Konsultasi Anggaran

Keberhasilanku membalik keuangan rumah tangga dari defisit ke surplus selama 1.5 tahunan ini tanpa gaji naik atau gaji dobel bertumpu pada 3 faktor kunci berikut:

  1. Bisa men-tetap-kan hampir semua pos pengeluaran
  2. Bisa membesarkan kontribusi uang tambahan
  3. Bisa mengelola ekspektasi diri dan lingkungan sosial

Tiga-tiganya berhubungan langsung dengan budgeting skill.

Ternyata membuat dan menjalankan anggaran butuh lebih dari sekedar menetapkan batasan-batasan angka. Pantas saja anggaran bulanan yang kubuat selama 5 tahun pertama berumah-tangga nggak pernah bisa jalan.

Berangkat dari pengalaman, berani kubilang, memperbaiki keuangan tanpa menambah penghasilan itu mungkin. Dengan catatan penghasilan tidak di bawah upah minimum. Aku nggak bilang gampang loh ya. Butuh pengorbanan. Pasti melalui titik-titik di mana kita harus menaklukkan diri sendiri atau berhadapan dengan orang lain yang jangan harap cuma 1-2 orang. Tapi bisa. Dan sejak intens menulis tentang keuangan rumah tangga 2.5 tahunan ini, lebih dari 50 orang menghubungiku lewat WA, DM dan email untuk mengkonsultasikan masalah keuangannya masing-masing. Ini yang menarik:

75%-nya sesungguhnya bisa dipecahkan dengan anggaran belanja rumah tangga yang berfungsi baik.

Karena itu:

Kuputuskan secara “resmi” menyediakan layanan Konsultasi Anggaran. Gratis.

Sudut pandang orang ke-3 sepertiku membantu mengenali pilihan selain menambah penghasilan. Di antaranya:

  1. Mengenali pos-pos pengeluaran yang “melubangi kapal” dan pos-pos pemasukan yang “terbuang-buang”
  2. Mengenali pilihan-pilihan selain pilihan yang sifatnya gali lubang tutup lubang
  3. Membuat skala prioritas yang memperhitungkan kekuatan-kelemahan diri
  4. Menelusuri kecenderungan besar pasak daripada tiang sampai ke akarnya untuk kemudian mencari cara mengatasinya tanpa merubah kepribadian
  5. Menyusun strategi kompensasi dan substitusi untuk semua pengeluaran yang harus dihilangkan atau dipangkas supaya menjalankan anggaran tidak terasa sangat berat.

Bantuan sudut pandang ke-3 bisa dikira-kira sendiri dengan menyimak saranku ke 3 orang yang berbeda berikut ini:

Kasus-1

“[Untuk bisa menghemat uang belanja dalam jangka panjang] pertama kita harus tahu dulu macam pengeluaran kita apa aja; Uang belanja 3 juta yang kita pegang ini buat apa aja, 50-100 ribu per hari itu buat apa aja. Setelah tahu macam-macamnya baru bisa masuk ke tahap kedua: membagi uang belanja dalam beberapa pos pengeluaran rutin. Setelah itu baru bisa masuk tahap ketiga: memastikan uang yang keluar di tiap-tiap pos pengeluaran tadi tetap tiap bulannya, nggak naik-turun.”

Kasus-2

“Selama keuanganmu masih defisit setiap bulan, hentikan dulu beli apapun dalam jumlah banyak demi dapat harga lebih murah. Menghindari situasi di minggu ke-4 punya persediaan toiletries sampai 2 bulan tapi nggak punya uang tunai buat beli makan. Simpan cara berhemat membeli partai untuk nanti setelah kamu bisa mengendalikan pengeluaran. Kalau bisa kurangi transaksi online.

Kategori makan-minum dan nge-mal yang kubuat kemarin perlu direvisi. Coba catat uang yang keluar dalam 2 sub-kategori, antara makan-jajan dan nge-mal yang inisiatifmu sendiri dengan yang karena diajak teman. Coba kita lihat seberapa besar faktor diajak teman dalam defisitmu. Nggak akan betul-betul tahu kalau belum dicatat.”

Kasus-3

“Bisakah terus menyisihkan 6.5jt dari gaji buat cicilan tanah dan nabung setiap bulan dan pada saat yang sama mencukupkan sisa gaji yang 3.5jt buat biaya hidup? Bisa tapi butuh waktu karena menyangkut perubahan mindset/kebiasaan/rutinitas/cara. Nggak bisa dalam 1-2 bulan. Juga nggak bisa hanya dengan mengutak-atik angka supaya di anggaran ketemu pas 3.5jt. Tutup hutang koperasi yang 5 juta dengan uang tabungan. Lalu ambil 3 juta dari tabungan untuk Dana Talangan supaya nggak perlu lagi hutang ke koperasi tiap butuh uang. Kalau bersikeras meneruskan pengaturan yang sekarang, tabungan dan hutang sama-sama nambah.”

Berikut balasan yang kuterima yang menunjukkan kalau secara umum konsultasi menjernih-ngalirkan pikiran yang keruh dan buntu. Pikiran jernih dan ngalir itu yang akan menghasilkan keputusan/pilihan yang mengurai masalah keuangan masing-masing.

Kasus-2

“Alhamdulillah, aku bisa agak irit di bulan Agustus kemarin [jadi bisa nggak defisit seperti biasanya].”

Kasus-3

“Mba, alhamdulillah hutang di koperasi bisa ketutup. Akhir tahun ini kami dapat bonus dari pelatihan suami dan honor saya sebagai pengawas ujian cair. [Hutang 5 juta di koperasi bisa lunas tanpa mengurangi saldo tabungan] Kalau saya pikir-pikir penghasilan kami di luar gaji pokok sebenarnya lumayan besar tapi sayangnya saya nggak mencatat jadi habis begitu saja.”

Konsultasi dilakukan via email.

Silakan pakai nama samaran kalau dirasa perlu. Yang jelas aku butuh informasi jujur penghasilan dan semua pengeluaran. Tingkat keberhasilan anggaran yang dibuat dengan panduanku sangat tergantung pada keterbukaan orang per orang. Prosesnya kurang-lebih seperti ini:

Satu: Kirim gambaran besar masalah atau yang terasa sangat menyulitkan dari membuat dan menjalankan anggaran ke mz_newconcept@yahoo.com.

Dua: Balasan pertama dariku biasanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang membantuku men-spesifik-kan problem area. Bila dalam penilaianku bisa diatasi dengan menggarap pengeluaran atau mengoptimalkan uang tambahan, aku akan minta anggaran yang biasa dipakai (kalau ada) dan catatan pengeluaran dan/atau catatan pemasukan sebulan terakhir.

Kalau aku merasa masalahnya harus diatasi dengan menggarap pemasukan, aku cuma bisa menuliskan balasan yang membesarkan hati.

Tiga: Setelah mendapatkan semua informasi yang perlu aku akan ngasih masukan dan meminta laporan setelah sebulan atau lebih tergantung apa masukanku untuk melihat perkembangannya dan/atau efektif-tidaknya masukanku dalam keberfungsian anggaran.

Di sebelah ini proses kirim-mengirim email bisa berlangsung hingga beberapa bulan tergantung seberapa kuat niat praktek masing-masing.

Sebelum pada tanya, kujawab duluan.

“Apakah sungguh-sungguh gratis?”

Iya.

“Apa selamanya gratis?”

Iya. Aku bukan financial planner profesional. Akan tetapi, begitu aku merasa skill budgeting-ku ada di level master, 100 tahun lagi, pasti pilih-pilih kasus. Nggak semua permintaan konsultasi yang masuk kurespon.

“Apa yang kuceritakan akan dipublikasikan di blog atau akun Instagram?”

Aku nggak minta imbalan uang tapi aku minta kerelaan masalah yang dibagi denganku kubahas secara mendalam di blog dan ebook. Tentunya nggak semua masalah. Hanya yang menurutku perlu-penting diketahui para IRT yang harus menjalankan rumah tangganya dengan penghasilan kurang dari 10 juta. Aku berjanji tidak akan menyebut nama, tidak mempublikasikan informasi yang mempermalukan dan tidak memberikan deskripsi mendetil.

“Apa untungnya buatmu?”

Blog ini salah satu yang kusiapkan untuk pemasukan setelah suami pensiun. Bukan dengan iklan, affiliate marketing atau influencer marketing tapi dengan ebook dan kursus/program. Blog ini dan aku sendiri harus bisa jadi troubleshooter-nya keuangan rumah tangga di bawah 10 juta. Harus mulai serius mengoleksi contoh kasus dan mengumpulkan jam terbang.

Bagi yang enggan mengkonsultasikan anggarannya tapi sungguh-sungguh ingin menggarap pengeluarannya, artikel-artikel blogku berikut ini mungkin bisa membantu. Kusarankan bacanya sesuai urutan yang kutulis:

No one hears a silent scream. Hubungi aku di mz_newconcept@yahoo.com atau isi form di bawah ini.

Berbesar-hatilah dengan masukanku yang pastinya mengharuskan siapapun yang sempit keuangan keluar dari zona nyaman. In sya Allah, selama masalahnya bukan di pemasukan yang harus dinaikkan, keuangan rumah tangga akan membaik hanya dengan menggarap pengeluaran. Hasilnya terasa dalam waktu kurang dari setahun. Asal mau berkorban.