[Pos Pendek] Benarkah Semua Akan Indah Pada Waktunya?

Ada banyak “musim” dalam hidup kita. Selama ini aku salah: menilai “musim-musim” itu dari seberapa membahagiakannya sebuah “musim”, dari seberapa gampang hidupku di “musim” itu, dari seberapa bagus penilaian orang tentangku di “musim” itu. Akhirnya selalu dalam perjalanan mencari-cari, menunggu-nunggu saat manakala segala sesuatunya terasa indah.

Adakah yang namanya “indah pada waktunya”?

Dulu kukira gitu.

Sadar kalau salah berkat tomcat.

Semingguan lalu terasa gatel-gatel di sekujur leher. Kukira karena kalung. Kupikir beres dengan nyopot kalung yang selalu kupakai. Dua hari kemudian, nampak dari ruam merahnya, baru paham gatel-gatelnya karena tomcat. Sudah telat. Lajunya menuju luka lepuh bernanah nggak bisa kucegah dengan salep generik gentamicin. Dalam 4-5 hari ruam merah jadi luka bernanah, menjalar. Jangan tanya perihnya. Harus minum paracetamol 3× sehari. Kalau nggak gitu nggak bisa ngapa-ngapain apalagi tidur. Ini luka nanah di kulit leher yang ketekuk-tekuk dan terlipat-lipat saat tidur. Jadi kira-kira aja sendiri.

Di hari ke-5 adik ipar telepon. Tanya bisa nggak nitip Azka dan Jihan, adiknya yang umur 11 bulan dan masih nenen, selagi dia dan adikku ke Bandung semalam. Kuiyakan nggak pakai mikir karena sayang ponakan khususnya Azka. Yakin penuh sama kemampuan paracetamol mengurangi rasa perih di leherku.

Sabtu sampai jam 3 siang Jihan masih baik-baik aja. Nggak rewel cari mamanya. Makan tetap banyak. Dua kali tidur siang setelah kugendong.

Begitu dia bangun jam setengah limaan baru terasa. Nggak mau diturunkan. Meski nggak nangis terus-terusan, ada momen-momen tangis Jihan tiba-tiba meledak. Kelihatan sekali sangat stres.

Makin kewalahan setelah Rafi diantar pulang Mbak Dama. Rafi nggak biasa berbagi perhatian. Kok ya pas suami yang biasanya sudah nyampai rumah tiap Sabtu sebelum Isya, sabtu kemarin harus lembur sampai tengah malam. Nggak ada bantuan buat ngalihkan perhatian Rafi supaya aku bisa nidurkan dan ngeloni Jihan.

Praktis nggak turun dari gendongan sejak jam lima sore sampai akhirnya dia bisa tidur setelah Rafi akhirnya tidur jam 10-an. Dan tiap 2 jam dia bangun nangis cari nenen. Tiap 2 jam budhe harus nggendong, berdiri sambil ngayun-ayun sampai dia tidur lagi. Sampai jam 6 pagi.

Dalam semua kekacauan itu Azka yang sekarang umur 8 tahun yang biasanya sangat nggaplek’i kalau disuruh tahu-tahu aja sangat kooperatif. Nurut kusuruh ambil makan sendiri, mandi dan sikat gigi, shalat bahkan mau kusuruh jaga adiknya selagi kugorengkan sosis kesukaannya. Malamnya saat ada Rafi, meski dengan cara yang counter-productive, Azka berusaha menjauhkan Rafi dariku yang lagi berjuang nidurkan adiknya. Malamnya dia tidur nempel ke aku seperti kena lem. Besoknya dia lapor ke mama-papanya, “Budhe sampai bingung harus [ngopeni] Jihan atau Rafi.”

Harus paham cerita latarnya dulu.

Sampai umur 6 tahunan Azka lebih dekat ke aku timbang ke mamanya. Waktu mau pindah ke Pacet dia merengek-rengek memintaku nggak pindah. Andai waktu itu ada uang untuk neruskan ngontrak, nggak harus ngutang, aku nggak akan pindah ke Pacet. Nggak langsung pindah ke Pacet begitu ibuku meninggal ya juga karena dia.

Selama depresi 4-5 bulan setelah bapak-ibuku meninggal + kehilangan penghasilan, cuma Azka yang bisa bikin aku tertawa dan ngasih energi menjalani hari. Tiap hari dia datang ke rumah kontrakanku yang satu perumahan dengan rumah adikku. Setelah aku di Pacet, tiap Sabtu Pak Puh datang ke rumahnya ambil mobil dan pulang ke Pacet, merengek-rengek minta ikut. Jujur aja aku lebih nunggu-nunggu kedatangan Azka daripada kedatangan suami.

Lalu Jihan lahir.

Tiba-tiba aja Azka nggak lagi lengket. Nangis kalau disuruh nginap di Pacet.

Mendadak sontak “musim” kedekatanku dengan ponakan yang satu itu usai, tamat, game-over. Jangan tanya gimana sedihnya budhenya. Kalau bisa tentu “musim” itu sudah kuulang lagi, kuulang lagi. Kemarin itu baru mataku terbuka:

Azka memang nggak lagi lengket seperti kecilnya dulu tapi budhe akan selalu jadi orang istimewanya. Kesan yang kutinggalkan di benaknya selama musim kedekatan kami akan selalu terpatri di benaknya. Makin bercokol di kepalanya setelah dia lihat sendiri perjuanganku menenangkan adiknya sehari-semalam; perjuanganku nahan capek, nahan uring-uringan, nahan marah ke 3 anak kecil.

Apa arti sebuah “musim” dalam hidup kita bukan di seberapa bahagianya kita, seberapa beruntungnya kita, seberapa nyamannya hidup atau seberapa bagus penilaian orang. Arti sebuah “musim” ada di seberapa banyak yang bisa kita bawa dari musim itu sebagai bekal menuju musim berikutnya.

Waktu di mana segala sesuatunya terasa indah nggak akan pernah datang. Nggak ada yang terjadi dengan sendirinya, tanpa upaya, tanpa mengambil resiko. Yang mampu bikin indah itu bukan waktu tapi kita. Aku bisa aja nolak dititipi tapi pikiranku melihatnya seperti ini: ketitipan atau nggak, kewalahan atau nggak, kerepotan atau nggak, tetap aja harus nahan nyeri di leher. Kalau dengan menolak dititipi ponakan nyeriku bisa hilang tentu sudah kutolak. Ini kan nggak. Nolak atau terima tetap aja nyeri.

Dengan mau repot ketitipan, hari Sabtu kemarin nggak habis cuma buat nunggu-nunggu datangnya saat luka lepuhku mengering dan nyeriku hilang. Kupilih memanfaatkan waktu menunggu dengan berepot-repot menunjukkan ke Azka betapa sayangnya aku ke dia, ke adiknya dan ke Rafi. Dan hari ini, hari di mana luka lepuhku mengering, yang kudapat bukan cuma lega bebas dari nyeri tapi juga bangga bisa jadi budhe yang bisa diandalkan.

Setelah kupikir-pikir lagi:

Selama 19 bulan “musim” hemat ekstrim demi nyaur hutang, yang kulalukan bukan menunggu-nunggu hari saat hutang lunas. Musim itu kumanfaatkan untuk belajar keuangan, belajar masak. Dan lihat manfaatnya di musim hidupku yang sekarang! Jadi buat apa aku nunggu-nunggu hari manakala:

1. Rafi tumbuh besar jadi anak ganteng berprestasi yang bikin seluruh dunia kagum sama mamanya. Gimana kalau dia nggak tumbuh besar seperti harapanku? Sekarang aku sudah sangat senang kalau dia bisa pipis-poop di kamar mandi. Ya udah, garap itu. Bisa kupastikan aku dan Rafi akan sangat menikmati saat-saat dia bisa mengendalikan fungsi tubuhnya sendiri. Jadi kenapa harus nunggu-nunggu anakku dikagumi orang?

2. Followerku di Instagram mencapai 10k. Kalau mau bikin ebook buat dijual bikin aja sekarang. Takut nggak ada yang beli? Memangnya kenapa kalau nggak ada yang beli? Apa kalau follower tembus 10k berarti PASTI ada yang beli ebook-ku?

3. Rumahku layak masuk majalah. Apa hari itu tidurku akan lebih nyenyak? Ngopi terasa lebih enak? Apa nggak ada yang bisa bikin aku senang dengan rumahku dalam keadaannya yang sekarang? Bisa duduk sambil ngopi di depan kamar pavilyun sepertinya asik sekali tuh. Ya udah, cari meja-kursi kecil buat teras kamar pavilyun.

Dan seterusnya.

Berhentilah menunggu-nunggu tibanya saat semua terasa indah.

Carpediem: Seize the day. Jangan serahkan ke waktu. Taruh waktu di tangan, bukan di angan-angan.

Menata Rumah Demi Berhemat

Menjalani hari demi hari dengan budget itu berat. Budget yang kumaksud di sini yang berorientasi jangka panjang, bukan yang sekedar memastikan gaji bulan ini cukup buat bulan ini.

Ya bayangkan aja sendiri, tiap bulan sebelum gajian, uang belum di tangan, sudah harus kita bagi-bagi sekian buat ini, sekian buat itu, sebagian buat yang nggak bisa kita nikmati sekarang, sebagian buat yang belum tentu kejadian. Begitu uang sampai tangan hitungannya dah habis dah. Harus selalu mendulukan kebutuhan (yang adaaa aja) dari keinginan (yang nggak habis-habis). Dan bukan sebulan-dua bulan seperti itu. Bertahun. Ya namanya juga budget berorientasi jangka panjang.

Di situ yang berat.

Karena itu lah kuncinya bukan mati-matian mengekang keinginan.

Kuncinya di pandai menyibukkan pikiran dan tangan dengan segala sesuatu yang memuaskan diri yang sekiranya nggak butuh uang.

Atau kalau pun butuh, nggak banyak.

Bagi rumah tangga berpenghasilan kurang dari 10 juta, kerajinan tangan seperti decoupage yang biayanya nggak sedikit jelas bukan salah satunya. Kecuali kerajinan decoupage-nya buat dijual. Praktek resep-resepnya Tintin Rayner juga bukan. Kecuali kita terima pesanan kue.

Di postingan ini aku pingin ngajukan satu kesibukan nol rupiah yang bisa bikin kita lupa sama keinginan-keinginan yang nggak habis-habis itu:

Menata rumah.

Bukan demi rapi. Bukan demi sedap dipandang. Bukan demi menyalurkan hobi ndekor.

Menata rumah demi efisiensi ruang. Demi efisiensi gerak dan waktu para penghuninya. Demi efisiensi sistem penyimpanan. Demi mengurangi beban kerja kita bersih-bersih dan beres-beres.

Pakai diriku sendiri aja lah sebagai contoh.

Pada umumnya aku merasa aku ‘ni pintar. Kecuali saat:

• Pulang ngajar ngebut ke loket PDAM. Takut keburu tutup karena dah siang. Mumpung lagi di luar rumah. Pikirku sekalian kan. Begitu sampai di parkiran loket PDAM, baru sadar, nggak bawa tagihannya..

• Gajian. Langsung belanja bulanan. Pikirku sebelum uang terpakai untuk yang nggak penting. Eh, paginya mau bikin Ayam Kecap buat sarapan suami, baru ingat, kecapnya habis. Semalam nggak beli. Lupa..

• Ingat hari ini ada undangan manten, ingat jamnya, lokasinya yang nggak tahu. Butuh peta yang terlampir di undangan, tapi dimana persisnya kusimpan undangannya, lupa. Kalau nggak di kotak penuh kertas, ya di kotak satunya yang juga penuh kertas. Dah siap mau berangkat harus mbongkar 2 kotak penuh kertas dulu. Karena carinya keburu-buru, isi 2 kotak besar berhamburan ke lantai..

Rasanya pingin ngunyah rumput…

Setelah mempelajari puluhan ribu foto rumah orang Barat, baru lah nyadar, semua masalah yang bikin aku pingin ngunyah rumput itu bisa diatasi dengan:

Sudut khusus dekat pintu keluar-masuk rumah.

(Foto dari bhg.com)

Ditata sedemikian rupa untuk menyimpan segala sesuatu yang kubutuhkan setiap keluar rumah seperti kacamata dan kunci kendaraan. Tambah wadah untuk Kertas Masuk (buat naruh pengumuman RT, brosur, surat, kupon dll sebelum diputuskan disimpan atau dibuang) dan Kertas Keluar (semua kertas yang harus kubawa untuk menyelesaikan urusan seperti undangan manten dll).

Begitu masuk pintu rumah sepulang bayar tagihan, tanda-terima bulan kemarin masukkan ke Kotak Masuk untuk di-file (simpan tagihan-tagihan 6 bulan terakhir yang sekiranya perlu buat ngajukan KPR-BTN atau kredit lain). Tanda terima bulan ini taruh di Kotak Keluar. Dengan begitu waktunya bayar tagihan bulan depan tinggal ambil.

Lebih bagus lagi kalau lengkap dengan tempat nyimpan sepatu/sandal, payung, topi, jaket, tas, slayer dan sarung tangan bagi yang sepeda motoran. Yang memorinya sudah mbah-mbah sepertiku bisa nambah kalender, alat tulis dan kertas/papan untuk nulis reminder. Atau papan untuk nempel sticky notes. Biar nggak lupa beli kecap. Wadah koin sepertinya perlu juga. Menghilangkan kebiasaan dan buang waktu lari-lari mutar rumah cari uang receh tiap ada pengemis. Hebat kalau bisa nambah charging station buat smartphone. Yang kabelnya mapan, tertutup rapi, tinggal tancap. Nggak ada lagi acara setengah jam keliling rumah cari charger atau colokan tiap kali smartphone low-batt.

Bayangkan berapa banyak waktu yang bisa kuhemat hanya dengan men-set up sudut entryway ini? Berapa banyak ketololan (seperti mengerahkan orang serumah cari kacamataku di menit-menit terakhir sebelum berangkat) yang bisa kuhindari dalam setahun?

Itu baru satu.

Setahunan aku ngopeni 2 ponakan umur SD yang nggak bisa rapi. Semua yang mereka buka, nggak ditutup lagi. Nggak pernah ngembalikan barang ke tempatnya. Barang mereka berserak di sepenjuru rumah. Cuma kamar mandi yang slamet.

Upayaku merubah kebiasaan mereka nggak ngasih hasil. Dengan standar kerapian yang begitu tinggi, aku bisa gila harus mbereskan ke-berantakan-nya minimal 2 kali sehari. Kalau kubiarkan sampai berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan:

Budhe milih ngekos..

Dengan pribadi messy seperti itu, menyiasati penataan ruang lebih mendukung kesehatan mental kita daripada merubah kepribadian si target-subyek.

Ini yang kulakukan.

Tiap pulang sekolah dua ponakanku langsung nggeletakkan barang-barang sekolah mereka di ruang pertama yang mereka masuki. Mulutku capek nyuruh mereka bawa ke kamarnya. Jadi tangan ambil alih: kusiapkan Drop & Collecting Point untuk nampung tas dan barang-barang sekolah di ruangan pertama yang mereka masuki sepulang sekolah setiap harinya yaitu ruang tamu.

Kusiapkan satu keranjang cucian per anak. Yang sekiranya cukup buat nampung barang mereka yang terakumulasi di sepenjuru rumah selama seminggu. Saat beres-beres, kutaruh barang-barang mereka yang berceceran di keranjang masing-masing. Kalau sudah penuh kuminta mereka ngosongkan keranjang masing-masing dengan membawa ke kamarnya. Frekwensi nyuruhnya turun jadi kurang-lebih satu minggu sekali. Mulut nggak seberapa capek.

(Foto dari apartmenttherapy.com)

Begitu pindah ke rumah kontrakan dan mereka ikut aku, ruang kecil panjang dengan pintu masuk sendiri di samping ruang tamu kujadikan Sentra Siap-Siap. Lemari, kaca rias, aksesoris, rak sepatu kutaruh di situ semua. Untuk siap-siap berangkat sekolah bisa diselesaikan di satu ruangan. Karena:

Mengurangi Lalu-Lintas Keluar-Masuk Beberapa Ruangan Untuk Menyelesaikan Satu Fungsi = Mengurangi Ceceran Barang + Lupa

Semua yang mereka butuhkan untuk siap berangkat sekolah ada di ruangan itu. Hanya buku dan alat tulis yang tersimpan di kamar mereka.

Sayangnya yang berikut belum sempat kupraktekkan karena setelah 5 bulanan denganku di kontrakanku mereka kembali ke rumah mama-papanya.

Yang kumaksud lemari; jam 7 pagi acak-adul nggak berupa, jam 10 pagi rapi tertata, nggak sampai besoknya sudah acak-adul lagi.

Rasanya pingin ngunyah rumput di kamar kos..

Rencanaku waktu itu:

Pakaian masuk keranjang atau kotak tanpa tutup. Satu keranjang atau kotak untuk satu tipe pakaian. Nggak dicampur. Celana dalam di satu wadah, nggak usah dilipat karena nanti pasti di-odhol-odhol. Kaos kaki sendiri, kaos dalam sendiri. T-shirt dan baju rumah jangan dilipat, gulung dan ikat dengan karet, biar nggak kusut meski di-odhol-odhol. Lalu masukkan keranjang/kotak ini ke lemari. Satu-dua keranjang/kotak di satu shaf. Jangan ditumpuk. Baju pergi, baju pesta dan seragam digantung.

(Foto dari bhg.com)

Bisa bayangkan betapa berkurangnya senewen dengan memfokuskan ikhtiar pada penataan ruang dan barang alih-alih mengoreksi kepribadian? Memang lebih repot. Mengoreksi penataan butuh kerja otak + kerja tangan. Lebihnya adalah: nggak menguras energi mental sebanyak merepet, ngomel atau berak-berok mengulang-ulang perintah yang sama s-e-t-i-a-p h-a-r-i.

Sejauh ini sudah dapat dua contoh tata-toto yang efeknya sampai ke kedamaian jiwa. Sekarang mari kita telaah dapur.

Pusat kehidupan pada umumnya IRT.

Sejak tinggal di Pacet ini aku banyak menghabiskan waktu di dapur. Ternyata:

1. Meja dapur dan kulkas yang penuh barang bikin males masak.

2. Stok bahan masakan (berlaku juga untuk jenis barang lain) yang nggak terorganisasi, asal simpan, ujung-ujungnya banyak nggak kepakai dan/atau terbuang.

3. Penataan meja kerja-keran air-kompor-alat masak-wadah bumbu yang nggak memperhitungkan gerak kerja saat masak bikin dapur sangat berantakan. Terasa sekali kalau dapurnya sempit seperti dapurku.

Sejauh ini yang kulakukan baru menghilangkan rak piring. Mengingat sempitnya dapurku, rak piring baiknya nempel tembok. Gitu juga dengan wadah bumbu.

(Foto dari apartmenttherapy.com)

Karena tujuan kita adalah efisiensi, kerja otaknya berat dan lama. Prosesnya kurang-lebih seperti ini:

tata — evaluasi — kurangi & pindah-pindah barang — evaluasi — perbaiki — evaluasi lagi,

Terus. Jelasnya nggak akan selesai dengan satu-dua kali kerja atau 1-2 minggu. Aduh, 1-2 minggu, I’m not done even after 2 years! Gimana nggak sibuk coba?

Apalagi yang kerja natanya bertujuan ekstra-spesifik seperti aku gini:

1. Natanya untuk kenyamanan tamu, buat “dijual”.

2. Supaya kerja simpan-simpan barang-barang pribadiku untuk bikin rumah check-in ready bisa kuselesaikan dalam kurang dari 30 menit.

3. Supaya kerja packing keperluanku-Rafi selama di hotel bisa selesai dalam kurang dari 30 menit.

4. Supaya mengembalikan rumah seisinya ke kondisi semula setelah tamu check-out nggak makan lebih dari 2 jam (kecuali tamunya extremely kemproh).

Inilah salah satu penjelasan ketahananku –yang notabene di atas rata-rata normalnya orang khususnya perempuan– menjalani hari tanpa jiwa harus menahan “siksa” 1001 rupa keinginan semacam njajan, makan di luar, beli kerudung, beli pernik rumah, jalan-jalan dan kawan-kawannya.

There’s basically no space left in my brain for wants, impulsive buyings and retail therapy.

Begitulah.

Seni Hidup Ngontrak

(Foto cover dari House to Home)

Lima tahun berumah-tangga, ngontrak tiga rumah yang berbeda. Yang pertama rumah petak di kawasan pemukiman padat yang jarak tempuhnya cuma 10-15 menit dari pusat kota dengan motor. Yang kedua ngontrak rumah separuh di kawasan kampung di pinggir kali. Yang ketiga rumah 3 kamar di perumahan kelas menengah di Sidoarjo, nggak jauh dari rumah kontrakan kedua. Cukup berpengalaman lah ya.

Hidup ngontrak memang nggak menakjubkan. Jarang sekali ada yang bisa ngontrak rumah yang sama sampai bertahun-tahun. Kenaikan harga sewa kadang bisa bikin tekanan darah naik. Adikku ngontrak rumah tipe 36 di perumahan kelas menengah di pinggiran kota selama setahun seharga 16 juta. Setelah setahun, pinginnya nambah setahun lagi. Yang punya rumah naikkan harga sewa jadi 17 juta.

Naik sejuta dalam setahun!

Karena itu pada umumnya “kontraktor” harus cari rumah kontrakan baru setiap 2-4 tahun. Itu artinya harus keliling cari rumah kontrakan kosong yang biaya sewanya cocok, ngepak seisi rumah, boyongan, membongkar pak-pakan, menatanya lagi; mbayangkannya aja capek. Butuh paling cepat 3 bulan sebelum rumah dan rutinitas harian keluarga bisa betul-betul mulus lagi. Aku butuh setahunan. Itu belum menghitung proses penyesuaian diri dengan lingkungan tetangga baru. Nggak menakjubkan mungkin bukan kata yang tepat. Repot pangkat tiga sepertinya lebih pas.

Tapi: bukan berarti nggak ada keuntungannya.

Mempertahankan harta benda di tingkat minimal. Segala kerepotan tadi sungguh-sungguh menghilangkan nafsu kumpul-kumpul barang. Melatih urat syaraf yang namanya Make-Do, yaitu memanfaatkan apa yang sudah ada demi menghindari membeli. Nggak perlu lah sendok-garpu selusin untuk bisa makan sekeluarga beranggota 4 orang. Enam sendok cukup. Dan orang Indonesia bisa hidup tanpa garpu. Hanya perlu menambah siasat: cuci segera setelah dipakai untuk memastikan selalu ada sendok bersih. Kalau ada tamu lebih dari 6 orang dan kita harus nyiapkan makan? Hidangkan masakan yang di restoran hotel pun dimakan dengan tangan seperti Nasi Penyet. Kalau betul-betul butuh sendok-garpu lebih? Pinjam tetangga sebelah. Sambil kenalan.

Menciptakan sistem packing dan unpacking. Tanpa sistem, kita bisa gila sendiri. Bayangkan malam pertama tidur di rumah kontrakan. Tengah malam pada bangun karena jadi banca’an nyamuk. Kita punya obat nyamuk bakar, oles, elektrik dan semprot tapi nggak ingat disimpan di kardus yang mana. Harus bongkar dulu. Belum tahu medan, belum tahu dimana minimarket 24 jam terdekat (kalau ada). Apa harus membangunkan tetangga buat nanya? Belum besoknya. Baju suami buat kerja, baju anak-anak sekolah, botol susu si bayi dan popoknya. Essential seperti ini harus dipacking terpisah agar bisa di-unpack duluan. Almarhum ibuku ngajari: barang dapur untuk masak cepat dan peralatan makan seperlunya harus dipacking terpisah supaya bisa secepatnya masak untuk makan sehari-hari. Belum tentu warung makan gampang dicari di lingkungan rumah baru. Mungkin ada yang punya sistem packing-unpacking yang bisa mangkas waktu menata rumah baru menjadi 3 hari saja?

Ternyata ada! Sarah Titus punya cara memangkas acara menata rumah baru jadi 2 hari saja! Jenius. Bisa dibaca lengkapnya di sini. Top tip-nya: kemas semua barang esensial sekeluarga seperti baju dan perlengkapan mandi untuk 5 hari di satu koper. Yang punya anak bayi berarti ketambahan popok dan perlengkapan nyusunya.

Terlatih “membaca” lingkungan. Ini besar sekali manfaatnya saat memilih rumah untuk dibeli. Setelah hidup mengontrak di tiga lokasi berbeda selama hampir 5 tahun, aku jadi tahu cara cepat mengukur daya dukung sebuah lingkungan bagi gaya hidup hematku. Pergilah ke pasar terdekat. Cari penjual daging ayam. Lihat apa yang pertama kali habis. Kalau ceker, kepala dan jeroan maka lingkungan itu berbiaya hidup rendah. Kita bisa sangat berhemat di belanja sehari-hari. Kekurangan lingkungan seperti ini biasanya: bukan tempat yang prospektif untuk mengembangkan usaha rumahan kecuali yang keunggulan kompetitifnya di harga jual yang sangat murah. Gimana dengan lingkungan pemukiman yang nggak ada usaha rumahannya? Mahal.

Pada prinsipnya, semua bisa jadi manfaat bila kita mau banyak repot dan berpikir sedikit lebih dalam.

Bermedsos Demi Mengangkat Derajat: Proposal Untuk IRT

Sejak berhenti kerja, bisa kurasakan perbedaan ekspektasi, perbedaan perlakuan rata-rata orang, ke perempuan yang keluar rumah cari uang dengan yang di rumah saja. Aku sering dengar Biar dia aja. Dia yang nggak ngapa-ngapain untuk merujuk seorang IRT. Apalagi IRT sepertiku yang mempekerjakan ART padahal anak baru satu. Nggak ada harganya dibanding perempuan dua anak yang bekerja, nggak punya ART pula.

Semasa ngajar belum tentu sebulan sekali kutengok akun Facebook. Belum tentu dua tahun sekali update status meski bisa sekali menghasilkan feed mainstream. Masa itu keluar-masuk kampus, hotel dan perusahaan; ketemu banyak orang asing dan orang penting. Anehnya kebutuhannya nggak ada. Blast. Pengakuan dan perasaan berharga puas kudapat dari bekerja. Setelah jadi IRT baru tolah-toleh. Dari nggak tertarik berbalik jadi butuh.

Tujuan awal aktif ber-Facebook adalah woro-woro ke 500-an orang Friend kalau aku punya blog. Cari pembaca. Lalu pelan tapi pasti, hidupku yang nilainya terasa terus merosot sejak berhenti kerja diambil-alih Facebook. Seharian cuma men-scroll News Feed sambil menunggu-nunggu postingan harianku di-like dan dikomentari seperti perawan desa nunggu-nunggu dilamar. Seperti itu selama berbulan-bulan. Sampai masa kontrak rumah habis separuh, sisa setahun. Rasanya seperti dicubit tang, disadarkan: like dan comment Facebook nggak bisa buat mbayar kontrak rumah.

Tuntutan menghasilkan uang memaksaku meninjau ulang caraku bermedsos. Yang tadinya demi sebanyak-banyaknya like dan comment jadi demi dapat pembeli. Sejak “kuliah terapan” di Instagram per Oktober 2015 demi jual barang nganggur yang numpuk di rumah kontrakan, aku belajar tiga hal penting:

  1. Jualan bukan satu-satunya cara mempekerjakan medsos.
  2. Dengan mindset dan cara yang tepat, medsos bisa bikin pekerjaan rumah tangga yang (bagiku) sangat monoton itu lebih bermakna.
  3. Pengakuan dan penghargaan justru makin gampang kita dapat –dan makin signifikan— kalau mata kita nggak lengket di layar smartphone.

Soal jualan online. Aku sendiri sudah merasakan pertolongan medsos untuk dapat uang meski bukan uang besar. Sangat kusarankan belajar jualan yang halus. Jangan News Feed kita bombardir dengan foto barang dagangan, foto asal jepret, tiap nge-pos 117 orang teman kita tag, captionnya copy-paste, sama semua sejak 2 tahun lalu. Akun jualan favoritku punya satu persamaan besar. Macam postingan mereka nggak melulu barang dagangan tapi dikemas sedemikian rupa sehingga mengangkat apapun itu yang mereka jual. Coba cekidot Jendela Si Kecil. Kalau tertarik belajar tentang jualan cantik, kurekomendasikan untuk ngikuti Etsy Success dan The Shop Files di Instagram.

Bagi yang nggak tertarik jualan online apalagi jualan kerudung karena takut suaminya disiram air keras:

TIGA CARA LAIN MEMPEKERJAKAN MEDSOS

Cara#1: Medsos Sebagai Sumber Daya

Aku bukan Jenius Kerumahtanggaan. Keahlian domestikku di beberapa departemen terlalu memprihatinkan. Hasil cucianku –dengan mesin cuci sekalipun– berbau karena tanganku nggak cukup kuat meras. Gitu juga dengan hasil kerjaku ngepel. Meski obat pelnya sudah kubanyakkan. Karena itu tadi, tanganku nggak cukup kuat meras pel-pelan. Dua masalah itu bisa kuatasi dengan mendelegasikannya ke ART paruh-waktu. Sayangnya lagi, masalahku bukan cuma dua itu.

Kita mulai dari masalah yang langsung mempengaruhi keuangan rumah tangga: kemampuan masak yang kadang-kadang. Kadang-kadang nggak bisa dimakan. Lalu masalah kelungsuran begitu banyak barang tinggalan orang tua dan barang bekas saudara. Tanpa pengetahuan desain tingkat dasar rumahku pasti nampak gudang, sesak dengan barang tua dan bekas. Masalah lain masih banyak tapi masalah terbesarku adalah keuangan yang pas-pasan cenderung kurang sejak berumah-tangga. Mau nggak mau harus belajar masak, belajar dekor, belajar berhemat. Meski terlahir dengan DNA hemat, pengetahuan dan kemampuanku berhemat ternyata masih belum cukup mumpuni untuk bisa mengoptimalkan keuangan UMR.

Facebook dan Instagram adalah sumber daya yang memungkinkanku belajar ketrampilan domestik secara mandiri. Kucari page Facebook dan akun Instagram yang ngasih ide-ide sederhana sehari-hari siap praktek, kukumpulkan dan –ini yang paling penting– kupraktekkan. Nggak kutimbun di Timeline. Aku rajin bersih-bersih. Resep masakan yang sudah kupraktekkan kuhapus. Juga rajin nge-klik link artikel/postingan blog tentang project DIY. Yang sekiranya cukup sederhana untuk kupraktekkan, ku-share dengan setelan Only Me. Foto-foto desain interior yang mancep di hati kusimpan di hp. Malamnya kupelajari. Apanya yang bikin one-of-a-kind. Apa yang bisa kutiru. Prinsip desain apa yang bisa “kucuri” dari foto itu.

View this post on Instagram

Teras sempit bisa tetap gaya: . 1) Cat tembok rumah dan plafon putih aja. . 2) Lantainya yg diwarna dan motifkan. Itu bukan ubin. Kalau nggak salah lantai plesteran yg dimotif dg teknik stencil. . 3) Jangan beli perabotan yg satu set. Biar nggak semburat cari kursi teras yg sama-sama rotannya atau besinya atau plastiknya. Jangan yg dari kayu. Terasa 'berat' di mata, bikin ruang sempit terasa 'penuh'. Bikin tampak seperti satu set dg nyamakan kain pelapis busa dudukan dan bantal kursinya. Cari motif yg nggak biasa untuk kain pelapisnya, yg warnanya kontras dg lantai. . 4) Mejanya beda material, beda warna. . 5) Kasih tanaman. Foto dari BHG. Ini bukan teras rumahku. Cari cara low-cost mbaguskan rumah bisa menyelamatkan IRT dari lubang yg kukasih nama 'Minder Soro'. Yg nggak percaya boleh coba. . #blogngirit #bloggayahiduphemat #bloggerperempuan #emak2blogger #emakirit #emakpintar #baitijannati #kerjairt #kerjarumahtangga #manajemenlungsuran

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Apapun itu yang ingin kupelajari, selalu bisa kutemukan paling nggak satu akun/page yang berfungsi jadi sumber daya. Yang kumaksud “sumber daya” di sini bisa karena akun Instagram atau page Facebook itu:

  1. Men-share foto-foto yang bisa kujadikan model atau contoh. Bisa dibilang aku berhutang budi ke page Facebook majalah Country Living dan Country Style.
  2. Menyediakan artikel tip & tutorial yang mudah dipahami dan dipraktekkan. Untuk artikel tip belum nemu yang lebih bagus dari Fun, Cheap or Free; untuk tutorial –meski sulit kupraktekkan karena butuh alat dan skill tukang— belum nemu yang lebih bagus dari The Painted Hive. Bagus karena mereka berdua menyumberkan artikel tip dan tutorialnya dari pengalaman pribadi dan project-project DIY membaguskan rumah sendiri.
  3. Menyediakan informasi tentang buku dan link ke situs lain untuk bahan pembelajaran lebih lanjut. Belum lama ini nemu situs The Ontreprener. Sebagian besar linknya –seperti kebanyakan situs pada umumnya— mbawa kita mutar-mutar di situs itu sendiri tapi dapat juga beberapa link ke situs lain termasuk ke salah satu e-book gratis yang bagus buat mereka yang sedang merintis usaha.
  4. Menawarkan newsletter/e-book/kursus/program gratis yang bermutu. Favoritku sejauh ini adalah newsletter majalah Better Homes & Gardens, kursus gratis Blogging 101 dari WordPress dan Product Creation Masterclass dari ConvertKit.

Ada satu lagi sebetulnya: akun/page/situs yang menawarkan sumber daya komunitas seperti Institut Ibu Profesional (IIP). Kepribadianku yang soliter mencegahku mengoptimalkan sumber daya yang satu ini. Ikut dua programnya, dua kali juga di-DO.

Yang harus kutekankan adalah kebanyakan akun/page yang membangun dirinya menjadi sumber daya ditulis dalam Bahasa Inggris. Ada juga yang berbahasa Indonesia tapi pada umumnya nggak semurah-hati, se-otentik dan sekaliber sumber-sumber berbahasa Inggris. Sejauh ini baru nemu satu sumber daya berbahasa Indonesia yang se-level dengan yang berbahasa Inggris: Rumah Inspirasi.

Begitu banyak yang kudapat dari para sumber daya ini sampai nggak tahu harus mulai dari mana. Dari >5 juta yang kukumpulkan dari menjual barang nganggur padahal jualan sangat sulit buatku? Pujian yang kuterima dari kanan-kiri tentang penataanku di rumah kontrakan dan rumah warisan? Kerajinan yang kubuat dari kertas sampah dan sisa? Atau 100-an follower yang kudapat dalam 3 hari setelah Instagram mem-feature salah satu postinganku di menu Photo para pengguna yang suka tema hemat?

Yang ingin kukatakan adalah: nggak ada yang salah dengan memanfaatkan medsos untuk menyambung silaturahim dengan orang-orang dari masa lalu, bercanda, mbanyol atau mungkin membangun ikatan batin yang menguatkan antar sesama IRT yang paham betul “the struggle of emak-emak”. Meski nggak kuanjurkan, juga sah-sah aja medsos jadi media perekam prestasi atau mengekspresikan diri. Tapi kalau bermedsos bisa meningkatkan mutu kerja IRT kita, kenapa nggak? Toh cukup dengan memilih apa yang tampil di News Feed atau Photo dengan seksama.

Entah ini pengetahuan umum atau bukan. Facebook bekerja dengan hukum logaritma. Aku nggak bisa menjelaskan teknisnya karena otakku nggak bisa mengaitkan sinus-cosinus-tangen dengan update status. Yang kualami sendiri adalah kebiasaanku:

  • mencari, me-like dan mem-follow page dan akun Instagram yang digarap serius
  • men-share postingan yang membantuku belajar masak, desain dan berhemat
  • meng-klik atau menyimpan link artikel blog/situs,

direspon oleh logaritma FB/IG dengan terus merekomendasikan page/artikel/akun serupa. Jadi like jangan sembarang like, share jangan sembarang share. Belajar lah selektif demi News Feed yang bermutu. Batasi diri hanya di yang menaikkan mutu hidup. Selain selektif dengan like dan share, kubiasakan diri berkomentar hanya kalau perlu bertanya, memuji, menyepakati, menjawab pertanyaan atau ngasih informasi tambahan. Kalau like-reaction-comment-share-follow kita tujukan hanya untuk manfaat, maka News Feed/Photo yang kita dapat juga hanya manfaat. Sesederhana itu.

Cara#2: Medsos Sebagai Creative Outlet

Ada dua “makin” yang menjamin setiap postingan kita banjir like dan comment. Makin No.1: makin aktif nge-like dan mengomentari akun makin banyak orang. Makin No.2: makin pandai menyajikan hidup kita sebagai hidup impian banyak orang.

Makin No.1 kurasa cukup dijelaskan dirinya sendiri.

Pernah heran lihat akun medsos perempuan cantik non-selebriti bisa punya ratusan ribu follower padahal modalnya cuma selfie? Aku sering. Bukan karena dia bisa ngumpulkan ratusan ribu follower tanpa perlu bersusah-payah, tapi karena dia bisa punya ribuan foto dan nggak ada sepasang pun yang bajunya sama. Soal gampangnya dia dapat follower bisa kujelaskan. Semua perempuan punya impian jadi cantik, semua laki-laki punya impian beristri cantik. Si Cantik Non-Selebriti Yang Baju-Bajunya Sekali Pakai ini punya apa yang cuma bisa dimimpikan banyak orang. Makin sulit tergapai mimpi itu, makin effortless juga mendulang like, comment dan follower.

Kita-kita yang kalau dilihat dari selfie di medsos seolah kerudungnya cuma satu karena yang dipakai yang kuning kunyit itu lagi, yang kuning kunyit itu lagi, jangan berkecil hati. Hidup biasa-biasa saja cenderung bukan impian banyak orang, wajah berpori-pori sebesar saringan santan, kelebihan lemak tubuh setara lima karung beras Cap Raja Tawon lima kiloan justru jadi berkah: nggak ngasih aku pilihan lain selain jadi kreatif dengan foto, dengan caption, dengan jenis postingan. Blak-blakan aja, aku mau postinganku banjir like dan komentar, tapi nggak bisa menerapkan Makin No.1 karena pribadi penyendiri sepertiku harus ngoyo untuk jadi ramah tur lucu di medsos yang sangat ringan.

Yang merasa dirinya nggak kreatif: kreatif bukan soal bakat. Ini soal latihan, kebiasaan dan kebutuhan. Kita biasa dengan yang seperti apa. Latihan curhat atau latihan men-deliver pesan? Biasa asal-asalan atau biasa memberi yang terbaik? Butuh perhatian atau butuh penghargaan? Menyampaikan pesan, memberi yang terbaik dan penghargaan harus dengan kerja ekstra. Itu yang kumaksud dengan kreatif.

Waktu kembali aktif berfacebook, aku heran lihat foto-foto teman yang ada teks dan stikernya. “Gimana cara bikinnya?” batinku. Sampai Mei 2015 belum pernah dengar yang namanya Photogrid. Juga heran lihat postingan yang fotonya lebih dari satu. “Gimana nyusunnya?” batinku. #JugaNggakPahamKenapaPadaNulisGini. Aku bahkan nggak tahu “japri” itu apa! Nol puthul lah pendeknya. Tapi dalam waktu setahun, setelah foto-foto demi update status jadi kegiatan harian, mulai bisa kuhasilkan foto-foto bagus modal kamera hp. Nggak perlu ilmu fotografi tingkat mahir. Cukup dengan mau mencoba-coba:

  • mengambil gambar dari sudut yang berbeda-beda,
  • di spot yang berbeda-beda di sekeliling rumah,
  • di waktu yang berbeda-beda,
  • pakai latar yang berbeda-beda,
  • main-main dengan filter dan teks Photogrid,
  • pakai prop dari barang-barang yang ada di rumah.

Setelah 2 tahun ada teman tanya, “Kamu pakai apa untuk ambil foto?”

Dia tanya karena “agak” nggak percaya modalku kamera smartphone. ”Agak” karena dia tahu keuanganku (yang sama sekali nggak berusaha kututup-tutupi di medsos) nggak sanggup beli kamera Nikon.

Satu-satu pujian mulai kudengar. Pertama atas foto-fotoku. Lalu captionku yang makan paling nggak satu jam; setengah jam buat mikir, setengah jamnya lagi buat ngetik dan ngedit. Lalu kelihaianku “nyambungkan” foto dengan caption. Sepertinya beberapa postinganku bikin beberapa orang hampir nangis. Kalau kita mau, caption bukan cuma rangkaian kata-kata kosong. Kata-kata yang ditulis dengan kesungguhan punya kekuatan menyentuh hati orang. Dalam kasusku, tulisan-tulisan pendekku untuk status Facebook dan caption Instagram memulai rangkaian peristiwa yang secara keseluruhan merubah pikiranku tentang IRT dan keseharianku sebagai IRT.

Karir Nggak Sama Dengan Atau Harus Kerja Berbayar

Sebelum kita masuk ke cara mempekerjakan medsos yang terakhir sekaligus yang paling berdampak, kita luruskan dulu pemahaman orang kebanyakan akan “karir”.

Anggap aja kita punya karir cemerlang, apa yang akan jadi tema feed kita? Project besar, meeting, kunjungan dinas, promosi naik jabatan, orang-orang penting yang kita temui, beli mobil dan rumah dari hasil kerja; semua yg bisa bikin bangga. Mungkin diselingi dengan postingan liburan keluarga yang butuh paspor. Semua jenis postingan yang nggak bisa dihasilkan IRT karena kita nggak punya karir. Betul?

S-a-l-a-h.

Gini. Singkirkan muatan finansial dalam karir. Orang-orang macam apa yang karirnya bak roket meluncur tegak lurus ke atas?

Yang punya kemampuan mumpuni di bidangnya, yang bisa memecahkan masalah orang-orang di atasnya, yang jadi nilai bagi lembaganya. Maka semua orang bisa punya karir. Apalagi IRT yg jelas-jelas kerja hanya saja nggak dibayar. Punya Barisan Belakang (ART dan supir) sekalipun, ada kerja manajemen atau mungkin kerja humas yang harus dilakukan seorang IRT istri pejabat publik atau elit organisasi.

Lantas apa bidang kerja IRT? Dunia domestik sesungguhnya adalah keluarga besar berbagai bidang ilmu mentereng di levelnya yang paling nyata dan sehari-hari; keuangan, manajemen, parenting, nutrisi, penataan ruang, kesehatan, psikologi; teruskan sendiri.

Masalah orang-orang di atasnya? Masalahnya masyarakat, masalahnya orang banyak.

Lembaganya? Rumah tangganya –rumahnya, suaminya, anak2nya dan semua yang hidup di bawah atap rumahnya.

Kalau harus kupadatkan: karir seorang IRT adalah menggunakan keunggulan domestiknya untuk memecahkan masalah orang banyak. Ini alasanku menggarap tema gaya hidup hemat. Aku ingin membangun karir IRT-ku dari menemukan dan membangun cara-cara hidup bermutu meski penghasilan suami kejar-kejaran dengan kebutuhan. Itu bukan cuma masalahku. Itu masalah klasik rumah tangga berpenghasilan satu <10 juta. Mustahil membangun karir IRT-ku tanpa medsos. Nggak ada yang bisa terbangun dan berkembang tanpa feedback. Esensi dari karir adalah perkembangan yang dapat pengakuan. Medsos lah yang menyediakan feedback dan pengakuan itu.

Cara#3: Medsos Sebagai Portofolio

Kalau memang niat membangun karir dari kerja IRT, jangan membangun feed mengandalkan opini pribadi, modal merangkai kata apalagi dijadikan media curhat. Jangan oh jangan. IRT harus membuktikan dampaknya dulu baru bisa mengharapkan pengakuan. Pengakuan datang dari kemampuan seorang IRT menjadi nilai. Kemampuan menjadi nilai datang dari dampak yang kita hasilkan dari kerja rumah tangga kita. Pengakuan datang dari kerja kita, bukan opini kita, sebagus apapun opini itu. Jadi fokus lah pada apa yang bisa kita lakukan, bukan apa yang kita pikirkan atau rasakan. Orientasi bertindak dan bekerja ini yang biasanya absen dari akun IRT.

Mungkin sejauh ini yang terlintas di kepala tentang portofolio IRT cuma tiga. Kalau bukan foto-foto masakan lalu bagi-bagi resep, dekorasi rumah shabby atau rumah vintage juga bukan, berarti ya DIY pajangan dan pernik rumah. Akun yang menampilkan ribuan selfie pemiliknya dalam berbagai model dan warna busana syar’i nggak kugolongkan sebagai portofolio. Itu portofolionya seorang model. Modeling nggak masuk dalam bidang kerumahtanggaan.

Seperti yang sudah kubilang, rumah tangga adalah tempat “turun” dan bertemunya berbagai bidang ilmu mentereng. Masak dan dekorasi hanya dua dari sekian banyak. Dengan orientasi bertindak dan bekerja, masak dan dekorasi itu tadi bisa digarap lagi, dinaikkan ke level yang lebih tinggi yang namanya level memecahkan masalah orang lain. Lebih bagus lagi kalau masalahnya orang banyak.

Soal masak, ijinkan aku menggunakan acara tivi untuk mengilustrasikan apa yang kumaksud dengan portofolio. Rachael Ray Show adalah acara masak yang menampilkan resep-resep siap santap dalam 30 menit. Jadi waktu yang dihabiskan untuk potong-potong bahan, memproses, lalu menyajikannya di piring, butuh nggak lebih dari 30 menit. Acara ini dibangun dari masalah orang banyak di Amerika Serikat, yaitu malas atau nggak bisa masak. Gaya hidup mereka ditopang oleh makanan beku/fast food yang miskin zat nutrisi dan makan di luar/layanan delivery yang boros. Tanpa dua itu ambruk; separuh populasi AS bisa-bisa mati kelaparan. Si Rachael menunjukkan bahwa masak sendiri sesungguhnya sama sekali nggak sulit dan nggak pakai ribet.

Soal gaya dekorasi shabby. Yang kupahami tentang gaya interior Shabby Chic beda sekali dengan yang kulihat semliwer di Instagram. Rachel Ashwell yang secara umum dipandang sebagai perumus gaya ini mempopulerkan interior yang mengandalkan perabotan dan barang yang dia beli dari pasar loak –shabby— jadi chic. Bukan sekedar memenuhi rumah dengan warna putih dan motif kembang-kembang. Bisa sekali fanatisme ke gaya Shabby jadi portofolio. Kalau akun kita bisa membagi ide dan cara punya rumah sedap-dipandang modal perabotan bekas yang dipermak dengan DIY.

Untuk bisa mencapai tingkat memecahkan masalah memang butuh keunggulan di paling nggak satu bidang domestik. Nggak percaya kalau ada yang mengklaim nggak bisa apa-apa di bidang kerumahtanggaan. Nggak bisa masak bukan berarti nggak bisa apa-apa. Cari keunggulan di bidang domestik dengan menyimak –kalau perlu mencatat– komentar orang. Sejak gadis ibuku dah muji kerja beres-beres dan bersih-bersihku. Setelah ibuku meninggal baru ketahuan kelebihanku nata rumah dan barang. Waktu ibuku masih hidup kemampuan itu terpendam karena ibuku paling nggak bisa lihat barangnya dipindah-pindah apalagi di-declutter. Gunung Krakatau meletus. Tujuh kali berturut-turut.

Semua perempuan punya paling nggak satu keunggulan di bidang domestik atau yang bisa diterapkan di bidang domestik. Ya bandingannya jangan perempuan sekabupaten. Lihat di ruang lingkup keluarga. Apa kelebihan kita dibanding ibu, adik, mbak, ibu mertua, ipar, sepupu. Pujian apa yang berulang kita dengar. Belanja satu kali seminggu 100 ribu dan sanggup nyukupkan itu belanjaan buat makan sekeluarga selama 7 hari bisa jadi ilmu berharga bagi ibu-ibu yang nggak bisa masak kalau nggak belanja tiap hari. Hal-hal remeh-temeh yang sepertinya gampang dan alami buat kita bisa jadi sangat sulit buat orang lain.

Itu bank postingan yang kusebut portofolio.

Begitu aku memfungsikan medsos sebagai portofolio kerja rumah tanggaku, nggak perlu menahan diri untuk nggak ngepos luapan emosi. Bisa dibilang itu terjadi dengan sendirinya. Jadi sangat peka sama postingan-postingan yang nggak bawa dampak. Mau itu dari diri sendiri atau punyanya orang lain. Nggak terhitung sudah postinganku yang kuhapus karena nggak bermutu. Juga akun yang ku-unfollow karena nggak bermutu.

Yang ajaib adalah: hidupku sehari-hari jadi punya arah, nggak cuma sekedar bertahan dari satu hari ke hari berikutnya seperti setahun pertama berhenti ngajar. Jadi punya tujuan saat melek di pagi hari. Sibuk bikin rencana di saat-saat ngeloni Rafi malamnya. Berpikir mencari apa yg sudah kulakukan HARI ITU yang bisa kulestarikan atau mungkin kukembangkan karena memecahkan satu masalah rumah tangga UMR. Seperti gimana aku ngelola baju lungsuran dan hadiah buat Rafi untuk memastikan anakku selalu terlihat keren tanpa harus rutin nyiapkan anggaran beli baju baru. Dengan makin tingginya jam terbang, mulai kucatat ide-ide postingan yang nggak bisa difoto, seperti mindset baruku soal menabung yang menyembuhkanku dari stres menahun, merasa nggak becus ngelola uang gara-gara tabungan bolak-balik jebol nggak pernah bisa ngumpul.

View this post on Instagram

Hemat aja nggak cukup. Maksudku hemat yg nggak punya tujuan. Mindset hemat-demi-nabung berhasil waktu aku gadis. Kewajibanku cuma cicilan motor dan nggaji Mbak Tin. Setelah nikah keambregan kewajiban. Hasilnya: nyisihkan, dikumpulkan, jebol, nyisihkan lagi, dikumpulkan lagi, jebol lagi. . Dua tahunan lalu mindset itu kukoreksi jadi hemat-demi-mencapai-minimal-satu-tujuan-keuangan-yg-spesifik. Setahun lalu tujuanku menaikkan harga sewa rumah dg nambah kamar dan nge-renov teras. Dah naik dari 500k ke 700k/malam. Sekarang tujuanku nutup hutang yg kupakai modal naikkan harga sewa itu tadi lebih cepat dari perjanjian kredit. . Hemat itu soro. Kalau tabungan sering jebol, hasil kerja berhemat jangan diukur dari berapa banyak yg bisa kita kumpulkan. Strez. Ganti: berapa banyak tujuan keuangan yg bisa kita capai. Mulai dari yg kecil dulu seperti liburan ke Jogja misalnya. Lalu naikkan tujuan keuangan berikutnya. Makin banyak yg bisa kita capai, makin besar daya tahan bersoro-soro demi berhemat. 75 juta buat DP rumah terlalu sulit? Turunkan jadi 20 juta buat beli tanah kavling. . #blogngirit #bloggayahidup #emakblogger #emakpintar #bloggerperempuan #kerjaIRT #kerjarumahtangga #baitijannati

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Berhenti curhat di medsos ternyata nggak sulit kalau pikiran kita sibuk. Ajaibnya: begitu pikiran kita sibuk demi kebaikan rumah tangga kita dan rumah tangga orang-orang lain yang punya masalah sama, semua yang kita lakukan termasuk “main hp” jadi “mata uang”.

MENGANGKAT DERAJAT DENGAN MEDSOS

Sejak berhenti kerja jujur minder soro berhadapan dan gumbul dengan perempuan bekerja yang bagus di bidangnya. Apalagi yang tampilannya profesional, ngomongnya fasih. Hati rasanya ciut. Meski apa yang kulakukan dengan medsos sejauh ini belum bisa mengembalikan kepercayaan diri, kesungguhanku menjadikan medsos sebagai portofolio menunjukkan beberapa pintu menuju keahlian. Pengalaman hidupku mengajarkan bahwa keahlian adalah obat minder yang paling mujarab.

Pintu menuju keahlian yang ada di catatan mentalku: gaya hidup hemat yang jatuhnya nggak pelit atau murahan, mencetak generasi unggul, rumah idaman modal barang bekas dan DIY, usaha rumahan sedikit-modal; masih banyak bidang garapan lain. Dari akun beberapa teman sesama IRT yang kuikuti di Instagram bisa kulihat mereka bisa dan sedang membangun akunnya menjadi portofolio urban farming @wisnu_syita, green living @sk.ulfath, “semua bisa masak” @silminaulfah.

Mungkin butuh 10 tahun sebelum bisa lihat hasil kerjaku mempekerjakan medsos. Yang harus kutegaskan di sini, yang kumaksud dengan “mata uang” –hasil mempekerjakan medsos– tolong jangan cuma diartikan ratusan ribu follower atau uang yang kita hasilkan per bulan dari endorsement dan jualan. Sejujurnya aku bukan orang yang tepat untuk bicara soal menguangkan medsos. Ideku lebih tentang meningkatkan mutu hidup sebagai IRT.

Ketika kita:

  • memfokuskan kerja rumah tangga untuk memecahkan masalah kita sendiri yang juga jadi masalahnya orang banyak,
  • memfokuskan waktu dan energi bermedsos untuk membagi solusi yang kita temukan dan apa yang kita pelajari,
  • merespon feedback yang kita dapat dari komentar di postingan medsos dengan tulisan yang lebih dalam seperti postingan blog,
  • bikin project uji-coba ide sendiri atau ide orang lain lalu mengevaluasi hasilnya,
  • membuat tutorial yang gampang diikuti dan yang mendorong orang praktek,
  • mengembangkan postingan-postingan di medsos menjadi e-book atau program online yang gampang dimengerti dan diterapkan

maka hasil yang pertama kali kita rasakan adalah mulai terurainya masalah di rumah tangga kita yang jadi sumber kerja medsos itu tadi.

Ini belum genap setahun sejak akun Rumah Barang Tinggalan di Instagram kugarap ulang dari akun garage sale jadi akun portofolio gaya hidup hemat. Salah satu hutangku bisa kuselesaikan 5 bulan sebelum jatuh tempo. Tapi yang sangat berharga bagiku saat ini adalah a sense of purpose.

Sejak bapak lalu ibuku meninggal di tahun yang sama dalam selisih waktu kurang dari 5 bulan lalu kuputuskan berhenti bekerja karena untuk bisa menghasilkan uang guru Bahasa Inggris lepas sepertiku harus menunjukkan komitmen dan kerja lahir-batin yang semakin hari menjadi semakin sulit begitu berumah-tangga, hidupku berasa seperti layang-layang putus. Hidup tanpa arah dan tujuan. Otak mandeg. Jadi sering melakukan kesalahan-kesalahan tolol karena pikiran yang kosong. Contoh: salah belok padahal itu jalan pulang di perumahan yang sudah kutinggali selama hampir 25 tahun. Atau pergi ke dapur sambil bawa gelas untuk ambil air minum dari kulkas tapi jadinya minum air keran (PDAM Surabaya) di dekat kulkas…

Sekarang pikiranku sangat sibuk. Setrika pun bawa catatan. Ide project DIY, ide postingan blog bermunculan. Nggak ada menit yang terbuang. Saat momong Rafi pikiranku mutar memikirkan cara memastikan dia dapat pendidikan terbaik tanpa harus pindah ke Surabaya. Menimbang-nimbang kelebihan dan kekurangan homeschool. Mentalku mencatat solusi selain homeschool yang butuh penelitian lebih dalam. Setiap postingan entah itu di Instagram atau blog selalu memulai rangkaian peristiwa yang menunjukkan solusi untuk masalahku sendiri. Menurutku itu –adanya a sense of purpose— satu syarat yang harus kita penuhi sebelum bisa membangun hidup yang mengangkat derajat, IRT atau bukan.

Terus-terang aku merasa sangat terganggu dengan stigma IRT “nggak ngapa-ngapain”. Merasa pengakuan dan penghargaan untuk IRT dari suami, anak (begitu mereka kenal kekuatan uang), keluarga besar dan masyarakat kita sangat nggak memadai. Kalau ada IRT yang nggak butuh pengakuan, itu rizkinya. Aku butuh. Tapi sibuk mengeluh, beropini dan bikin statement di medsos nggak akan menghasilkan apapun kecuali meneguhkan tidak signifikannya seorang IRT seperti kita. Kalau merasa sama sepertiku:

Berhentilah bermedsos tanpa tujuan, tanpa ilmu.

image

 

Andai Empress Ki Jadi IRT

Empress Ki adalah tokoh nyata yang hidup pada abad ke-14. Seorang perempuan persembahan asal Korea yang akhirnya naik tahta di ujung Dinasti Yuan Kekaisaran Cina.

Nggak dibilangi pun kita langsung tahu drama TV Korea yang diangkat dari kisah hidupnya nggak bakalan akurat. Sekarang mari kita pikir:

  • Tiga laki-laki paling ganteng sak-serial itu kok jatuh cintanya ke dia semua? Bukan laki-laki biasa pula; dua raja, yang satu ksatria-intelek.
  • Tiga-tiganya bukan cuma cinta mati ke dia tapi juga mengorbankan nyawa demi dia.
  • Buat perempuan yang ahli panah, kemana-mana naik kuda, sempat jadi ketua preman pasar terus ajudan polisi, bolak-balik terjun ke pertarungan dan pertempuran, kok sekujur tubuh bisa putih-mulusnya gitu, jari-jarinya lentik, wajahnya bening.
  • Dengan semua ‘aset’ tadi, dia bisa nyamar jadi laki-laki selama bertahun-tahun, nggak ketahuan!

Itu belum plotnya.

Lha iya, tiap kali ada yang omong-omongan rahasia kok mesti ada yang nguping.

Tiap kali ada yang kepepet dalam pertempuran, kok mesti ada pasukan atau teman yang loncat dari layar TV sisi sebelah kanan buat nolong.

Nggak akan kujadikan pos blog kalau nggak ada pelajarannya. Aku bahkan bukan penggemar drama Korea! Waktu teman-teman kosku tergila-gila sama Meteor Garden, aku –makan kacang sambil kalungan handuk seperti supir truk– cuma bisa bilang, “Heh??”

Ini drama Korea pertama dalam sejarah hidupku yang bisa bikin aku melek nonton maraton sampai jam 3 pagi. Nggak bisa tidur saking penasarannya; gimana si Empress Ki ini mengatasi masalah yang datangnya bertubi-tubi dan nggak sekali-dua mempertaruhkan nyawa. Meski nggak masuk akal tetap aja aku takjub.

Ini juga drama yang bikin aku mikir lamaaa, berhari-hari setelah episode terakhirnya kutamatkan.

Gini.

Pembangunan karakter di serial ini ngasih ilustrasi yang sangat bagus tentang bedanya perempuan yang mengandalkan keberanian, keahlian dan kemampuan dengan perempuan yang mengandalkan cantik, tubuh molek, status sosial-ekonomi (dapat dari bapaknya), nama besar keluarga (bapaknya) dan tipu-muslihat.

Sekarang mari kita mencoba membayangkan karakter Empress Ki seperti yang digambarkan dalam serial TV-nya sebagai ibu rumah tangga biasa, istri dari laki-laki serba rata-rata.

Empress Ki adalah seorang yang ahli di bidang yang sangat dihargai laki-laki, yaitu bela diri, strategi dan kepemimpinan. Sebagai ibu rumah tangga seperti kita-kita ini, Empress Ki mungkin ahli dalam pengelolaan keuangan. [Laki-laki punya rasa hormat yang dalam ke perempuan yang bisa mengawetkan uangnya seperti fosil, nggak berkurang sampai jutaan tahun] Dia akan memikirkan strategi untuk punya rumah sendiri dengan penghasilan UMR suaminya dan memakai keahlian kepemimpinannya untuk menjalankan strategi itu.

Sebagai empress: Mendapatkan pelatihan pertamanya sebagai pemanah dan laki-laki. Tetapi, saat dia memutuskan ikut pemilihan selir, dia bekerja sangat keras membangun keahlian selir; dua jenis pelatihan yang bagai bumi dan langit.

Sebagai IRT: Meski dapat beasiswa Fullbright untuk gelar Ph.D-nya, begitu Empress Ki memutuskan untuk tidak bekerja, dia akan mempelajari semua ketrampilan domestik. Meski harus dari Nol Besar atau nol kecil.

Sebagai Empress: Dengan kemampuan dan kapabilitasnya yang luar biasa sekalipun, saat masuk istana, Empress Ki tetap merasa perlu berguru, sangat menghormati dan mendengarkan gurunya itu.

Sebagai IRT: Hanya karena Empress Ki ibu rumah tangga berpendidikan tinggi dan sangat dihargai di lingkungan kerjanya (ketika masih bekerja), dia nggak merasa pasti sama hebatnya di wilayah domestik. Dia tahu ada langit di atas langit. Mungkin aja yang dia jadikan guru adalah pembantu tetangga sebelah yang SMA pun nggak tamat.

Sebagai empress: jelas-jelas lebih cerdas, berani dan ahli dibanding suaminya yang kaisar, tapi dia tahu kapan harus tampil di depan, kapan harus mundur ke balik layar. Dan meski dia punya kepentingan pribadi, dia tahu kapan harus mengorbankannya.

Sebagai IRT: Walau sulit, makan hati dan bikin dada sesak lihat suaminya nggak bisa tegas, Empress Ki nggak akan ambil kendali dalam segala situasi, di depan siapa saja. Dia pun nggak pernah bicara dalam bahasa perintah atau ancaman pada suaminya. Kekuatan dan pengaruhnya dia pakai untuk kebaikan suaminya tanpa kebanyakan mulut.

Sebagai empress: nggak pernah berhitung aku dapat apa suami dapat apa tiap kali bertindak. Setiap saat kepalanya berpikir dalam kerangka ini: masalah>strategi>kerja tim>solusi.

Sebagai IRT: Suami nggak mau memakai uang tabungannya untuk keperluan rumah tangga yang mendesak, dia pakai tabungannya sendiri. Suami nggak bisa membayar hutang-hutangnya, dia yang cari cara untuk melunasi meski dia nggak ikut merasakan uangnya atau diajak rembukan saat berhutang. Suami selingkuh, dia nggak cuma nangis pasrah. Juga nggak melampiaskan kemarahan ke anak-anak, pembantu dan keluarga suami, apalagi melabrak selingkuhan suaminya.

Ringkasnya, andai Empress Ki jadi ibu rumah tangga biasa di zaman kita, dia akan:

Kelewat sibuk memecahkan masalah sampai-sampai nggak sempat mengeluh, mengasihani diri sendiri, menyalahkan orang lain atau mengkhayal.

Sebegitu capable-nya dia sampai-sampai nggak perlu minta penghargaan dan pengakuan dari siapapun termasuk dari suaminya.

Sebegitu self-focused dan action-oriented-nya dia, sampai-sampai nggak sempat jengkel, marah, pusing mikiri dan ngoreksi kelemahan dan kekurangan suaminya.

Menurutku itu sangat keren.

Nggak masuk akal, tapi tetap sangat keren.

(Foto cover dari AsianWiki)

Tag Obat Pe-de Jualan: Tutorial

Kepingin menemukan disiplin ilmu baru: Impactful Craft.

Apa itu? Kerajinan tangan yang fungsional. Yang nggak cuma soal menyalurkan hobi atau buat pajangan. Dan satu lagi: bisa ikut urun memecahkan masalah sampah. Nggak tahu kenapa nyaris terobsesi dengan ini. Seperti aku sendiri nggak paham kenapa piring makanku bersih tandas hingga butir nasi terakhir, remah makanan yang kutemu di meja atau lantai kumasukkan mulut, kadang air mineral di botol atau gelas sisa orang kuminum padahal nggak lagi mau mati kehausan di gurun …

Jadi kuputuskan untuk memulai kategori baru: Kerajinan Sampah. Untuk merekam semua yang sudah kulakukan dengan koleksi sampahku sejak 2 tahunan lalu. Juga mengumpulkan ide-ide kerajinan brilian yang kutemu di Pinterest, Facebook dan Instagram di satu tempat. Bisa jadi resource-nya ibu-ibu yang nggak punya anggaran buat beli-beli bahan kerajinan. Napasku mau putus lihat harga-harganya.

Prakaryaku yang sejauh ini bisa dibilang impactful adalah:

image

Fungsi

Obat pe-de jualan barang bekas. Dirunut sampai tujuh turunan ke atas, di keluarga besarku nggak ada yang njuali barang-barang bekasnya. Garage sale ‘tu nggak umum di kalangan PNS dan pribumi. Belum lagi aku paling takut dikomplain. Nah, tag ini yang bikin barang bekasku kelihatan presentable, layak jual meski tanpa kemasan plastik. Ini barang kecil-sepele yang bisa-gampang kita bikin sendiri tapi ngangkat jualan.

Sampah Yang Jadi Bahan

image

  1. Kertas tebal tapi pastikan bisa digunting (kupakai kertas kardus jajan/nasi kotakan yang putih polos).
  2. Pita dan kembang (kupretheli dari hiasan parcel Lebaran)
  3. Tali yang agak tebal (yang ini benang beli di toko bahan bangunan; gulungan kecil @Rp6.500, gulungan besar @Rp12.000)
  4. Kertas cantik (kupakai sisa wallpaper buatan Cina yang jelas-jelas nggak bisa dipakai buat ngelapisi tembok, terlalu tipis, lemnya letoy; beli di toko Instagram, Rp130.000 dapat dua rol termasuk ongkir)

Pagi tadi produk iron-on yang kudapat dari budhe Malaysiaku 6 tahun lalu akhirnya ku-iron-on-kan di topi Rafi. Kemasan plastik dan kertasnya nggak kubuang. Bisa buat tag.

Tip & Trik

  • Supaya hasilnya relatif seragam tanpa ngukur, pakai cara blat.
  • Tag yang kubuat ini pakai penggaris 30 cm. Ku-blat badan penggaris di atas kertas dengan pensil sampai beberapa kolom, lantas kugaris-garisi melintang dengan jarak setelunjuk, baru kugunting.
  • Dengan ukuranku tadi hasilnya pas buat barang-barang kecil seperti baju yang digulung, mug atau novel.
  • Makin besar barang, tag-nya juga harus makin besar supaya bagus.
  • Di mataku malah lebih bagus kalau kertas cantiknya nggak melapisi seluruh tag. Kubiarkan sekitar 1 cm bagian atas dan bawahnya telanjang.
  • Sebelum di lem, coba posisikan hiasannya agak menyamping ke arah sudut atas atau di tengah. Cari yang paling sedap dipandang.

Ide & Catatan Pengaya

Menurutku tag yang bertekstur jauh lebih manis dibanding tag hasil cetakan. Nggak sulit untuk dapat tekstur. Tumpuk, tempel dan kombinasikan berbagai jenis bahan scrap seperti sisa-sisa kertas, kain, tali, kancing, pita, renda; sungguh, kemungkinannya nggak terbatas. Coba lihat tag-tag yang kudapat dari Pinterest ini.

image

Teksturnya dapat dari kain yang agak kasar, renda dan pita yang ditempel tumpuk. Untuk bikin yang seperti ini aku nggak perlu beli. Aku punya sekotak besar pita-pita sisa hasil mretheli parcel dan suvenir mantenan. Kain dan rendanya bisa ambil dari selendang dan kebaya almarhum ibuku.

image

Ini jualannya salah satu toko di Etsy. Hasilnya identik gini karena dipotong dengan mesin, bukan dengan gunting. Kain perca sama kertasnya juga digunting dengan gunting berulir. Mungkin di Gramedia ada dijual. Tapi aku yakin meski guntingan tangan –gunting biasa pula, ditempel dengan selotip bolak-balik –nggak dijahit seperti ini, jadinya tetap bagus. Karena ada teksturnya. Kertas bertulis ‘To-From’ itu gampang kok bikinnya. Modal kertas HVS, komputer dan printer rumahan. Ganti dengan tulisan brand kita. Kalau tag-nya seperti ini yang beli pasti eman mbuang. Bisa dia jadikan pembatas buku.

image

Jatuh hati lihat yang satu ini. Betul-betul memanfaatkan kain sisa yang sepertinya sudah nggak bisa diapa-apakan lagi saking kecilnya. Bisa diganti serpihan pita. Sayangnya harus dijahit. Ditempel dengan selotip bolak-balik atau lem menurutku jadinya agak wagu, maksa. Mungkin jahitannya itu bisa diganti washitape tapi yang ukuran kecil. Kalau ada yang coba tolong aku dikasih tahu.

image

Cara lain dapat tekstur: tagnya dibuat dobel, bedakan jenis kertasnya, kontraskan atau serasikan warnanya, pastikan yang satu lebih kecil ukurannya, kasih gandulan. Gandulan metalnya bisa diganti manik. Aku punya sekotak sepatu gandulan dan manik; hasil mretheli bros/gelang/kalung/anting/tasbih rusak. Jangan buang aksesoris rusak.

image

Pada prinsipnya, semua yang terikat benang dan dikasih tag tampilannya jadi sangat manis. Di Instagram aku lihat salah satu toko Etsy yang jual mawar kertas dari kertas peta, music sheet dan lembaran novel. Dia jual satu tangkai kelopak besar, dimasukkan botol, lantas leher botol dikalungi tag dari kertas karton yang dilapisi kertas yang sama dengan bahan si mawar. Dia jual >£10 dan bikin aku kepingin beli!

Kumpulkan barang-barang nggak terpakai di sepenjuru rumah. Kalau jumlahnya dah cukup banyak, jual di Instagram atau Shopee. Jual murah aja. Wajah jangan dihadapkan ke uang yang kita dapat per itemnya. Sepatu beli 200 ribu ditawar 25 ribu bisa bikin sakit hati. Pikirkan total uang yang bisa kita dapat dari sekardus besar barang nganggur yang cuma nyesak-nyesakkan rumah kalau kita gandholi. Kujual 5-10 ribuan, paling mahal 25 ribu, aku bisa dapat total 500 ribu dari yang payu. Yang nggak payu kukasihkan Mbak Dama atau kujadikan bonusan. Tag ini yang membantuku ngumpulkan uang segitu.

Atau yang suka kerajinan, investasikan waktu dan tenaga untuk bikin satu produk signature seperti mawar kertas tadi. Aku dah lihat berbagai macam produk kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga Amerika Utara dan Inggris yang sebagian besarnya bikin aku takjub, “Ada ya yang mau beli…”

Ini yang bisa kusimpulkan:

Dengan kemasan manis, s-e-m-u-a bisa dijual.