dikelilingi (=bergaul rapat dengan) orang-orang yang tingkat penghasilannya di atas kita atau yang penghormatannya ke otonomi kita-suami memprihatinkan yang seringnya justru orang-orang terdekat seperti orang tua, mertua, adik-kakak dan ipar. Belajar lah menarik batas, bersikap tegas.

Kalau kita sudah dikelilingi orang-orang yang tingkat penghasilannya sama dengan kita atau bahkan di bawah kita, kita-suami independen dalam mengambil keputusan, tapi masih juga sangat kesulitan mengendalikan pengeluaran-pengeluaran tertentu, berarti harus duduk untuk merenungkan apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup ini.

Kalau amplopnya seperti ini, uang di dalamnya mungkin nggandhol kalau dikeluarkan. (Foto nyomot dari Pinterest)

Postingan ini kututup dengan pertanyaan:

Pernahkah menghitung berapa persen dari penghasilan tiap bulan yang kita siapkan untuk masa depan keluarga?

[Seri Keuangan IRT] 3 Agenda IRT Biar Nggak Ngenes

Kali ini nyalahi kebijakan editorial yang kutetapkan sendiri untuk Seri Keuangan IRT. Nggak bisa berhenti mikir sejak dengar curhatan 2 orang IRT Amerika di The Dave Ramsey Show. Sangat mengganggu kedamaian jiwa(ku).

Ada di situasinya IRT di 2 video itulah persisnya ketakutan terbesarku jadi IRT. Aku nggak takut suamiku kesana-kemari selingkuh atau nikah lagi atau menelantarkanku atau memperlakukanku dengan buruk. Kepribadianku yang tegas dan teguh sudah “ngusir” tipe-tipe lelaki-sumber-derita-perempuan dengan sendirinya. Aku mau pun mereka yang nggak sudi.

Akan tetapi: sumber derita perempuan bukan cuma suami yang nggak setia/berakhlak buruk/tanggung-jawabnya tipis. Nggak bisa melakukan sesuatu yang benar, penting dan perlu (bagi kita) karena dihalangi suami juga sumber derita. Contoh: merasa berkewajiban melunasi hutang bapak-ibu yang buat biaya kuliah kita tapi nggak bisa karena harus pakai penghasilan suami, dan suami –secara terang-terangan atau nyindir-nyindir– keberatan. Atau mau melunasi hutang kita sendiri buat biaya kuliah kita dulu tapi nggak bisa karena harus pakai penghasilan suami dan suami tegas-tegas nyuruh kita nunggu orang tua mati padahal ini hutang berbunga. Dia nyuruh kita bayar dengan uang warisan kita sendiri yang entah dapatnya kapan!

Dengarnya aja dadaku sesak..

Kita harus berani mengakui bahwa dengan masuk dalam angkatan kerja IRT, kita sedikit-banyak melepas kesempatan menjadi mandiri secara finansial. Itu bukan cuma melepas kesempatan punya penghasilan tetap yang bisa diandalkan tapi juga melepas kebebasan memilih dan berkehendak. Jangan masrahkan hidup ke ideal: kebebasan memilih dan berkehendak datangnya bukan dari kebaikan hati dan cinta suami, bukan dari undang-undang pernikahan, bukan dari pengadilan agama, bukan juga dari PBB. It is not a given.

Kutulis ini bukan untuk mewanti-wanti ‘jangan berhenti kerja!’, ‘perempuan harus punya penghasilan!’ atau menggugat ‘buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya di rumah aja?!?’, endebrai, endebrai.

Bukan.

Tujuanku mbuka pikiran:

Jadi IRT sarjana di jaman emansipasi dan kesetaraan ini butuh lebih dari keyakinan dan niat baik. Biar nggak ngenes. Harus belajar mengelola konflik. Ya konflik internal dengan diri sendiri maupun konflik dengan sesama manusia khususnya orang-orang dekat seperti suami/mertua/orang tua dan lingkungan sekitar.

Nggak usah bingung cari uang sendiri. Fokus aja di 3 Agenda berikut.

Agenda#1: Terus memperbaiki posisi tawar-menawar

Pertama: usahakan punya simpanan atau harta-benda yang sepenuhnya jadi hak-milik kita, yang ibaratnya andai kita serahkan semuanya ke gelandangan yang lagi lewat pun suami nggak bisa ngelarang.

Pertanyaannya: gimana kita bisa punya simpanan seperti itu kalau nggak punya penghasilan?

Uang dan barang berharga yang kita kumpulkan sebelum nikah? + Mas kawin? + Seserahan? + Hadiah uang dari teman-teman kita saat nikah? + Uang dan barang berharga pemberian orang tua? + Uang dan barang berharga pemberian saudara dari pihak kita sendiri (bukan dari pihak suami)? + Uang dan harta warisan bapak-ibu sendiri (bukan mertua)? + Uang tambahan dari terima pesanan kue atau jualan kerudung di Facebook? Meski masuknya seicrit-icrit, selama kita bisa mencukupkan gaji suami untuk menjalankan rumah-tangga, apa lama-lama nggak jadi “sesuatu” juga?

Yang suaminya murah hati suka mbelikan hadiah, ambil sebagai kesempatan mbangun inventaris. Kumpulkan barang-barang yang bisa dijual lagi dengan harga jauh di atas harga barang preloved. Kalau perhiasan pastinya emas. Tas branded punya harga preloved paling tinggi di antara semua produk fashion. Aku baru tahu harga preloved tas Hermes lebih tinggi daripada harga preloved tas Gucci. Harga preloved arloji Rolex ternyata bukan yang paling tinggi. Peralatan masak seperti double pan atau food processor lebih gampang dijual dibanding pecah-belah. Pelajari pasar preloved.

Kedua: Jadilah perempuan yang tahan banting sekaligus adil dengan uang

(Catatan: “adil” bukan persamaan kata “nggak matre”)

Aku dididik bapak-ibuku pantang minta-minta. Kelas 2 SD pingiiin es krim. Harganya Rp75 (tahun 1983-84). Uang jajanku Rp25 per hari. Nggak njajan 3 hari demi beli es krim. Jangankan minta orang tua, bilang pingin es krim aja nggak. Juga ingat berangkat ke sekolah dengan sepatu jebol di bagian jempol, diam nunggu dibelikan, nggak merengek-rengek atau mogok sekolah. Waktu adik perempuanku nikah duluan dan bapak-ibuku tanya aku minta apa buat syarat ngelangkahi (normanya orang Jawa), kujawab aku nggak minta apa-apa. Akhirnya dibelikan satu set perhiasan emas sama Ayah. Sepertinya sih ibuku yang nyuruh karena ibuku yang orang Jawa. Sifat pantang minta ini kubawa sampai sekarang.

Waktu suami dapat 50 juta dari ibunya di tahun ke-2 setelah nikah, aku minta buat cabut gigi (setelah berbulan-bulan nahan ngilu karena gigi berlubang), beli pakaian dalam dan beberapa setel baju buat jadi panitia konferensi karena aku nggak punya tabungan sama sekali. Waktu dia dapat lagi 70 juta baru-baru ini, aku nggak minta apa-apa. Aku bahkan nggak minta dia nutup cicilan smartphoneku. Tetap kucicil dengan uang gaji yang sepenuhnya di bawah pengelolaanku. Ketika aku yang giliran dapat uang warisan 70 juta, suami mana yang berani mempertanyakan keputusanku minjamkan hampir 60 juta ke saudara, kemungkinan nggak balik?

Sifat pantang minta itu yang ngasih aku kekuatan tawar-menawar luar biasa setelah berumah-tangga; di rumah tanggaku sendiri meski secara finansial sepenuhnya bergantung ke suami maupun di rumah tangga orang tuaku meski aku cuma guru les. Terasa setelah mereka meninggal, dalam pengelolaan harta-benda peninggalan orang tua dan dalam pembagian warisan.

Yang ingin kukatakan adalah: punya penghasilan sendiri bukan satu-satunya jalan menjaga diri dari posisi tawar-menawar yang lemah dengan suami (dan mungkin dengan keluarga besarnya atau dengan keluarga besar kita sendiri).

Menjadi pengelola yang adil dan tahan banting juga.

Ketiga: bring something to the table.

Jadikan diri pemecah masalah suami, penolong, penyedia informasi berharga yang tidak tergantikan, unggul di fungsi hidup yang sangat menyulitkan suami. Intinya: jangan merasa cukup dengan menjadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Go the extra mile. Cari yang wajib-perlu-penting bagi suami tapi dia sangat kesulitan mengatasinya sendiri. Pilih satu, nggak perlu semuanya. Jadilah resource dan back-up-nya di yang satu itu.

Kukasih ilustrasi yang menculek-culek mata. Fiksi sih tapi on point. Kudapat dari novel tentang kehidupan para perempuan di istana kekaisaran Cina.

Si tokoh utama yang selir kaisar punya kasim yang ngoroknya kenceng sekali. Awal dia masuk istana nggak bisa tidur karena suara ngorok kasimnya itu. Tapi seiring waktu, setelah berulang-kali si kasim ini menghindarkannya dari konsekuensi fatal salah satunya hukuman mati karena kejamnya persaingan antar-perempuan di istana dengan menjadi sumber informasi dan penasehat utama dalam pengambilan keputusan si selir, si selir ini akhirnya sampai di satu titik dimana dia nggak akan bisa tidur kalau nggak dengar suara ngorok kasimnya.

Pada akhirnya, posisi tawar-menawar kita di hadapan suami akan ditentukan oleh seberapa signifikan peran kita (di balik layar) dalam kehidupannya di luar rumah. Mungkin juga di keluarga besarnya. Bukan seberapa mandiri kita secara finansial. Juga bukan seberapa pandai kita menyenangkan hatinya.

Agenda#2: Batasi diri hanya di yang menambah nilai

Maksudku yang nambah nilainya seorang ibu rumah tangga. Kenali betul kegiatan harian kita yang paling banyak menghabiskan waktu dan/atau energi dan/atau uang. Lalu jawab pertanyaan ini: apakah yang paling banyak makan waktu/energi/uangku ini sungguhan nambah nilaiku? Apa cuma bikin hati senang sambil menghabiskan waktu dan uang? Dan yang kumaksud dengan “sebagai IRT” adalah satu atau lebih dari yang berikut ini:

1. Pendidik anak

2. Perancang interior, penghias dan penata rumah (kebersihan rumah kuanggap termasuk di dalamnya)

3. Personal stylist keluarga dan pendamping dalam fungsi sosial-seremonial yang harus ekstra di penampilan (terasa di rumah tangga yang jam publiknya tinggi atau yang lingkungan sosialnya kelas atas)

4. Penanggung-jawab urusan perut

5. Pengelola keuangan keluarga

6. Pengambil keputusan dan caretaker di masalah keluarga yang butuh kepandaian mengelola informasi yang serius seperti anak-anak berkebutuhan khusus, penyakit menahun, penyakit langka, penyakit mematikan dan gangguan kejiwaan

7. Pemilik dan pengelola usaha rumahan

Satu yang harus kutegaskan: pastikan menambah nilainya ini di mata sebanyak mungkin orang, bukan cuma di mata individu suami/ipar/mertua atau di mata kita pribadi. Yang akan memastikan kesibukan kita sebagai IRT selama berpuluh tahun sungguhan nambah nilai adalah dengan tidak melakukan sesuatu semata-mata demi nyenangkan hati atau demi membuktikan diri ke siapapun itu. Hadapkan wajah ke menjadi sebesar-besar manfaat bagi rumah tangga sendiri sekaligus rumah tangga orang banyak. Pengakuan dan penghargaan itu ngikut.

Aku terlalu sering lihat IRT sarjana yang sibuk dg No.1 sampai 4 tapi kelihatan sekali motifnya buat dapat pengakuan dan penghargaan untuk dirinya sendiri. Ini yang langsung kutangkap dari kasus curhatan IRT di video yang kusebut di atas.

Dia meng-homeschool anaknya. Itu yang dia jadikan tameng pembenaran atas pilihannya nggak kerja ketika kuliahnya menghabiskan biaya ratusan ribu dolar, uang hutang, sebagian jadi tanggungan penghasilan suami (sudah lunas), sebagian jadi tanggungan bapak-ibunya yang di kemudian hari bercerai jadi terpaksa ditanggung ibunya seorang diri.

Ibunya yang umur 50-an kewalahan ngatur penghasilannya buat butuhnya sendiri dan cicilan hutang buat kuliah anaknya dulu. Mengeluh dan ngungkit-ngungkit ke si anak. Ya bayangkan sendiri gimana perasaan kita sebagai ibu, ambil hutangan demi ngirim anak ke universitas dan jurusan mahal pilihan si anak, lalu sekarang kita ibunya, cerai, si bapak lepas tangan, harus kerja untuk menafkahi diri sendiri sekaligus nyicil itu hutang, sementara anak yg kita belani duduk di rumah, merasa kewajiban moral “mengembalikan” investasi pendidikan tinggi ratusan ribu dolarnya tertunaikan dengan menjadi homeschool-mama.

Gimana nggak dihujat se-internet..

Yang ingin kukatakan adalah: ada situasi dimana menghabiskan waktu-energi (dan mungkin uang) untuk meng-homeschool anak bukannya nambah nilai kita sebagai IRT sarjana tapi malah bikin kita jadi bulan-bulanan.

Aku nggak nampik sistem pendidikan modern sekarang ini jauh dari ideal tapi juga nggak segitu buruknya sampai-sampai homeschool dijamin hasilnya pasti lebih bagus. Kehendak luar biasa membuktikan kapabilitas kita sebagai pendidik anak menurutku bukan motif yang cukup sakti untuk menjadikan pilihan meng-homeschool sebagai nilai tambah. Motifnya harus lebih besar dari itu.

Dalam pendapatku, semua pilihan yang sifatnya anti-maistream, kecuali kita bisa menempatkan diri sebagai salah satu thought leader di yang anti-mainstream itu, baiknya nggak dikejar.

Agenda#3: Investasikan waktu-pikiran-tenaga untuk membangun support system dan social safety net

Kesalahan terbesar perempuan yang ngotot menikah dengan laki-laki yang tidak disukai keluarganya khususnya bapak-ibunya (apalagi yang ramai-ramai ditentang) adalah menganggap suami sebagai penolong No.1 dan menganggap keluarga suami otomatis akan sebaik keluarga kita sendiri.

Pembacaku yang masih gadis, catat ini: pertolongan keluarga kita sendiri khususnya orang tua dan saudara laki-laki (dan saudara perempuan yang mandiri secara finansial) akan makin terasa artinya justru setelah kita menikah. Jangan pernah menggantungkan harapan ke mertua dan ipar sebaik apapun mereka.

Kesalahan No.2 perempuan bersuami adalah berasumsi orang tua dan khususnya saudara-saudara kandung otomatis mendukung penuh semua pilihan dan keputusan kita, siap-siaga menolong dalam segala cuaca.

Sesayang apapun orang tua, begitu kita bersuami, ada garis yang harus mereka hormati. Sedekat apapun kita dengan adik-kakak, begitu masing-masing berumah-tangga, ada garis yang harus dihormati bersama. Kasarnya gini, pinjam kata-katanya ibu mentorku, “Ketika orang sudah dewasa, ngapa-ngapain pakai kalkulator. Ngitung dulu.” Situasinya sudah nggak sama dengan waktu masih kecil, masih ikut orang tua atau masih sama-sama lajang.

Yang paling baik adalah masuk ke pernikahan dengan kesadaran penuh bahwa orang yang paling bisa diandalkan dan paling peduli sama kepentingan kita dan anak adalah:

1. Diri kita sendiri

2. Orang-orang yang merasa tertolong oleh kita setelah kita menikah

Bisa jadi orang tua/mertua/adik-kakak/ipar adalah salah satu dari orang-orang yang kusebut di No.2. Yang harus diperhatikan: kesiapsediaan mereka membantu/menolong/mendukung/membela bukan karena ikatan darah, bukan karena saking baiknya mereka, tapi karena mereka merasa tertolong/terbantu oleh kita. Never take it for granted.

Apa yang ingin kukatakan?

Bagi perempuan IRT, cobalah untuk nggak sibuk dengan orang-orang yang dari awal sudah bisa kita pastikan nggak bisa atau nggak mau bantu saat kita dalam kesulitan. Perhatikan rekam-jejaknya dalam membantu orang lain. Orang. Lain. Jangan cuma membantu kitanya yang dihitung. Sebesar apapun budi yang kita tanam di seseorang, kalau dia bukan tipe orang yang mau membantu orang yang sedang dalam kesulitan, jangan berharap kita bisa datang ke dia minta bantuan di saat kita kesulitan.

Aku bukannya bilang mutus hubungan dengan mereka semua loh ya. Yang kubilang: jangan sibuk. Kita bisa menjaga hubungan baik tanpa perlu menghabis-habiskan waktu, energi dan uang. Dengan siapapun itu.

Tapi untuk bisa mengkonversi hubungan baik tadi –dengan siapapun itu (kecuali mungkin orang tua kandung)– menjadi support system dan social safety net yang bisa kita andalkan di saat sulit, entah itu dalam kesulitan kecil seperti nggak bisa nandangi pekerjaan rumah tangga di hari-hari pertama haid karena dilep yang menyiksa atau dalam kesulitan besar seperti diusir suami, kita harus mau investasi waktu, energi dan uang.

Kasarnya mau kerepotan, mau mbandani, mau berkorban, mau mbelani orang-orang yang bisa kita andalkan bantuannya di kesulitan kecil (support system) dan kesulitan besar (social safety net).

Jadi IRT di jaman emansipasi dan kesetaraan ini harus pintar-pintar memenej konflik (dan ekspektasi).

Buat dua Daftar Orang.

Satu daftar orang yang bisa kita titipi anak selama 2-4 jam karena kita harus ke Kantor Polisi, yang mau bantu masak-masak dan bersih-bersih saat rumah ketempatan arisan, tetangga yang mau dititipi rumah saat kita keluar kota sampai seminggu, teman yang mau dengar curhatan berlinang air mata kita tanpa menghakimi, saudara/tetangga yang tanpa diminta ngajak anak-anak kita ke rumahnya begitu dengar kita perang mulut dengan suami, orang yang bisa-mau membela atau paling nggak bisa menahan dirinya dari ikut-ikutan menggunjingkan kita di belakang kita; tahu lah maksudku.

Satu lagi daftar orang yang bisa kita titipi anak selama beberapa hari untuk cari kerja, orang yang mau minjami uang tanpa tanya buat apa dan ngasih kelonggaran kapan harus kita kembalikan, orang yang mau menampung kita dan anak di rumahnya sampai kita dapat kerjaan/penghasilan atau dapat kontrakan, orang yang jadi langganan dagangan kita atau yang merekomendasikan jasa-barang kita ke keluarga dan teman-temannya; tahu lah maksudku.

Sibuk lah untuk mereka. Siap-sedia untuk mereka. Membantu tanpa diminta. Menolong sampai batas kemampuan kita. Kalau kita nggak bisa pakai uang untuk melakukan semua itu, masih ada waktu, tenaga, keahlian, barang, pengaruh, koneksi, rumah, apapun yang kita punya.

Lakukan dari sekarang saat rumah tangga kita adem, ayem, tentrem.

Karena kita nggak akan pernah tahu.

Cobaan bukan kita yang njadwal..

Mengeluh Untuk Detox

Setelah menikah baru kulihat kelemahan tidak mengeluh karena terlahir dengan sifat menerima bak samudra (=dilempari apa aja ditelan) dan tidak mengeluh karena merasa nggak berdaya. Bukan berarti mereka yang nggak pernah mengeluh karena dua sebab itu nggak bisa menginginkan keadaan yang lebih baik lho ya. Tapi biasanya berhenti di pingin. Daya juangnya nggak ada. Dan yang disayangkan, meski jauh dari sifat suka mengeluh, pola pikir pasif seringnya sepaket dengan keyakinan diri yang tipis.

Sekilas orang sepertiku kelihatan sangat nggak pandai bersyukur. Keluhanku berderet-deret panjang. Ujungnya nggak kelihatan. Hanya saja, karena umur yang sudah kepala 4, lebih pandai milih tempat, orang dan media. Nggak crut!, yang ada di kepala keluar bulat-bulat dari mulut. Yang baru-baru ini aja kusadari: keluhan yang nggak putus-putus sesungguhnya datang dari kehendak luar biasa.

Kehendak luar biasa mendekatkan kenyataan dengan harapan.

Dengan kata lain: memperbaiki keadaan. Maka dari itu berani kusimpulkan, keluhan yang nggak putus-putus bisa jadi pertanda kuatnya energi mental kita. Butuh energi mental luar biasa untuk bisa merubah keadaan. Dengan kata lain, mengeluh bisa jadi pertanda bagus.

Berkat pemahaman ini, pandanganku tentang mengeluh berubah. Ada mengeluh yang produktif, yang berfungsi sebagai detox, menjernihkan pikiran, supaya kerja kita memperbaiki keadaan optimal. Gampang ternyata mengenalinya:

Ciri#1: Mengeluh ke orang yang sangat berpengalaman

Biasanya seseorang yang jauh lebih tua. Karena mengeluhnya punya tujuan: melihat sumber keluhan dari sudut pandang orang lain. Kalau anak gadis umuran SMA mengeluh tentang wajah nggak cantiknya ke perempuan umur 30-40-an yang (mestinya) sudah lebih memahami cara kerja dunia ini, dia bisa membuka mata si anak SMA. Bahwa daya tarik banyak macamnya. Nggak cuma fisik.

Ciri#2: Mengeluh ke seseorang yang sudah melalui cobaan yang sama

Tujuannya cari masukan, solusi, pencerahan karena dia sudah menyelesaikan perjalanannya, kita belum. Dia bisa membagi apa yang dia lakukan dan apa yang dia tahu. Seseorang yang bisa mempertahankan pernikahannya setelah berulang-kali diterjang badai tentu lebih berbobot masukannya bagi kita yang sering ribut dengan suami daripada masukannya manten baru yang lagi kasmaran. Apalagi masukannya seorang lajang sebijak apapun dia.

Ciri#3: Mengeluh tanpa bercerita secara detil-kronologis

Ini menunjukkan bahwa kita bisa fokus di pemecahan masalah, bukan di derita emosional yang kita rasakan. Kalau sampai merasa harus menceritakan rangkaian peristiwa secara kronologis dan sangat mendetil saat mengeluh, itu artinya kita butuh simpati atau pembenaran atau menuntut persetujuan dan dukungan. Pendeknya kita cari validasi. Biasanya juga nggak mau disela karena niatnya memang bukan cari masukan. Bisa-bisa marah kalau yang kita dapat selain simpati/pembenaran/dukungan. Ciri lainnya: nggak cukup mengeluh satu kali ke satu orang.

Mereka yang nggak bisa berhenti mengeluh, yang dikeluhkan itu-itu aja, ngeluh ke semua orang under the sun tanpa menunjukkan upaya sungguh-sungguh mengatasi sumber keluhannya adalah orang-orang yang sangat merugi. Nggak akan dapat apa-apa selain capek. Yang ada hidup makin ruwet karena akar masalah dibiarkan menghujam dalam. Lha gimana, sibuknya bukan buat yang memperbaiki keadaan? Dah gitu dijauhi orang pula. Siapa yang mau terus-terusan dijadikan “bak sampah”?

Versi yang lebih halus tapi nurunkan derajat: mengeluh ke orang-orang yang kita “suruh” memecahkan masalah. Mendesain keluhan sedemikian rupa agar si pendengar keluh-kesah kita ini merasa bersalah, merasa bertanggung-jawab atas “penderitaan” kita. Ada kepribadian (dan sayangnya biasanya perempuan) yang menggunakan perasaan bersalah orang lain sebagai alat. Mengeluh adalah bagian dari strategi. Silakan aja sih. Sepertinya lumayan efektif juga. It’s just that respectable women don’t play victim.

Ciri#4: Mengeluh tanpa mencari pendengar

Perempuan adalah makhluk perasaan. Apa yang nggak dihitung sebagai “derita” oleh otak bisa jadi “siksa” bagi perasaan. Jadi wajar kalau kita relatif lebih gampang mengeluh dibanding laki-laki. Makin matang kita, makin gampang mengenali “derita” yang harus kita keluarkan dari sistem tubuh sebelum jadi racun tanpa harus melibatkan orang lain.

Contoh: segala macam keluhan yang sumbernya dari kelelahan mengasuh anak sendirian, nggak ada nenek atau ART yang bisa diajak gantian. Mengeluh capek ke bapaknya anak-anak baiknya nggak tiap hari. Sesekali aja. Pada umumnya laki-laki nggak akan ngerti karena mereka nggak tahu rasanya. Bisa-bisa malah direspon dengan “kuliah” tentang kodrat perempuan. Atau kita dibanding-bandingkan dengan ibunya yang meski beranak setengah lusin nggak pernah ngeluh. Apa nggak makin sesak dada?

Emosi negatif dalam situasi-situasi seperti ini baiknya dikeluarkan dari hati-pikiran lewat shalat dan doa-doa kita sambil bercucuran air mata. Atau: lewat terapi menulis.

Dua Teknik Menulis Untuk Men-detox Pikiran

Pikiran kita menciptakan realita yang kita jalani. Kalau kepala ini isinya cuma sambatan di berbagai bidang kehidupan, mau diputar bagaimanapun tetap aja hidup kita berasa seperti pare, pahit. Jadi yang ada dalam kepala ini harus di-setting dulu, di-tune in dulu, baru bisa ngomong soal memperbaiki keadaan.

Aku paham betul gimana rasanya punya 1017 keluhan. Dunia terasa sempit, menjalani hari ibarat nyeret jiwa-raga. Masalahnya, kalau kupikir dalam, 99% dari keluhanku yang 1017 itu nggak lain nggak bukan adalah resiko dan konsekwensi dari pilihan-pilihan yang kubuat sendiri. Ngeluh yang kugambarkan di atas nggak bisa dipakai. Akal yang nggak terima. Di saat-saat seperti ini yang bisa kita lakukan adalah mengelola keluhan secara internal, dengan diri sendiri. Berikut dua teknik menulis yang menurutku sungguhan membantu men-detox pikiran dari “racun”nya keluhan.

Teknik Curhat

Kudapat dari situs rumah dan gaya hidup Apartment Therapy 3-4 tahun lalu. Sangat efektif ketika yang kita butuhkan adalah meredam kekecewaan dan kemarahan yang meletup-letup.

1. Ambil selembar kertas dan bulpen atau pensil

2. Setel Timer di 5-10 menit (baiknya nggak lama-lama biar nulisnya nggak dikendalikan setan)

3. Mulai lah mencurahkan semua kekesalan di atas kertas. Tanpa sensor. Tuliskan kata-kata makian sepuas hati. Jangan berhenti menulis sebelum waktunya habis. Nggak usah dikasih tanda baca, nggak usah ditulis indah, nggak usah bingung dengan EYD, keluarkan semua di atas kertas (=mengeluarkan bisikan setan dari pikiran). Yang harus diperhatikan adalah:

4. Begitu waktu habis, lepaskan bulpen/pensil. Tulisan curhatan kita tadi nggak usah dibaca. Ambil napas, minum air, ambil wudhu; terserah. Kasih diri sendiri beberapa menit untuk menenangkan diri.

5. Setel lagi Timer. Kalau tadi 5 menit, sekarang juga 5 menit. Kalau tadi 10 menit, sekarang juga 10 menit.

6. Mulailah menulis lagi. Kali ini pakai tanda baca. Tulis berkah tersembunyi atau peluang dalam situasi yang bikin kita sambat ini. Kalau kemarahan kita dipicu satu orang tertentu, tulis kelebihannya, kebaikannya ke kita. Pokoknya segala sesuatu yang sekiranya bisa mengalihkan fokus pikiran kita dari negatif ke positif.

Aku ingat pakai teknik ini waktu lagi kesal setengah mati ke suami karena dia nggak segera nanggapi permintaanku membersihkan saluran air dari bak cuci piring yang mampet. Acara cuci piring terpaksa pindah ke kamar mandi. Cuci tangan dan cuci bahan masakan yang tetap di tempat cuci piring. Air bekasnya dialirkan ke ember. Aku harus bolak-balik ke kamar mandi membuang air kotor. Seperti itu berhari-hari. Sampai suatu hari, Azka numpahkan air tampungan. Air kotor seember besar menggenang di seluruh dapur. Aku ngeringkan lantai sambil nangis. Depresi karena nggak punya penghasilan + mangkel karena permintaanku nggak ditanggapi.

Aku duduk lalu mulai nulis selama 5 menit. Tulisan ronde pertama nggak kutulis di sini. Yang jelas nggak ada kata-kata makiannya. Sumpah. Tulisan ronde ke-2 aja yang kutaruh sini buat contoh penerapan. Kurang-lebih seperti ini:

“Udah, malu gitu aja nangis. Seperti nggak pernah kena masalah aja. Bagus tho bolak-balik ke kamar mandi bawa air kotor seember. Olahraga. Biar badan gerak. Nggak glundang-glundung di kasur seperti batang pisang. Lagian bukannya suamimu nggak mau tahu. Laki-laki lain mana mau sebelum berangkat kerja, dah rapi berseragam, repot-repot buang air kotor seember mbantu istrinya.

Telpon Pak Rosidi. Biar dia yang bersihkan saluran air. Nggak usah nunggu suami. Gitu aja kok nggak ngatasi.”

Langsung saat itu juga sumpekku hilang!

Teknik Magnet

Pernah dengar buku The Secret? Terus-terang nggak begitu paham sama isinya. Terlalu abstrak buatku. Yang kutangkap adalah pikiran kita bekerja seperti magnet.

Tahu kan gimana magnet ke semua yang terbuat dari logam? Seperti itulah pikiran kita ke barang-peristiwa-orang. Kalau isi pikiran kita positif, barang-peristiwa-orang yang kita tarik masuk dalam hidup kita juga positif. Isi pikiran negatif, yang masuk juga negatif. Isi pikiran kita bagus+mahal, yang masuk juga bagus+mahal. Isi pikiran kita murahan+soro, yang masuk juga murahan+soro.

Jadi yang harus kita lakukan adalah mengenali keluhan-keluhan yang sifatnya persistent, yang bercokol di pikiran (biasanya menyangkut hal-hal besar dalam hidup seperti perekonomian, pekerjaan dan pasangan hidup) lalu membalik keluhan-keluhan ini menjadi in-line, in-tune, dengan yang ingin kita tarik masuk dalam hidup kita.

Teknik ini kudapat dari blog keuangan personal Perfect Cents Living. Pertama baca di postingannya. Baru paham setelah dia ngasih penjelasan yang lebih teknis di live-nya di Instagram. Kucoba praktekkan di sini.

Langkah#1: Tulis keluhan-keluhan terbesar kita

Menurutku yang paling efektif adalah konsentrasi di keluhan-keluhan yang berakar dari satu sumber dulu. Satu-satu. Dalam kasusku, sumber keluhan terbesarku sejak berumah-tangga adalah keuangan. Salah satunya:

Kenapa sulit sekali buatku punya penghasilan dari rumah?!

Langkah#2: Rubah “pikiran-sambat” tadi jadi “pikiran-magnet”

Di sini yang harus mikir. Merubah pikiran yang sudah tahunan bercokol, yang diteguhkan pengalaman, sama sekali nggak gampang. Nggak akan berhasil kalau pikiran-sambat soal sulitnya punya penghasilan dari rumah tadi kuganti gitu aja dengan:

Gampang buatku punya penghasilan dari rumah.”

Pasti di-resist, ditentang sama pikiranku sendiri, karena pengalamanku 4 tahunan ini meneguhkan yang sebaliknya. Kalau sudah seperti ini yang harus kulakuķan adalah mengkilas-balik semua pengalamanku cari uang dari rumah, mengumpulkan semua pengalaman positif dalam hal ini, sekecil apapun itu.

Ini yang langsung terlintas di kepalaku:

  • Content yang kuhasilkan yang berhubungan dengan belajar bahasa Inggris diminati orang.
  • Page FB sudah mendatangkan 2 penyewa (tanpa Pak Kamto bisa dapat 1.8 juta).
  • Total yang kukumpulkan dari njuali barang nganggur, lungsuran dan tinggalan sejak 2014 dah tembus 30 juta.

Itu semua kenyataan. Merumuskan pikiran-magnet dari pengalaman-pengalaman positif ini jauh lebih gampang diterima alam pikiranku sehingga kekuatannya menangkis pikiran-sambat juga berlipat-lipat.

Kalau pengalaman-pengalaman positif itu harus kurumuskan jadi pikiran-magnet, kemungkinannya:

  • Produk belajar Bahasa Inggris yang kuhasilkan punya daya jual tinggi.
  • Aku punya prospek di online marketing.
  • Barang bekas punya nilai jual di tanganku.

Dari tiga alternatif itu, yang langsung diterima alam pikiranku tanpa setitik pun keraguan adalah yang pertama. Itu yang daya magnetnya paling kuat, yang paling sanggup meng-counter kenapa-sulit-sekali-buatku-punya-penghasilan-dari-rumah.

Penting sekali untuk cari yang daya magnetnya paling kuat. Tujuannya adalah agar kali berikutnya kenapa-sulit-sekali-buatku-punya-penghasilan-dari-rumah terlintas di kepalaku, alam pikiranku sendiri langsung meng-auto-counter dengan produk-belajar-Bahasa-Inggris-yang-kuhasilkan-punya-daya-jual-tinggi. Itu akan memulai train of thoughts yang hasilnya beda jauh dengan pikiran sambat. Pikiran-sambat larinya ke nyalahkan orang/ngasihani diri sendiri/nyerah, pikiran-magnet larinya ke evaluasi diri/membakar semangat/berjuang. Pelan tapi pasti pikiran-punya-penghasilan-dari-rumah-sulit akan kalah, tenggelam.

Gimana? Tertarik untuk mencoba?

Strategi Goal-Setting IRT (Plus Printable Worksheet)

Kenapa IRT butuh strategi khusus?

Satu: Waktu, tenaga dan pikiran seorang IRT bukan milik dirinya sendiri. Apalagi kalau anak masih kecil-kecil, nggak ada ART. Mencapai tujuan selain meladeni anak dan suami harus melewati tingkat kesulitan berlapis-lapis.

Dua: Makin besar tujuan, makin penting juga punya rutinitas. Dunia domestik nggak bisa dijadwal. Kita yang harus sangat lentur. Pada umumnya IRT harus menjalani kehidupan IRT-nya selama beberapa tahun dulu, membaca dan membentuk pola keseharian berumah-tangga sebelum bisa bikin rutinitas harian yang relatif tetap dan teratur.

Tiga: Dunia domestik miskin reward. Yang bisa kita andalkan cuma reward yang datangnya dari diri sendiri; diproduksinya hormon bahagia oleh perasaan berprestasi, bisa mencapai tujuan yang kita tetapkan sendiri. Catatan pinggir: aku merasa sangat berprestasi kalau setrikaan nggak sampai nginap di meja setrika.

However, if there’s anything I learned from staying at home, as difficult as it may get, you’ve got to set long term goals for yourself. At least yearly goals. Otherwise, you’ll spend the rest of your life feeling inadequate, unworthy, insignificant, unaccomplished; all the life-draining feelings which sooner or later will put your self-esteem into a downright coma.

Ada satu hal berkenaan goal-setting yang menguntungkan IRT. Tujuannya dunia-akhirat lahir-batin Senin-Kamis terserah kita. Mau tujuan ambisiusnya Miss Universe menciptakan-perdamaian-dunia atau tujuan membuminya Lek Ni semua-pekerjaan-rumah-tangga-termasuk-nyiapkan-dagangan-Nasi-Pecel-buat-besok beres sebelum sinetron prime-time di TV mulai, terserah. Nggak ada yang ngatur tujuan kita harusnya ini atau itu, nggak ada yang nguber-nguber tujuan kudu tercapai sebelum Lebaran, nggak ada yang melotot kalau kita kendor. Kendali sepenuhnya di tangan kita.

Kebebasan ini mungkin malah menghambat bagi orang yang kesulitan memotivasi diri sendiri. Tapi tolong jangan mikir tujuan pungguk merindukan bulan, yang butuh motivasi diri yang segitu kuatnya sampai cukup buat nggeser Gunung Merapi agak ke Barat. Bisa menghasilkan baju bersih yang wanginya tahan lama tanpa habis-habisan di Molto kan juga tujuan.

Mulai dari yang kecil, yang di depan mata, yang gampang

Meski nggak bisa dibilang self-driven seperti Agnez Mo, pilihanku ngajar freelance dan training mandiriku di Toastmaster International menempaku melakukan segala sesuatu dengan tujuan. Tapi di dua alam itu nggak ada orang yang berhak atas raga, energi, pikiran dan waktuku seperti suami, dan sekarang, anak.

Maka yang harus kita perhitungkan:

1#Utamakan tujuan yang secara langsung menguntungkan seluruh anggota keluarga

Begitu berhenti ngajar, yang bisa kupikir cuma gimana caranya dapat uang dari rumah. Suamiku pekerja kerah biru bergaji UMR, karyawan kontrak pula. Sewaktu kami masih sama-sama kerja pun, dari empat kali ngontrak rumah, sekali harus hutang, sekali berkat dikasih uang orang tua. Gimana nggak bingung pemasukan berkurang hampir separuh?

Yang aku nggak sadar waktu itu: suami tidak melihat berkurangnya penghasilan kami sebagai masalah. Pertama ya karena bukan dia yang mumet mutar penghasilan. Kedua karena setelah menikah gajinya terus naik, kehidupan ekonominya secara keseluruhan membaik. Jadi ketika selama setahun pertama jadi IRT kerjaku kalau nggak murung ya uring-uringan karena ternyata cari uang dari rumah itu nggak gampang apalagi buatku yang nggak punya keahlian bikin kue atau semacamnya ditambah nggak nyaman dengan direct selling, rasanya seperti “me against the world”. Suami gagal paham sama jungkir-balik emosionalku mbabat alas cari uang dari rumah. Waktu itu ada Mbak Tin, belum ada anak. Karena aku nggak cuci-setrika nggak masak nggak momong, yang dia lihat istri yang sibuknya nggak jelas. Dia nggak merasa diuntungkan dengan “sibuk”ku.

Semuanya jadi sangat berbeda ketika hampir 2 tahun kemudian kutetapkan tujuan “punya dapur hemat yang masakannya nggak itu-itu aja”.

Kali ini kami nggak tinggal serumah. Aku di Mojokerto sementara suami di Surabaya yang makan harus beli, yang dia harus mutar ceperannya supaya cukup buat makannya sendiri. Dia gagal paham gimana aku bisa makan dengan anggaran 500 ribu sebulan. Nggak masuk aja di otaknya tapi lihat aku kok masih hidup nggak kelaparan malah tambah gendut. Dia sudah sangat berterima-kasih aku nggak minta tambahan uang belanja dari ceperannya. Apalagi setelah dia merasa masakanku sekarang nggak lagi munyer di Tumis Kangkung, Dadar Telur dan mi instan.

Intinya, ketika kita baru mulai menerapkan goal-setting untuk mendesain rutinitas harian (artinya: hidup sehari-hari bukan lagi sekedar demi menggugurkan kewajiban atau melakukan ini-itu semata-mata karena pingin atau suka), tunda dulu tujuan yang sifatnya pribadi, yang sekiranya cuma memuaskan diri sendiri.

Rumah indah misalnya.

Dalam kasusku itu tujuan pribadi. Suami bukan pecinta keindahan sepertiku. Rafi yang belum genap 3 tahun juga nggak butuh rumah indah (semoga aja belum butuh). Demi kesehatan mentalku sendiri tujuan rumah indah ini baiknya kuminggirkan dulu. Sementara ini baiknya merasa cukup dengan rumah yang bersih, yang barangnya nggak pathing gemlethak.

2#Kenali diri sendiri dengan baik; manfaatkan kekuatannya, berdamailah dengan kelemahannya

Kunci keberhasilan pencapaian tujuan kita sepenuhnya ada di kemampuan kita mengenali diri sendiri. Dari dulu aku menolak bergantung pada yang namanya disiplin-diri dan tekad baja. Mungkin karena nggak punya dua kualitas itu. Mungkin juga karena kecenderunganku yang sangat kuat untuk nggak ngoyo dalam hal apapun. Salah satu prinsip hidupku adalah “kalau belum apa-apa sudah terasa sangat sulit berarti bukan untukku”.

Maka sebelum menetapkan aku harus begini aku harus begitu, aku mau begini aku mau begitu, aku pingin begini aku pingin begitu, sebelum kita menghadapkan wajah ke ekspektasi atau impian, sangat kusarankan merenungkan sejarah hidup dulu. Coba kilas balik pengalaman hidup kita: kritikan dan pujian yang berulang kita terima, di apa-apa kita relatif berhasil, di apa-apa kita gagal, apa-apa yang terasa sangat gampang yang bisa kita lakukan tanpa diajari dan apa-apa yang terasa sangat sulit, yang meski kita merasa sudah jungkir-balik hasilnya tetap aja Belanda masih jauh.

Lembar corat-coret untuk membantu proses berpikir mengidentifikasi kekuatan pribadi bisa diprint dari sini.

Diterapkan ke diriku sendiri:

Sejak gadis pingin sekali jadi perempuan yang sedap dipandang: kulit bersih-bercahaya, baju-bajunya bagus, rambut halus-lembut, badan lencir, make-up halus nempel sempurna di kulit, tapi sadar betul terlalu banyak di dalam diriku sendiri yang menyulitkan tercapainya tujuan itu.

  • Dari sananya sudah nggak suka membelanjakan uang untuk segala sesuatu yang sifatnya artifisial. Dipecut pun nggak tega ngelepas uang buat peranti make-up.
  • Kalau buat facial, creambath atau kosmetik perawatan sebetulnya nggak eman, tapi karena kulit wajahku ini POM bensin, rambut tebal-kaku, untuk bisa jadi bersih-bercahaya dan halus-lembut, keluar uangnya ya harus ekstra. Di situ yang aku mau tapi (masih) eman uangnya.
  • Kutelusuri sampai ke masa kecil, nggak ada yang memujiku cantik, modis atau pintar dandan. Tidak. Satu. Kali. Pun. Yang bolak-balik kudengar kritikan (sampai sekarang di umur 42!). Wajahku kusam lah, culun-polosan, baju itu-itu aja. Adikku sendiri tegas-tegas bilang aku ni jelek. Semua laki-laki yang naksir, nggak ada yang naksir karena tampilanku.

Karena itu menetapkan “jadi IRT yang ayunya ngalah-ngalahi perawan” sebagai tujuan, dalam kasusku, bisa dibilang sama aja dengan cari gagal. Terlalu banyak yang harus dirubah. Berat di energi, waktu dan biaya.

Di sisi lain,

  • Sejak kecil jadi jujugannya adik-adik saat mereka takut atau punya masalah.
  • Itu berlanjut sampai besar. Melebar ke teman, saudara, bahkan bapak-ibu. Pernah ada teman kerja yang bilang, kalau dia lagi bingung (karena urusan kerja), lihat mukaku aja bisa bikin dia tenang.
  • Suamiku nggak sekali bilang, “Sampeyan ini menenangkan.” Karena itu dia berani melamar dan keluar dari dua perusahaan untuk mencari perusahaan lain yang mau membayarnya lebih tinggi.
  • Aku hampir selalu bisa menemukan solusi. Kalau toh nggak nemu solusinya, keberanianku menghadapi kesulitan dan kemampuanku bertahan dalam situasi sulit sudah jadi solusi di dalam dirinya sendiri. Ini mungkin kekuatan terbesarku yang sama pembacaan wetonku digambarkan sebagai “betah menderita”.

Sehingga waktu kutetapkan “menjadi ahli keuangan rumah tangga satu-penghasilan di bawah 10 juta” sebagai tujuan, energi-waktu-biaya-nya nggak sebesar tujuan “menjadi IRT yang ayunya ngalah-ngalahi perawan”.

Dalam kasusku lho ya.

Menjalani hari dengan tujuan mestinya kita lakukan seumur hidup biar umur nggak sia-sia. Tapi kalau kita nggak terbiasa bikin kalkulasi cerdas akan peluang keberhasilannya sebelum menetapkan tujuan, cepat atau lambat kita akan sampai di Titik Pasif, yaitu titik ketika kita merasa ikhtiar nggak ada gunanya. Atau merasa jadi anak tiri nasib. Di lain pihak energi pasti bertambah setiap kali tujuan kita tercapai. Nggak peduli itu tujuan kecil atau besar. Karena itu aku berani bilang:

Tujuan-tujuan yang berangkatnya dari kekuatan pribadi kita akan jauh lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibanding tujuan-tujuan yang berangkatnya cuma modal impian atau pingin.

3#Konsistensi lebih penting daripada hasil

Sama sekali bukan bermaksud membatasi hak asasi kebebasan menetapkan tujuan. Goal-setting ini ibarat pedang bermata dua. Kalau kita nggak hati-hati, nggak bikin kalkulasi, ujung-ujungnya bisa jadi lebih buruk daripada hidup tanpa tujuan.

Gini.

Orang yang hidup tanpa tujuan, selama dia dikelilingi orang-orang yang hidupnya tertata, yang akhlaknya baik, yang agamanya bagus, terjaga juga hidupnya dari kesemrawutan meski dia sendiri hidup bak batang pisang kintir di kali.

Tapi ketika kita merasa sudah berjuang, berikhtiar sekuat tenaga, berenang melawan arus tapi tujuan kita nggak ada yang tercapai, hidup terasa sangat jauh dari harapan: pikiran dan hati jadi banca’an bisikan setan. Karena pintu masuknya dari dalam, orang-orang di sekeliling nggak lagi bisa jadi benteng.

Yang bisa memastikan kita tidak sampai di situasi itu adalah menghadapkan wajah di kesanggupan kita melakukan sesuatu dalam jangka waktu paling sedikit setahun. Jangan menghadapkan wajah ke hasil. Atau ke senangnya hati.

Ilustrasinya seperti ini: akan sangat menguntungkan blogku andai bisa menggenapkan follower di Instagram jadi 10.000. Karena yang kubutuhkan orang-orang yang secara rutin datang ke blog, nggak bisa pakai strategi asal follow atau follow for follow.

Pertanyaannya, sanggupkah diriku, selama setahun konsisten:

  • Menghasilkan 1-3 postingan feed + minimal 5 postingan Story setiap hari?
  • Membalas semua komentar dan DM masuk hari itu juga?
  • Me-like minimal 25 postingan follower setiap hari?
  • Mengomentari minimal 3 postingan follower setiap hari?
  • Mengomentari minimal 3 postingan followee setiap hari?
  • Mem-follow dan mengomentari minimal 3 akun baru yang profilnya cocok dengan profil pembaca blogku setiap hari?
  • Me-like, mengomentari dan/atau mem-follow minimal 3 akun yang menggunakan hashtag yang sama denganku setiap hari?
  • Berpartisipasi dalam “event-event” komunitas online di Instagram?
  • Membangun koneksi dengan akun-akun top di kalangan IRT?

Jawabnya: nggak sanggup! Terlalu menyita waktu. Jangankan setahun, tiga hari berturut-turut aja nggak sanggup.

Kalau sudah tahu seperti itu, meski nambah jumlah follower di Instagram akan sangat menguntungkan, bahkan mungkin perlu, lebih baik menetapkan tujuan lain yang sekiranya juga bisa nambah traffic ke blog tapi kebutuhan konsistensinya lebih “terjangkau”.

Contoh:

Selama 3 tahun berblogging, rata-rata dapat dua postingan blog sebulan. Padahal kalau bisa ajeg satu postingan aja per minggu sudah terasa sekali ke traffic karena sumber pertama traffic-ku Google. Makin sering kita menghasilkan postingan, Google makin senang. Nggak sulit lah bagiku nulis 300 kata dalam kurang dari sejam asal sudah ada poin-poin besarnya. Yang kubutuhkan cuma duduk dan ngetik 1-2 jam setiap hari. Toh dua-tiga bulanan ini sudah nulis hampir setiap hari.

Intinya, tujuan menghasilkan satu postingan blog per minggu jauh lebih feasible, terjangkau bagiku timbang tujuan punya 10k follower di Instagram meskipun tujuan 10k follower ini jauh lebih menguntungkan.

Kuulangi lagi. Sebelum menetapkan tujuan:

  1. Perhitungkan kepentingan anak dan suami.
  2. Perhitungkan kekuatan dan “modal” kita.
  3. Perhitungkan kesanggupan kita mempertahankan konsistensi menjalankan rutinitas-mencapai-tujuan selama paling sedikit setahun.

Punya tujuan yang nggak berani diomongkan ke orang lain? Tulis di Comment di bawah ini. Keluarkan dari angan-angan. Put it out here. Kuaminkan. Omongan dan tulisan itu doa loh. Meski cuma tulisan 2-3 kalimat di kolom Comment di blognya orang yang kenal pun nggak.

[Seri Keuangan IRT] The Why

Sesungguhnya kita dikelilingi IRT-IRT jagoan dalam hal pengelolaan uang. Hanya saja karena kita lebih peduli sama siapa yang mendatangkan uang, skill gandengannya yaitu bisa mengelola uang, luput aja dari radar.

Kuputuskan lah memulai Seri Keuangan IRT yang akan menampilkan IRT-IRT yang kukenal secara pribadi. Mereka memenuhi paling sedikit satu dari syarat berikut. Lebih bagus kalau bisa lebih dari satu.

  1. Bisa menjaga rumah tangganya dari keuangan gali lubang tutup lubang.
  2. Bisa selalu punya simpanan untuk kebutuhan darurat.
  3. Bisa punya rumah tanpa atau dengan sedikit bantuan orang tua.
  4. Bisa berinvestasi.
  5. Porsi terbesar penghasilan bukan untuk belanja konsumsi dan biaya hidup.
  6. Punya dan menjalankan rencana menabung jangka panjang untuk kebutuhan “uang besar” seperti pendidikan tinggi anak, mantu dan masa pensiun.
  7. Bisa “mengantar” anak-anaknya naik ke kelas sosial-ekonomi yang lebih tinggi.
  8. Bisa membuat pada umumnya orang mengira penghasilan suaminya dua kali lipatnya tanpa kartu kredit, tanpa 1001 cicilan.
  9. Bisa memulai dan membesarkan usaha rumahan tanpa hutang ke bank.

Sementara ini 9 itu dulu. Pastinya akan terus berubah seiring waktu. Dua yang sangat penting yang harus kutegaskan di sini.

Satu: Pemahamanku tentang IRT tidak terbatas pada perempuan menikah yang nggak punya pekerjaan tetap atau penghasilan tetap. Nggak harus kerja di luar rumah untuk punya penghasilan tetap. Nggak sedikit juga perempuan bekerja yang menjalankan tugas kerumahtanggaannya tanpa ART. Jadi ijinkan aku milih perempuan menikah yang bekerja untuk kuangkat di seri ini. Mari fokus di kemampuan luar biasa dalam mengelola penghasilan. Soal kerja atau nggak kerjanya nggak penting. Aku nggak ngajak cari bolo [=teman senasib]. Aku ngajak cari ilmu.

Dua: IRT-IRT yang kumaksud di sini adalah mereka yang penghasilannya dan/atau penghasilan suaminya total di bawah 10 juta bermodal pendidikan S1 ke atas. Jadi tolong keluarkan mereka yang berpendidikan SMA atau setara meskipun penghasilannya 6 jutaan. Suamiku selalu bilang gaji+uang lemburnya jauh di atas teman-temannya. Kalau dibandingkan teman-temannya, memang. Dibandingkan teman-temanku? Lain lagi ceritanya.

Konteks keuangan yang kusasar dan kugambarkan di blog ini dan di akun Instagramku adalah konteks pekerja kerah putih, konteks kelas menengah kota. Suamiku memang pekerja kerah biru tapi aku berangkat dari kelas menengah, lingkungan sosialku (sedikit-banyak masih) kelas menengah, ekspektasiku (sedikit-banyak masih) kelas menengah, suamiku pun ingin jadi bagian kelas menengah, jadi pengelolaan keuangan kami sangat dipengaruhi nilai dan gaya hidup kelas menengah. Dengan penghasilan di bawah 10 juta itu artinya kerja keras pengelolaan.

Kenapa kupilih 9 itu?

Bagi yang sudah berumah-tangga, hidup di kota, rata-rata pemasukan per bulannya kurang dari 10 juta, kurasa ngerti sendiri lah gimana sulitnya melakukan 9 yang kusebut di atas. Pada umumnya rumah tangga berpenghasilan di bawah 10 juta di kota-kota besar hidup dari gaji ke gaji; gaji bulan ini habis buat bulan ini juga. Jangankan bisa menyisakan, mencukupkan gaji sampai H-1 gajian aja banyak yang nggak bisa. Kalau sembilan yang di atas harus kujabarkan:

Pain-Point#1: Keuangan Gali Lubang Tutup Lubang

Sampai tahun ke-5 pernikahan, keuangan rumah tanggaku masih gali lubang tutup lubang. Harus hutang untuk biaya-biaya di atas 3 juta, harus bolak-balik narik tabungan untuk pengeluaran sehari-hari. Anggaran yang kubuat untuk memastikan uang yang kupegang bisa nutup semua kebutuhan selalu mbleset, selalu kurang. Uang yang kusisihkan nggak pernah bisa ngumpul. Dulu kukira cuma aku seorang yang punya masalah itu. Setelah intens meng-cover keuangan rumah tangga di Instagram, ternyata banyak temannya!

Dua tahunan ini baru aku sadar: kita nggak bisa mencukupkan penghasilan hanya dengan modal bikin anggaran ‘buat ini nggak boleh lebih dari segini, buat itu nggak boleh lebih dari segitu‘, ‘harus bisa nabung segini‘ dan seterusnya.

Matok batasan-batasan uang keluar seperti itu efektif hanya setelah kita punya gambaran besar yang akurat akan semua biaya yang harus kita keluarkan untuk mempertahankan gaya hidup kita yang sekarang ini.

Review dulu kebiasaan makan, kebiasaan njajan, kebiasaan njajan anak, standar berpenampilan, tempat kita belanja, orang-orang yang kita akrabi, tempat yang kita datangi, pilihan profesi kita, rumah yang kita tempati, peralatan yang kita nggak bisa hidup tanpanya (TV, DVD player, AC, smartphone, tablet, komputer, printer, kulkas, kompor, dispenser, pompa air, mesin cuci dll), ekspektasi dan kelaziman di lingkungan tetangga, tradisi dan norma yang kita junjung tinggi, ritual agama yang nggak bisa kita tinggalkan; semuanya. Lalu sandingkan dengan tingkat penghasilan kita. Sudah sejajar kah antara gaya hidup dan tingkat penghasilan? Karena:

  • ngambil gaya hidup orang tua,
  • ngambil gaya hidup orang-orang sekeliling kita,
  • ngambil gaya hidup orang-orang yang kita anggap sederajat dengan kita (teman sekolah/teman kerja/sepupu/mantan calon suami) sebagaimana yang mereka tampilkan di FB,

jauh lebih “aman” dan nyaman timbang ngambil gaya hidup yang disediakan tingkat penghasilan.

Pain-Point#2: Menyisihkan Untuk Sedia Payung Sebelum Hujan

Jangan berharap bisa menyisihkan sebelum bisa mencukupkan.

Pada umumnya IRT bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk mepekkan rumah [=melengkapi rumah dengan perabotan, peralatan dan pernik-pajangan]. Bukan menyisihkan seperti ini yang kumaksud.

Menyisihkan penghasilan demi sesuatu yang berupa, yang bisa kita nikmati, yang kita sukai, nggak butuh kemampuan pengelolaan luar biasa. Di jaman kita ini apa yang nggak kebeli dengan cara kredit? Dari baby doll sampai kulkas, dari smartphone sampai mobil. Menyisihkan buat cicilan-cicilan kreditan seperti ini difasilitasi dari kiri, kanan, atas, bawah. Cicilan kredit sesungguhnya kan hutang. Yang kumaksud menyisihkan di sini: menyisihkan buat dana cadangan. Ibaratnya ngumpulkan uang buat dianggurkan, buat yang belum tentu terjadi.

Kenapa kebanyakan orang nggak bisa? Apa yang khas, yang unik, yang hanya dilakukan oleh mereka yang bisa yang nggak kita temukan di mereka yang nggak bisa?

Pain-Point#3: Membeli Rumah Bermodal Uang Gaji <10 juta

Makin tahun rumah makin nggak kebeli. Makin lama ditunda, makin mahal. Buat pada umumnya orang it’s a now or never situation. Yang penghasilannya di atas 10 juta pun rata-rata harus dibantu bank untuk bisa punya rumah. Jadi bayangkan sendiri tingkat kesulitannya bagi yang penghasilannya di bawah 10 juta. Ngumpulkan buat DP harus berpacu dengan waktu. Cicilannya sendiri bisa sampai separuh gaji. Sebelum lunas harus sudah mulai kumpul-kumpul buat renovasi. Temanku beli rumah murah antara tahun 2009-10; DP <10 juta, cicilan <1 juta. Nggak sampai 5 tahun temboknya miring. Mikirnya aja pening.

Jadi kupikir mestinya ada cara/trik/sistem/kebiasaan pengelolaan tertentu bagi rumah tangga berpenghasilan kurang dari 10 juta untuk bisa punya rumah (yang temboknya nggak miring dalam waktu kurang dari 5 tahun semenjak dibangun).

Pain-Point#4: Menyisihkan Untuk Berinvestasi

Langsung, singkat dan padat: penghasilan di bawah 10 juta sudah sangat kerepotan dengan biaya hidup sehari-hari dan berbagai cicilan. Investasi rasanya seperti pungguk merindukan bulan. Beda tipis dengan nggak tahu diri.

Itu kalau pengetahuan investasi kita sebatas iklan apartemen, iklan perumahan di kawasan strategis dan iklan bursa efek.

Kalau dipikir-pikir, apa bedanya nyicil mobil 2,5 juta per bulan selama 5 tahun dengan ke mana-mana sepeda motoran supaya 2,5 jutanya bisa kita kumpulkan buat dibelikan tanah sawah atau tanah tambak atau tanah kavling?

Kalau ada yang mendahulukan naik haji dari mobil pribadi, atau mendahulukan pendidikan S2 dari daftar haji, mestinya ada yang mendahulukan beli tanah dari beli mobil dan pendidikan S2. Bedanya cuma di skala prioritas kan?

Yang ingin kucari tahu adalah gimana IRT-IRT teladan ini menetapkan skala prioritasnya. Apa-apa aja yang memudahkan kita menetapkan investasi sebagai prioritas dan apa-apa yang menyulitkan.

Pain-Point#5: Meletakkan Tanggung-Jawab Lebih ke Keuangan Rumah Tangga

Ketika penghasilan kejar-kejaran dengan kebutuhan, tabungan nggak bisa ngumpul, membelanjakan penghasilan demi sesuatu yang tidak kita nikmati sendiri, demi orang yang bukan istri/suami dan anak, terasa sangat tidak pintar. Rutin ngirim buat bantu-bantu biaya makan orang tua kandung berasa melubangi kapal. Jadi mereka yang bisa rutin menyisihkan penghasilan kurang dari 10 jutanya untuk menafkahi orang tua dan/atau mertua, menyekolahkan adik atau ponakan, menampung adik atau ponakan di rumahnya, mengangkat anak padahal anak kandung dah lengkap sepasang, menyantuni tetangga dan saudara yang keuangannya sangat sempit, memutihkan hutang, mensponsori kegiatan-kegiatan RT, menanggung biaya berobat anggota keluarga besar atau bahkan orang yang nggak dikenal, mestinya pengelolaan keuangannya nggak sama dengan pada umumnya orang.

Apa yang bikin mereka sanggup melakukan yang nggak sanggup dilakukan kebanyakan orang?

Pain-Point#6: Menjalankan Rencana Menabung Jangka Panjang

Sekarang kalau menggenapkan gaji sampai H-1 gajian aja nggak bisa, gimana mau bisa menabung? Seperti aku dulu, menabung pun ujung-ujungnya sering kepakai untuk yang bukan tujuannya. Nabung buat memperpanjang kontrak, diambil dikit, diambil lagi dikit, adaaa aja. Begitu kontrak habis, harus hutang untuk memperpanjang.

Pola menabung gali saldo tutup saldo seperti ini umum. Sepertinya khas kelas pekerja. Dulu kukira bisa nggak bisa nabung ditentukan keteguhan hati, kebulatan tekad, disiplin diri. Yang nggak bisa nabung berarti lemah. Ternyata nggak sesederhana itu.

Ada porsi psikologis dan sosial-budaya yang sangat besar dalam keuangan personal.

Jangan samakan dengan keuangan perusahaan. Mungkin lebih mirip keuangan negara yang berat di porsi politiknya. Sejak pemerintahan Gus Dur, otak-otak perekonomian kita mulai berani rasional, realistis. Subsidi BBM sangat memberatkan keuangan negara. Tetap aja untuk menaikkan harga BBM maju-mundur juga kan? Karena berat di biaya politik.

Jadi logikaku, kalau normalnya orang kesulitan ajeg terus nambah saldo tabungannya sampai berpuluh tahun, mereka yang bisa mestinya punya rahasia. Mereka tahu apa yang kita nggak tahu.

Pain-Point#7: Menghasilkan Generasi Unggul Tanpa Sekolah Unggulan

Salah satu klien program conversationku yang dosen ITS bilang, “Perbedaan kelas adalah perbedaan nilai”, bukan sekedar soal perbedaan tingkat pendapatan. Setelah menikah baru aku ngerti.

Ada hal-hal mendasar yang kutemui sehari-hari di rumah orang tuaku yang nggak kulihat di keluarga suami. Salah satunya adalah ekspektasi orang tua ke anak. Makin tinggi kelas sosial-ekonomi seseorang, makin tinggi juga ekspektasinya ke anak-anaknya. Aku sadar betul pentingnya pendidikan bagi kualitas hidup. After all I used to be a teacher. Mau diputar bagaimanapun kualitas hidup manusia nggak bisa dipisahkan dari tingkat kecerdasan dan pengetahuan. Tapi kalau kita berani jujur, pendidikan formal sudah nggak sanggup lagi menjamin masa depan seseorang. Aku contohnya! Di jaman kita ini aja sudah nggak bisa apalagi 20-30 tahun lagi.

Ada yang nggak setuju?

Menurutku jawabannya bukan di memastikan penghasilan kita cukup untuk ngirim anak ke sekolah-sekolah terbaik. Jawabannya ada di rumah.

Apa yang didapat anak dari rumah; yang dia lihat, yang dia amati, kebiasaan-rutinitas yang kita latihkan, nilai-nilai yang kita tanamkan, batasan yang kita buat, ketrampilan yang kita ajarkan, tuntutan yang kita tegaskan, tanggung-jawab yang kita percayakan, standar yang kita tetapkan dan sebagainya.

Dan kalau sudah ngomong soal rumah, peran kunci dipegang perempuan. Pertanyaanku adalah: apa yang dilakukan IRT-IRT yang penghasilan suaminya nggak sanggup membiayai sekolah asrama atau sekolah internasional atau semacamnya tapi anak-anaknya bisa masuk ke kelas sosial-ekonomi lebih tinggi?

Menurutku itu sangat menarik dan luar biasa bermanfaat sekaligus. Silakan bantah di Comment. Agenda pribadiku sejak baligh adalah menjadi generasi yang kuat dan menghasilkan generasi yang kuat. Mau nggak mau, suka nggak suka, itu nunjuk kemampuan ekonomi.

Pain-Point#8: Menciptakan Kesan Mendalam Tanpa Habis-Habisan di Biaya

Contoh paling gampang itu gadis yang tampilannya kelihatan “mahal”. Belum tentu dia tinggal di kawasan perumahan eksklusif kan? Mobil yang dipakainya nggak harus mewah. Bisa jadi ke mana-mana naik motor. Juga sama sekali nggak otomatis penghasilannya tinggi. Beberapa kali aku kenal sendiri gadis-gadis yang penampilannya mahal modal uang saku dari orang tua ditambah kerja part-time.

Berpenghasilan tinggi nggak sama dengan ngasih kesan berpenghasilan tinggi.

Kalau ada gadis yang bisa mengelola uang sakunya sedemikian rupa supaya tampilannya kelihatan mahal, berarti bisa juga IRT mengelola gaji kurang dari 10 juta suaminya supaya tampilan diri-suami dan anak-anaknya kelihatan mahal. Atau rumahnya kelihatan mahal. Atau hajatan-hajatan di rumahnya kelihatan mahal. Atau oleh-olehnya kelihatan mahal.

Yang ini mungkin penting cuma buatku seorang. Wekaka-weka-weka! Pada prinsipnya aku ngefans berat sama segala sesuatu yang murah tapi sebel setengah mati sama segala sesuatu yang murahan.

Pain-Point#9: Meng-Cash-Flow Usaha Rumahan

Dari Robert Kiyosaki aku kenal ide ini: “Kita nggak harus jadi orang kaya untuk punya cash-flownya orang kaya.” Jelasnya gini:

Orang (yang sungguhan) kaya membelanjakan sebagian besar penghasilannya untuk menghasilkan uang lagi. Bukan untuk belanja konsumsi. Bukan untuk dinikmati.

Si Robert itu bikin aku mikir, mempertanyakan fokus pengelolaanku selama ini. Jujur masih berkutat di mengurangi uang keluar demi bisa menabung. Untuk punya cash-flow orang kaya harus kurubah jadi:

Mengurangi uang keluar buat belanja konsumsi/liabilitas demi menambah uang keluar buat belanja investasi/aset.

Nggak cukup hanya dengan ditabung, tapi dipastikan menghasilkan uang lagi. Yang langsung terlintas di kepalaku: usaha rumahan. Emas, reksadana, tanah juga bagus. Hanya saja investasi beresiko rendah umumnya nggak nambah cash-flow, nggak nambah penghasilan.

Akhir-akhir ini aku jadi sangat peka, mencari-cari IRT-IRT yang punya usaha rumahan tanpa atau dengan sedikit modal. Gimana cara mereka memulai? Gimana mereka mengelola keuangan rumah tangganya? Logikaku gini, IRT yang nggak bagus di keuangan rumah tangga nggak mungkin aja bisa mengelola keuangan usaha rumahan. Ujung-ujungnya nggak mungkin usaha rumahannya bertahan apalagi berkembang.

Apa ada perbedaan yang signifikan antara pengelolaan keuangan IRT yang punya usaha rumahan dengan yang nggak? Karena bisa kupastikan beda dengan sekedar menyisihkan penghasilan buat ditabung untuk dibelikan emas.

e747052125771cc52200fe01b90cf8c9919863588.jpg
Foto kucomot dari Pinterest tanpa mau repot mencatat sumber pertamanya. Kupilih yang ini sebagai catatan mental: Semua. Bisa. Jadi. Peranti. Meja. Prasmanan. Nggak perlu ngoleksi pecah-belah khusus hajatan yang dipakainya belum tentu 5 tahun sekali.

Ini sudah hampir 2000 kata, tanpa berpanjang-lebar lagi, IRT pertama yang ku-feature di Seri Keuangan IRT ini bisa dibaca Jumat, 31 Agustus. Sambil nunggu boleh ikuti polahku di Instagram.

image

The Pang Woman

Nihaal, muridku yang 1,5 tahun lalu kelas 4 SD internasional, bilang ‘pang‘ itu ‘gendut’ dalam Bahasa Mandarin. Mamanya yang keturunan India langsingnya seperti gadis meski dah beranak 2. Dan guru lesnya ini memang bener-bener pang.

image
Celana pensil kesayangan (2010)

Ekstra lemak yang kubawa kesana-kemari setara dengan 4 sack beras Cap Raja Tawon yang harganya 60 ribuan. Salah satu pertanyaan yang berulang-ulang kudengar, “Hamil ya?”

Jawabanku enteng aja, “Bukan. Itu lemak.”

Sama seperti kalau ada yang tanya, “Itu anaknya, Bu?”

“Bukan, itu suami saya,” jawabku [maksa] enteng.

Perempuan lain mungkin diet mati-matian. Aku memakai lemakku untuk nodong suamiku tampil seperti layaknya suami perempuan umur 40-an atau ‘Aku pergi sendiri lho, Mas!’.

Dia berhenti makai kaos/kemeja pressed-body dan jeans yang dia suka itu.

Sama aja lah dengan perempuan lain, aku ingin langsing. Seperti gadisku dulu. I miss my high heels. Baju ukuran XL di Matahari kini cuma bisa masuk sampai ke leherku, celana XL-nya berhenti di lutut. Padahal 8 tahun lalu ukuranku M, celananya L. Sejak awal 20-an sampai umurku 33 tahun, bobotku bertahan di 47 kg. Ibuku bilang dari bayi nggak pernah gendut. 4 sack lemak tadi kukumpulkan sejak tahun 2008 saat jam ngajarku nggak lagi tetap dan teratur. Hampir 3/4-nya adalah bonus jadi perempuan bersuami. Bahkan teman-teman lamaku yang gendut syok lihat perubahanku tubuhku.

Bapak-ibuku sendiri nggak percaya. Bunda berulang-ulang nyuruh aku tes lab; khawatir kenaikan dramatis bobotku ada hubungannya dengan turunan diabetic yang tersebar rata di keluargaku, dari pihak Ayah maupun ibu.

Apa artinya 20 kg tambahan lemak dibandingkan dengan hilangnya kemampuan mencukupi diri sendiri? Seperti butiran debu..

Jadi setelah fase ‘What has happened to me?!?‘ ke diri sendiri dan ‘What have you done to me?!!!‘ ke suamiku bisa kulewati, kuputuskan untuk berdamai dengan lemakku.

Ngerti aku, ini aneh; dari dulu aku suka lihat perempuan yang badannya ‘penuh’. Aku belum pernah ketemu perempuan gendut judes. Otakku mengasosiasikan gendut dengan sifat sayang keluarga, suka masak, murah hati dan lucu. Tapi hanya di perempuan. Kalau di laki-laki, aku jadi ingat sifat rakus, tamak dan loba. [Kok bisa gitu ya??]

Jadi, semua perasaan nggak menyenangkan karena kelebihan berat badanku datangnya bukan dari diriku sendiri (kecuali yang berhubungan dengan ngeluarkan uang demi beli banyak baju baru). Yang bikin sumpek tu cara orang menatapku, pegang-pegang lemak di pipi-lengan-perutku dan komentar mereka. Sekali dua aku menther, nggak ngefek, tapi berulang-ulang? Selama bertahun-tahun??

Untung aku nggak meletus.

Pandanganku tentang isu kekayaan lemak ini bisa dirumuskan dalam 4 kata: There’s More To It.

Seperti juga pandanganku ke profesi guru les, junk peninggalan orang tua, barang lungsuran, barang bekas, barang sampah, segala sesuatu yang gratisan, laki-laki nggak mapan–oke, sepertinya semuanya. Ada yang tersembunyi dalam semua yang kusebutkan tadi. Yang luput dari mata. Seperti bungkus kado yang kubuat dari kertas alas kaki tempat cuci mobil atau kembang dari tas berkatan atau barang lungsuran yang bisa kubaguskan. Kekayaan batin yang kurasakan setiap kali ‘nemu’ yang tersembunyi itu.

Mengingat tebalnya lemakku, mungkin butuh waktu agak lama untuk ‘nemu’ harta karunnya. Yang bisa kukatakan sekarang adalah: tubuh gendut memaksaku untuk kerja keras demi tetap bisa jadi perempuan yang menarik seperti saat langsing dulu. Jadi ekstra peduli sama aroma tubuh. Warna-warna apa yang bagus di kulitku. Sangat berhati-hati milih pakaian. Selamat dari impulse berpakaian yang nggak pantas untuk umurku.

Wajahku sekarang menghadap ke arah keindahan yang adanya di luar tubuhku atau perempuan lain. Seperti apa rumahnya? Is she good with children? Suaranya merdu? Kata-katanya santun dan terpilih? Makanan-minuman seperti apa yang keluar dari dapurnya? Tamu-tamunya terurus dengan baik? Gimana pengelolaan uangnya? Barang-barang seperti apa yang dia bawa dalam tasnya?

Semua yang lepas dari pasal berat badan.

image
Warnaku: kuning kunyit (2015)

Langsing atau gendut, semua perempuan sama menuanya. Makin keras kita berusaha bersaing dengan para gadis, makin nggak sedap dipandang. Perempuan anggun–mau gendut atau langsing, tua atau muda, putih atau gelap, fashionable atau nggak, cantik atau biasa-biasa saja–tetap enak dilihat. Kalau pilihannya Gendut-Tapi-Anggun atau Langsing-Tapi-Nggak-Ada-Anggun-Anggunnya-Blast, aku milih gendut.

Kita punya Hari Perempuan Gendut Nasional?