Tampil Mahal Dengan Scarf Dan Selendang

Hidup di bawah tingkat penghasilan nggak terasa menyiksa bila kita punya yang kusebut Ilmu Ngangkat Derajat;

Ilmu membuat segala sesuatu kelihatan lebih mahal dari aslinya, membuat segala sesuatu yang kita ‘pegang’ kelihatan lebih bagus dari awalnya.

Aku nggak akan ngaku-ngaku master di bidang ini. Di lingkungan kelas atas ya kebanting. Kebanting dengan tanda seru. Hukum ‘ada harga ada rupa’ tetap berlaku. Tapi di lingkungan kelas menengah-bawah (bayangkan lingkungan bersepeda motor atau bermobil satu, sekelas Xenia, belinya bekas), kalau nggak kukasih tahu orang nggak akan tahu barangku 90%-nya lungsuran, suamiku pekerja kerah biru dengan bayaran UMR (uang lembur+ceperan+jaminan kesehatan).

Sejak gadis sebetulnya orang sudah muji barang-barangku (‘bagus-bagus!’) dan gayaku berpakaian (‘sederhana tapi anggun’). Masalahnya dulu itu modal barang-barang baru hasil beli sendiri, milih-milih sendiri. Ada yang dibelikan tapi tetap aku yang milih. Tingkat kesulitannya nggak bisa disamakan dengan bagus modal barang lungsuran atau barang baru pilihan orang. Lima tahunan ini mulai sering kudengar pujian untuk interior rumahku dan tampilan Rafi. Jadi maafkan kalau sombong merasa punya Ilmu Ngangkat Derajat level intermediate.

Semoga dalam 3 tahun ini bisa naik ke level advance…

Terinspirasi dari kerudung sisa oleh-oleh umrah dan selendang almarhum ibuku yang kulisting seharga 15-45 ribu di Shopee, pingin merapikan isi kepala tentang gimana scarf dan syal (yang pada prinsipnya sama saja dengan selendang) bisa bikin baju murah-meriah kelihatan mahal, baju biasa kelihatan istimewa.


Tengok tokoku di Shopee untuk “semua yang bagus tapi harganya miring karena preloved, repurposed atau obralan yang dikumpulkan satu demi satu dengan jiwa kurator. Harga di bawah 50 ribu (kecuali barang koleksi, branded dan impor).”


Kerudung segi empat berbahan tipis ini misalnya.

Yang terlintas di kepala perempuan berkerudung bisa kupastikan hanya buat kerudung.

Gini, yang pingin tampilannya kelihatan mahal dengan penghasilan UMR:

Prinsip#1: Hanya memakai bahan polos berwarna netral seperti putih, coklat susu, biru dongker atau hitam untuk baju.

Prinsip#2: Tambah warna-warna pastel yang ringan seperti merah muda, hijau dan biru untuk kerudung tapi tetap hanya bahan polos. Pilih yang bikin kulit kelihatan bersih, yang bagus dipadankan dengan warna netral pilihan kita. Contoh: baju biru dongker kan nggak masuk dipadankan dengan kerudung hijau.

Prinsip#3: Setelah punya tas-sepatu-arloji dalam satu warna netral putih atau hitam atau coklat, boleh tambah warna-warna berani seperti merah, hijau pupus atau oranye. Warna ‘berani’ favoritku datangnya dari alam: tembaga dan emas. Sama: batasi diri di bahan polos. Nggak apa bertekstur atau bermotif timbul asal satu warna jadi dari jauh terlihat polos.

Dengan kata lain hindari bahan bermotif untuk baju, kerudung, tas dan sepatu.

Dengan Ilmu Ngangkat Derajat level intermediate-ku ini kerudung segi empat bercorak seperti di foto di atas nggak kupakai sebagai kerudung. Lebih ngangkat penampilan kalau dipakai sebagai aksesoris.

Mungkin harus kutekankan. Kerudung kusamakan dengan blus, kubedakan dari rambut dan topi. Nilainya ada di menutup dan nyamannya, bukan di kemampuannya menghias kepala. Kerudung 1001-gaya gadis hijabers bikin tampilan trendi memang. Cuma, yang kelihatan mahal itu tampilan elegan, klasik, tidak berbatas waktu, tidak berbatas umur. Semua yang trendi sejatinya penuh batasan.

Gaya elegan “mainnya” bukan di baju (kerudung termasuk di dalamnya) tapi di aksesoris. Bagi yang berhijab itu berarti bros, cincin, gelang & arloji, kalung berantai panjang, scarf-selendang dan mungkin kacamata hitam.

Kubilang mungkin karena kacamata hitam pemakaiannya terbatas dan ngasih kesan angkuh-sombong di tempat-tempat tertentu seperti di kota kecil.

Yang masih belum teryakinkan scarf dan selendang bisa ngangkat penampilan, perhatikan foto-foto yang kutemu di Pinterest ini.

Gaya#1: Dipakai sebagai choker

Atau rapat mengikat leher. Perhatikan gimana biasanya bajunya. Scarf-nya itu bikin tampilan ini secara keseluruhan naik kelas dari biasa ke gaya.

Gaya#2: Dipakai sebagai kalung

Ada 1001 gaya memakai scarf-selendang sebagai kalung. Yang di foto ini belum pernah kulihat sebelumnya. Tinggal nambah kalung untuk ‘cincin’ yang akan mempertemukan ujung selendang dari sebelah kiri dan kanan. Ini ide pemanfaatan selendang polos + kalung/gelang manik plastik (yang kesan murahnya menculek-culek mata) yang brilian!

Gaya#3: Dipakai sebagai dasi

Suka sekali lihat ini karena scarfnya bukan scarf simbol status seperti Hermes. Scarf polkadot seperti ini sih bisa beli di Pasar Gedongan. Beli kainnya terus bawa ke tukang jahit untuk diobras.

Ngefans berat ke gaya monokromatis; dari atas ke bawah satu warna khususnya warna netral seperti putih, hitam, coklat dan biru dongker. Cuma gaya monokromatis memang kelihatan monoton di kita yang berwajah dan tubuh dekat dengan nggak ideal. Scarf ini obat penawarnya.

Kenapa aku melebihkan aksesoris?

Ketika kita berusaha tampil istimewa modal baju thok, kita cenderung milih baju yang terdiri dari 2 potong lebih, baju yang penuh-rame hiasan, baju yang detil hiasannya rumit. Pendeknya baju-baju yang nggak bisa sering-sering kita pakai karena nggak nyaman dan terlalu berlebihan untuk kegiatan sehari-hari. Istimewanya kita taruh di harganya, di bajunya itu sendiri, bukan di kemampuannya ngangkat kita.

Satu kunci hidup di bawah tingkat penghasilan adalah membatasi jumlah barang pribadi.

Supaya nggak kelihatan seperti orang susah, sedikitnya barang ini harus diciptakan oleh multifungsinya. Itu berlaku juga untuk isi lemari. Sebisa mungkin per potongnya nyaman dipakai sehari-hari tapi bisa dibuat pantes untuk kegiatan bukan sehari-hari. Pendeknya bisa diupgrade dengan aksesoris dalam hal ini scarf dan selendang. Jadi pilih baju yang minimal detil/hiasan, yang sederhana dari segi model, tapi bangun koleksi aksesoris yang bisa bikin baju-baju kita tampil isimewa. Yang seperti itu lebih rendah-biaya daripada ngoleksi berbagai macam model dan warna baju.

Misal:

Contoh#1: Padankan blus polos berpotongan sederhana dengan scarf dan kalung berantai panjang atau tebal atau berliontin besar untuk tampilan smart-casual yang pantes untuk acara seminar di hotel berbintang.

Contoh#2: Padankan dengan baju warna gelap yang ngasih kesan formal untuk tampilan mewah. Pakai sebagai luaran gantinya jaket atau cardigan (pilih yang lebar dan berbahan halus-licin). Pantes buat naik Air Asia ke Kuala Lumpur. Biar nggak dikira TKW. Nggak berlama-lama di loket imigrasi di bandara.

Contoh#3: Padankan dengan blus berbahan licin-halus. Pilih scarf yang juga berbahan licin-halus, yang mengandung warna yang sama dengan bawahannya (di sini hitam). Pantes buat kondangan di hotel berbintang.

Terus-terang aksesoris yang satu ini menguntungkan mereka yang tidak berhijab. Setelah kupikir lama, dengan beberapa catatan, gaya pemakaian di bawah ini mungkin bisa dicoba untuk mengupgrade gaya berpakaian berhijab dengan scarf dan selendang.

Sebagai kalung panjang

Catatan#1: Pilih baju 1-2 potong bergaris lurus sederhana seperti gamis dan baju kurung. Menurutku tampilan keseluruhannya nggak bagus kalau celana panjang+blus+hijab masih ditambah lagi dengan scarf atau selendang. Andai harus pakai celana, pilih celana panjang berpotongan pipa, padankan dengan tunik yang panjangnya hampir selutut. Andai harus pakai celana dan blus sepinggang, padankan dengan celana kulot.

Sebagai “latar” kalung panjang berliontin besar

Catatan#2: Kaku di gaya monokromatis. Jadikan warna baju dan hijab sama persis atau paling nggak senada. Scarf dan selendangnya boleh beda warna tapi pastikan kalau baju warna pekat, scarf-selendangnya juga pekat meski beda warna. Begitu juga kalau baju warna muda, pilih scarf-selendang yang juga muda meski beda warna. Kalau scarf-selendang bercorak, pastikan warna baju-hijab adalah salah satu warna di scarf-selendang. Lebih bagus kalau warna dominan scarf-selendang = warna baju. Biar nggak rebutan cari perhatian mata.

Selendang yang dibiarkan menjulur, dipakai dengan kalung panjang

Catatan#3: Pastikan bahan scarf-selendang punya “berat” yang sama dengan bahan baju. Scarf dari sutra yang berkesan ringan jangan dipadankan dengan baju berbahan tebal seperti denim yang berkesan berat. Biar nggak saingan.

Scarf segiempat besar yang dilipat lebar lalu dibiarkan menjulur, sekilas seperti rompi panjang

Catatan#4: Aku pribadi kurang suka lihat gaya berkerudung Inneke Koesherawati yang dibelitkan ketat di leher atau dimasukkan ke dalam baju. Dengan scarf dan selendang pun tetap kuhindari gaya berkerudung seperti itu. Yang lebih bagus di mataku adalah yang ujungnya dibiarkan sedikit menjuntai. Tapi bagaimanapun scarf dan selendang nggak ada gunanya dipakai dengan hijab yang menjulur sampai menutup pinggul.

Gaya berhijab yang ngasih ruang untuk gaya pemakaian scarf dan selendang seperti 4 foto di atas menurutku yang seperti ini:

Ringan, berpotongan sederhana (supaya nggak kuat-kuatan dengan scarf-selendangnya), menjulur tapi berhenti sedikit di bawah dada dan di pundak. Sekali lagi: pastikan baju-kerudung satu warna.

Di toko Shopee-ku ada yang bahannya kurang-lebih seperti yang di foto ini:

Ini dia:

Paling nggak sama bagian pinggirnya: nggak diobras. Kujual murah aja, 15 ribu. Ini baru dalam artian belum pernah dipakai. Bukan aku yang beli. Dari dulu yang kubeli sendiri hanya kerudung berbahan polos. Sisi baliknya berwarna biru. Beli satu seolah dapat dua scarf yang berbeda.


Tengok tokoku di Shopee untuk “semua yang bagus tapi harganya miring karena preloved, repurposed atau obralan yang dikumpulkan satu demi satu dengan jiwa kurator. Harga di bawah 50 ribu (kecuali barang koleksi, branded dan impor).”


Terakhir, yang bertanya-tanya siapa ibu anggun yang fotonya kusalahgunakan di sini, aku nggak tahu namanya. Kalau kita menjelajah topik scarf di Pinterest, foto ibu ini bertaburan. Kulacak dan akhirnya ketemu di Mai Tai Collection di Instagram. Rupanya dia tinggal di Prancis dan jualan insert tas branded (kurang-lebih liner untuk melindungi bagian dalam tas). Dia jenius scarf dan syal!

Pingin lebih sering menghasilkan postingan praktis seperti ini. Yang berikutnya di catatan mentalku: gimana ngasah kemampuan bahasa Inggris modal novel bekas. Ada 10-an novel impor 25-55 ribu yang kulisting di Shopee.

Karena hidup di bawah tingkat penghasilan nggak bisa modal ngempet. Harus pintar-pintar. Ibarat naik mobil, beli-belinya diturunkan ke gigi satu tapi skill-buildingnya dinaikkan ke gigi empat kalau takut nubruk dengan gigi lima.

Setuju?

Gantinya Shopping

Temanku kuliah ada bilang, “Kalau dah berumah-tangga, beli lipstick aja nggak bisa..

Aku dah berhenti beli kosmetik sejak gadis. Tetap kurasakan juga yang diomongkan temanku itu.

Gadisku dulu enteng jalan ke mal dengan teman, beli tunik yang setelah didiskon jadi 150 ribuan di Matahari, pulangnya sambang Hokben dulu.

Sekarang mau beli Nasi Bebek 2 porsi di warung kaki lima dekat rumah aja mikir. Sepatu cuma ada satu, sol-nya mangap. Smartphone nggak bisa lepas dari charger sampai casing-nya retak karena baterainya kembung, ada panggilan masuk pun dah nggak berdering, bisu.

Kuabaikan..

Selalu ada kebutuhan yang lebih besar, lebih penting, lebih mendesak..

Bahkan untuk perempuan yang nggak hobi shopping sepertiku, pulang membawa barang-barang baru yang kita suka tetaplah sangat menyenangkan. Jadi menurutku sebaiknya nafsu belanja kita ini jangan di-repress. Apapun yang ditekan terus-menerus selama bertahun akan jadi bom waktu. Tinggal tunggu meledak.

Cari kompensasinya.

Yang ngasih kepuasan kurang lebih sama dengan belanja.

Dari jungkir-balikku sejak berumah-tangga, kupelajari bahwa otak kita sesungguhnya gampang diperdaya. Kalau titik kepuasan kita adanya di punya barang baru (bukan di punya uang untuk beli-beli), jangan takut!

Punya barang baru nggak harus beli.

√ Barang lama yang kita rubah tampilannya bisa mengelabui otak. Otak akan melihatnya sebagai barang baru.

√ Barang yang sudah kita punya tapi kita rubah fungsinya juga dipersepsi otak sebagai barang baru.

√ Barang-barang lama yang nggak kelihatan mata setiap hari lalu kita taruh di tempat yang terlihat mata setiap hari juga gitu.

√ Barang-barang yang tadinya semburat di sepenjuru rumah lantas kita kumpulkan, kita satukan dengan memperhatikan keserasian warna untuk melayani satu fungsi kujamin ngasih kepuasan batin yang hampir sama dengan belanja.

Inilah salah satu alasan kuhabiskan 75% waktuku menata dan mengorganisasi seisi rumah. Memutar dan mengganti barang yang terlihat mata sambil menginventaris semua barang yang kupunya. Demi mengkompensasi nafsu belanjaku.

Makanya aku sanggup lebih dari satu tahun bertahan dengan satu pasang sepatu mangap dan smartphone bejat yang dah bisu.

(Foto cover dari Apartment Therapy)

6 Tip Mengisi Lemari Dan Mengelolanya Untuk Berhemat Di Belanja Baju

Siapa coba yang nggak pingin punya baju-baju bagus? Seminggu sekali bisa beli baju baru, bisa tampil bak gadis padahal umur sudah kepala empat. Perempuan-Wi lah kalau perasaan kita yang sembilan njerit lihat teman yang meski ngunggah selfie hampir tiap hari bajunya nggak pernah sama. Apapun yang dia pakai jatuhnya Gaya Tur Keren aja.

Sementara kita, tiap kali ada kondangan, stressnya sudah sejak dua minggu sebelum Hari-H; merasa nggak punya baju…

Nggak tahu ini asalnya dari mana. Mungkin karena di umur 42 ini sudah tahu persis pakaian dan warna apa yang pantes buatku, merasa sudah jauh lebih pandai dalam urusan bela-beli dan pilah-pilih dibanding gadis dulu, akhir-akhir ini sering terlintas untuk meng-upgrade penampilan. Yakin aja dengan pengetahuanku sekarang b-i-s-a punya isi lemari yang lebih mantesi dibanding semasa gadis dengan biaya yang jauh lebih rendah pula.

Meski nggak pernah merasa atau dicap modis sejak masih sering cangkruk dengan Patih Gajah Mada, tampilan gadisku jauh lebih “ngangkat” dibanding sekarang. Memang sih dulu lumayan langsing, dapat baju yang mantesi nggak sesulit sekarang setelah bobotku naik 25 kiloan… Tapi banyak juga kulihat ibu-ibu gendut yang penampilannya menarik. Cuma mereka sepertinya belanja bajunya ping bolak-balik. Sebulan bisa lebih dari sekali. Nggak seperti aku gini yang belum tentu setahun sekali.

Karena hobiku mikir, dari situ lanjut ke cari-cari cara: apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki penampilan tanpa setiap bulan harus menyiapkan anggaran khusus beli-beli baju dan perlengkapannya.

Berikut yang bisa kurumuskan. Sebagian cara mengisi lemari dan pengelolaannya yang kupraktekkan semasa gadis. Sebagiannya lagi temuan relatif baru berkenaan tip belanja baju.

Tip#1: Di lemari, simpan h-a-n-y-a baju yang pantas dan nyaman dipakai

Semua baju yang:

  • kebesaran dan kekecilan
  • kepanjangan atau cingkrang
  • jatuhnya nggak bagus
  • warnanya nggak mantesi di kulit
  • warnanya sudah sangat pudar atau dekil
  • panas karena terlalu tebal
  • malu makainya karena terlalu tipis
  • modelnya nggak mantesi
  • modelnya sangat ketinggalan jaman
  • modelnya menonjolkan kekurangan fisik
  • robeknya nggak bisa dijahit, bolongnya nggak bisa ditutupi
  • nggak pernah kita pakai karena nggak ada pasangannya

Simpan di tempat lain. Punyaku habis kubagi-bagi dan kujual. Jangan takut lihat isi lemari berkurang sampai 3/4-nya. Lebih baik cuma punya dua setel baju tapi ekstra mantesi daripada punya 20 setel tapi nggak ada satu pun yang ngangkat penampilan. Kondisi lemari terseleksi ketat seperti ini menempa kita membeli dan mengumpulkan hanya yang membaguskan penampilan.

Tip: Ingat-ingat prinsip hidup ‘ngisi lemari bukan buat banyak-banyakan tapi buat pantes-pantesan’.

Tip#2: Beli dan pakai baju dengan mengingat tiga fungsi

Setelah memastikan lemari isinya hanya yang mantesi di kulit dan badan, jadi gampang untuk strategis dalam berbelanja baju dan memanfaatkan isi lemari. Ingat, tujuan kita adalah demi feel good about ourselves di hadapan orang lain, jadi perhatikan tiga fungsi ini ketika membeli juga ketika memakai:

  • Fungsi#1: pakaian bepergian yang harus sangat diperhatikan seperti bertamu ke rumah seseorang yang kedudukannya di atas kita, acara di hotel berbintang, kondangan mewah
  • Fungsi#2: pakaian bepergian yang harus diperhatikan seperti ke mal, bank, acara sekolah anak, bertamu ke rumah rekan kerja suami, kondangan kelas rata-rata
  • Fungsi#3: pakaian yang mantesi untuk terima tamu atau pergi ke sekitaran rumah seperti minimarket atau bertamu ke tetangga dekat

Isi lemari IRT mestinya komposisinya seperti piramida, makin ke bawah fungsinya, makin banyak jumlahnya. Nggak tahu lagi dengan anggota dewan atau artis yang umurnya habis di luar rumah. Upayakan minimal punya satu setel untuk Fungsi#1 dan 2, lebih dari satu setel untuk Fungsi#3. Kalau anggaran terbatas, bisa disiasati dengan beli satu bawahan aja tapi bedakan atasan dan kerudungnya. Untuk Fungsi#1 dan #2 tambahkan aksesoris di luar sepatu/sandal dan tas.

Demi menghindari punya terlalu banyak baju di fungsi yang nggak terlalu sering kita lakukan, tata pakaian di lemari berdasarkan fungsinya. Dengan cara ini, kita selalu punya gambaran menyeluruh tentang berapa setel yang kita punya untuk masing-masing fungsi. Ini info yang sangat berharga saat bela-beli. Tanpa gambaran besar ini, sebagian orang mungkin selalu membeli pakaian yang cuma bisa dipakai buat ke sekitaran rumah. Sebagian lagi tiap beli mesti beli yang cuma bisa dipakai ke kondangan mewah. Hasilnya: bolak-balik kena serangan perasaan nggak punya baju. Tiap kali ada kondangan, beli baju. Mau kedatangan tamu penting, beli baju. Tiap Lebaran, beli baju.

Yang paling penting adalah tidak memakai pakaian yang kita siapkan untuk kondangan mewah ke mal. Sekali kita turunkan fungsi sebuah baju, nilai istimewanya ikut turun. Ada kondangan mewah berikutnya, kita dah merasa nggak punya baju.

Tip: Menghemat belanja baju lebih gampang kalau koleksi kita didominasi baju 2-3 potong. Yang hanya memakai baju satu potong seperti abaya, coba ikuti akun bellealyahya. Meski baju dan kerudungnya modelnya itu-itu aja, dia terlihat stylish.

Tip#3: Hanya membeli yang “nyambung” dengan yang lain

Yang paling bagus adalah punya “blueprint” penampilan; gambaran besar yang cukup spesifik tentang penampilan yang kita inginkan dan tahu betul baju-baju seperti apa yang bisa ngasih tampilan yang kita inginkan itu. Apa tampilan profesional yang chic? Tampilan yang praktis, ringkas, bebas-gerak, bebas ribet? Tampilan K-Pop? Tampilan lady-like yang anggun? Tampilan etnis mungkin? Begitu kita tahu gaya berpakaian yang kita inginkan, jadi gampang membangun koleksi baju-aksesoris yang membentuk satu kesatuan yang saling melengkapi. Nggak ada lagi cerita baju nggak kepakai karena nggak ada pasangannya.

Cara lain yang lebih gampang dari punya blueprint adalah menetapkan satu warna signature lalu 2-3 warna penunjang dan membatasi diri hanya membeli baju-kelengkapannya di warna-warna itu saja. Warna signature adalah warna yang sangat kita sukai. Lebih bagus kalau juga bikin kulit terlihat bersih dan/atau badan terlihat kurusan. Mulai dengan membangun main piece dalam warna signature ini. Warna signature coklat misalnya; celana panjang coklat, rok coklat, abaya coklat, tunik coklat, blus coklat, kerudung coklat, aksesoris coklat dan seterusnya. Dalam gradasi coklat yang berbeda-beda tentunya. Jangan coklat susu semua. Lalu lengkapi koleksi main piece ini dengan baju-aksesoris dalam 2-3 warna yang meng-complement coklat seperti kuning kunyit, merah muda dan tembaga/emas.

Di umur kepala empat mestinya kita sudah tahu gaya berpakaian yang “ngangkat” tampilan kita. Pengetahuan tentang apa-apa yang mantesi di kita ini sangat membantu kerja berhemat di penampilan.

Tip: Kalau masih belum tahu atau belum punya gaya berpakaian, coba cari 1-2 panutan berpenampilan di Instagram atau Pinterest. Bisa karena gaya berpakaiannya sangat kita suka (yang kita suka di badannya orang belum tentu mantesi di badan kita lho ya; jadi berhati-hati lah dalam memilih), tapi yang lebih baik adalah karena umur, postur tubuh dan warna kulit si panutan ini kurang-lebih sama dengan kita. “Baca” pola berpakaiannya atau tiru aja mentah-mentah kalau malas mikir.

Membangun koleksi baju dengan patokan satu gaya berpakaian tertentu mengijinkan kita tetap “berpenampilan” tanpa harus beli baju baru tiap bulan.

Tip#4: Setia dengan gaya dan warna-warna elegan

Di antara semua gaya berpakaian, yang paling ramah dompet ya gaya elegan. Pertama, gaya ini mengedepankan kesederhanaan. Untuk dapat satu look nggak perlu banyak piece jadi yang dibeli juga relatif lebih sedikit dibanding misalnya dengan gaya K-Pop yang kebanyakan printhilan. Kedua, ini gaya yang paling tahan sama ujian waktu. Baju dan aksesoris bergaya elegan tetap sedap dipandang meski yang makai cucu kita yang hidupnya sudah di beda jaman. Tapi yang paling kusuka, ini gaya berpakaian yang mantesi di semua umur dan semua bentuk badan. Jadi mereka yang memang cenderung ke gaya ini bisa kupastikan belanja baju dan perlengkapannya sudah hemat dengan sendirinya.

Tip: Yang berkerudung sepertiku, yang ruang gerak bergayanya dalam berpakaian relatif terbatas, gaya elegan bisa ditunjukkan dengan pilihan warna dan hiasan. Minimalkan embellishment di pakaian, minimalkan motif, minimalkan warna (dari kepala sampai kaki 1-2 warna saja) dan minimalkan aksesoris.

Tip#5: Belanja baju di 2-3 tempat saja

Kecuali kalau kita punya bakat serius dalam desain fashion seperti New Darlings, makin banyak dan berbeda-beda tempat beli baju, makin semburat juga isi lemari. Sulit dapat tampilan yang bisa konsisten “ngangkat” penampilan kita kalau isi lemari acak-semburat biarpun isinya banyak. Juga jangan berharap bisa ngumpulkan satu gaya berpakaian tertentu dengan cara belanja baju dari berbagai mal/toko/merk di seluruh Indonesia. Kecuali itu tadi: yang punya bakat luar biasa dalam desain fashion.

Satu toko atau satu merk biasanya mengusung satu gaya tertentu. Masuk lah ke satu toko/outlet merk tertentu lalu lihat keseluruhan bajunya. Kalau yang kita lihat secara garis besar nggak sesuai dengan blueprint berpenampilan kita, nggak perlu lagi lihat satu demi satu baju yang dipajang. Kenapa? Kemungkinan besar kita akan nemu paling nggak satu baju yang kita suka di toko mana pun itu, tapi cara belanja seperti ini kerjanya menentang Tip#2 dan terutama Tip#3.

Kita nggak lagi mengingat fungsi, juga cenderung lupa me“nyambung”kan baju yang lagi kita pilih-pilih ini dengan isi lemari. Kerja kita milih-milih bukan lagi berdasarkan isi lemari, bukan berdasarkan blueprint tampilan yang kita inginkan tapi berdasarkan isi toko itu. Hasilnya: kemungkinan besar yang kita pilih nggak nyambung dengan baju-baju kita yang lain sehingga nggak bisa dipadu-padankan.

Tip#6: Tetapkan 2-3 set sepatu-tas-arloji dan 2-3 set perhiasan

Aksesoris (sepatu, tas, arloji dan perhiasan) yang kita beli dan pakai dengan seksama, bikin isi lemari kelihatan lebih banyak dari yang sebenarnya. Aksesoris ini yang bisa menghasilkan tampilan yang berbeda-beda tanpa perlu gonta-ganti baju.

Bukan berarti harus punya 2-3 pasang sepatu, 2-3 tas, 2-3 arloji dan puluhan perhiasan. Sepatu, tas dan arloji dalam warna yang sama atau dalam warna yang saling meng-complement (yang bagus disandingkan), akan mengangkat penampilan kita, bikin penampilan kita jadi utuh. Efek ini nggak kita dapat dari sepatu hitam, tas oranye dan arloji emas. Juga bisa ngangkat baju lho. Arloji dan sepatu berwarna atau beraksen tembaga bikin baju-baju berwarna coklat terlihat mewah. Jadi yang harus diperhatikan itu keseragaman warna dalam satu set dan perpaduan warna antar 2-3 set yang kita punya, bukan jumlahnya.

Sebelum mulai berburu dan beli-beli kelengkapan baju, tetapkan dulu 2-3 set warna aksesoris. Lengkapi dulu satu set warna sebelum beli set warna berikutnya. Kalau yang sudah ada sepatu hitam, uang di tangan hanya cukup untuk beli tas, belilah tas hitam. Begitu uangnya ada, beli arloji hitam. Atau perak yang bagus disandingkan dengan hitam. Kesempatan berikutnya datang, mulai nyicil sepatu-tas-arloji warna lain. Bedakan modelnya. Jangan punya tas warna hitam, coklat dan putih tapi modelnya tas tote semua.

Cara mencicil strategis seperti ini juga berlaku untuk perhiasan. Tentukan dulu bahan dan warna apa yang paling meng-complement warna signature kita dan gaya berpakaian kita. Aku yang sangat menyukai gaya elegan dan warna coklat misalnya, mungkin bisa mulai dengan mengumpulkan satu set perhiasan yang terbuat dari bahan logam berwarna tembaga. Pertama bros yang pasti kepakai, menyusul berturut-turut gelang, cincin dan mungkin kalung berantai panjang. Setelah itu mulai mencicil satu set perhiasan dari mutiara imitasi. Setelah itu baru mencicil satu set perhiasan bergaya etnis karena meski nggak sangat nge-fans ke gaya etnis, warna-warna alami perhiasan etnis serasi dengan isi lemari yang didominasi coklat.

Tip: Baju-baju berwarna polos tanpa motif tanpa embellishment paling mengakomodasi permainan aksesoris. Perhiasan emas misalnya. Cincin-gelang-bros emas sederhana terlihat istimewa di baju-kerudung warna lembut monokromatis (satu warna) seperti coklat Cappucino/semu merah muda/biru langit. Lengkapi dengan clutch-sepatu-arloji beraksen emas. Dengan cara ini kita nggak perlu pakai gelang emas sampai ke siku atau liontin emas sebesar gembok pagar untuk “nunjukkan” emas-emasan kita.

“Mencuri” Gaya Belle al Yahya & New Darlings

Ini mungkin cara berhemat belanja baju yang paling efisien: mencontek gayanya orang-orang fashionable yang nggak didikte tren. Foto-foto yang kutaruh di sini kuambil dari dua akun fashion favoritku. Dua-duanya punya ribuan foto tapi sama-sama susah nemu dua baju yang dipakai lebih dari sekali. Aku kadang mikir itu baju apa tisu?? Sekali pakai..

Seperti yang sudah kubilang di atas, lemari yang isinya baju 2-3 potong menghasilkan look yang jauh lebih bervariasi dibanding yang isinya didominasi baju satu potong seperti abaya. Karena itu baju-baju Belle kelihatan itu-itu aja, nggak seberagam baju-baju New Darlings yang sebetulnya juga itu-itu aja begitu kita bisa membaca polanya. Coba kurumuskan gaya berpakaian mereka di sini. Yang sekiranya bisa bantu-bantu menghemat belanja baju tapi tetap bisa feel good about ourselves di depan orang banyak.

Belle:

  • Main piece-nya adalah abaya yang melebar ke bawah, baju kurung, celana kulot dipasangkan dengan blus lebar menutup panggul, tanpa renda/bordir/manik/sulaman, dalam warna-warna polos yang lembut.
  • Main piece tadi seringnya dipadukan dengan kerudung yang juga polosan tanpa embellishment tanpa motif, berwarna sama, senada atau kontras dengan baju
  • Untuk kesempatan istimewa baru lah mengandalkan baju ber-embellished
  • Mengandalkan satu gaya berkerudung untuk berbagai kesempatan tapi yang memang betul-betul mantesi di dia (apa karena orangnya memang cantik ya??)
  • Tanpa aksesoris, tasnya pun cenderung bermodel sama

Menurutku yang bikin Belle tampil gaya justru minimalis dan polosannya itu; dari kepala sampai kaki paling banyak dua warna, warna polos tanpa motif, tanpa embellishment, tanpa aksesoris. Baju dan gaya berkerudungnya yang itu-itu saja dikompensasi oleh pilihan warna-warna lembut dan padu-padan monokromatis atau kontras sekalian.

Terus-terang aja kesulitan merumuskan gayanya New Darlings. Ini yang bisa ku”baca”:

  • Main pieces-nya banyak tapi punya satu persamaan penting: ngepas di badan dan nyantai. Antara lain: jins dan celana panjang waist-line, rok pendek, celana pendek, kulot 3/4, pull-over, kaos, blus, kemeja, turtle-neck dan sweater dalam warna-warna dasar polos seperti biru denim, hitam dan coklat
  • Untuk kesempatan istimewa baru biasanya memakai yang selain itu: gaun dari bahan kain yang halus
  • Sepatu dan tasnya dalam berbagai model tapi juga berciri nyantai, didominasi warna coklat dan hitam. Ngefans sekali sama tas dan sepatu berbahan kulit yang warnanya coklat.
  • Aksesorisnya mengandalkan topi lebar dan topi baret, rambut (sejauh ini dia punya empat macam hair-do), kacamata besar, kacamata hitam bulat, tas dan sepatu. Kadang scarf pendek gaya koboi atau kalung berantai panjang. Nggak seperti kebanyakan perempuan yang bingung di cincin-gelang-anting-kalung.

Bisa kusimpulkan bahwa makin mandiri kita dari tren/mainstream berpakaian, ditambah makin konsisten kita dalam berpenampilan, makin gaya juga orang lihatnya. Baju-bajunya New Darlings ini sepertinya hasil adaptasi gaya berpakaian tahun 70-an dan 90-an. Nggak kelihatan aneh karena nggak ditiru mentah-mentah. Dia ambil karakteristik utamanya aja dan konsisten di situ: nyantai dan ngepas badan. Tas dan sepatunya juga konsisten nyantainya. Keunggulannya menurutku di penggunaan aksesorisnya. Aksesoris yang dia pakai cuma beberapa macam tapi nggak umum–4 macam hair do, 2 macam topi, 2 macam kacamata, scarf pendek atau kalung panjang, tas kulit coklat dan sepatu tanpa hak. Dia pilih hanya aksesoris yang menonjolkan kelebihan fisiknya (salah satunya rambutnya) dan yang menonjolkan baju-bajunya yang nyantai dan ngepas badan lalu konsisten di yang cuma beberapa macam itu.

Berikut kesimpulan terakhirku untuk bisa gaya tanpa habis-habisan di belanja baju dan kelengkapannya.

Satu: Tahu betul model baju yang mantesi di kita. Batasi diri di 2-3 model/setel baju tapi yang sungguhan mantesi.

Dua: Batasi pemilihan warna dan motif. Konsisten di warna-warna lembut polosan justru lebih gaya daripada punya baju dalam berbagai warna. Kalau nggak suka polosan, konsisten di motif kembang-kembang aja atau garis-garis aja atau polkadot aja justru lebih gaya daripada punya segala rupa motif.

Tiga: Batasi penggunaan aksesoris tapi jangan pernah keluar rumah tanpanya. Tiga sampai empat macam aksesoris aja tapi cari yang ekstra mantesinya di kita. Bisa karena menonjolkan kelebihan fisik kita, bisa karena menonjolkan model baju yang mantesi di kita, bisa karena menonjolkan warna signature kita. Lebih bagus kalau nggak umum. Aksesoris itu-itu aja tapi nggak umum malah lebih gaya daripada ganti-ganti ikut tren.

Kata kuncinya ada di memilih, membatasi diri dan konsisten.

Aku tahu nggak semua IRT merasa sangat lemah di departemen penampilan ini tapi kurasa ini isu umum. Yang punya anak masih kecil cari waktu buat mandi aja susah. Menjaga bentuk dan bobot tubuh apalagi. Padahal agak sulit loh menghormati perempuan yang nggak menghormati dirinya sendiri. Orang akan lihat level self-respect itu pertama kali di cara seorang perempuan mempresentasikan dirinya.

Kalau ada yang punya cara menghemat belanja baju yang nggak kusebut di sini tolong tulis di comment. Mungkin bisa kupraktekkan.

image

Rumah Yang Nggak Rata-Rata

Awal tahun 80-an mestinya mal belum berserak seperti sekarang. Di Jakarta sekalipun. Ayah lagi pendidikan di perguruan tingginya polisi masa itu. Bertiga dengan 2 adikku, Ayah bawa kami ke tempat yang seumur 8 tahun hidupku belum pernah kulihat di Gresik dan Surabaya.

Kata-kata Ayah terekam di kepalaku, “Ini pasarnya orang kaya.”

Pikiran anak-anakku merekam hari itu sebagai pertanyaan besar yang percaya nggak percaya menentukan arah hidupku:

‘Kenapa harus orang kaya?’

Sejak hari itu, tiap kali aku nemu seseorang atau sesuatu yang bisa mbuktikan it’s not about how rich you are, mataku langsung Mak Byar! Nyala seperti neon.

IMG-20151229-WA0000
Tembok yang nggak diplamir dan perabotan nggak baru malah artistik. (foto dari Pinterest)

Sonya misalnya. Teman kos kemudian murid yang sudah kuanggap adik. Aku tahu dandanannya semasa kuliah. Dia bukan anak orang kaya yang sanggup beli tren. Selalu dengan jeans dan kemeja. Setelah kerja barulah aku melihatnya bertransformasi jadi a work of art who stands out in the crowd.

Jangan salah. Sampai sekarang aku nggak pernah lihat dia pakai perhiasan emas, berlian, mutiara atau akik. Juga nggak pakai make-up kecuali ke kondangan atau acara resmi. Setelah jadi dosen kurang dari setahunan ini aja aku lihat dia berlipstik tiap hari. Itu pun warna-warna natural. Rambut keriting panjangnya nggak pernah sekalipun dipotong ikut tren, diwarnai atau di-rebonding. Meski sekarang dia punya barang-barang branded, bisa kupastikan bukan itu modalnya meng-upgrade penampilan.

Modalnya?

Dia nggak pernah keluar rumah tanpa aksesoris. Entah itu gelang, anting, kalung, cincin, selendang, scarf atau kombinasinya. Karena dia pengagum barang-barang etnik, aksesoris pilihannya terbuat dari kayu, serat tumbuhan, kulit kerang, batok kelapa, manik alam sampai manik plastik. Aksesoris dari kain juga selalu yang bermotif etnik. Sampai beberapa tahun lalu Sonya masih setia dengan jeans. Suatu hari dia ngantor dengan blus obralan seharga Rp7.500. Dia yang pakai, dipasangkan dengan jeans, ditambah aksesoris pilihannya, kita nggak akan nyangka.

IMG-20151229-WA0001
Only a master gets to break all the rules; termasuk dimana dia harus cari perabotan untuk rumahnya. (foto dari BHG)

Sonya perempuan yang membuktikan bahwa aksesoris murah bisa lebih bagus dari perhiasan emas. Kalau aku nganjurkan perempuan untuk ngoleksi emas, itu karena nilai investasinya, bukan karena kemampuannya memperindah perempuan. Dia juga yang membuktikan penampilan indah, menarik, presentable bukan soal tren, bukan soal branded nggak branded. Jauuuuuuuuuh lah dengan Syahrini.

Dia kasus Mak Byar! keduaku. Sonya, bukan Syahrini.

IMG-20151229-WA0003
Kursi dan mejanya perabotan tua yang dicat ulang. Centerpiece-nya harus buat sendiri dari plank kayu dan per. Itu pernyataan ‘I set my own limits‘ (foto dari Better Homes & Gardens)

Kasus pertamaku kutemukan di diriku sendiri, setelah jadi guru Bahasa Inggris.

Aku naik dari tutor golongan 2A langsung ke golongan 3A (meloncati 2B) dalam waktu setahunan di kursusanku yang pertama dan mbangun reputasi sebagai tutor A-List dengan honor tertinggi (padahal nggak blast

). Jadi principal tutor untuk program TOEFL, ESP (English for Specific Purposes) dan in-company training di kursusanku yang kedua. Terpilih sebagai presiden salah satu Toastmasters Club di Surabaya. Jadi interpreter lepas di acara peluncuran program salah satu sub-agen PBB dan training/studi banding yang diadakan British Council di Surabaya. Semua yang ngasih aku reputasi keren di bidang pelatihan informal Bahasa Inggris.

Aku bosan ditanya’i belajar Bahasa Inggris dimana. Nggak sedikit yang kaget begitu tahu aku bukan bentukan Sastra Inggris dan nggak pernah kuliah di luar negeri. Rupanya Bahasa Inggrisku terlalu ‘wah’ buat kelas guru kursusan lokal nggak terkenal.

Dan bapakku bahkan nggak pernah ngeluarkan uang untuk kursus Bahasa Inggris kecuali satu kursus conversation intensif 1 bulan yang kuhadiri 8 kali semasa kuliah, 4 tahunan sebelum ngajar, yang terbersit pun nggak kalau aku akan jadi guru les Bahasa Inggris selama hampir 12 tahun dan berjodoh dengan salah satu murid privatku.

Life.

IMG-20151229-WA0005
Ini jelas hasil comot sana-sini. Wallpapernya pun dapat sisa. Kalau itu konsisten kita lihat di seluruh rumah, maka kesannya: jenius! (foto dari BHG)

Seperti siapa yang ngira kasus Mak Byar! ketigaku bakalan kutemukan selama nunggui ibuku yang bolak-balik masuk rumah sakit karena gagal ginjal? Aku bahkan nggak ingat gimana awal ceritanya. Yang jelas aku nemu situs majalah Better Homes & Gardens (BHG) di internet terus langganan newsletter gratisannya dan takjub lihat foto-fotonya. Beberapa bikin aku tercengang saking tergugahnya. Ada yang bikin mataku bersinar, ada yang bikin tersenyum; semua bikin aku lupa sama masalah hidup.

IMG-20151229-WA0006
Atmosfirnya beda sekali dengan kamar hotel yang menurutku flat. Yang seperti ini dapatnya bukan di mal atau toko perabotan. (foto dari BHG)

Kalau ada yang merasa kata-kataku di atas berlebihan berarti dia belum pernah sekalipun ketemu sama yang namanya passion. Perasaanku lihat foto-foto BHG belum seberapa dibanding efek passion ngajar Bahasa Inggrisku.

Tahun 2012 betisku digigit Tomcat. Waktu itu wabah Tomcat belum masuk TV. Sama dokter aku dikasih salep untuk serangga biasa yang malah memperparah infeksi. Luka yang yang tadinya seujung jempol jadi selebar telapak tangan. Yang tadinya di betis, nambah di paha belakang dan bernanah. Nyerinya ya Allah…

Karena aku merasa sudah dilihat dokter, aku tetap ngajar. Aku ingat gimana selama 1,5 jam, di kelas conversation di kantornya Sonya, nyeriku itu hilang!

IMG-20151229-WA0007
Seperti yang kubilang tadi, kalau ini konsisten kita lihat di seluruh rumah, maka kesannya: jenius! (foto dari Martha Stewart)

Jadi aku merasa perlu berbagi foto-foto yang menggugah jiwaku itu. Kalau toh efeknya nggak sama menginspirasinya seperti pada guru Bahasa Inggris satu ini, paling nggak bisa membuktikan bahwa gaya hidup yang stylish bukan cuma yang bisa dibeli dengan uang.

Akan selalu kuingat yang pernah kubaca di newsletter BHG:

“Invest your time and energy in your home, not your money.”

IMG-20151229-WA0008
Kuulangi lagi: yang seperti ini dapatnya bukan di mal atau toko perabotan. (foto dari BHG)

Setelah hampir seumur hidup bertanya-tanya, apa harus kaya dulu untuk punya rumah bagus, akhirnya ada yang bisa jawab: Nggak kok.

Wajahku sudah lama berpaling dari mal, TV dan gaya hidup yang ditawarkannya tapi dulu aku nggak punya anti-thesis, yang bisa ngasih aku gaya hidup alternatif, sampai nemu majalah BHG itu tadi. Sekarang wajahku menghadap ke Pinterest, nama besar di dunia blogging seperti Prodigal Pieces dan The Handmade Home; situs populer seperti Apartment Therapy dan Hometalk; dan brand besar yang nggarap free online content-nya dengan sungguh-sungguh seperti Martha Stewart dan BHG.

Mereka yang ngajari aku bahwa perempuan pintar dan kreatif yang memusatkan hidupnya di rumah lah yang bisa membangun gaya hidup yang nggak bersandar pada purchasing power tapi tetap high-output. Dia nggak harus 24/7 di rumah atau mengerjakan semua pekerjaan rumah tangganya sendiri tapi mutlak harus pintar dan kreatif.

And that is the beauty of housewifing. A smart woman makes a smart home. Makin banyak waktu dan energi yang dia taruh di rumahnya, makin makmur juga rumah tangganya.

Di post berikutnya akan kutunjukkan hal kecil berefek besar yang sepertinya hanya bisa dilakukan oleh perempuan yang ‘di rumah saja’ sepertiku.

Jangan minder hanya karena terpaksa atau sukarela jadi ibu rumah tangga. Pastikan aja kita termasuk dalam golongan ibu rumah tangga pintar. Makin banyak asam-garam hidup yang harus kutelan, makin tua umurku, makin sulit bagiku menyangkal bahwasanya kemuliaan seorang perempuan ada di rumah dan rumah tangganya.

IMG-20151229-WA0010
Rumah yang nggak rata-rata nggak bisa dibeli. (foto dari Martha Stewart)

-Rinda-

11 Ide Kado Tanpa Bungkus

Favoritku.

Karena 3½ alasan.

  1. Hampir nggak ada yang terbuang
  2. Menuntut kita untuk fokus di manfaat
  3. Memakai barang sehari-hari

3½. Dengan barang bekas pun bisa!

Konsep gift basket nggak lazim di Indonesia. Itu malah credit point buatku. Memastikan pemberian kita menculek-culek mata. Solusi ketika pusing harus ngasih apa ke orang yang posisinya di atas kita, orang yang sudah punya segalanya, saat dana kita mepet atau saat kita ingin ngasih barang bekas atau barang tak terpakai tanpa membuat si penerima merasa direndahkan. Nggak percaya? Baca terus.

Konsepnya sederhana. Gift basket adalah pemberian berupa kumpulan barang yang ditaruh di keranjang. Bukan cuma satu barang seperti kado; nggak perlu dibungkus juga. Nggak harus keranjang. Apa aja bisa selama bukan tas kresek dan isinya lebih dari satu. Nah, ngumpulkan barang-barangnya ini yang butuh kerja otak.

Ada beberapa teknik. Yang paling gampang: TEKNIK WARNA. Kumpulkan barang-barang yang warnanya atau kemasannya adalah warna favorit si penerima. Kalau orang Amerika bilang, My heart goes pitty pat tiap kali lihat segala sesuatu yang warnanya putih atau coklat. Mulai dari baju, perabotan, mobil, makanan, sepatu, sampul buku, bros, karung sampai barang tetek-bengek. Ponakanku merah. Andai aku dan ponakanku itu Samson, dan yang bikin keperkasaan kami luntur itu warna, maka warna peng-apes-anku adalah putih/coklat, ponakanku merah.

image

Teknik yang juga masih terbilang gampang adalah TEKNIK KEBUTUHAN KECIL. Mau kelas atas, kelas tengah atau kelas bawah, kalau kancing bajunya lepas ya dijahit. Setiap rumah-tangga butuh peralatan jahit seperti benang, jarum, gunting dan kancing ekstra.

image

Sama juga, mau jendral atau ibu rumah tangga, butuh nggunting kuku. Biar bisa dipakai satu rumah, selain pemotong kuku, tambah dengan amplas kuku, gunting kecil (untuk merapikan kumis), alat cukur, silet, pinset, cotton buds (di foto peralatan manicure dan pedicure, lengkap dengan cat kuku).

image

Aku punya sepupu yang gampang sekali masuk angin. Minyak kayu putih botolan, minyak kayu putih roll-on, balsem lengkap dengan koinnya buat kerok’an, koyo cabe, jamu masuk angin sachetan, paracetamol yang dimasukkan dompet kecil terus dikasih tag ‘Tombo Masuk Angin’ akan jadi gift pouch yang pas buat dia; bisa dimasukkan tas, dibawa kemana-mana. Kunci teknik ini adalah menemukan kebutuhan yang sifatnya universal atau individual.

TEKNIK KEBUTUHAN BESAR sama aja dengan yang kecil. Bedanya cuma lebih makan biaya karena barang-barangnya lebih besar dibanding yang sudah kusebutkan. Kebutuhan bayi misalnya. Mulai dari baju, popok, produk perawatan, mainan, susu; panjang daftarnya. Nggak perlu ngasih semuanya. Pilih aja satu, misalnya kebutuhan mandinya. Isi keranjang dengan handuk, sabun, shampoo, bedak, minyak tawon, minyak telon, washlap. Menurutku ini ide yang lebih bermanfaat daripada beli baju/peralatan makan/perlengkapan mandi yang sama toko dijual paketan itu. Atau kebutuhan yang ditimbulkan oleh buang airnya yang nggak habis-habis. Aku bicara soal popok kain, popok kertas, perlak, kain alas perlak, salep ruam popok, deterjen, tissue basah.

image

Mau nyambangi teman atau saudara yang pindahan mungkin. Kasih keranjang yang isinya produk pembersih lengkap. Mulai dari obat pel, pembersih keramik, pembersih kaca, pengharum ruangan. Ingin yang sedikit lebih istimewa? Isi keranjang dengan lilin wangi, kompor aromatherapy, essence aromanya, lilin pembakarnya, korek/alat pemantik api sekalian.

image

Teknik yang paling sulit adalah TEKNIK AKTIVITAS. Sewaktu aku bilang gift basket bisa jadi solusi saat harus ngasih sesuatu ke seseorang yang posisinya di atas kita atau seseorang yang punya segalanya di awal tadi, yang kumaksud ya gift basket yang dirancang dengan teknik ini. Pikirkan sebuah aktifitas yang biasa dilakukan si penerima atau yang akan dilakukannya. Cari informasi yang dalam tentangnya demi bisa merancang sesuatu yang uniquely dia.

image

Contoh: teman-teman dekatku tahu aku mandi (cukup) sehari sekali. Cari tahu merk toiletries favoritku. Tambah handuk, shower puff, lulur, body scrub, body lotion dan body mist atau bebek kuning plastik mainannya anak-anak itu. Buatkan kartu dengan tulisan ‘Ketika Mandi Sekali Sehari Tidak Lagi Cukup‘ atau ‘Mandi Cantik‘.

Contoh lain: kalau dia seseorang yang sadar make-up, buatkan gift basketBeauty Emergency‘. Aku nggak paham kosmetik. Yang terlintas di kepalaku lip balm, tissue wajah untuk nyerap minyak dan produk-produk kosmetik yang bisa membuat wajah jadi segar dalam hitungan menit. Aku pernah tahu produk yang bisa buat lipstick, perona pipi dan eye-shadow sekaligus. Ibaratnya si cewek ini bisa masuk toilet di mall, dandan 5 menit di dalam, keluar-keluar wajahnya dah segar lagi, berbekal hadiah dari kita itu.

image

Contoh lain lagi: dianya seseorang yang nggak pandai masak. Buatkan gift basket yang isinya bahan dan alat yang dibutuhkan untuk mengolah satu resep anti-gagal. Print-kan resepnya sekalian. Yang manten baru, buatkan gift basket bumbu dapur komplit. Mulai dari garam, gula, merica, ketumbar, kemiri, jinten, kecap, rupa-rupa saos, serbuk cabe; pikir sendiri lah. Carikan wadah-wadah kecil yang lucu-lucu. Print-kan kumpulan tip dapur seperti cara ngupas bawang nggak pakai nangis misalnya.

image

Kemungkinannya nggak terbatas. Yang pasti kita harus mikir. Barang bekas pun kalau dipresentasikan sebagai gift basket, luntur hawa bekasnya. Untuk membantu visualisasi, silakan lihat foto di bawah.

image

Syaratnya:

  • Kasih lebih dari satu barang
  • Kalau barang bekasnya cuma satu atau sedikit, pertimbangkan untuk nambah isi keranjang dengan barang-barang baru
  • Kumpulkan berdasarkan satu warna/satu kebutuhan/satu aktifitas per keranjang.
  • Jangan semua barang yang nggak ada kaitan atau benang merahnya kita campur jadi satu.
  • Pastikan keranjangnya dalam kondisi bagus supaya dipakai lagi sama yang terima.
  • Kalau perlu beli wadah baru (jangan tas kresek atau tanpa wadah, dijinjing satu-satu dengan tangan).

Kalau syarat-syarat ini nggak dipenuhi, kesannya kita ingin menyingkirkan barang-barang itu dari rumah kita, bukan menghadiahi si penerima. Ada orang-orang yang anti barang bekas meski hidupnya kekurangan. Gift basket mengijinkan kita memberikan barang-barang nggak baru ke orang yang menurut kita bisa memanfaatkannya tanpa mengaktifkan alarm harga dirinya. Kalau mau 100% aman ya tanya dulu ke dia, mau apa nggak. Kalau dia mau, meski dia nggak keberatan kita serahkan dalam wadah tas kresek sekalipun, ambillah sedikit upaya untuk mengemasnya dalam gift basket. Untuk menunjukkan penghargaan kita ke barang-barang itu dan orang yang menerimanya.

image

Minggu depan akan ku-publish post hasil kerjaku membuat kado, suvenir dan gift basket bermodal inspirasi dari Pinterest, barang-barang bekas & murah yang kujual di tokoku dan Koleksi Sampahku.

5 Cara Mengoleksi Sambil Berhemat

I love collecting. Andai disposable income kami >Rp10.000.000 per bulan, aku akan serius membangun koleksi barang-barang vintage dan barang artisan. Kalau 10 kali lipatnya, ngoleksi barang antik. Percaya nggak percaya benda-benda ini punya jiwa. Di level perasaan beda dengan barang baru apalagi barang pabrikan yang diproduksi massal.

Disposable income suamiku nggak segitu. Sering nggak sampai disposable malah. Habis terpakai hingga receh terakhir. Tapi justru karena nggak sanggup ngoleksi barang vintage apalagi antik itulah aku nemu cara untuk tetap nuruti kecintaanku mbangun koleksi. Yang kusadari setelah jadi ibu RT, koleksiku bukan cuma nyenangkan hatiku tapi juga mangkas pengeluaran. Nggak perlu lagi beli pajangan, vas bunga, hiasan kado dan 1/4 dari barang-barang dapur. [Waktunya seorang ibu RT untuk berteriak, “Eureka!”]

image

1#Koleksi Barang Gratisan

Banyak. Mulai dari suvenir mantenan sampai hadiah promosi produk atau tempat belanja seperti Indomaret. Buat yang muslim dan Jawa, ada tahlil dan 1001 syukuran/selamatan yang ngasih kita tas berkatan, baskom plastik sampai barang pecah-belah buat dibawa pulang. Buat yang rutin nginap di hotel atau bikin acara di hotel, bawa yang memang boleh dibawa pulang seperti toiletries, slippers, tissue, permen, ballpoint, note, air mineral.

Koleksi suvenir mantenanku kupajang di cermin lawasan di ruang kerja. (Foto koleksi Rumah Barang Tinggalan)
Koleksi suvenir mantenanku kupajang di cermin lawasan di ruang kerja. (Foto koleksi Rumah Barang Tinggalan)

Juga kuperhitungkan untuk koleksi: barang-barang sisa. Setiap beli/dapat sesuatu pasti ada wadahnya, ada tasnya. Meski wadahnya cuma kardus, tasnya cuma tas kresek. Aku mengoleksi barang-barang seperti ini. Kupilih yang terbuat dari beling, kertas tebal atau kertas cantik seperti doily yang biasa dijadikan alas kotak jajan, pita, bead termasuk sisa kain, sisa kertas kado; makin tinggi jam terbang ngoleksiku, makin banyak yang bisa kukoleksi. Tas kresek pun, selama nggak bolong atau kotor, kukumpulkan. Cuma botol air mineral yang kubuang.

Hiasan kembangnya kubuat dari kertas sisa, tas berkatan dan sisa hiasan parcel. (Foto koleksi Rumah Barang Tinggalan)
Hiasan kembangnya kubuat dari kertas sisa, tas berkatan dan sisa hiasan parcel. (Foto koleksi Rumah Barang Tinggalan)

Kalau bingung buat apa ngoleksi barang-barang seperti itu, baca Cara#2.

2#Kumpulkan Dalam Jumlah Banyak

Agak sulit memanfaatkan satu batang lidi. Kecuali kalau kita jualan makanan yang dibungkus daun pisang. Tapi lidi dalam jumlah banyak–sapu lidi–semua orang bisa pakai. Buat nyapu halaman, nguras bak mandi, merapikan tempat tidur sampai buat tusuk sate. Begitu juga dengan barang gratisan dan barang sisa tadi. Kardus snack bisa buat kerajinan tangan yang butuh kertas karton. Selama jadi guru Bahasa Inggris, aku butuh kertas tebal buat flashcard dan hiasan bulletin board. Kenapa nggak pakai kertasnya kardus snack? Aku tahu seorang ibu yang ngumpulkan kardus susu anaknya. Dia terima pesanan kue. Dia pakai buat ngemas kue buatannya. Atau contoh remeh lain: tas kresek. Kalau cuma satu paling buat sampah tapi dalam jumlah banyak bisa buat bikin bantal kursi tamu sendiri. Tas kresek yang jadi isinya, nggantikan busa atau kapuk. Apa ada yang pernah terpikir untuk ngoleksi botol sirup selain buat wadah air putih di kulkas?

Botol bagus buat vas bunga tapi harus dalam jumlah banyak. (Foto dari Country Living)
Botol bagus buat vas bunga tapi harus dalam jumlah banyak. (Foto dari Country Living)

Jangan meremehkan satu barang hanya karena kita nggak cukup kreatif untuk memanfaatkannya. Sering kita harus punya dalam jumlah banyak dulu sebelum lampu ide bisa nyala. Rajin-rajinlah browsing di internet, ambil ide orang lain. Coba langganan Hometalk, situs yang mengkompilasi ide-ide DIY se-Amerika Utara buat memperindah rumah. Ide buat piring pecah pun ada di situs ini.

Botol You C-1000 bisa buat wadah minuman serving size. Tinggal nambah sedotan dan sedikit hiasan bisa dipakai untuk acara pesta. (Foto koleksi Rumah Barang Tinggalan)
Botol You C-1000 bisa buat wadah minuman serving size. Tinggal nambah sedotan dan sedikit hiasan bisa dipakai untuk acara pesta. (Foto koleksi Rumah Barang Tinggalan)

3#Organisasikan Penyimpanannya

Kumpulkan dalam jumlah banyak, tapi pastikan penyimpanannya terorganisasi dengan baik. Kalau semua dicampur di satu wadah atau di kardus, ditumpuk-tumpuk, disimpan di gudang atau di tempat lain yang nggak kelihatan mata setiap hari, mending di-rombeng atau disedekahkan. Yang kumaksud dengan terorganisasi:

  • Kumpulkan dan simpan per tipe. Kardus snack di satu tempat, tas berkatan di tempat lain. Kalau sudah terkumpul banyak sekali, bisa disortir berdasar warna. Botol di satu tempat, gelas di tempat lain. Tas kresek di satu tempat, paper bag di tempat lain. Pemotong kuku di satu tempat, gantungan kunci di tempat lain.
  • Taruh di ruangan yang mendorong pemanfaatannya. Tas kresek paling banyak dipakai di dapur, taruhlah di dapur. Koleksi paper-bag-ku kutaruh dekat lemari karena dua ponakanku butuh untuk bawa baju ganti dan baju kotor. Koleksi gantungan kunciku kutaruh di tempat kunci. Koleksi wadah toiletries ukuran mini dari hotel kusimpan dalam pouch toiletries yang kudapat dari rumah sakit (alm. ibuku bolak-balik masuk rumah sakit) lalu kutaruh di kamar mandi.
  • Untuk koleksi-koleksi yang belum tahu mau dipakai buat apa, taruh di satu ruangan khusus. Kalau nggak memungkinkan, di satu atau beberapa rak. Sebisa mungkin rak terbuka. Koleksi-koleksi yang nggak sedap dipandang mata seperti koleksi kardus snack bisa disimpan di wadah lain seperti dalam wadah rotan sisa parcel/seserahan, kardus sepatu atau kaleng yang dilapisi kertas kado bahkan toples–be creative–sebelum ditaruh di rak (ngoleksi barang-barang yang bisa jadi wadah/organizer adalah favoritku).
Rahasia ngoleksi barang 'sampah' tanpa kelihatan seperti tukang rombeng ada di strategi penyimpanannya. (Foto tidak diketahui sumbernya)
Rahasia ngoleksi barang ‘sampah’ tanpa kelihatan seperti tukang rombeng ada di strategi penyimpanannya. (Foto tidak diketahui sumbernya)

4#Koleksi Sambil Pakai

Jangan cuma disimpan buat dhuwe-dhuwean kalau Orang Jawa bilang. Atas alasan itulah aku segera mengeluarkan suvenir mantenan secantik apapun kemasannya. Segera setelah isinya habis, pakai botol untuk wadah air atau wadah sabun cuci piring. Dapat mug lucu ya dipakai buat ngopi atau naruh alat tulis. Dapat gantungan kunci ya dipakai buat nggantung kunci. Koleksi gelas suvenir mantenan bisa buat nyetak agar-agar atau Cheesecake, bisa langsung dimakan dari tempatnya. Setiap mudik atau traveling beberapa hari, aku/suami nggak perlu beli toiletries baru atau dimasukkan tas kresek. Aku pernah cari di mall. Harga pouch dan botol-botol toiletries ukuran mini buat traveling bikin tekanan darahku naik. Disinilah peluang berhematnya.

Bila kita terbiasa memanfaatkan sesegera mungkin, mengorganisasi penyimpanannya, meletakkannya di tempat yang terlihat mata setiap hari, secara otomatis kita membuat catatan mental tentang barang-barang yang nggak perlu kita beli. Karena kita sudah punya atau karena bisa dengan gampang kita dapatkan secara gratisan. Contoh lain: gunting kuku. Aku dapat banyak dari mantenan. Atau barang pecah-belah untuk pemakaian sehari-hari. Almarhum ibuku ngumpulkan banyak dari Indomaret. Jadi aku bisa konsentrasi di beli barang pecah-belah untuk acara-acara istimewa.

Cara berhemat lainnya adalah membeli barang-barang yang bisa dipadu-padankan dengan koleksi gratisan kita atau yang memperkaya koleksi yang sudah kita punya. Setelah sekian tahun mengoleksi barang pecah-belah gratisan, sebagian besar ternyata beling bening. Aku akan milih barang-barang yang sama beling beningnya atau hitam atau putih atau keperakan yang bagus dipadu-padankan dengan beling bening. Andai sebagian besar bercorak gambar bunga-bunga ya kubeli yang bergambar bunga-bunga juga. Atau sebagian besar berwarna pastel, yang kubeli yang berwarna pastel aja. Contoh lainnya lagi. Almarhum ibuku ngoleksi selendang dan kain. Sebagian besar kain etnik. Kukumpulkan buat headboard, taplak, sarung bantal kursi tamu dan selambu untuk rumah impianku. Jadi mulai sekarang aku hanya membeli selendang dan kain etnis, bukan pop art, meski aku suka keduanya. Barang-barang pop art nggak memperkaya koleksiku yang sudah ada.

5#Think Out Of The Box

Kalau tujuannya nuruti hobi sambil berhemat, jangan ragu untuk keluar dari kelaziman. Mulai dalam hal jenis barang yang kita koleksi, cara kita menyimpan dan memajangnya, wadah dan media penyimpanan dan display-nya, di ruangan mana kita simpan dan pajang, sampai bagaimana kita memanfaatkan koleksi kita. Kalau harus kurumuskan dengan foto dan kata:

1#Yang layak koleksi dan layak pajang bukan cuma barang mahal
1#Yang layak koleksi dan layak pajang bukan cuma barang mahal. (Foto dari sumber yang tidak diketahui)
2#Kardus bukan satu-satunya tempat untuk menyimpan. (Foto dari Better Homes & Gardens)
2#Kardus bukan satu-satunya tempat untuk menyimpan. (Foto dari Better Homes & Gardens)
3#Rak bukan satu-satunya media untuk memajang. (Foto dari Better Homes & Gardens)
3#Rak bukan satu-satunya media untuk memajang. (Foto dari Better Homes & Gardens)
4#Ruang tamu bukan satu-satunya ruangan untuk pajangan. (Foto dari Better Homes & Gardens)
4#Ruang tamu bukan satu-satunya ruangan untuk pajangan. (Foto dari Better Homes & Gardens)
5#Buat minum teh bukan satu-satunya manfaat cangkir. (Foto dari Better Homes & Gardens)
5#Buat minum teh bukan satu-satunya manfaat cangkir. (Foto dari Better Homes & Gardens)

Uang boleh sedikit. Akal yang harus panjang, ilmu yang harus tinggi.

Yang mau tanya-tanya–relevan maupun nggak relevan–langsung aja ketik di form berikut. Pertanyaan dan masalah bikin kita pintar.

Cara Murah-Gampang Mendandani Kamar Anak Gadis

Perempuan itu istimewa. Sebagai guru dan budhe aku melebihkan anak perempuan. Sebagai anak aku melebihkan ibuku (walaupun aku lebih berat ke bapakku). Ke orang yang lebih tua, aku melebihkan ibu-ibu dan mbah-mbah putri. Ke yang jauh lebih muda pun aku melebihkan yang perempuan. Ke teman sebaya yang nggak; laki/perempuan kuperlakukan sama.

Paling terlihat dalam nadaku bicara dan derajat ketegasanku yang sangat terkenal itu. Di kelas-kelas young learners aku selalu mendengung-dengungkan “Orang-orang yang beriman dan beradab antri; girls first! ketika bel pulang bunyi. Kebijakan yang membuatku sangat ‘ngetop’ di kalangan muridku yang laki-laki.

Kebijakan Lebihkan Perempuan ini kubawa dalam menata rumah. Dua keponakan sempat tinggal beberapa bulan di kontrakanku. Perempuan satu, masuk umur remaja. Kamar kusiapkan untuk dia padahal dia berbagi kamar dengan adiknya yang laki-laki. Sayangnya dia kesulitan menjadi pribadi yang rapi. Jadi aku membatasi upayaku ndandani kamarnya di masangkan sprei dan selambu yang cantik. Buat pribadi disorganized, makin banyak barang kita masukkan dalam space-nya, makin berantakan jadinya.

Setelah tak lagi tinggal denganku, aku punya kesempatan menata ulang kamar itu. Dan di postingan ini aku ingin nunjukkan inilah yang sebenarnya ingin kusiapkan untuk seorang anak gadis.

Pertama, go for pink. Bukan penggemar pink tapi harus kuakui warna ini sepertinya diciptakan untuk anak perempuan dan gadis. Andai barang-barang yang kupakai ndandani kamar ini harus beli baru semuanya, bisa pink semua kecuali temboknya. Tapi karena–tahu sendiri–aku nggak suka bela-beli, kuusahakan mix & match warna yang paling masuk dengan pink.

Jangan merendahkan warna pink.

Kedua, pakai standar Barat. Standar mereka jauh lebih fungsional sekaligus lebih sedap dipandang. Bisa dipecah dalam 3 elemen penting:

  • Focal Point

Ini konsep yang baru kutahu sejak belajar dekorasi dan desain interior dari internet setahun ini. Artinya pusat perhatian, harus ada satu di tiap ruang. Biasanya headboard [=papan vertikal di bagian kepala tempat tidur] yang dijadikan focal point. Foto dan lukisan berukuran besar atau kain dan karpet yang digantung juga bisa.

  • Bedding

Standar mereka berlapis-lapis. Mulai dari bed skirt, sprei, selimut, duvet sampai throw. Bantal aja 3-4 deret, totalnya minimal 5 biji. Tapi setelah kuputuskan untuk mendekati standar mereka, jadinya memang bagus. Kucoret selimut dan throw. Buat apa, ini negara tropis. Hotel yang kulihat kaku manut standar negara 4 musim.

  • Nightstand

Ini juga konsep yang baru aku tahu setahun terakhir ini. Standar kita kan lemari, bukan nightstand. Sampai umur 39, tiap kali bangun tidur, aku mesti mbolak-mbalik bantal buat cari ikat rambut, HP atau kacamata. Kok ya nggak kepikiran naruh meja kecil di samping tempat tidur buat naruh barang-barang itu saat sudah ngantuk supaya gampang carinya pas bangun? Kurasa inilah maksud ayat Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal. Biar tololnya nggak nemen-nemen.

Nggak harus meja. Aku dah lihat mulai dari koper, batako, kursi, tangga, gentong sampai buku yang ditumpuk buat dijadikan nightstand di internet. Kemungkinannya nggak terbatas. Yang kupakai disini rak sepatu.

Rak sepatu bisa nampung lebih banyak barang daripada meja kecil.

Ketiga, tambahkan aksesoris. Kamar ini kecil, nggak mungkin dimasuki meja belajar, rak buku dan lemari. Jadi nightstand-nya harus merangkap storage. Makin banyak muatnya, makin bagus. Rak sepatu bisa buat naruh banyak buku dan kotak. Sebisa mungkin kucari yang masuk dengan pink meski harus minjam barang-barang dari dapur.

Kotak yang kupakai mbungkus seserahanku 4,5 tahun lalu. Nampan buat naruh barang-barang kecil seperti HP, charger dan kacamata.

Perubahan-perubahan kecil pun bisa membawa dampak besar. Yang kulakukan hanya mengeluarkan rak buku, menggantinya dengan rak sepatu dan menambahkan beberapa barang–nggak satupun beli. Semua orang bisa.

Aku meyakini bahwa ketika seorang anak perempuan tumbuh besar dengan keyakinan bahwa ia istimewa karena ia perempuan (bukan karena ia cantik dan pandai menarik perhatian lawan jenis), ia mampu menghindari situasi dan orang–terutama lelaki–yang hanya akan memanipulasinya.

Yang punya anak perempuan, tolong dicoba. Jangan cuma didandani dengan baju-baju lucu dan pita; diajari untuk menarik perhatian. Ruang yang kita ciptakan untuk anak-anak kita membentuk kebiasaan dan kemampuan berpikir mereka. Seperti soal nightstand tadi.

Jangan kalah dengan uang yang sedikit. Jadikan anak-anak perempuan kita berbahagia terlahir sebagai perempuan.

Cerita Permak Kursi Teras Lungsuran

Saat kukatakan seisi rumahku barang tinggalan dan lungsuran, itu sungguhan. Yang beli cuma spring mattress (tanpa bed), rak lepas pasang dari besi, kipas angin, printer dan beberapa barang dapur yang bisa dihitung jari. Kompor gas pun nggak beli.

Ada dua lagi kategori barang yang ngisi kontrakanku: barang hadiah dan barang sampah. Contoh barang hadiah adalah suvenir manten, oleh-oleh atau hadiah promosi. Barang sampah ya sampah, yang sama orang normal dibuang. Contoh: kardus jajan, tas tahlil, wadah Pringles, toples kopi/creamer/selai, botol sirup, botol You C-1000, kaleng snack, tas kresek, kartu undangan mantenan, wadah plastik yang tutupnya hilang, hiasan parcel. Pemulung-minded bukan?

Topik ini kusimpan untuk post lain.

Kali ini aku ingin membagi caraku menyulap kursi lungsuran yang aku sendiri Wow! lihat hasil akhirnya. Sayangnya kondisi awalnya cuma bisa kugambarkan dengan kata-kata. Nggak terpikir untuk ambil gambar karena nggak kelihatan potensinya saat pertama kali lihat. Joknya menguning dan penuh bercak, rangka besinya menghitam dan lapisan bawah jok terburai. Masih kuat, tampilannya yang jelek.

Begitu uangnya ada, kukirim ke Pak Gufron, tukang bekleed dekat rumah dengan kursi tamu panjang, 6 kursi makan besi, 3 kursi makan kayu dan mejanya untuk ganti jok dan plitur. Habis Rp2.900.000. Aku minta material jok warna putih dan coklat. Polos. Dua warna itu, polosan, di mataku kelihatan elegan; kesan yang kucari dari segala bentuk desain. Mulai dari desain interior sampai fashion.

Setelah ganti jok, kelihatan mendingan, tapi belum “Keren!” untuk standarku.

Setelah ganti jok

Di Tahap 1 nata kontrakan–0 sampai 6 bulan pertama–kupasangkan dengan kursi panjang tamu dari kayu. Ada kalau 4-5 kali pindah posisi. Suamiku cuma bisa geleng-geleng. Ditambah bantal pun masih belum ngangkat.

Seingatku ini posisi pertamanya sekitar setahun lalu

Lepas itu kupindah ke teras karena tamu-tamu suamiku nggak ada yang mau masuk ke ruang tamu yang adanya di tengah rumah. Mereka milih duduk di atas motornya, di depan rumah. Bikin si nyonya rumah jadi nggak enak hati dan mengevaluasi penataannya.

Kurang lebih di saat ini lah aku mulai masuk Tahap 2 dari penataanku. Aku mulai mengusahakan ruang-ruang rumah yang lebih fungsional, dengan minimal satu Faktor Wow. Aku mulai merasa sangat nggak puas di sekedar bersih dan rapi.

Beberapa minggu dua kursi dan mejanya itu di teras, terpikir untuk mengganti rangka mejanya dengan guci kayu.

Ilham kedua datang beberapa minggu kemudian, yaitu: ngganti warna rangka kursi dan mejanya dengan cat. Langsung dapat tanpa mikir: warna tembaga. Di kepalaku ada tiga warna yang elegan untuk bahan logam; emas, perak dan tembaga. Kupilih yang paling bisa ‘berbaur’ dengan elemen kayu. Menurutku itu tembaga.

Baru selesai dicat. Aku minta Pak Rosidi untuk ngecat satu lapis saja. Hasil akhirnya lebih natural (kalau warna dasarnya hitam) dibanding 2-3 lapisan cat.

Setelah berwarna tembaga, aku mulai merasa puas dengan tampilan kursi lungsuran ini–juga tampilan teras kontrakanku–tapi tetap merasa ada yang kurang. Nggak tahu apanya.

Faktor Wow baru kudapat setelah sarung bantal kursi kuganti.

Tadinya sarung bantalnya putih dengan aksen ungu yang putihnya masih terlihat baru, bahannya halus, aksennya cantik. Kuganti dengan sarung bantal warna coklat pucat (bahannya dari serat Enceng Gondok) yang tampilannya nggak menarik mata tapi kok ya malah mem-wow-kan kursi sekaligus terasku.

Setelah ganti jok, pindah ke teras, ganti kaki meja, dicat tembaga dan ganti sarung bantal

Dibandingkan kondisi awalnya, ini bukan lagi kasus refinish meski cuma ganti jok dan cat. Ini dah layak disebut makeover. Kemampuan menciptakan makeover serupa ini yang aku kepingin punya. Nggak bisa hanya dengan ngoleksi foto memang. Satu-satunya cara harus nambah jam terbang.

Ada yang mau kubantu nata rumah? Atau terasnya mungkin? Atau cari ide me-makeover perabotan? Disini ada desainer amatir yang harus nambah jam terbang dan sudah belajar ngecat dari Pak Rosidi, tukang serba-bisa langganannya dan almarhum ibunya.

Caraku Punya Home-Office Gratis

Mungkinkah bikin home office tanpa ngeluarkan uang sama sekali? Mungkin. Kalau bikin office tanpa ngeluarkan uang sama sekali? Nah, kalau yang ini aku nggak tahu. Belum pernah nyoba. Yang sudah kubuktikan sendiri yang pertama.

Home office yang memanfaatkan barang-barang yang sudah ada; nggak ada yang beli
Home office yang memanfaatkan barang-barang yang sudah ada; nggak ada yang beli

Ini caraku untuk punya home office yang nggak malu-maluin tanpa beli-beli.

1. Alami Sendiri

Mario Teguh pernah bilang, “Semakin kita menempel ke sebuah masalah, makin terang jalan keluarnya.” Kira-kira seperti itulah. Aku lupa kata-kata persisnya. Dalam konteks HomeOffice-0-Rupiah, untuk menghasilkan sesuatu tanpa mengeluarkan uang, syarat pertamanya adalah: uangnya memang nggak ada.

TIP: Buat project justru ketika uangnya nggak ada atau nggak cukup

Nggak bisa dengan nggak ada uang aja sih. Ada lagi: mengalami berpuluh tahun hidup di rumah besar yang sangat disorganized, nggak punya space untuk kerja dan filing. Aku ngalami sendiri mbongkar satu rumah buat cari Kartu Keluarga; ngetik di kasur, naik ke lantai atas buat nge-print, turun lagi ke bawah buat ngambil kertas, naik lagi, hadaaah; keliling lantai bawah buat cari pulpen dan kertas untuk nulis pesan telpon dan nggak nemu! Jadi ketika akhirnya aku keluar dari rumah orang tua, impian ngempet-ku adalah punya home office.

Mejanya meja makan, kursinya kursi makan dan kursi meja rias
Mejanya meja makan, kursinya kursi makan dan kursi meja rias

2. Tinggal Disitu Selama 6 Bulan

Sejak menikah aku dah tiga kali pindah kontrakan. Ternyata penataan rumah yang paling bagus, paling fungsional, paling pas, baru bisa kudapatkan setelah tinggal di rumah itu minimal selama 6 bulan. Enam sampai 12 bulan pertama wajib mau mutar-balik perabotan, harus uji coba untuk nentukan what works dan what doesn’t. Jangan berhenti di bersih dan rapi.

TIP: Rancang penataan yang streamlined (yang nggak maksa penghuninya bolak-balik atau keluar-masuk untuk melakukan sesuatu)

Karena dua rumah pertama terlalu kecil untuk bisa punya home office, begitu aku lihat rumah ketiga yang jauh lebih besar, aku dah merancang home office di kepalaku bahkan sebelum pindah. Di kamar nggak terpakai di lantai 2. It didn’t work. Aku tidak diciptakan untuk rumah 2 lantai. Aku manusia 1 lantai. Ruang gerakku ada dalam radius 2 meter dari kamar. Jadinya pun nggak bagus karena warna tembok dan warna perabotanku nggak saling meng-complement; ungu muda dan coklat tua.

TIP: Cat tembok netral terutama putih paling mengakomodasi padu-padan perabotan

Rak TV era 80-an untuk meja printer
Rak TV era 80-an untuk meja printer

3. Tulis

Semua upaya ngirit harus dimulai dengan proses berpikir yang dalam. Menulis memfasilitasi proses berpikir yang efektif, ada hasilnya, ngasih fokus dan arah. Jadi kutulis apa yang kumau, apa yang kubutuhkan dari home office dan fungsi-fungsi apa yang harus dilakukannya.

TIP: Banyakkan nulis, kurangkan ngomong

Aku ingin space yang streamlined; aku bisa nulis, ngetik dan nge-print di satu ruangan. Segala macam dokumen, nota, tagihan dan kertas tersimpan di ruangan itu. Target: pada saat suami dan ponakanku butuh dan aku nggak ada di rumah, mereka tahu harus cari dimana.

Karena posisinya di ruangan paling depan–yang pertama kali dilihat tamu–ada fungsi ekstra. Harus representatif untuk nerima tamu (tamu-tamu suamiku biasanya nolak masuk ke ruangan tamu yang ada di tengah). Mutlak clutter-free. Aku nggak mau tamu-tamuku lihat kabel laptop bergelimpangan di atas meja atau harus sibuk mindahkan tumpukan buku dan kertas yang berserak ke ruangan lain tiap kali ada tamu.

TIP: Makin terperinci yang bisa kita tuliskan, makin bagus.

Keranjang bekas parcel Lebaran buat nyembunyikan kabel laptop; kaleng buat nyimpan nota dan tagihan
Keranjang bekas parcel Lebaran buat nyembunyikan kabel laptop; kaleng jajan buat nyimpan nota dan tagihan

4. Smart Browsing

Aku bukan seorang desainer. Aku butuh ilmunya. Ilmu gratisan ya di Internet. Apa yang kutulis lah yang nuntun browsing-ku. Yang ku-download gambar-gambar home office yang bisa buat terima tamu, yang nggak jelas-jelas kelihatan seperti ruang kerja, yang barang-barang dan kelengkapannya nggak seperti beli dari Gramedia atau Gading Murni. Aku pakai keyword ‘creative home office’, ‘stylish home office’, ‘home office ideas’, ‘creative room’ dan ‘craft room’ di Google. Dari situ nyabang ke blog-blog dan papan Pinterest.

TIP: Pakai kata-kata Bahasa Inggris untuk keyword pencarian

Ini semua souvenir. Ada yang dari mantenan, tempat sampah mininya dari Ace Hardware. Vasnya dari botol bekas minuman
Ini semua souvenir mantenan. Tempat sampah mininya hadiah dari Ace Hardware. Vasnya dari botol bekas minuman

5. Temukan Feature Khas

Begitu banyak gambar yang ku-download. Terus gimana? Aku pernah baca tip: pilih 1-3 gambar yang paling kita suka. Aku punya caraku sendiri.

10 atau 1000 gambar buatku bukan masalah selama semuanya punya persamaan yang khas. Walau cuma dua gambar tapi kalau nggak ada persamaannya–satu penuh pernak-pernik, satu minimalis–malah bikin bingung. Aku menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengamati gambar-gambar yang ku-download.

TIP: Amati lekat-lekat setiap gambar minimal 3 kali (di 3 waktu yang berbeda) sebelum mendeletenya.

Tentukan apa yang bikin kita tertarik ke gambar itu, apanya yang luar biasa bagi kita. Setelah beberapa bulan dan ribuan gambar, aku bisa merumuskan feature khas home-office yang bikin aku jatuh hati. Diantaranya:

  • perabotannya mixed & matched, bukan yang satu set dari pabrik
  • majang satu lukisan/foto/poster/bulletin board/papan tulis ukuran besar
  • makai barang-barang yang nggak biasa untuk organizer seperti gelas, toples, ember galvanis, keranjang rotan, tangga
  • yang color palette-nya putih, hitam, coklat dan merah
Keranjang belanja ini buat nyembunyikan kertas hasil nge-print yang nggak terpakai; hiasan kembangnya dari kerudungku yang diikat dengan karet.
Keranjang belanja ini buat nyembunyikan kertas hasil nge-print yang nggak terpakai; hiasan kembangnya dari kerudungku yang diikat dengan karet.

6. Shop Your Home

Nggak beli berarti memanfaatkan yang sudah ada, memakai barang-barang yang kita punya.

TIP: Kumpulkan semua barang yang nggak terpakai di satu ruangan. Kelompokkan berdasarkan jenisnya.

Sebisa mungkin semua barang yang ada di rumah kita terlihat mata. Jangan disimpan di kardus atau rak tertutup demi memaksimalkan pemanfaatannya. Yang nggak kelihatan mata pasti terlupakan, nggak terpakai.

Aku tahu every single item di rumahku dan aku tahu dimana kusimpan. Minimal aku tahu barang X ada di ruang Y. Waktu aku lihat gelas jadi tempat pensil di foto yang ku-download, aku ingat punya banyak gelas souvenir mantenan nganggur; lihat ember jadi wadah kertas, aku ingat punya kaleng-kaleng nganggur; lihat wadah rotan, ingat punya keranjang nganggur. Aku nggak perlu beli karena aku tahu apa yang kupunya. Alih-alih ke toko, aku ke kamar nggak terpakai di lantai atas yang kujadikan sentra penyimpanan barang-barang nganggur.

Guci yang jadi dudukan pot dengan bantuan album foto mantenanku
Guci yang jadi dudukan pot dengan bantuan album foto mantenanku

Jadilah home office yang streamlined dan nggak malu-maluin dilihat tamu. Bukan cuma karena rapi tapi juga karena sedap dipandang mata meski nggak biasa; panci presto yang hilang tutupnya kujadikan wadah kertas-kertas masuk seperti brosur, leaflet, undangan, surat.

Wadah tanah liat buat ngeliwet jadi pot; baskom jadi dudukannya
Wadah tanah liat buat ngeliwet jadi pot; baskom jadi dudukannya

Yang harus kubuktikan berikutnya adalah apakah cara yang sama bisa kupakai untuk mendekor ulang rumah tinggalan orang tuaku di Pacet. Dekorasi yang bisa naikkan harga sewa dan occupancy rate-nya. Tanpa beli-beli.

Ayo, tantang diri sendiri mbaguskan rumah tanpa uang. Atau mungkin dah pernah? Atau malah dah biasa?

Comment dong …

Cara Hemat Mengindahkan Rumah

Alm. bapakku pensiunan kolonel polisi yang teguh memegang prinsip. Salah satunya:

“Kalau tidak laku dijual lagi dengan harga lebih tinggi, jangan beli baru, beli bekas!”

Sepanjang hidupnya, kalau ditotal, Ayah 6 kali beli mobil. Nggak ada yang baru, bekas semua. Barang-barang elektronik seperti TV atau kulkas juga nggak mau beli baru.

Bagaimanapun aku ini anaknya. DNA mana yang kuambil dari bapakku kan bukan aku yang milih. Jadi prinsip Ayah yang satu itu nggak cuma jadi prinsipku juga tapi kunaikkan ke level yang lebih tinggi:

“Kalau nggak laku dijual lagi, nggak usah dibeli!”

Suatu hari adik perempuanku nunjukkan tas Guess barunya. Dia nyuruh aku hati-hati mbawanya sambil bilang, “1.5 juta ni, Kak!” Komentarku, “Kalau dijual lagi laku berapa?”

Demikian pun tetap ada aja lah saat-saat aku nggak bisa nahan diri; beli sesuatu yang aku tahu nggak bakal laku kujual lagi. Seperti menjelang Valentinan kemarin. Aku nggak kenal apa itu Hari Kasih Sayang, nggak pernah merayakan. Lihat mawar di Empat Penjuru Mata Angin, dimana-mana, hatiku ini yang nggak tahan. Ku-SMS lah suamiku di tempat kerjanya.

‘Mas, pulang nanti belikan aku mawar. Nggak merah nggak apa. Pokoknya mawar.’

Jawaban suamiku.

‘Buat apa?”

Jengkel.

‘Buat kukunyah. Kok buat apa sih, Mas?!’

Di Kayoon, suamiku SMS.

‘Mawarnya ada yang putih, ada yang merah. Yang mana?’

DNA bapakku keluar.

‘Yang harganya lebih murah yang mana?’

Suamiku pulang bawa dua-duanya.

image

Rp45.000 untuk 9 tangkai mawar. Bertahan 3 hari. Lha, kalau aku ngotot harus selalu ada mawar hidup di rumahku, itu dah Rp450.000/bulan. Hampir sama dengan gajinya Mbak Tin padahal mawar-mawar ini kan nggak bisa cuci baju, setrika dan masak. Jadi that’s it, nggak lagi. Beli bunga maksudku. Rumah indah tetap harus diusahakan. Otak ngiritku pun berputar.

Mulai dari depan rumah kontrakanku. Ada satu tanaman yang mau mati. Upayaku dan Mbak Tin untuk menyelamatkannya nggak berbuah. Tetap aja mau mati. Daripada mati nganggur, daunnya kuambil, kutaruh di vas. Tak lama kemudian aku dikasih rambutan sama tetangga, tangkainya kumasukkan sekalian di vas itu.

image

Aku sangat puas dengan tampilannya, waktu aku beli kelengkeng, tangkainya nggak kubuang.

image

Tangkai-tangkai kering dapat dari depan rumah kukumpulkan.

image

Aku mulai bersemangat cari-cari tanaman buat ganti mawar, yang nggak pake beli. Lebih bagus lagi, yang nggak ada matinya, nggak butuh air. Salah satu rumah tinggalan orang tuaku ada di Pacet. Berbulan-bulan nggak pernah didatangi karena ibuku sakit. Waktu aku datang setelah Bunda meninggal, dipenuhi semak-semak tinggi. Kukumpulkan, kutaruh di guci gede, biar dramatis.

image

Ada 2 guci berisi semak kering seperti ini. Nah, yang satu kutaruh di ruang tengah, kulihat-lihat kok kebesaran-kegemukan dibanding ruangannya, jadi kelihatan nyesek-nyesek’i. Akhirnya semaknya kugunduli, kusisakan di ujung-ujungnya.

image

Toh, pada akhirnya, tangkai kering tetap tak bisa menggantikan bunga. Jadi waktu aku lihat bunga-bunga cantik ini di dekat loket PDAM Waru, aku tolah-toleh memastikan nggak ada yang lihat, kupetik cepat-cepat terus kabur.

image

Pas minggu kemarin nengok rumah tinggalan di Pacet, lihat bunga-bunga liar ini di samping garasi.

image

9 tangkai mawar Rp45.000 tadi nggak kubuang. Kukeringkan, kupajang lagi seperti waktu segarnya. Want not; waste not..

image

I love my home!

Uang sedikit?

Pakai bunga liar, tangkai dan semak buat pajangan. Rumput juga bisa. Cari wadah yang nggak biasa buat vas. Aku pakai mulai dari guci sampai gelas dan botol bekas. Makin nggak biasa, makin ngangkat tampilan pajangan irit kita tadi.