[Pos Pendek] “Menciptakan” Bahagia

Sampai sekarang nggak paham apa sebetulnya maksud orang saat bilang ‘Jangan lupa bahagia‘. Mungkin karena kepribadianku yang pemikir dan penyendiri, perasaan senang, gembira, bahagiaku datangnya jarang-jarang. Saking jarangnya, gimana aku bisa lupa?

Mungkin juga gagal paham karena aku kelewat mengandalkan yang adanya di luar kendaliku untuk berbahagia.

Kepikiran 2-3 hari ini setelah nonton potongan-potongan serial Friends yang kutemu di YouTube. Kurasa-rasakan kok jadi lebih gampang ketawa setelah rajin nonton meski cuma potongan-potongan adegan. Pikiran-sambat harian seperti ‘kapan ya bisa ngecat rumah‘, ‘kapan ya bisa maving halaman depan‘, ‘kapan ya bisa ganti jok kursi teras‘ kok tiba-tiba aja bisu ganti jadi ‘kalau dilihat-lihat rumahku bersih ya‘, ‘bagus juga ternyata bufet kutata seperti itu‘, ‘wik, rapinya gudangku!‘.

Aneh nggak tuh?

Yang mengantarku pada:

Gimana kalau ternyata kita memang bisa “menciptakan” kebahagiaan kita sendiri?

Maksudku dengan “menciptakan”: menemukan sebanyak mungkin yang jelas-jelas bikin hati kita senang tapi yang adanya dalam kendali kita supaya bisa kita replicate di manapun kapanpun. Pendeknya, dengan niat dan sengaja menciptakan kondisi yang membahagiakan kita.

Sampai mikir ke situ karena setelah kukilas ke belakang sampai ke masa kecil, meski nggak ada satu pun rentang waktu yang bisa dengan tegas kutunjuk ‘ini loh masa bahagiaku!‘, dalam hampir setiap musim hidupku ada 1-2 hal kecil yang sangat kunikmati. Nah, gimana kalau 1-2 hal kecil dari tiap-tiap musim hidupku tadi itu kukumpulkan, kupilih yang bisa ku-replicate di hidupku yang sekarang?

Tinggal di rumah warisanku di Pacet ini misalnya. I love it here. Tiap pagi saat mematikan lampu jalan berhenti sekejap depan teras kamar pavilyun melemparkan pandangan mataku ke halaman rumput. Senang aja ngopi sambil memandangi pekarangan samping yang lebih mirip hutan timbang halaman rumah manusia. Terus aku ingat, ini bukan pertama kalinya aku merasa senang di tempat yang kutinggali.

Sudah merasakan yang seperti itu sebelum Pacet, bahkan lebih kuat, ketika hidup di Serui dan Nabire, Papua. Aku menikmati jalan kaki dan keluar rumah di dua kota kecil itu. Rumah-rumahnya berhalaman rumput berpagar hidup, got nggak disemen cuma tanah digali, berumput rapi, airnya jernih dan mengalir, bunga Tahi Ayam tumbuh sendiri di pinggir jalan.

Nggak bisa membayangkan bagian dalam rumah dinas yang kami tempati di Serui dan Nabire. Lupa selupa-lupanya. Tapi masih ingat halaman rumputnya yang rapi, tanaman mawar tinggi-rimbun di halaman depan, pohon flamboyan di halaman samping, mata air kecil depan sekolah tempat aku cari udang dengan teman sekelas.

Dari situ bisa kita pastikan salah satu komponen kebahagiaanku adalah hidup di lingkungan yang alami. Meski akan lebih membahagiakan kalau ditambah jalanan lengang nggak penuh kendaraan, aman-nyaman bagi pejalan kaki, rumah-rumahnya nggak berdempet rapat tapi pada dasarnya sudah sangat berbahagia dengan rumah berhalaman rumput, berhias tanaman. Mengganti rumput liar di halaman rumah warisanku dengan rumput yang lebih rapi bisa diibaratkan “ketiban” bahagia. Aku nggak akan nyesal menghabiskan berjuta-juta demi halaman berumput.

Penelusuran seperti itu bisa kita lakukan dalam banyak hal.

Taruhlah dalam keuangan. Nggak sekalipun aku ingat merasa senang dikasih uang sama bapakku. Tapi aku ingat sekali gimana berbunga-bunganya hatiku nggak lama setelah lulus kuliah dapat wesel 150 ribu karena dua cerpenku dimuat di majalah Aneka. Honorku ngajar di 6 bulan pertama sama aja dengan gaji dari pekerjaan pertamaku sebagai staf administrasi 2 tahun sebelumnya. Aku nggak ingat menunggu-nunggu hari gajian di pekerjaan pertama tapi ingat menunggu-nunggu hari honor ngajarku ditransfer. Tiap kali honor cair merasa dapat rizki nomplok. Aku nggak ngerasakan apa-apa dapat rumah warisan yang nilainya 1 milyar lebih tapi girang dapat kerjaan penerjemah lepas setengah hari berbayar 500 ribu dari sebuah NGO yang dinaungi salah satu agen PBB.

Dari situ bisa kita pastikan komponen kebahagiaanku dalam hal keuangan bukan di berapa banyak yang kudapat tapi dapatnya darimana, karena melakukan apa, untuk kepentingan apa. Aku bahagia dapat uang kecil dari pekerjaan berkontribusi besar, nggak bahagia dapat uang besar dari pekerjaan berkontribusi kecil apalagi yang kontribusinya nggak jelas. Karena itu bisa kupastikan penghasilan suamiku 25 atau 50 juta per bulan nggak pengaruh ke kebahagiaanku. Bahagiaku ada di uang yang kuhasilkan sendiri dari keahlian yang manfaatnya penting bagi banyak orang.

Kalau itu masih jauh di luar jangkauan, fokuskan penelusuran di hal-hal kecil.

Ada makanan-makanan yang sangat kunikmati. Aku ingat nunggu-nunggu jam istirahat untuk beli nasi kuning di kantin SD di Serui, stik bawang di kantin SD di Jayapura, bala-bala di kantin SMA di Lembang. Aku nggak suka njajan. Juga nggak semua kantin sekolahku yang totalnya 10 sekolah punya sesuatu yang sangat kunikmati. Cuma tiga itu. Dari semua jajanan pabrikan di masa kecil, yang kuingat sampai sekarang cuma Mamee. Njerit waktu lihat teman kerjaku bawa entah dapat darimana. Aku bisa dibilang perang dingin dengan dia tapi hari itu nggak sanggup nggak minta. Jadi ini lebih dari sekedar perkara lidah atau selera. Ini perkara dosis harian kebahagiaan yang sudah teruji dan dengan demikian kalau di-replicate kapanpun dimanapun akan ngasih efek yang sama.

Aku sudah nggak tahan nonton TV tapi ada beberapa macam tontonan yang nggak bosan kutonton ulang lagi dan lagi. Salah satunya serial Friends. Salah duanya, aku sendiri heran, film-film lama yang dibintangi Ateng dan Iskak. Dan Nagabonar.

Jajanan dan tontonan yang kusebut di atas bisa kan kujadikan rutin. Kalau tiap hari selama sekian tahun bisa ajeg 30 menit aja nonton tontonan yang bikin aku bahagia dan ajeg makan satu aja sesuatu yang bikin aku bahagia, itu akan menstabilkan tingkat kebahagiaanku selama sekian tahun itu tadi. Kecil tapi rutin.

Kuncinya bukan di besar atau kecilnya tapi di rutin atau nggaknya.

Bayangkan menikah dengan laki-laki yang kita cintai setengah mati saat menikah tapi sehari-harinya dia nggak pandai menyenangkan kita. Ukur tingkat kebahagiaan kita setelah 10 tahun. Bandingkan dengan menikah dengan laki-laki yang saat nikah perasaan kita biasa-biasa aja nggak ada yang istimewa tapi selalu ada sesuatu yang dia lakukan yang menyenangkan hati kita setiap harinya. Ukur tingkat kebahagiaan kita setelah 10 tahun.

Semakin besar kebahagiaan biasanya adanya juga makin jauh di luar kendali kita. Berjodoh dengan laki-laki yang sangat kita cintai dan sangat mencintai kita atau berpenghasilan tinggi modal ijazah S1 atau menjadi ibu dari anak-anak saleh yang berprestasi pastilah bikin perempuan manapun bahagia. Masalahnya ada terlalu banyak variabel yang nggak bisa kita kendalikan di tiga itu. Perempuan jauh lebih banyak dari laki-laki. Jangankan dapat cinta, dapat suami aja makin hari makin sulit. Kita hidup di negara dunia ke-3 yang tingkat penganggurannya tinggi. Jangankan berpenghasilan tinggi, dapat kerja dengan bayaran layak aja sulit. Anak kan manusia, punya kehendak, bawa tabiat dan kemampuannya sendiri-sendiri, bukan tanah liat yang bisa kita bentuk semau kita. Orang tua cuma bisa ngasih contoh dan membimbing. Jadi kenapa kita pasrahkan kebahagiaan kita ke sana? Apa nggak lebih baik mengulang-ulang sebanyak mungkin kebahagiaan kecil setiap hari?

Menurutku itu lebih masuk akal daripada selalu mengingat-ingat biar nggak lupa bahagia.

[Pos Pendek] Saat Merasa Bernasib Buruk

Hari-hari yang bikin pingin nangis sesenggukan di pojok kamar.

Sejak 2 hari lalu tiap buka keran harus jalan nembus hutan rumput di pekarangan belakang buat ndodog saklar otomatis pompa air padahal pompanya baru beli. Belum genap sebulan.

+

Selasa-rabu dilep nahan sakit kepala dan nyeri kram perut yang perut nggak bisa ditekuk, nggak bisa banyak gerak, harus dibantu obat pereda nyeri, kamisnya langsung disambung nahan perih titik-titik bernanah di sekujur kulit leher karena tomcat. Hari ini titik-titik nanahnya makin banyak.

+

Mesin cuci meledak-ledak sambil ngeluarkan percikan api selagi dipakai. Bejat. Beyond. Repair.

+

Baru tahu minggu lalu. Nilai tunai asuransi jiwaku di Prudential yang genap 10 tahun per September ini ada di angka 14-sekian juta. Andai tiap bulan naruh jumlah yang sama (di luar biaya asuransi, setoranku 300 ribu per bulan, yang diinvestasikan 200 ribuan) di bawah bantal, dalam 10 tahun ngumpul 24 juta.

Ngumpulkan di bawah bantal, tanpa bunga tanpa bagi hasil, bisa dapat 10 juta lebih banyak dibanding diserahkan ke perusahaan asuransi untuk diinvestasikan (???)

Satu dari sederet upayaku berinvestasi sejak punya penghasilan sendiri yang lagi-lagi gagal total.

Kita semua ngalami hari-hari seperti itu. Mungkin sebagian orang lebih sering dari yang lain.

Jangan biarkan hari-hari seperti ini ngendap di pikiran, mengkristalkan keyakinan bahwa kita bernasib buruk.

Pagi tadi waktu badan rasanya lemes nggak ada kekuatan buat ngapa-ngapain, kuambil buku catatan dan mulai nulis.

Alhamdulillah:

1. Bisa paham omongannya Seth Godin tanpa bantuan subtitles

2. Nyeri perut dah hilang

3. Kepala dah nggak terasa berat

4. Bisa menikmati secangkir kopi meski kulit leher perih

5. Ada yang namanya obat generik. Gampang dapat salep buat luka tomcat.

6. Allah nurunkan ilmu kedokteran. Luka lepuh karena tomcat bisa dicegah dari berkembang menjadi infeksi serius yang perihnya luar biasa.

7. Ada internet dan YouTube. Belajar dari para master seperti Seth Godin bisa dari pojokan gunung yang namanya Pacet.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Nemu 7 hal yang sangat kusyukuri aja efeknya dah luar biasa. Buku catatan kututup, ganti nyalakan komputer, mulai nulis sambungan postingan tentang belajar bahasa Inggris berorientasi fasih yang di-share 170 orang di Facebook. Kutunda-tunda sejak setahun lalu. Sore ini belum selesai tapi poin-poin besarnya sudah dapat.

Perkakas Upik Abu bisa jadi pajangan di tangan orang yang tepat. Rentetan kesulitan bisa jadi Kawah Candradimuka untuk naikkan kelas.

Bertahun-tahun lalu kudengar dari supir taksi:

“Hidup ini sesungguhnya perjalanan dari satu masalah ke masalah yang lain.”

Dulu ketawa dengarnya. Dulu ada orang tua. Orang tua mapan pula. Setelah berumah tangga baru aku paham maksud pak supir. Nggak ada hidup yang mulus-lempeng seperti jalan tol baru buka.

Mungkin yang perlu kutambahkan:

Beda antara satu orang dengan orang lain adalah gimana dia membawa dirinya berjalan dari satu masalah ke masalah berikutnya.

[Pos Pendek] Saat Merasa Jadi Bola Ping-Pong Hidup

Entahlah, mungkin karena 100% kesulitan pribadiku berkenaan uang selama ini adanya di level psikis, bukan fisik, jadi ultra peka ke faktor-faktor psikologis dalam keuangan rumah tangga. Kubilang kesulitan keuangan di level psikis karena situasiku bukannya harus nahan lapar karena nggak ada uang untuk beli makan atau tidur di pinggir jalan karena nggak punya uang untuk ngekos. Jauh lah dari kesulitan yg menculek-culek mata serupa itu. Tapi di level psikologis pun tetap aja “melumpuhkan”.

Mungkin cerita ini bisa ngasih gambaran.

Temanku punya teman baik. Gadis cantik. Yang naksir banyak. Sampai bingung milih. Ketika dia sudah menjatuhkan pilihan meski tanpa cinta yang berkobar-kobar, masuklah laki-laki kedua. Celakanya si No.2 ini bisa bikin dia jatuh cinta. Kemakan cinta, rencana pernikahan dengan laki-laki No.1 yang sudah dia terima lamarannya dia batalkan sepihak. Menikah lah dia dengan pilihan perasaannya.

Dan hidup berumah-tangga dengan laki-laki yang dia cintai ternyata nggak seindah harapan. Gaji suaminya ngepas buat hidup di Jakarta. Buat ekspektasi seorang perempuan yang gadisnya bisa dibilang jadi rebutan? Kurang banyak. Dia jadi pemarah. Senyumnya hilang. Ditambah laki-laki No.1 di kemudian hari ternyata ada di posisi finansial yang lebih tinggi dibanding suaminya. “Deritanya” nampak sekali di wajahnya.

Derita kutulis dengan tanda kutip karena buat sebagian orang mungkin konyol karena suaminya karyawan BUMN.

Dengar cerita itu waktu aku masih gadis. Yang terlintas di kepalaku, “Salah sendiri, Mbakyu.” Tapi setelah ngerasakan sendiri hidup berumah tangga, harus berjuang menurunkan ekspektasi kelas menengahku, nyalahi ekspektasi lingkungan sosial demi kebaikan rumah tanggaku, aku bersimpati padanya. The struggle is real. Yang nggak ngalami nggak akan paham.

Aku bukannya membenarkan keputusannya membatalkan pinangan demi cinta. Juga bukannya membenarkan sikapnya yang menganggap (penghasilan) suaminya sebagai biang kesengsaraan. Simpatiku karena dalam posisinya sangat sulit untuk tidak merasa hidup kita penuh derita. Kenyataan yang sangat jauh dari ekspektasi sendiri + ekspektasi orang banyak sungguhan terasa sebagai siksaan.

Kabar baiknya, realita nggak berdiri sendiri. Realita bukan variabel bebas. Ada hubungan saling mempengaruhi antara realita dan pikiran. Ya pikiran kita sendiri, ya pikirannya orang-orang penting kita, ya pikirannya orang banyak. Dalam posisi lemah (=unfavorable) seperti posisinya si mbak di atas, kemampuan pikirannya mempengaruhi realitanya sendiri juga ikut lemah. Dalam kasusnya mungkin lebih tepat disebut hilang sama sekali. Bukan lemah lagi. Deritanya makin menjadi-jadi. Itu yang kumaksud melumpuhkan.

Akhir-akhir ini sering mikir, kenapa keuangan rumah tanggaku di Pacet beda jauh dengan di Surabaya. Nggak mungkin aja kalau penjelasannya cuma karena di Pacet nggak ada mal. Juga pastinya bukan karena penghasilan suamiku naik tajam atau karena orang rebutan nyewa rumahku. Yang bisa kupastikan berubah drastis itu pikiranku.

Dengan pindah ke Pacet, keputusan yang menunjukkan keberanian luar biasa ke orang-orang sekitar, kuambil kekuatan penuh atas pikiran dan ekspektasiku sendiri. Dari situ mulai berani dan bisa membatasi pengaruh pikiran dan ekspektasi orang. Terasa sekali loh. Aku yang sekarang bukan lagi anak manis penurut yang berusaha menyenangkan orang. Bukannya nggak ada harganya. Aku yang sekarang nggak punya teman. Normalnya orang merasa sangat nggak nyaman dengan orang-orang “aneh” sepertiku. Hidupku betul-betul back to basic di segala bidang. Nggak apa. Itu harga yang harus kubayar demi bisa menciptakan realitaku sendiri. Aku ya emoh jalan hidupku seperti jalan hidupnya si mbak di atas. Emoh mati dengan 1001 penyesalan.

Yang ingin kukatakan adalah: kalau selama ini sangat kesulitan megang kendali atas pengeluaran, nggak bisa berhenti merasa jadi bola ping-pong hidup, jiwa gelisah karena begitu banyak yang nggak kesampaian, begitu jauh harapan dari kenyataan, jawabannya mungkin bukan di cara kita yang buruk dengan uang tapi di lemahnya kendali kita atas pikiran kita sendiri. Bisa jadi kalah sama perasaan seperti mbak di atas tadi. Bisa juga kalah sama pikiran orang lain dan/atau pikirannya orang banyak seperti aku pra-Pacet.