Master-Budget: Bagian IV

PERINGATAN: Ini tulisan hampir 3000 kata yang ruwet. Sepertinya harus baca berulang kali dalam waktu sekian hari. Mungkin juga perlu sekian bulan. Aku sendiri andai disodori ini artikel Juni 2011 nggak sanggup baca sampai habis. Dah pening di Prinsip#1. Tapi setelah jungkir-balik selama hampir 8 tahun berumah-tangga, bisa kupastikan semua yang kuuraikan di bawah ini lah yang bisa merubah nasibku 5-10 tahun kemudian meski jodohku tetap operator forklift, pekerjaanku tetap ngajar Bahasa Inggris tanpa status PNS, orang tuaku nggak ninggali “villa” di Pacet.

Sampai lah kita di tahap yang paling menguji kecerdasan, keteguhan dan etos kerja. Di tahap ini kita akan ngatur pengeluaran demi:

  1. Melindungi diri dan keluarga dari kesulitan keuangan
  2. Menaikkan tingkat penghasilan

Baru bisa sampai di tahap ini kalau kita sudah bisa:

  1. Menyisihkan penghasilan untuk pengeluaran non-rutin yang nggak bisa kita tunda atau hindari. Uang nggak lagi cuma mampir; begitu masuk langsung keluar, begitu dapat langsung habis.
  2. Menjaga diri dari hutang nggak peduli itu hutang ke kartu kredit, Penggadaian, bank, koperasi atau orang tua.

Kupakai daftar pengeluaranku semasa gadis sebagai contoh penerapan karena kurang-lebih per 2008, setahun sejak memutuskan jadi guru lepas, sampai nikah di pertengahan 2011, dengan penghasilan 2-4 juta sebulan sanggup menyisihkan dan lepas dari hutang. Tolong diingat angka segitu itu angkanya lajang yang masih ikut orang tua. Orang tua mapan pula. Bagi yang berumah-tangga butuh beberapa kali lipatnya. Kujadikan contoh karena mau masih lajang atau sudah berumah-tangga prinsip-prinsip pengaturan pengeluaran untuk tahap IV ini sama. Yang akan kuuraikan di sini prinsip-prinsipnya.

Prinsip#1: Membangun pondasi ketahanan keuangan

Dalam kasusku berarti penghasilan tetap + dana darurat + asuransi kesehatan. Tiga itu karena aku pekerja lepas, penghasilan naik-turun dan kerja tanpa jaminan apapun. Tugas pertama adalah men-tetap-kan pengeluaran setiap bulannya meskipun pemasukan nggak tetap.

Berikut langkah-langkahnya.

Satu: mencari angka rata-rata penghasilanku per bulan. Hitung hanya pemasukan yang bisa diandalkan dalam jangka panjang. Uang dikasih orang tua jangan dihitung. Ambil angka rata-ratanya dalam setahun. Lebih akurat. Taruhlah penghasilanku rata-rata 2.5 juta/bulan.

Dua: karena nggak ada tanggungan, masih ikut orang tua, orang tua berlebih-lebih pula, mestinya bisa nyisihkan >10% dari 2.5 juta tadi untuk dana darurat yang jumlahnya paling sedikit 2.5 juta juga. Cukup buat nalangi pengeluaranku selama sebulan. Untuk yang berumah-tangga usahakan ngumpul sampai cukup buat nalangi pengeluaran selama 3-6 bulan. Dana darurat ini harus dipisah dari rekening tabungan.

Tiga: memastikan pengeluaran rutinku di angka yang sama setiap bulan, tidak melebihi 2.5 juta tadi meski di bulan itu dapat kerjaan penerjemah yang bayarannya 5 juta. Di bulan-bulan dapat kurang dari 2.5 juta, ambil kekurangannya dari dana darurat. Dengan catatan: kembalikan saldo dana darurat ke 2.5 juta secepatnya.

Dengan 3 langkah itu bisa punya pola pemasukan karyawan tetap meski kerja lepas, uang masuk seicrit-icrit dari sekian kelas, nggak bisa dipastikan terimanya tanggal berapa, nggak ngajar karena sakit ya nggak dibayar.

Tolong diperhatikan pondasi ketahanan keuangan nggak mutlak sama untuk semua orang atau semua rumah-tangga. Karyawan tetap di perusahaan yang sahamnya dijual di pasar bursa nggak perlu bingung men-tetap-kan penghasilan dan menjamin kesehatannya sendiri. Itu urusan perusahaan. Karyawan kontrak yang sulit dapat kerja ceritanya lain lagi. Begitu juga dengan rumah tangga yang orang tua dan mertua sama-sama mapan. Pondasi ketahanan keuangannya nggak sama dengan rumah tangga yang orang tua dan/atau mertuanya pensiun tanpa penghasilan dan askes.

Ini pengaruh sekali ke pemahaman kita akan segenting apa men-tetap-kan penghasilan, segenting apa punya dana darurat dan berapa yang harus kita kumpulkan untuk dana darurat itu tadi yang pada gilirannya menentukan berapa yang bisa kita belanjakan untuk biaya hidup, kebutuhan non-darurat dan keinginan.

Prinsip#2: Memastikan semua pos pengeluaran berkontribusi ke upaya menambah penghasilan

Nggak harus berkontribusi langsung seperti pengeluaran bensin dan alat bantu ngajar. Mungkin lebih gampang kalau kita berpikir dalam kerangka ini: dari semua pengeluaran, mana yang seandainya dihilangkan pun kita tetap bisa menghasilkan uang? Nah, untuk pengeluaran-pengeluaran yang bisa kita identifikasi dengan kerangka pikir itu, hilangkan atau kurangi.

Nggak pakai ngitung dulu juga bisa kupastikan uang yang kukeluarkan untuk biaya sosial (mantenan, lahiran, menjenguk di RS, kematian, sunatan, ngasih gitu aja tanpa alasan, traktiran, beli jajanan/hadiah untuk menyenangkan orang rumah/saudara/teman/murid) terlalu banyak kalau kita ukur dari kontribusinya ke penghasilan. Kalau diukur dari senangnya hati ya memang kurang.

Lalu pengeluaran demi aktif di Toastmasters. Memang sih dapat kelas dan kerjaan penerjemah berbayaran tinggi dari aktif di Toastmasters. Sayangnya nggak pernah ngitung selisih antara berapa yang kudapat dengan berapa yang harus kukeluarkan. Terasa untung aja karena pengeluarannya sedikit-sedikit sedangkan pemasukannya sekali dapat langsung besar. Kalau nggak dicatat kita nggak akan betul-betul tahu. Yang sedikit tapi sering biasanya jatuhnya lebih banyak daripada segepok tapi sesekali.

Sama sekali bukannya bilang Toastmasters merugikan. Bagi yang sedang membangun karir di bidang public speaking atau di dunia corporate, Toastmasters merupakan investasi tidak ternilai. Di negara asalnya sana program Toastmasters lebih murah dibanding makan di McD. Masalahnya kita ini kan negara dunia ketiga yang menghargai 1 dolar dengan 15.000 mata uang kita sendiri. Toastmasters bukan organisasinya mereka yang penghasilannya 10 juta ke bawah dari bidang-bidang non-public speaking dan non-corporate.

Bagi yang penghasilannya kecil, penting sekali memprioritaskan diri sendiri dan keluarga sebelum yang lain-lain. Aktif di organisasi/komunitas formal atau informal yang didanai secara swadaya bisa sangat membebani keuangan. Perhatikan dua hal ini: tingkat penghasilan orang-orang yang aktif di organisasi tersebut dan seberapa mahal kegiatan-kegiatannya (standar tempatnya, standar konsumsinya, kode berpakaiannya dll).

Prinsip#3: Menyiapkan pos pengeluaran khusus untuk menaikkan tingkat penghasilan

Kita nggak bisa berharap nambah penghasilan tanpa keluar modal sama sekali. Pengertian “modal” di sini beda-beda antara mereka yang penghasilannya dari dagang, dari bekerja di perusahaan besar, dari bekerja di perusahaan kecil, dari bekerja di pemerintah, dari usaha rumahan, dari klien perusahaan/lembaga atau dari klien perorangan sepertiku. Ambil S2 nggak pengaruh ke penghasilan dari usaha rumahan. Meng-upgrade penampilan nggak pengaruh ke penghasilan dari posisi PNS. Punya mobil dan home-office nggak pengaruh ke penghasilan pekerja kantoran.

Mengingat penghasilan kita kecil, sebisa mungkin cari yang tingkat resikonya nol, yang sesegera mungkin menaikkan penghasilan. Hindari ikhtiar tebak-tebak berhadiah seperti:

  • resign untuk buka usaha (minimalkan resiko dengan menjalani dua-duanya untuk sementara waktu supaya keputusan resign nggak dikendalikan perasaan)
  • resign untuk gabung MLM atau jadi agen asuransi semata-mata karena capek jadi karyawan atau merasa diperas dengan jadi karyawan
  • nitip modal di usahanya orang yang menjanjikan untung besar
  • skema kaya-raya mendadak yang semliwer di internet
  • skema menghasilkan uang sambil traveling atau duduk di rumah yang juga semliwer di internet

Selalu jadikan sumber penghasilan kita sekarang + perenungan mendalam tentang kekuatan dan kelemahan kita + mengumpulkan informasi dari orang-orang yang sudah melakoni jalur yang kita pilih sebagai patokan pengambilan keputusan. Pilih satu jalur menaikkan tingkat penghasilan berdasarkan efektifitasnya dan keberlanjutannya. Kuliah lagi kah? Pekerjaan yang sama tapi di lain perusahaan yang bisa menggaji lebih tinggi? Self-employed? All out buka usaha sendiri? Memulai usaha sampingan? Ganti pekerjaan yang sama sekali berbeda dengan pekerjaan yang sekarang? Satu kerja full-time + satu kerja part-time mungkin?

Aku misalnya, kekuatanku di ketrampilan bahasa dan mengajarkannya. Membangun “karir” dari mengajar bahasa Inggris sudah tepat. Mengingat aku ini bukan tipe guru yang cara mengajarnya menyenangkan, sekolah dan kursusan yang pasarnya anak-anak bukan untukku. Ladangku itu bahasa Inggris untuk kebutuhan khusus, yang kebanyakan guru kursusan nggak mau ambil, yang bayarannya nggak sumbut dengan kerja otaknya karena harus bikin materi dan sistem evaluasi sendiri. Yang kubutuhkan kursusan yang mau mempercayakan kelas-kelas khususnya.

Dari pengalaman bisa kupastikan guru kursusan pribumi yang bisa milih kelas hanya yang kualifikasi-kompetensinya tinggi. Jam terbang tinggi + punya gelar S2 yang relevan atau sertifikasi internasional. Pengalaman aja nggak cukup. Dari situ bisa kita putuskan jalur cepat sekaligus jangka panjangku: kuliah lagi demi dapat posisi ngajar di universitas/sekolah tinggi/akademi atau ambil sertifikasi lalu gabung kursusan kelas atas, yang kebutuhannya akan bahasa Inggris bukan karena ujian sekolah. Dua posisi itu yang akan terus mendatangkan murid/klien privat.

Masih dari pengalaman, pasar kelas menengah dan kelas bawah mencintaiku. Entah kenapa nggak pandai aja menempatkan diri di kalangan kelas atas. Nah, kecuali bisa memantapkan hati bergerak di lingkungan kelas atas atau bisa dapat klien-klien perusahaan-ku sendiri, dengan berat hati Toastmasters baiknya kutinggal. Kalau toh memutuskan tetap aktif, dengan catatan tertulis dan terperinci harus kupastikan pemasukan dari aktif di Toastmasters lebih besar dari pengeluarannya. Harus menyiapkan pos khusus. Begitu pengeluarannya nggak bisa diatasi dengan pemasukannya, itu rambu untuk berhenti.

Kalau memang penghasilan kita sekarang nggak memungkinkan punya pos khusus, atau nggak ada yang bisa nambah penghasilan kita dalam waktu cepat, pikirkan segala sesuatu yang bisa kita lakukan sekarang tapi efeknya ke penghasilan kelihatan dalam 1-3 tahun yang relatif nggak butuh biaya. Akun IG dan blog yang digarap sungguh-sungguh bisa naikkan tingkat penghasilan mereka yang kerjanya modal keahlian dan usaha kecil/rumahan tapi ya bukan dalam tempo kurang dari setahun.

Memang berat, tapi tolong diingat semua yang kutulis barusan adalah tiket ke kesejahteraan apapun pekerjaan kita, kerja untuk orang atau usaha sendiri, tanpa status PNS, tanpa suami sukses.

Juga berlaku untuk IRT lho!

Prinsip#4: Memastikan 25-30% penghasilan cukup dan bisa disisihkan untuk membeli rumah

Pertama: ngekos nggak bagus untuk kehidupan berumah-tangga sedangkan untuk ngontrak rumah 2-kamar di Surabaya dan Sidoarjo harus nyisihkan hampir sejuta sebulan. Ada yang kontraknya kurang dari 10 juta per tahun tapi dapatnya susahnya setengah mati atau rumah petak yang nggak beda jauh dengan ngekos atau terlalu jauh dari tempat kerja. Konyol aja lah penghasilan 6.5 juta, sejutanya buat ngontrak, sisanya yang 5.5 juta habis buat biaya hidup jadi nggak bisa nabung buat DP rumah, berpuluh tahun harus ngontrak, anak makin besar rumah makin nggak kebeli. Lebih konyol lagi kalau harus hutang demi ngontrak seperti pengalamanku di tahun ke-2 berumah-tangga.

Lalu biaya perbaikannya. Di Indonesia biaya yang keluar buat tambahan fungsional seperti nambah pintu biar tikus nggak masuk dan perbaikan seperti mengganti engsel pintu rusak selama kita tinggal di rumah kontrakan dibebankan ke kita. Ada yang harus nanggung pajak bumi dan bangunannya. Sama aja dengan membiayai rumah sendiri. Karena itu tinggal di rumah sendiri termasuk salah satu pondasi ketahanan keuangan bagi penghasilan kurang dari 10 juta.

Kenapa nggak kusatukan dengan penghasilan tetap, asuransi kesehatan dan dana darurat di Prinsip#1?

Karena punya rumah sendiri juga bisa jadi beternak kesulitan keuangan. Yang mengantar kita pada poin kedua.

Kedua: non-PNS yang karena satu dan lain alasan penghasilannya nggak bisa mencapai minimal 2x UMR setelah 10 tahun masa kerja maka kesempatannya punya rumah akan terus berkurang setelah berumah-tangga kalau hanya salah satu yang bekerja. Kalau toh bisa harus dibantu orang tua atau subsidi pemerintah dan selama masa nyicil keuangan rumah tangga pasti terasa sangat sempit. Aku bukannya bilang harus beli rumah sebelum menikah. Aku bilang ada beberapa hal yang harus kita upayakan sebelum berumah-tangga yang menurutku merupakan waktu paling tepat buat ngoyo nambah penghasilan + menabung.

Pertimbangkan 3 pertanyaan ini sebelum merasa nyaman di pekerjaan dan penghasilan yang sekarang:

  1. Dengan penghasilan sekarang bisa nggak ngumpulkan DP untuk rumah tipe 36 di wilayah yang jarak tempuhnya nggak lebih dari satu jam dari tempat kerja kita dalam waktu 5 tahun atau kurang?
  2. 25-30% dari penghasilan sekarang ini cukup nggak buat cicilan rumah tipe 36 berjangka 15 tahun di wilayah yang jarak tempuhnya nggak lebih dari satu jam dari tempat kerja?
  3. Bisa nggak hidup aman-tentram secara fisik dan psikologis dengan 70-75% penghasilan yang sekarang? Mutusi bisa-nggaknya harus dengan cara dijalani, nggak bisa dengan hitung-hitungan di atas kertas.

Kalau jawaban untuk No.1 sampai 3 “tidak” semua, lalu kita maksa beli rumah, yang ada cashflow keluarnya lebih deras daripada masuknya. Nyicil rumah sendiri tapi akhir bulan harus kas bon demi beras.

Yang lebih baik daripada ngoyo nyicil rumah adalah mengerahkan energi, waktu dan uang untuk menambah penghasilan dan/atau menyamankan hidup dengan paling banyak 70-75% penghasilan. Semua orang kalau kepepet juga bisa tapi nggak semua orang bisa hidup nyaman, merasa longgar, dengan 70-75% penghasilannya.

Betul-betul manfaatkan masa lajang atau masa belum ada anak bagi yang sudah berumah tangga untuk nata keuangan baik dalam hal pemasukan maupun pengeluaran. Jangan bingung dengan punya rumah dulu. Bingung lah di mendesain gaya hidup di bawah tingkat penghasilan, di nambah kualifikasi mengkilaukan CV, membangun keahlian yang dihargai tinggi, memperluas jaringan kerja, merintis usaha sampingan; semua yang bisa menaikkan tingkat penghasilan.

Satu Tip Penting: Strategi Subtitusi Dan Kompensasi

Menjalankan anggaran yang dirancang untuk melindungi diri-keluarga dan menaikkan tingkat penghasilan harus siap “dihalangi” dari kiri, kanan, atas, bawah. Pasti adaaa aja. Berasa ‘me against the world’. Orang jadi nyinyir ketika kita nggak royal atau murah hati ke teman-tetangga-saudara khususnya bila kita dipandang mampu oleh lingkungan sosial. Hukumnya seperti ini: makin lebih kita di mata orang, harus makin royal juga. Supaya anggaran di tahap ini bisa jalan, kita harus punya strategi berkenaan “mata orang” dan “teman-tetangga-saudara”. Sangat nggak kusarankan maju terus pantang mundur modal muka tembok.

Yang diajarkan pengalaman pribadi sejauh ini:

Keep a low profile. Hindari menjadi menonjol karena materi kecuali kalau itu bisa menambah tingkat penghasilan kita. Contoh: guru les yang kompetensinya biasa-biasa aja tapi alat transportasinya mobil bisa matok tarif 2-3 kali lipatnya guru yang kompetensinya di atas rata-rata tapi ke mana-mana sepeda motoran. Merayakan ultah anak dengan pesta bukan untuk penghasilan di bawah 10 juta tapi lain lagi ceritanya kalau misal kita sedang merintis usaha event organizer.

Di sisi lain, bantu orang-orang menaruh hormat ke kita dan keluarga. Kita nggak bisa berharap orang nggak nyinyir atau ngeremehkan semata-mata karena kita nggak nyinyir atau ngeremehkan mereka. Sudah nggak mempan. Berlaku untuk orang asing maupun yang bertalian darah, untuk yang kenal dekat maupun yang cuma kenal nama. Yang kumaksud adalah menghormati standar yang berlaku umum di lingkungan sosial tempat kita hidup dan bekerja. Kalau memang semua teman sekolah anak merayakan ultah dengan pesta lalu kita memutuskan nggak merayakan ultah anak supaya dananya bisa buat yang lain, pastikan kado-kado yang kita siapkan untuk setiap pesta ultah teman-temannya berkesan, pastikan anak tampil istimewa tiap diundang ke pesta ultah temannya. Itu minimal. Tentu lebih bagus kalau kita juga merayakan dengan pesta. Kecilkan skalanya untuk nekan biaya. Yang penting berkesannya. Atau merayakan setiap 5 tahun sekali. Kalau sangat kesulitan menghormati standar lingkungan sosial yang sekarang, artinya cuma satu: harus ganti lingkungan sosial.

Di sisi satunya lagi, taruh energi dan waktu demi menjadi menonjol karena sebanyak mungkin sebab-sebab non-materi. Pilihannya banyak. Aku punya teman yang bisa mempertahankan reputasi bintang pelajar dari TK sampai S2. Kalau kupikir-pikir bukan karena dia segitu pintarnya tapi karena dia pekerja keras bintang lima belas. Sejak kecil aku sudah punya reputasi di karakter. Sebelum kenal medsos ya terbatas di orang-orang dekat. Begitu ngajar sedikit melebar ke teman kerja dan murid. Sekarang, kalau kupikir-pikir, blog dan akun IG-ku bisa berkembang (meski lajunya ngalah-ngalahi bekicot) ya karena kekuatan karakterku itu.

Lengkapi dengan kekayaan intelektual yang dirupakan dalam bentuk fisik, yang kelihatan mata, lebih bagus kalau bisa dipegang. Manfaatkan kekayaan intelektual ini sebagai modal bermurah-hati. Kita pakai bahasa contoh aja. Orang kalau dengar kata kekayaan intelektual dah lemes duluan.

Selama aku ngajar, karena yang kupegang kelas-kelas khusus, terbiasa bikin materi sendiri. Di mana-mana kursusan cuma nyediakan materi General English. Nggak sekali dua kali didatangi teman kerja yang butuh hand-out atau bahkan nggak tahu harus ngasih materi apa untuk kelas-kelas tertentu atau harus ngapain selama 90 menit sesi conversation privat dengan bapak-bapak. Bukan karena mereka nggak layak ngajar tapi karena nggak punya pengalaman.

Meski pakai buku kumpulan soal yang dibuat bule, setelah sekian kali pegang kelas persiapan TOEFL mini-nya LPIA (3 jam non-stop atau 3 sesi @1.5 jam), bisa menstandarkan materi yang bikin orang berpikir “Oh, ternyata gitu ya TOEFL.” Bukan karena saking hebatnya aku tapi melakukannya berulang-ulang membuatku tahu pain-point-nya orang kita tuh di mana, bisa baca pola soal, nemu soal-soal yang bikin orang yang skornya <500 langsung paham tentang kelemahan tipikalnya sendiri. Itu semua bisa kurupakan lembar silabus, lesson plan tertulis, buku kerja, lembar kerja, pedoman evaluasi hasil belajar, rekaman suara, rekaman video lalu ku-file rapi jadi perpustakaan.

Aduh, kok jauh amat, bisa bikin lembar yang isinya informasi thok aja dah jadi kekayaan intelektual. Coba pikir lembaran kertas A4 yang isinya informasi 10 film box office untuk belajar frase-frase standar di dunia perkantoran atau 10 situs terbaik sumber daya gratis belajar bahasa Inggris dan seterusnya. Menu MPASI yang disusun rapi berdasar kebutuhan khusus seperti alergi protein atau sumber protein non-daging-dagingan kan juga kekayaan intelektual.

Kalau itu ketinggian:

Dengan koleksi sampahku bisa bikin pusat bungkus repurpose dan daur ulang. Kalau semua barang sampah itu kujadikan bentuk siap pakai lalu kutata ala toko lengkap dengan contoh-contoh jadinya biar kelihatan mata, orang melihatnya sebagai harta-benda, bukan koleksi sampah lagi. Apalagi begitu mereka tahu nggak kujual, kusediakan buat siapapun yang mau ambil. Jadi harta karun.

Terakhir, jangan berharap bisa bermurah hati hanya dengan non-materi. Semua yang kuomongkan di atas bukan demi memastikan uang kita nggak kalong [=berkurang]. Rasulullah hartanya habis demi orang lain. Akan selalu ada orang-orang yang membutuhkan kemurah-hatian berupa materi. Yang bisa kita lakukan adalah menyeleksi pos-pos pengeluaran murah hati kunci, yaitu yang sebaiknya ditutup dengan uang. Mindset yang sangat membantuku nyortir: “Aku nggak ngasih salam tempel ke semua orang supaya bisa ngasih A, B dan C sekian, setiap bulan, selama aku atau mereka masih hidup.” Sedikitkan jumlah posnya tapi ajegkan, rutinkan, jangka-panjangkan, buat jadi bisa diandalkan oleh penerima kemurah-hatian kita.

89e4cd75e22b4188c4afff46a296881cfeaab501 (1)
Rumah yang penataannya memfasilitasi acara-acara informal skala kecil seperti pertemuan dan workshop atau rumah belajar atau kafe rumahan juga bisa jadi modal bermurah-hati.

Adakah tahap budgeting yang lebih tinggi dari ini?

Ada. Tahap di mana kita ngatur pengeluaran untuk membangun aset, mengumpulkan harta-benda yang nilainya terus naik seiring waktu dan/atau yang ngasih penghasilan pasif. Yang harus kutekankan, kita harus ada di tingkat penghasilan tertentu dan nyaman hidup di bawah tingkat penghasilan kita sebelum bisa sampai ke tahap itu.

Jadi untuk sementara ini, yang penghasilannya masih di bawah 10 juta atau mungkin sudah tembus 10 juta tapi masih aja gali lubang tutup lubang atau gali saldo tutup saldo, jangan mikir aset dulu, jangan maksa beli rumah, jangan maksa beli mobil.

Cashflow dulu digarap: naikkan tingkat penghasilan dan/atau nyamankan hidup dengan 70-75% penghasilan.

Master-budget yang kubuat berdasarkan prinsip-prinsip di atas untuk daftar pengeluaranku semasa gadis dengan penghasilan rata-rata 2.5 juta per bulan bisa dilihat di sini.

Ada banyak hal yang di sini cuma kusinggung yang sepertinya harus kujelaskan lagi. Kucicil sedikit demi sedikit dengan email dan mungkin video + story di Instagram sepanjang tahun ini. Jadi ya harus langganan newsletter-ku dan ngikuti di Instagram. Terlalu makan waktu kalau semuanya kutaruh di blog. Kurang nyanthol juga.

 

 

Master-Budget: Bagian III

Mari mulai mengutak-atik angkanya. Langsung praktek aja. Kita pakai pengeluaran suamiku dengan asumsi dia masih lajang. Pengeluaranku semasa gadis kusimpan untuk Bagian IV. Di bagian akhir postingan kutulis kapan cara ngatur pemasukan seperti yang akan kuuraikan di bawah ini efektif, kapan bisa dipastikan gagal.

Langkah#1: Sisihkan Dulu, Belanjakan Sisanya

Ini berarti merubah urutan keluarnya uang. Yang tadinya pengeluaran tetap Biaya Hidup (uang kos dan belanja toiletries di supermarket/minimarket) keluar duluan sebelum yang lain-lain menjadi:

  1. Tabungan Home-Theater
  2. Tabungan Silaturahim Sekeluarga ke Madura
  3. Tabungan Mobil

Mengingat ketidakmampuan suamiku nabung, nggak apa tujuan nabungnya buat pengeluaran Gaya Hidup. Harus merasakan dulu manfaat bisa menabung sebelum bisa/mau bersoro-soro menabung demi ketahanan keuangan (DP rumah, Dana Darurat, asuransi kesehatan dan Dana Pensiun).

Masih mengingat ketidakmampuannya menabung tadi, menyisihkan penghasilan untuk 3 tujuan sekaligus kemungkinan besar bikin males-gamang memulai atau gampang putus di tengah jalan. Baiknya satu aja. Pilih yang paling cepat kesampaian. Kalau bisa nggak lebih dari 1 tahun. Lebih bagus lagi kalau paling cepat kesampaian+paling nyenangkan hati karena akan nge-boost motivasi mencapai tujuan nabung berikutnya. Juga motivasi nambah setoran tabungan per bulannya.

Perhitungkan kecenderungan kita saat menentukan berapa yang akan kita sisihkan tiap bulan, cara nyisihkannya dan harus diambilkan dari uang apa.

Yang sangat kesulitan nyisihkan:

  1. Ambil dari pemasukan tetap seperti gaji.
  2. Ambil tabungan yang setorannya dipotongkan secara otomatis atau yang kita malu kalau nggak setor seperti arisan.
  3. Ambil tabungan yang nggak bisa ditarik sewaktu-waktu seperti tabungan berjangka.
  4. Mulai dengan setoran bulanan 5-10% gaji. Terus naikkan seiring waktu. Kalau bisa sampai 30% gaji. Yang masih lajang dan nggak nanggung orang tua bisa lebih dari 30% asal kuat mental.

Sekali lagi, perhitungkan kecenderungan masing-masing. Ada yang tabungannya “aman” kalau dirupakan emas perhiasan. Ada yang justru lebih gampang menyisihkan penghasilan nggak tetapnya karena harus sembunyi-sembunyi dari istri/suami. Cari yang paling efektif di kita. Pasti ada. Cari sampai ketemu.

Langkah#2: Untuk Semua Yang Bisa Dipastikan Jauh-Jauh Hari, Rencanakan

Dalam kasus suamiku: pajak motor dan perpanjangan SIM/STNK. Latih diri tidak memasrahkan pengeluaran-pasti seperti ini ke gaji/pemasukan di bulan jatuh tempo meskipun bisa.

Maksudku gini, gaji suamiku sekarang rata-rata 6.5 juta per bulan. Pajak motor, perpanjangan STNK dan memperbaharui SIM masing-masingnya nggak sampai 750 ribu. Nggak berat lah diambilkan dari gaji di bulan jatuh tempo. Nggak sampai harus hutang. Masalahnya: kalau untuk kebutuhan yang bisa ditutup dengan 1/5 gaji aja kita nggak bisa merencanakan jauh-jauh hari, gimana dengan yang berkali-kali lipat gaji seperti DP rumah?

Mulailah nyisihkan paling nggak beberapa bulan sebelum jatuh tempo. Dalam kasus suamiku yang bisa kupastikan nggak akan bisa, langsung aja ditotal setahun itu butuh berapa untuk pajak dan/atau perpanjangan SIM/STNK, bagi 12 bulan, ketemunya berapa lalu minta koperasi karyawan motong otomatis sejumlah itu dari gaji setiap bulannya, terus, jangan putus, selama motor masih ada. Kalau ada mobil ya potongkan juga sekalian. Sebisa mungkin uang gaji yang diterima suamiku tiap bulannya net, bersih, hanya sebanyak yang bisa dihabiskan di bulan itu.

Langkah#3: Penghasilan Nggak Tetap Untuk Pengeluaran Tetap

Pemasukan suamiku selama aku kenal dia bukan cuma gaji.

  • ceperan harian
  • bonus tahunan
  • THR
  • bagi hasil koperasi karyawan
  • uang lelah (dari membantu teman/kerabatnya dengan nyupir, cari-kirim barang, angkat-angkut barang dll)
  • hadiah/warisan

Bagi suamiku semua sama saja, sama-sama uangnya, buat dibelanjakan. Dan dalam kasus suamiku bisa dipastikan larinya kalau bukan buat nyenangkan diri sendiri ya buat nyenangkan orang lain. Pendeknya habis bersih buat semua yang ingin dan senang dia lakukan tapi nggak bisa dibiayai gaji karena gajinya dapat, habis, dapat, habis.

Yang lebih baik adalah menyiapkan tugas khusus untuk tiap-tiap pemasukan selain gaji di atas. Dulukan untuk pengeluaran tetap yaitu pengeluaran yang normalnya diambilkan dari gaji.

Contoh.

Ceperan harian tugaskan untuk membiayai makan sehari-hari dan bensin. Dengan demikian gaji bebas dari 2 pengeluaran rutin. Tingkat tabungan/investasi dan sedekah bisa kita naikkan.

Karena bonus tahunan dan bagi hasil koperasi karyawan masing-masing dapatnya setahun sekali, tugaskan untuk pengeluaran yang setahun cukup 1-2 kali seperti belanja baju-kelengkapannya atau beli peralatan rumah tangga. Tapi pastikan tugas itu lepas sepenuhnya dari tanggungan gaji. Andai kita tetapkan baju-kelengkapannya sebagai tugas bonus tahunan, beli lah baju untuk kebutuhan setahun seperti baju kondangan, nyetok pakaian dalam dan kaos kaki termasuk baju Lebaran dengan uang itu. Bebaskan gaji dan THR dari beli-beli baju kecuali yang sifatnya darurat misal ada hajatan keluarga yang kita harus pakai seragam kemeja batik dan harus beli celana panjang warna putih buat padanannya karena nggak punya.

Uang lelah dapatnya kan sedikit, 100-300 ribu, dan sewaktu-waktu. Untuk pemasukan seperti ini yang paling baik dikumpulkan untuk pengeluaran setahun sekali seperti pajak/SIM/STNK tadi, biaya Lebaran atau kurban. Akan tetapi, mengingat suamiku nggak akan bisa ngumpulkan, langsung aja dibelanjakan dengan catatan untuk yang sekiranya bisa ngurangi beban gaji. Paket data yang masa berlakunya setahun? Token listrik? Stok balsem, minyak angin, tolak angin Sido Muncul dan obat-obatan bebas untuk batuk, pilek dan demam? Stok sabun, shampoo, odol, sikat gigi, minyak rambut dan deodorant? Terserah. Yang penting adalah pengeluaran itu bisa dihapus dari tanggungan gaji.

Dalam kasus suamiku THR pasti habis buat Lebaran. Kebanyakan dari kita malah nggak cukup. Yang serius pingin keuangannya membaik tanpa nambah penghasilan:

Tantangan#1: Pastikan THR cukup. Kalau Lebaran jatuhnya di tengah apalagi awal bulan, sisihkan cukup uang untuk makan sampai gajian berikutnya. Jangan ditaruh di rekening. Pasti amblast.

Tantangan#2: Kalau sudah bisa mencukupkan THR, nggak defisit di bulan Lebaran, naikkan tingkat kesulitannya: belanjakan sebagian THR, sebelum mudik, untuk kebutuhan selain kebutuhan Lebaran.

Tantangan#3: Kalau itu sudah bisa, naikkan tingkat kesulitannya: sisihkan sebagian THR untuk tabungan jangka panjang seperti DP rumah.

Tantangan#Akhir: Pencapaian tertinggi adalah bisa menyisihkan 100% THR untuk tabungan jangka panjang. Lha biaya Lebarannya gimana? Cicil dengan gaji atau tabung dari pemasukan nggak tetap.

Gaji kita kurangi bebannya sedikit demi sedikit dengan mengoptimalkan penghasilan/pemasukan nggak tetap untuk pengeluaran tetap.

Itu jalan pintas naikkan kemampuan menyisihkan.

Langkah#4: Semua “Darurat” Yang Bisa Dipastikan Akal Harus Disiapkan Dananya

Taklukkan mindset “yang penting sehat; uang bisa dicari“. Tetap berlaku dalam kasus suamiku yang biaya dokter dan obat ditanggung perusahaan. Karena harus ditalangi dengan uang sendiri dulu. Sama perusahaan diganti bulan depannya. Tetap aja: jangan kasbon, jangan hutang, meskipun kita bisa langsung bayar bulan depannya. Logikanya itu tadi: kalau untuk pengeluaran yang nggak sampai 1/5 gaji harus dibantu, gimana bisa punya rumah? Gimana bisa bantu orang tua yang pensiun tanpa penghasilan tanpa Askes? Gimana bisa nguliahkan anak? Gimana bisa berkurban? Gimana bisa naik haji?

Sekarang ini, kalau aku dengar omongan “yang penting sehat“, kuamati pengeluaran yang bersangkutan. Kalau uangnya habis buat sedekah menolong mereka yang kesulitan dan mendanai perjuangan/pergerakan untuk kemaslahatan, kuaminkan. Tapi kalau uangnya habis buat biaya hidup, gaya hidup, biaya sosial, ngejar mimpi atau usaha yang merugi, cara orang tersebut dengan uang adalah pelajaran.

Pelajaran. Untuk. Tidak. Dicontoh.

Simpanan untuk pengeluaran darurat ini sifatnya harus disegerakan. Bagi penghasilan di bawah 10 juta, simpanan 1-3 juta mestinya cukup. Ini yang kusebut Dana Talangan. Dalam kasus suamiku yang nggak bisa nabungnya parah, harus dipotongkan otomatis dari gaji. Langsung potong 500 ribu – 1 juta sebulan supaya genap 3 juta dalam 3-6 bulan. Harus dipaksa. Toh uang makan dan bensin bisa diambilkan dari ceperan, nggak harus “puasa”.

Bagi yang relatif bisa menabung, optimalkan pemasukan nggak tetap yang icrit-icrit dan sewaktu-waktu seperti uang lelah suamiku untuk memastikan saldo simpanan darurat ini nggak kurang dari 1-3 juta meski bolak-balik ditarik. Satu lagi: meski 1-3 juta cukup, alangkah baiknya kalau bisa digenapkan sebesar satu bulan gaji.

Bagi yang non-PNS apalagi karyawan kontrak, penting sekali punya Dana Darurat sebesar 3-6 bulan gaji. Ini di luar Dana Talangan. Dana Talangan kita siapkan untuk darurat kecil seperti dokter-obat, ganti ban motor, memperbaiki kompor gas dan semacamnya. Dana Darurat kita siapkan untuk nyambung hidup saat kontrak kerja habis dan nggak diperpanjang atau mendadak di-PHK. Supaya cari-cari pekerjaan lain bisa dengan pikiran tenang. Anak-istri tetap bisa makan, tetap bisa bayar cicilan motor.

Belajar lah untuk nggak ikut arus pola pengelolaan gaji 10 juta ke bawah: gaji habis buat cicilan dan biaya hidup, penghasilan/pemasukan-nggak-tetap habis buat senang-senang, beli-beli, nyenangkan hati dan/atau nambal defisit.

Langkah#5: Belanjakan Sesuai Batas Yang Kita Tetapkan Sendiri

Jangan dipasrahkan ke berapa yg kita dapat. Pas dapat banyak: banca’an, pas dapat sedikit: puasa. Itu pola pengeluarannya anak TK. Usahakan uang yang keluar stabil, dalam batas yang kita tetapkan sendiri mau itu dapat sedikit ataupun banyak, dapat kurang dari biasanya ataupun lebih dari biasanya.

Langkah#5 ini harusnya kutaruh di atas. Selama kita nggak bisa mematuhi batas yang kita tetapkan sendiri, melakukan 4 langkah yang kusebut sebelum ini pasti sulitnya luar biasa. Kalau nggak bisa dibilang mustahil.

Berdasar Ilmu Titen, berikut akar-akar dari sangat sulitnya seseorang menetapkan batas untuk dirinya sendiri:

Satu: Nggak tahu dan nggak mau tahu pemasukan-pengeluarannya. Maka yang serius pingin bisa patuh anggaran: pahami betul pemasukan kita dari mana aja dan berapa, pengeluaran kita buat apa aja dan berapa. Catat. Kita nggak akan betul-betul tahu sampai kita menjadikan aliran keluar-masuk uang kita tertulis. Jangan kira-kira, jangan modal Catatan Mental. Angka-angkanya harus akurat.

Dua: Pergaulannya sangat luas. Bukan cuma dalam artian jumlah orangnya tapi juga wilayah geografisnya. Maka yang serius pingin bisa patuh anggaran: kurangi pergaulan dan pusatkan kehidupan di rumah. Aku bukannya nyuruh jadi anti-sosial, ngurung diri di rumah. Belajar lah membangun dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang tepat, untuk alasan/kepentingan yang tepat, dengan cara-cara yang tidak mengandalkan uang.

Tiga: Sangat dipengaruhi pemikiran/penilaian orang tentang dirinya. Aku nggak bisa nawarkan solusi apapun untuk akar yang satu ini.

Empat: Harus banyak ngempet, selalu mengalah, terus-menerus berkorban, kehendak-kehendak terbesarnya nggak kesampaian. Aku juga nggak bisa ngomong apa-apa tentang akar yang satu ini.

Masih berdasar Ilmu Titen, berikut yang kulihat memudahkan seseorang menetapkan batas untuk pengeluaran-pengeluarannya sendiri dan mematuhinya:

  1. Kreatif dan skillful
  2. Cinta rumah dan keluarga
  3. Punya tujuan hidup dan/atau passion

Kalau tiga itu terlalu berat, coba yang 3 berikut ini. Kuterapkan ke suamiku buat ngasih gambaran yang gamblang harus apa dan bagaimana untuk bisa hidup dengan budget ketika mengatur-kendalikan pengeluaran terasa sangat sulit bagi kita.

1. Mengganti kebiasaan

Suamiku sangat menikmati belanja di minimarket/supermarket. Melihat jajaran barang teratur rapi di rak, bisa milih-milih, membandingkan berbagai produk, membuatnya bahagia. Yang dia nanti-nanti di awal bulan adalah belanja keperluan mandinya kalau bisa di supermarket. Minimal di minimarket. Dalam seminggu 2-3 kali ke minimarket.

Ini kebiasaan mahal. Pertama, profit margin minimarket/supermarket lebar. Selisihnya dengan toko kelontong –khususnya milik orang keturunan Tionghoa– jauh. Kedua, di tempat-tempat belanja yang mengandalkan strategi pemasaran diskon, kita cenderung membeli yang kita nggak butuh. Berangkat niatnya beli apa, pulang bawa apa. Tapi aku tahu persis suamiku nggak akan bisa mindah tempat belanjanya ke toko kelontong apalagi pasar. Nggak bisa aja. Dia terlalu menikmatinya.

Dalam situasi seperti ini, pikirkan untuk mengganti “kebiasaan-kebiasaan kecil” dalam kebiasaan besar yang sangat sulit kita ganti/rubah tadi. Biasanya begitu gajian, coba ganti hanya setelah semua tagihan kita bayar. Biasanya hari Minggu, ganti sepulang kerja. Biasanya yang mau dibeli dipikir di tempat, ganti mikirnya sebelum berangkat. Biasanya pakai catatan mental, ganti bawa catatan. Biasanya apa aja dibeli, ganti hanya membeli barang-barang tertentu. Biasanya berangkat sewaktu-waktu, ganti hanya setelah kenyang makan-minum.

2. Membatasi dengan menteraturkan

Masih contoh yang sama. Secara umum mengatur-kendalikan yang teratur, rutin, berkala, nggak terasa terlalu berat.

Siapkan pos pengeluaran Indomaret/Alfamart di master-budget. Karena di sini kita berasumsi suamiku masih bujang, pos belanja bulanan alihkan untuk ini. Jangan ditulis “belanja bulanan” karena suamiku butuh seringnya.

Catat untuk dapat data akurat sebulan ke minimarket berapa kali, rata-rata sekali datang habis berapa, yang dibeli apa aja. Setelah punya informasi itu jadwalkan per minggu nggak lebih dari sekian kali ke minimarket, per datang nggak menghabiskan lebih dari sekian rupiah.

3. Master-list

Yaitu daftar tertulis yang kita buat dengan cara trial & error seiring waktu. Pada dasarnya kita mengumpulkan informasi. Setiap kali nemu sesuatu yang bisa membantu kita di aktivitas yang sama di kali berikutnya, tulis. Sesederhana itu. Kekuatannya ada di tertulisnya. Pakai bahasa contoh aja.

Master-List I yang isinya barang-barang yang sangat kita sukai atau butuhkan yang adanya cuma di Indomaret/Alfamart. Membantu kita melemahkan pengaruh diskon.

Master-List II yang isinya barang-barang yang jatuhnya lebih menguntungkan kalau belinya di Indomaret/Alfamart. Membantu kita membatasi diri hanya membeli barang-barang tertentu.

Master-List III yang isinya semua kegiatan yang sangat kita nikmati seperti kita menikmati belanja di Indomaret/Alfamart. Membantu kita untuk nggak cuma ngempet andai harus ngurangi atau bahkan berhenti belanja di Indomaret/Alfamart.

Pendeknya master-list mengumpulkan informasi berharga yang menguntungkan kita (dalam hal ini membantu kita mengatur-kendalikan pengeluaran).

This would literally send my husband off to the moon! (Photo credit: http://www.lifewire.com)

Terakhir.

Pertama: pengaturan seperti ini efektif untuk keuangan gali saldo tutup saldo atau yang nggak pernah bisa nabung tapi relatif bisa menahan diri dari berhutang. Nggak akan ngaruh di mereka yang keuangannya gali lubang tutup lubang atau yang harus dibantu untuk bisa makan dan bayar tagihan air-listrik. Entah itu “dibantu” kartu kredit, Penggadaian, bank, koperasi, orang tua, anak, tetangga; apapun dan siapapun. Jadi yang kumaksud di sini sebetulnya bukan harus dibantu karena penghasilannya di bawah garis kemiskinan tapi “harus dibantu” karena nggak bisa/mau hidup sesuai tingkat penghasilannya sendiri.

Kedua: ada batasan-batasan Matematika yang harus kita hormati. Pengeluaran kebutuhan dasar pangan, papan, transportasi dan papan jangan ditekan mati-matian di bawah UMR. Ngorbankan kelayakan.

Khusus untuk non-PNS:

Kalau punya cicilan kreditan, totalnya jangan lebih dari 30% penghasilan. Lebih dari itu pasti gali lubang tutup lubang. Harga beli mobil jangan lebih dari 6 bulan gaji. Lebih dari itu pasti nggak bisa nabung buat kesejahteraan jangka panjang (dana darurat, pendidikan tinggi anak dan masa pensiun). Jangan beli rumah dulu sebelum punya simpanan untuk kebutuhan darurat dan ngelunasi semua cicilan+hutang lain. Ambil yang cicilan per bulannya nggak lebih dari 30% penghasilan tetap. Hindari masa cicilan lebih dari 15 tahun. Sama dengan mobil tadi, melanggar batasan-batasan itu berarti mengorbankan kesejahteraan jangka panjang. Terasanya nanti setelah anak-anak masuk usia kuliah terutama begitu pencari nafkah masuk usia pensiun.

Master-budget yang kubuat untuk ngatur pengeluaran suamiku (dengan asumsi dia masih lajang) berdasar 5 langkah di atas bisa dilihat di sini. Yang kupakai bukan penghasilannya sekarang tapi penghasilannya sebelum kami nikah (UMR tanpa uang makan, uang lembur dan ceperan).

Kenapa?

Untuk bisa sampai di penghasilannya sekarang dia harus pindah kerja 3 kali, melepas posisi karyawan tetap. Dapat posisi tetap lagi setelah 6 tahunan jadi karyawan kontrak. Itu butuh keberanian yang dia nggak punya sebelum menikah. Maka sebagai lajang kemungkinan besar penghasilannya di bawah sekarang. Andai pun penghasilannya sama seperti sekarang, bisa kupastikan separuh atau bahkan lebih habis untuk cicilan motor, mobil atau dua-duanya. Juga bisa kupastikan milih kamar kos 1.5 juta per bulan. Yang ada AC-nya.

Yang harus kutekankan, berapapun penghasilannya, angka-angkanya sesungguhnya tidak lebih penting dari:

  1. Pengeluaran apa aja yang kita masukkan dalam master-budget
  2. Urutan ngeluarkan uang
  3. Per pengeluarannya diambilkan dari uang apa
  4. Yang harus dikumpulkan dulu dan yang harus “diamankan” dari tangan kita sendiri harus disimpan di mana, dalam bentuk apa.

Wow! Postingan ini padet sekali informasinya. Aku yang nulis aja harus baca berulang-kali dan belum hapal-hapal juga.

Jangan sungkan untuk tanya-tanya. Kalau nggak mau dibaca orang banyak, kirim ke mz_newconcept@yahoo.com.

Sistem Amplop

Kita mulai dengan mengapanya dulu. Mengapa IRT perlu tahu Sistem Amplop. Setelah itu baru kujelaskan cara kerja Sistem Amplop. Terakhir, apa yang harus diperhatikan agar sistem ini nggak bikin frustasi.

Mengapa Sistem Amplop

Alat utama membangun kekayaan adalah penghasilan. Kalau gaji suami kita yang pegang dan/atau kita sendiri punya penghasilan, berarti alat membangun kekayaan ada di tangan kita kan. Pertanyaannya:

Sudahkah kita optimalkan?

Setiap orang pastinya punya idenya sendiri-sendiri tentang mengoptimalkan penghasilan atau tentang membangun kekayaan. Buat salah satu budheku yang berjiwa pendidik, penghasilannya optimal kalau bisa nyekolahkan sebanyak-banyaknya anak berprestasi yang nggak mampu. Budheku yang lain mengoptimalkan penghasilan dari usaha rumahannya untuk ngumpulkan tanah+emas dan umrah-haji satu keluarganya. Pendidikan bukan prioritas. Sah-sah aja. Yang penting kita sanggup membayar “harganya” karena setiap pilihan punya “biaya”.

Sekali lagi, nggak ada pilihan yang salah. Yang ada pilihan yang buruk yaitu memilih yang nggak sanggup kita “beli”, yang nggak sanggup kita tanggung resikonya, yang nggak mau kita jalani konsekwensinya.

Buat nambah wawasan, membangun kekayaan juga berarti melindungi diri dan keluarga dari situasi-situasi yang menempatkan kita sekeluarga dalam posisi tidak berdaya atau tidak punya pilihan.

Contoh yang bikin takut: kehilangan penghasilan mendadak akibat PHK atau pencari nafkah cacat tetap/meninggal dunia. Yang non-PNS pasti tahu gimana gentingnya situasi mendadak di-PHK. Contoh yang bikin semangat: tekad “mengantar” anak ke kelas sosial-ekonomi yang lebih tinggi dengan pendidikan-pelatihan bernilai tinggi di dunia usaha dan/atau dunia kerja.

Ketika kita mengoptimalkan penghasilan untuk tujuan besar-jangka panjang seperti dua yang kusebut di atas, caranya nggak bisa disamakan dengan mengoptimalkan penghasilan untuk bayar tagihan-cicilan dan nyenangkan hati. Kita butuh rencana berupa budget yang memperhitungkan pemasukan-pengeluaran dengan seksama, yang setiap rupiah yang keluar keluarnya demi mengemban tugas. Boleh jadi salah satu yang kita tugaskan ke penghasilan adalah menyenangkan hati atau menyenangkan keluarga tapi berapa-berapanya kita tetapkan setelah tugas perlindungan diri dan keluarga. Traveling-nya setelah kita menyisihkan untuk dana darurat.

Karena itu Sistem Amplop sesungguhnya adalah sistem pengendalian pengeluaran yang akan memastikan setiap rupiah yang keluar dari dompet/rekening kita keluarnya sesuai tugas yang kita tetapkan untuknya.

Cara Kerja Sistem Amplop

Pertama: Sebelum terima gaji harus sudah siap dengan budget bulanan

Latih diri untuk tidak melihat gaji satu bulan sebagai 100%. Bagi jadi dua atau tiga bagian. Satu-dua bagian utk masa sekarang, sisanya utk masa depan.

Yang buat masa sekarang berapa, yang buat masa depan berapa, sesuaikan dengan kondisi dan kemampuan (=tingkat penghasilan) masing-masing. Jangan lihat orang.

Ratio yang menurutku nggak kelewat berat tapi juga nggak kelewat nyantai adalah 70/30. Semua pengeluaran di bulan itu termasuk cicilan-cicilan dan pengeluaran tabungan jangka pendek seperti biaya Lebaran dan pajak mobil usahakan nggak lebih dari 70%. Sisa yg 30% untuk tabungan jangka panjang (pengadaan rumah, dana darurat, pendidikan tinggi anak, dana pensiun, naik haji) dan investasi (menafkahi orang tua, sedekah, zakat, kurban dan wakaf kugolongkan sebagai investasi; investasi akhirat). Kalau ada hutang atau cicilan yang ingin dilunasi lebih cepat, ambilkan dari 30% ini.

Jangan berkecil hati kalau kita sanggupnya 90/10 atau 95/5 atau bahkan 100/0. Mereka yang penghasilannya 10 juta ke bawah, hidup di kota besar dengan 2 anak usia sekolah, harus menanggung orang tua yang nggak punya asuransi kesehatan ditambah nyicil rumah pastinya sangat kesulitan nyisihkan. Bagi yang penghasilannya kecil, fokus lah di bebas hutang. Pastikan aja 100% itu cukup tanpa bantuan kas bon, Penggadaian atau orang tua. Nggak usah bingung dengan nabung demi masa depan.

Kedua: Otomatiskan sebanyak mungkin kewajiban pembayaran seperti tagihan listrik-air dan setoran tabungan lalu siapkan amplop sebanyak jenis pengeluaran yang nggak bisa diotomatiskan dan yang nggak bisa dibayarkan dengan cara transfer via ATM atau e-banking

Makin banyak yang didebet otomatis dari rekening gaji, makin sedikit yang kita pegang tunai. Makin sedikit yang kita pegang tunai, makin sedikit amplop. Makin sedikit amplop, makin enteng kerja mengendalikan pengeluaran. Bayangkan pegang 20 amplop. Lihatnya aja pening.

Dari contoh budget bulanan di bawah ini misalnya:

  1. Zakat profesi (transfer)
  2. Uang saku orang tua (transfer)
  3. Asuransi jiwa (transfer)
  4. Tabungan haji (debet otomatis)
  5. Tabungan pajak mobil (debet otomatis)
  6. Tabungan Lebaran (debet otomatis)
  7. Dana talangan (transfer)
  8. Cicilan smartphone (debet otomatis)
  9. Tagihan listrik (transfer)
  10. Tagihan air (tunai)
  11. Iuran sampah (tunai)
  12. Iuran RT (tunai)
  13. Gaji ART (tunai)
  14. Belanja bulanan (tunai)
  15. Belanja lauk-pauk (tunai)
  16. Lain-lain (tunai)

Berarti harus siap 7 amplop karena hanya 7 jenis pengeluaran yg dibayar tunai.

Makin lama kita memakai sistem amplop, biasanya jumlah amplopnya akan makin sedikit.

Ketiga: Disiplin menjalankan prinsip “when it’s gone, it’s gone

Andai uang di amplop rekreasi habis di minggu ke-2 misalnya, sampai gajian berikutnya rekreasinya di rumah aja dulu. Nonton VCD sambil makan gorengan.

Andai kita tetapkan angka 1 juta untuk belanja bulanan susu, popok, sembako, toiletries dan produk pembersih, bikin daftar belanja yang akurat untuk kebutuhan sebulan. Perhitungkan yang masih ada stoknya di rumah biar belinya nggak dobel-dobel. Menghindari situasi di akhir bulan punya minyak goreng 4 liter tapi nggak ada uang tunai buat beli gas.

Kalau ternyata sejuta kurang? Turunkan standar. Biasanya popok Mamy Poko, turun ke Sweety. Biasa sabun cair, turun ke sabun batangan, dstnya.

Kalau masih kurang juga? Berarti ada yang harus dicoret dari daftar belanjaan. Yang nggak esensial seperti pewangi cucian, obat pel, pelicin setrikaan, conditioner, obat kumur, baby oil, hair lotion, coret dulu.

Prinsipnya adalah lakukan yang perlu demi belanja bulanan nggak lebih dari sejuta. Utak-utiknya di per amplopnya, bukan di budget bulanannya. Jadi jangan karena sejuta kurang lantas setoran tabungan Lebaran kita hilangkan demi nambah anggaran belanja bulanan. Khususnya kalau selama bertahun-tahun penghasilan di bulan Lebaran selalu defisit. Nggak bisa putar otak di per amplop berarti nggak akan pernah bisa mutus siklus gali lubang tutup lubang atau gali saldo tutup saldo.

Begitu kita bisa mengendalikan uang yang keluar sehari-harinya sesuai budget bulanan, mengelola penghasilan untuk membangun kekayaan nggak lagi terasa seperti pungguk merindukan bulan. Gaji bukan lagi cuma bisa buat bertahan hidup sebulan, uang tambahan nggak lagi habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Sampai lah kita di poin terakhir yang paling penting.

Apa hanya butuh disiplin diri untuk sukses ngatur pengeluaran dengan Sistem Amplop?

Nggak.

Pertama, gunakan sistem amplop hanya setelah kita tahu persis semua jenis pengeluaran rumah-tangga kita.

Hitungannya bukan lagi jenis pengeluaran dalam sebulan tapi semua jenis pengeluaran minimal dalam satu tahun. Kalau yang kita hitung cuma pengeluaran sebulan, ada begitu banyak yang luput. Antara lain:

  • biaya penggantian & perbaikan peralatan rumah tangga (magic jar, kompor gas, AC, smartphone, Sanyo dll)
  • perbaikan kendaraan
  • perbaikan kecil rumah (genteng bocor, lampu putus, kunci rusak dll)
  • biaya sosial (iuran Agustusan, sumbangan slametan, sumbangan hajatan, tilik bayi, bezuk, takziyah)
  • biaya dokter+obat

Tanpa tahu persis berapa banyak jenis pengeluaran rumah tangga kita, sangat sulit untuk patuh. Harus ke dokter, karena nggak nyiapkan amplop dokter, akhirnya pakai uang di amplop belanja bulanan. Kekurangan belanja bulanan kita ambilkan dari amplop lauk-pauk. Sini kurang, ambil dari sana. Sana kurang, ambil dari sini. Terasa seperti lingkaran setan.

Kedua: pastikan kita punya paling nggak satu rekening yang dananya kita siapkan khusus untuk semua pengeluaran yang nggak punya amplop

Ini fungsi Dana Talangan. Dana yang kita siapkan khusus untuk darurat kecil. Artinya pengeluaran yang nggak rutin setiap bulan atau setiap minggu atau setiap hari yang nggak bisa kita tunda atau hindari. Contohnya ya pengeluaran-pengeluaran yang sering luput dari perhitungan yang ku-list tadi. Dana utk nalangi pengeluaran-pengeluaran seperti ini jangan dipegang tunai. Baiknya pisahkan dari rekening gaji dan dari rekening tabungan.

Ketiga: gunakan sistem ini hanya untuk:

1. Pengeluaran yang bisa kita pastikan dan tetapkan

Yaitu pengeluaran yang bisa kita perkirakan sebulannya habis berapa. Contoh: pengeluaran belanja bulanan. Setelah setahunan berumah-tangga mestinya sudah bisa bikin daftar belanja bulanan yang bisa dipakai terus, sudah bisa memastikan habisnya berapa. Kalau toh perkiraan kita meleset, nggak terlalu jauh dan nggak terus-terusan meleset. Kalau sampai setahun terus-terusan mbleset berarti anggaran belanja bulanan kita harus dikoreksi dulu, daftar belanjaan harus direvisi dulu, kebiasaan belanja harus dirubah dulu, sebelum Sistem Amplop bisa efektif.

2. Pengeluaran yang sedikit-sedikit tapi terus-menerus, yang sifatnya harian atau mingguan

Pengeluaran seperti ini yang dapat manfaat paling besar dari Sistem Amplop. Yang keluarnya tiap hari atau sering baiknya kendalikan per minggu. Lebih gampang. Dana satu bulannya bagi lagi dalam 4-5 amplop sejumlah minggu dalam bulan itu.

Kalau mengendalikan per minggu masih juga selalu habis sebelum waktunya, coba kendalikan per hari, pakai amplop harian. Istri teman kerjaku menerapkan sistem amplop harian untuk suami dan anaknya. Satu amplop berlaku utk semua pengeluaran mereka selama satu hari (transport+jajan utk anaknya; bensin+parkir+makan siang+rokok utk suaminya).

3. Pengeluaran yang relatif bebas dari campur-tangan dan/atau penilaian orang

Pengeluaran yang bagi kita menyangkut harga diri bukan untuk Sistem Amplop. Begitu juga dengan pengeluaran yang “disetir” pihak luar. Malah bikin frustasi.

Pengeluaran apa yang termasuk dalam pengeluaran harga diri pastinya beda-beda di tiap keluarga. Ada yang di penampilan, ada yang di slametan/hajatan, macam-macam lah. Dalam kasus ini baiknya siapkan dana khusus di luar Dana Talangan. Begitu juga dengan pengeluaran yang “disetir” pihak luar.

Mestinya ada yang mbatin, “Gimana bisa punya dana khusus kalau nyisihkan penghasilan nggak bisa???

I get it.

Yang bisa kita lakukan adalah memastikan penghasilan tetap/gaji bisa nutup semua kebutuhan rumah tangga termasuk rekreasi dan selalu punya Dana Talangan 1-3 juta. Dengan begitu pemasukan selain gaji seperti uang tambahan yang masuknya dari kita, ceperan dan bonus tahunan suami, uang dikasih/hadiah dan uang warisan nggak habis terpakai untuk senang-senang, nutup butuh, nutup defisit atau ngelunasi hutang.

Alternatif lain adalah menjual harta benda atau menahan diri dari membeli aset atau berinvestasi. Kesehatan mental kita dan ketentraman rumah tangga lebih penting daripada harta-benda dan aset. Salurkan ke rekening Dana Taktis atau mungkin bisa juga disebut Dana Waras atau Dana Penangkal Gugatan Cerai.

Prinsipnya adalah kalau kita memang sangat kesulitan mengendalikan pengeluaran tertentu maka siapkan dana khusus, ambilkan dari pemasukan selain gaji, pengelolaannya harus terpisah dari belanja rumah tangga.

Akan tetapi yang menurutku lebih baik adalah duduk dan me-review orang-orang di sekeliling kita. Pastikan kita tidak dikelilingi (=bergaul rapat dengan) orang-orang yang tingkat penghasilannya di atas kita atau yang penghormatannya ke otonomi kita-suami memprihatinkan yang seringnya justru orang-orang terdekat seperti orang tua, mertua, adik-kakak dan ipar. Belajar lah menarik batas, bersikap tegas.

Kalau kita sudah dikelilingi orang-orang yang tingkat penghasilannya sama dengan kita atau bahkan di bawah kita, kita-suami independen dalam mengambil keputusan, tapi masih juga sangat kesulitan mengendalikan pengeluaran-pengeluaran tertentu, berarti harus duduk untuk merenungkan apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup ini.

Kalau amplopnya seperti ini, uang di dalamnya mungkin nggandhol kalau dikeluarkan. (Foto nyomot dari Pinterest)

Postingan ini kututup dengan pertanyaan:

Pernahkah menghitung berapa persen dari penghasilan tiap bulan yang kita siapkan untuk masa depan keluarga?

Master-Budget: Bagian II

Hasil brainstorming di Bagian I sesungguhnya hanyalah potongan-potongan kecil berserak dari potret keuangan kita. Seperti potongan puzzle. Nggak ada artinya, nggak nunjukkan apa-apa.

Untuk bisa dipakai “membaca” pola membelanjakan uang –yang nanti akan jadi pedoman kerja mempermak aliran keluar-masuk uang (itu termasuk mengoptimalkan pemasukan, mengendalikan pengeluaran dan menabung)– masih harus disusun dulu menjadi sebuah skema yang menunjukkan nilai-nilai hidup kita.

Pakai kategori pengeluaran kelas menengah kota di bawah ini sebagai bantuan nyusun kategori masing-masing. Definisi per kategori menurutku sudah cukup dijelaskan contoh. Yang merasa perlu uraian penjelasan per kategori, baca di sini.

Biaya Hidup

• Makan-minum • Cicilan rumah yang ditinggali atau uang kontrak atau uang kos • Listrik, air dan telepon • Iuran RT • Transportasi • Pakaian dan kelengkapannya • Perbaikan dan penggantian peralatan rumah-tangga • Perbaikan & renovasi rumah • Pajak, perawatan & perbaikan kendaraan

Gaya Hidup

• Hiburan • Makan di luar • Rekreasi • Liburan • TV kabel • Wifi • Gadget • Fashion & Kecantikan • Hobi & Koleksi • Hewan peliharaan

Kesehatan

• Dokter dan obat • Bidan, perawat, terapis • Layanan klinik/RS • Laboratorium • Vaksinasi/imunisasi • Pijat • Pengobatan alternatif • Obat bebas • Peralatan (kursi roda, pispot dll) • Setoran BPJS atau asuransi

Pendidikan & Pelatihan

• SPP • Iuran • Kursus/Training/Workshop/Seminar/Webinar • Ekskul • Antar-jemput sekolah • Alat & kelengkapan belajar • Buku

Pekerjaan/Penghasilan

• Transportasi • Makan siang • Pulsa & Paket data • Peralatan kerja • Pakaian kerja dan aksesorisnya

Sosial

• Hadiah • Sumbangan • Slametan/Hajatan/Perayaan • Lebaran (angpao, jamuan makan, kue kering, baju baru, mudik, halal-bihalal)

Komunitas/Organisasi

• Transportasi • Iuran anggota • Event • Fellowship (makan-makan, jalan-jalan, rekreasi, liburan bersama)

Agama & Filantrofi

• Membantu orang tua • Zakat, sedekah & infaq • Kurban & aqiqah • Tabungan haji/umrah

Tabungan/Investasi

• Dana Darurat • Tabungan Pendidikan Tinggi • Tabungan Modal Usaha • Tabungan Pensiun • Tabungan (untuk membeli) Aset

Harta-Benda

• Rumah (kalau >1) • Kendaraan (kalau >1) • Tanah • Harta-benda lain yang butuh tempat penyimpanan, perawatan dan perbaikan

Aku yakin ada banyak kategori lain yang nggak tercantum di situ.

Contoh.

Banyak orang yang butuh pertolongan dukun/habib/kyai seperti butuh pertolongan dokter. Aku bukannya nyamakan habib/kyai dengan dukun loh ya! Hanya saja pertolongan yang mereka berikan bisa dibedakan secara tegas dengan pertolongan dokter. Soal melibatkan kekuatan jin atau kekuatan doa orang saleh nggak kuperhitungkan di sini. Perlu kategori terpisah: Sistem Suport Supranatural.

Atau orang Jawa yang takut tertimpa bala kalau nggak melakoni ritual klenik atau slametan. Kalau tiap minggu nyiapkan sajen, sebulan sekali mandi kembang tengah malam, tiap weton kelahiran banca’an bubur merah, juga perlu kategori baru: Ritual Klenik.

Slametannya orang Jawa sangat banyak. Kalau dituruti semua harus dibuatkan kategori tersendiri, terpisah dari Sosial, karena biayanya besar. Butuh perencanaan khusus.

Masukkan satu demi satu pengeluaran dari hasil brainstorming kemarin ke kategori-kategori di atas. Di sini yang butuh kejelian.

Berikut 3 pointer yang harus diperhatikan ketika kita memilah-milah pengeluaran hasil brainstorming di Bagian I dalam kategori-kategori yang menunjukkan nilai hidup kita.

PERHITUNGKAN DAMPAK & KONTRIBUSINYA

Satu pengeluaran yang sama mungkin masuk dalam kategori yang berbeda, tergantung dampak/kontribusinya ke kesejahteraan.

Contoh.

Bagi yang suaminya kerja di luar pulau, pulsa dan paket data termasuk biaya hidup. Bagi yang punya toko online masukkan dalam pengeluaran pekerjaan/penghasilan. Tapi bagi yang memanfaatkan pulsa dan paket data untuk manjangkan silaturahim dengan keluarga besar, dengan teman lama, untuk bermedsos, masukkan dalam gaya hidup. Gimana dengan pecandu self-development sepertiku yang ngandalkan paket data untuk ngembangkan diri? Masukkan dalam pendidikan.

Contoh lain.

Perhatikan bahwa di contoh pengkategorian di atas, yang umum kita pandang sebagai kedermawanan kupisah dalam dua kategori yang berbeda. Yang membedakan adalah dampaknya. Kedermawanan yang tergolong dalam Agama/Filantrofi punya efek menguatkan diri secara spiritual sementara kedermawanan yang tergolong dalam Sosial punya efek membangun hubungan baik, menumbuhkan kasih sayang, mungkin juga meneguhkan status sosial ekonomi. Jadi untuk memutuskan umrah kita yang ke-3 kalinya ini masuk Agama/Filantrofi atau Sosial, cuma kita yang bisa mutusi. Kita yang tahu apa sejatinya yang kita harapkan dari umrah ke-3 kalinya ini. Kalau tujuannya untuk meneguhkan status sosial ekonomi, masukkan dalam kategori Sosial. Kalau yang kita harapkan adalah usaha/dagang yang makin maju, masuk kategori Tabungan/Investasi.

PERHITUNGKAN ARTI PENTINGNYA

Kalau ada dari sub-kategori yang kutulis di atas yang sangat penting atau khusus dalam konteks kita, jadikan kategori baru.

Contoh.

Yang menafkahi orang tuanya. Kalau yang kita bicarakan ini orang tua yang pensiun tanpa pemasukan + tinggal beda kota + tua dan sakit-sakitan jadi harus ada yang nunggu 24 jam + bolak-balik masuk RS, jadikan kategori baru yang terpisah, keluarkan dari agama & filantrofi.

Kenapa?

Pada prinsipnya kategori adalah satu keluarga besar pengeluaran yang kita perhitungkan secara khusus karena arti pentingnya bagi kita. Bisa ditekan dengan menghilangkan satu atau lebih sub-kategorinya tapi karena satu dan lain alasan nggak bisa kita hilangkan semua sekaligus tanpa perubahan radikal dalam kepribadian, dalam sistem nilai yang kita anut dan dalam menjalani hidup. Biasanya ditunjukkan oleh perubahan besar-besaran dalam lingkar sosial dan sphere of influence. Bayangkan perubahannya seseorang yang bergabung dengan gerakan bawah tanah. Se-radikal itu.

Implikasinya seperti ini. Kalau menafkahi orang tua kita masukkan kategori Agama/Filantrofi berarti kita tidak memandang orang tua sebagai tanggungan. Kita pandang sama dengan zakat, infaq, sedekah, kurban. Tapi begitu menafkahi orang tua kita jadikan kategori terpisah, kepala kita akan melihatnya sebagai sama pentingnya dengan pengeluaran Biaya hidup atau pengeluaran Pekerjaan/Penghasilan. Nge-set prioritasnya.

Kategori adalah sekelompok pengeluaran yang secara bersama-sama mempengaruhi kualitas hidup manusia secara fisik, sosial, emosional, intelektual atau spiritual sehingga butuh perencanaan-perhitungan seksama sedangkan sub-kategori (kalau dilihat sendiri-sendiri) nggak.

PERHITUNGKAN SECARA TERPERINCI

Lihat sub-sub kategori sebagai “keluarga besar pengeluaran”. Gabungan berbagai pengeluaran besar-kecil yang saling terkait atau punya hubungan sebab-akibat. Kalau ada pengeluaran X berarti harus siap dengan pengeluaran Y. Ada yang keterkaitannya langsung dan jelas selayaknya ibu-anak, ada yang sifatnya efek samping dan longgar seperti antar-sepupu atau antar-ipar. Contoh paling gampang: makan-minum.

Mari kita runut.

Kalau masak sendiri, untuk bisa makan harus belanja sembako, lauk-pauk, sayur-mayur, bumbu dapur dan gas. Yang punya anak kecil harus ekstra di buah dan jajanan. Kebanyakan orang kota minumnya beli air mineral. Yang belum dilayani PDAM, air buat masak harus beli juga. Yang suami-istri kerja atau punya anak bayi mungkin harus sering beli masakan jadi atau makan di luar (karena nggak sempat masak). Orang kota belanja sembakonya biasanya sebulan sekali di supermarket. Kalau ngajak anak harus siap dimintai makanan-minuman ringan. Mungkin makan di Food Court. Dan nggak mungkin cuma beli sembako kalau belanjanya di supermarket. Berapa orang yang bisa patuh membeli hanya yang tertulis di daftar belanjaannya? Atau mungkin harus kukoreksi: berapa banyak orang yang mau repot bikin daftar belanjaan dulu sebelum masuk supermarket? Maka sesungguhnya sub-kategori makan-minum masih harus dirinci lagi.

Contoh yang lebih kompleks.

Dalam sebulan almarhum ibuku di rumah induk di Sidoarjo selama 1-2 minggu. Sisanya dihabiskan di Pacet (di rumah yang sekarang kutinggali) dan di kampung halamannya. Praktis almarhum ibuku adalah anggota aktif 3 lingkungan tetangga. Mari kita lacak “keluarga besar” pengeluaran dari menjadi aktif di 3 lingkungan tetangga.

  1. Arisan RT dan buwuh mantenan di lingkungan tetangga 1
  2. Transportasi yang masih “beranak” lagi yaitu bensin, tol, upah supir, pengemis-pengamen dan berhenti makan di jalan.
  3. Makan dan jajan selama nginap di lingkungan tetangga 2 dan 3
  4. Buwuh/sumbangan mantenan, lahiran, sunatan, sakit, kematian di lingkungan tetangga 2 dan 3
  5. Jujugan hutangan (yang seringnya nggak dikembalikan) di lingkungan tetangga 2 dan 3
  6. Jujugan dagangan di lingkungan 1, 2 dan 3
  7. Oleh-oleh buat dibawa pulang
  8. Ketempatan arisan di lingkungan tetangga 1 paling nggak 2 tahun sekali
  9. Buka puasa bersama di lingkungan tetangga 2
  10. Reuni tahunan keluarga besar Mbahnya ibuku yang masih beranak lagi yaitu subsidi sewa mobil untuk transportasi saudara-saudara yang pingin datang dan biaya ketempatan sebagai tuan rumah paling nggak sekali dalam 10 tahun
  11. Kumpul-kumpul tahun baruan dengan saudara-saudara dari kampung halaman

Kalau kita perhatikan baik-baik, semua pengeluaran itu:

  • Nggak masuk dalam Biaya Hidup karena praktis 3/4 dari semua pengeluaran di atas otomatis hilang andai ibuku menghabiskan setahun penuh di satu lingkungan tetangga saja
  • Nggak masuk dalam Sosial karena –paling nggak dalam kasus ibuku– aktif di 3 lingkungan tetangga sekaligus adalah pilihan, bukan konsekwensi.
  • Nggak masuk dalam Agama/Filantrofi karena efek sosialnya jauh melampaui efek spiritualnya

Lebih tepat dimasukkan dalam kategori Gaya Hidup karena almarhum ibuku sangat menikmati memberi uang/makanan secara langsung ke orang yang dikenal, membeli dari orang-orang yang dikenal baik (campur nggak enak nolak), bepergian, dikelilingi keluarga besarnya di kampung halaman dan menghabiskan waktu di kawasan pegunungan. Sangat condong ke menyenangkan hati dan menyamankan hidup.

Contoh Penerapan Menyusun Pengeluaran Dalam Kategori

Di Bagian I ku-brainstorm pengeluaran suamiku dengan asumsi dia masih lajang. Di bagian ini daftar pengeluaran hasil brainstorm kemarin jadi seperti ini.

Biaya Hidup

  • Uang kos
  • Pulsa & paket data
  • Toiletries
  • Makan-minum
  • Pakaian & kelengkapannya
  • Bensin
  • Perawatan rutin motor
  • Servis & spare-part motor
  • Pajak motor
  • Perpanjangan STNK & SIM

Gaya Hidup

  • Jajan
  • Jalan-makan dengan teman
  • Tabungan mobil
  • Tabungan home-theater
  • Jalan-jalan ke luar kota sekeluarga (sewa mobil, bensin-tol-parkir, akomodasi, makan)

Kesehatan

  • Obat bebas

Sosial

  • Uang bulanan untuk kebutuhan ibunya
  • Buwuh/sumbangan
  • Tiket bis pulang-pergi nengok orang tua
  • Ngasih adik, mas dan ponakan
  • Uang tip untuk penjaga ibunya
  • Oleh-oleh

Agama & Filantrofi

  • Zakat fitrah

Catatan: Dokter, obat dokter dan layanan RS nggak ada di situ karena ditanggung perusahaan.

Alasanku memakai suamiku sebagai contoh kasus adalah karena orang-orang seperti suamiku lah yang merasakan manfaat segera dari Master-Budget.

  • betul-betul nggak tahu uangnya kepakai buat apa
  • 100% uangnya habis untuk yang nggak berupa
  • berapapun yang didapat, habis, nyaris saat itu juga
  • bisa menjaga diri dari hutang tapi nggak pernah bisa menyisihkan
  • nggak pernah bisa membiayai segala-sesuatu yang butuh biaya lebih dari 1/3 gaji berapapun gajinya

Karena itulah semua yang butuh nabung/nyisihkan penghasilan kutulis dalam huruf tebal.

Dalam kasus suamiku, uang bulanan untuk kebutuhan ibunya akan kukategorikan sebagai Biaya Hidup kalau dia tinggal serumah dengan ibunya (otomatis menjadikan ibunya sebagai tanggungan) atau kalau didorong oleh rasa tanggung-jawab sebagai anak laki-laki. Di sini kukategorikan sebagai Sosial karena berangkatnya dari rasa sayang-kasihan ke adik perempuan yang merawat ibunya. Nggak kukategorikan Agama/Filantrofi karena ibunya selain nggak punya pemasukan juga kondisinya nggak memungkinkan untuk hidup sendiri karena itu terhitung sebagai tanggungan.

Kejelian seperti ini perlu kalau tujuan kita dengan Master-Budget adalah mempermak keuangan yang akan kubahas di Bagian IV sekaligus terakhir.

Di bagian IV nanti akan kupakai diriku sendiri semasa gadis sebagai contoh. Karena dalam kasusku, tanpa Master-Budget pun selalu bisa menyisihkan penghasilan. Untuk non-PNS, khususnya yang penghasilannya tidak tetap, Master-Budget berfungsi sebagai peta membangun hidup.

Bagian berikutnya belum masuk ke mempermak. Masih di bagaimana menggunakan Master-Budget untuk mengoptimalkan uang kita.

Yang masih sangat bingung, bisa kirim hasil brainstorming pengeluarannya ke emailku mz_newconcept@yahoo.com. Kubantu nyusun kategorinya.

Master-Budget: Bagian I

Aku bersaksi:

Beda sekali output antara ngatur penghasilan untuk pengeluaran sebulan dengan ngatur penghasilan untuk pengeluaran setahun.

Postingan ini adalah follow-up dari Tantangan Rajin Mencatat di Instagram. Kubuat berdasarkan pengalaman pribadi 2 tahun ini khusus untuk mereka yang niat memperbaiki keuangan rumah tangganya tanpa nambah penghasilan. Paling nggak bukan nambah secara dramatis.

Langsung aja.

Cara Membuat Master-Budget

Langkah#1: Tuliskan semua pengeluaran yang bisa kita pastikan setiap bulan atau hampir setiap bulan

Pikirkan semua pengeluaran yang harus kita siapkan sebulan sekali, seminggu sekali dan setiap hari. Contoh: tagihan bulanan seperti langganan antar-jemput sekolah anak, acara mingguan nge-mal sekeluarga lalu makan di Food Court dan beli air mineral untuk minum-masak. Kebanyakan orang ketika ditanya soal pengeluaran hanya memperhitungkan pengeluaran golongan ini.

Berpikirlah sedikit lebih keras ketika menuliskan semua pengeluaran yang berdasar pengalaman selama ini keluarnya hampir setiap bulan. Biasanya pengeluaran non-tagihan dan sangat dipengaruhi kepribadian masing-masing orang. Lihat daftar yang kubuat di sini untuk membantu brainstorming.

Langkah#2: Tuliskan semua pengeluaran yang terjadwal setahun satu atau beberapa kali

Pikirkan semua pengeluaran yang tanggal dan/atau berapanya bisa kita pastikan jauh-jauh hari. Dalam kasusku:

  • Pajak mobil dan motor
  • PBB
  • Iuran Agustusan
  • Lebaran

Perpanjangan SIM-STNK masukkan di sini. Meski nggak tiap tahun butuh, tanggal butuhnya bisa kita pastikan sejak 5 tahun sebelumnya. Atau biaya masuk TK/SD/SMP/SMA. Begitu juga dengan pengeluaran hajatan yang lazim seperti:

  • Pesta ultah anak
  • Sunatan
  • Khataman
  • 1001 slametannya orang Jawa (kecuali Tahlilan 1-7 Hari & 40 Hari)

Mestinya bisa kita pastikan paling nggak beberapa bulan sebelumnya kan? Baik sebagai pihak yang punya hajat maupun sebagai kerabat dekat yang punya hajat. Pengeluaran biasanya ekstra di hajatannya saudara. Ngasihnya, kontribusinya, biasanya lebih dibanding ketika diundang orang-orang yang nggak punya pertalian khusus dengan kita.

Contoh pengeluaran lain yang bisa dipastikan sekian bulan sebelumnya:

  • Melahirkan & kebutuhannya
  • Perlengkapan bayi
  • Kebutuhan tahun ajaran baru

Langkah#3: Tuliskan semua pengeluaran yang tidak terjadwal tapi bisa kita pastikan setahun paling sedikit sekali

Ini yang biasanya luput. Pikir baik-baik semua pengeluaran yang berdasar

(i) pengalaman
(ii) akal sehat

bisa dipastikan butuhnya (kalau kaget berarti kecerdasan kurang) paling sedikit setahun sekali meski bulan apa dan berapanya nggak bisa kita pastikan. Contohnya banyak.

Satu: Yang punya mobil dan motor harus siap uang perawatan (ganti oli dan filter oli) dan perbaikan. Kalau toh pegangan kita mobil keluaran terbaru yang kecil kemungkinannya masuk bengkel karena mogok, jangan terlalu yakin. Beret? Penyok? Lampu pecah karena nyundul? Ban sobek? Tilang? Jangan nunggu kejadian baru nyiapkan uangnya.

Dua: Aku pingin kenal keluarga yang nggak pernah sekalipun dalam setahun nggak butuh dokter. Keluarga yang menanggung anak kecil dan lansia harus ngitung layanan rumah sakit dan laboratorium. Jangan nunggu sakit dulu, pingsan dulu, kejang dulu baru mikir dananya.

Tiga: Ada peralatan rumah tangga yang kalau rusak bikin hidup kacau. Yang masak sendiri untuk makan tiap hari: kompor gas. Yang rumahnya di perumahan baru di kawasan coret: motor buat mama, kulkas dan pompa air. Yang kerjanya online: laptop, smartphone, peranti Wifi, printer. Yang punya anak bayi: mesin cuci. Yang hidup di kawasan sumuk seperti Surabaya: AC dan kipas angin. Harus siap uang untuk perbaikan dan ganti baru. Jangan nunggu rusak dan bejat untuk nyiapkan dananya.

Empat: Yang tinggalnya di rumah murah dan rumah tua harus siap anggaran perbaikan kecil yang bisa diatasi sendiri atau yang butuh tukang. Misal:

  • Konslet
  • Pipa bocor
  • Genteng atau plafon bocor
  • Gagang pintu lepas
  • Kayu keropos
  • Bak mandi ngerembes
  • Lantai keramik ngembung
  • Tembok rontok
  • Pasang pagar
  • Bikin garasi, dapur atau nambah kamar
  • Ngecat
  • Paving

Langkah#4: Tuliskan semua yang ingin kita beli atau biayai yang butuh kurang dari sebulan gaji

Pikirkan keinginan yang relatif terjangkau, yang nggak butuh biaya besar. Fokus di keinginan, bukan kebutuhan. Semua yang tergolong kebutuhan mestinya sudah tercover di Langkah#1 sampai 3. Nggak usah bingung dengan cukup nggak cukupnya gaji. Juga jangan pusing harus nganggarkan berapa-berapanya. Di tahap ini tujuan kita adalah punya gambaran tertulis akan semua pengeluaran yang penting bagi kita. Biar mata dan pikiran mbuka.

Contoh: bagi keluarga yang tiap tahun merayakan ulang tahun anak, dana pesta ultah mestinya sudah ketulis di Langkah#2. Bagi keluargaku yang nggak ikut kelaziman itu tapi pingin bikin syukuran tuntasnya proses adopsi Rafi yang dipaskan dengan ulang tahun ke-3, nuliskannya di langkah ini.

Contoh lain: anak yang masuk usia belasan minta dibelikan motor. DP motor baru atau beli motor bekas tunai mestinya bisa dengan dana sebulan gaji. Atau minta dibelikan gadget. Atau kita sendiri yang pingin punya laptop baru sekaligus printer. Sebagai pengurus RT sesekali butuh buat ngetik surat undangan acara RT mungkin. Biar nggak perlu ke warnet.

Langkah#5: Tuliskan semua yang ingin kita beli atau biayai yang butuh nabung lebih dari setahun

Ini mungkin harus ekstra mikirnya karena pada umumnya karyawan sangat terbiasa dengan pola pengaturan jangka pendek “penghasilan bulan-ini-buat-pengeluaran-bulan-ini“, nggak terlatih mikir dalam jangka panjang. Mungkin juga nggak berani mikir jauh-jauh karena merasa nggak bisa nabung.

Ini mungkin bisa ngasih ide:

  • DP rumah
  • Mobil
  • Kuliah pasca-sarjana
  • Naik haji/umrah
  • Kurban sapi
  • Tabungan pensiun
  • Modal buka toko
  • Tanah kavling
  • Uang masuk universitas anak
  • Keliling Eropa (baiklah, contoh ini agak kemaruk untuk penghasilan <10 juta)

Jangan takut nuliskan cita-cita yang sekarang ini mungkin terasa sangat pungguk merindukan bulan. Sekali lagi:

Tujuan kita mbuka mata dan pikiran, mengeluarkan semua yang kita pahami tentang uang kita yang selama ini adanya sepotong-sepotong di pikiran dan yang terpendam di angan.

Jangan takut nuliskan impian di Langkah#4 dan 5. Bisa jadi titik awal mempermak keuangan. Ini dapur impianku. (Foto: DeVol Kitchens)

Buat contoh. Coba tanyakan ke suamiku apa aja pengeluarannya. Yang bisa kupastikan akan dia sebut:

(i) makan
(ii) bensin

Karena dua itu yang paling sering dia bayar jadi di memorinya ada di dua urutan teratas. Karena njawabnya modal catatan mental, cuma dua itu yang kehitung. Bandingkan dengan hasil brainstorming berdasarkan 5 langkah di atas.

Pengeluaran suami, operator forklift yang nge-kos di Surabaya dengan asumsi dia masih lajang:

Langkah#1

  • Uang bulanan utk kebutuhan ibunya
  • Uang kos
  • Pulsa & paket data
  • Toiletries
  • Makan-minum
  • Jajan
  • Bensin
  • Tolak Angin, minyak angin & balsem
  • Tiket bis pulang-pergi Probolinggo
  • Buwuh/sumbangan
  • Oleh-oleh
  • Jalan-makan dengan teman

Langkah#2

  • Pajak motor
  • Perpanjangan STNK
  • Perpanjangan SIM
  • Zakat fitrah

Langkah#3

  • Ganti oli motor
  • Servis motor & ganti spare-part
  • Pakaian & kelengkapannya
  • Bantu adik dan masnya
  • Ngasih penunggu ibunya
  • Dokter dan obat dokter

Langkah#4

  • Home theater
  • Traveling ngajak ibu, adik dan keluarga masnya

Langkah#5

  • Mobil

Banyak kan? Utuh mungkin lebih tepat.

Sekarang, apa yang akan kita lakukan dengan semua pengeluaran yang tertulis di kertas di hadapan kita ini?

Jawabannya kusimpan untuk Bagian II. Baiknya kucicil karena kalau kujlentrehkan dalam satu postingan akan terasa sangat rumit.

Seperti yang kubilang di Tantangan Rajin Mencatat, bikin Master-Budget harus didahului dengan biasa mencatat pengeluaran.

Bagi yang masih sering bingung sendiri uangnya habis kepakai buat apa aja, pasti terasa sangat sulit.

Harus terbiasa dulu dengan budgeting di level yang lebih sederhana: melacak pengeluaran dan bikin anggaran bulanan. Semua kujelaskan lengkap di Tahap 1-4 Tantangan Rajin Mencatat di Instagram. Cari dengan hashtag #TantanganRajinMencatat.

Jangan sungkan tanya-tanya.

Cara Bikin Anggaran Demi Program Menabung Agresif

Mungkin lebih tepatnya Cara Bikin Anggaran Demi Program Menabung Agresif Karena Kepepet.

Contoh: sama adik-kakak dikasih waktu setahun ngumpulkan 25 juta buat nyusuk’i rumah warisan yang kita tempati. Kita nggak punya tabungan sama sekali. Selama ini nggak pernah bisa nabung. Tapi kalau kesempatan ini nggak kita ambil, adik-kakak sepakat menjualnya ke orang lain dengan harga pasar, uangnya dibagi. Uang bagian kita nggak akan cukup buat beli rumah lain tunai. Jadi ceritanya ini kesempatan sekali seumur hidup. Kesana-kemari cari hutangan, nggak ada yang mau minjami. Contoh loh ya. Karena sangat sulit menjalankan anggaran satu ini kalau nggak kepepet.

Yang akan kubagi di sini merupakan hasil adaptasi cara bikin anggaran demi melunasi hutang dalam waktu sesingkat-singkatnya yang kupelajari dari Dave Ramsey. Di akhir postingan ini akan kurinci kondisi-kondisi yang mendukung keberhasilannya. Tanpa kondisi-kondisi itu baiknya nggak coba-coba.

Langkah 1: Mulai dengan 4 kebutuhan pokok yaitu Pangan, Papan, Transportasi & Sandang

Empat itu yang harus dianggarkan duluan, dalam urutan yang kutulis, sebelum yang lain-lain. Tentu saja kita harus memastikan angka yang kita anggarkan untuk masing-masing pos pengeluaran ada di titik terendah yang mungkin.

1. Pangan

Masak sendiri. Batasi sumber protein di tahu, tempe, telur dan mungkin ayam. Berhenti makan-jajan di luar atau beli masakan-jajanan jadi. Hindari bahan masakan yang sudah diproses seperti jagung kalengan yang harganya lebih mahal dibanding jagung mentah. Berhenti bikin acara makan-makan atau nraktir.

Yang kerja dan selama ini makan siang di luar, kalau memungkinkan bawa bekal makan siang dari rumah. Begitu juga yang punya anak usia sekolah. Lebih bagus kalau makan dan jajannya di sekolah bawa sendiri dari rumah.

Yang harus minum air mineral, ganti ke air isi ulang. Bikin teh-kopi pakai air keran. Masak juga dengan air keran.

2. Papan

Yaitu cicilan rumah/kontrak/kos, listrik, air & pulsa-paket data.

Masukkan iuran-iuran yang berhubungan dengan operasional rumah seperti tarikan sampah di sini.

Semua tagihan bulanan lain seperti koneksi Internet, TV kabel, layanan telepon pascabayar dll, selama tidak berhubungan langsung dengan kegiatan menghasilkan uang, hentikan.

Smartphone cukup satu untuk sekeluarga. Kalau sudah terlanjur istri pegang sendiri, anak pegang sendiri, “tidurkan” dulu untuk mangkas pengeluaran paket data. Berhenti dulu bermedsos, ber-YouTube dan mengunduh-mengunggah yang nggak berhubungan langsung dengan pekerjaan. Pulsa dan paket data batasi untuk keperluan berkomunikasi via telepon, WhatsApp dan email.

AC-nya libur dulu, ganti dengan kipas angin.

Ada satu keluarga yang ditampilkan di The Dave Ramsey Show yang sampai mutus aliran listrik!

3. Transportasi

Hanya yang berhubungan dengan bepergian demi menghasilkan uang seperti pulang-pergi kerja dan bepergian yang berhubungan dengan bertahan hidup seperti belanja buat masak sendiri buat makan buat tetap hidup.

Kalau bisa beralih ke yang lebih rendah biayanya lebih bagus: motor lebih murah dari mobil, komuter dan bis kota mungkin lebih murah dari motor, bersepeda dan jalan kaki lebih murah dari semuanya.

Yang punya anak usia sekolah, transportasi pulang-pergi sekolah masukkan sini.

Acara jalan-jalan dan rekreasinya libur dulu.

Jangan mikir terlalu panjang untuk menjual mobil/motor yang banyak nganggurnya. Kusuruh bapakku jual mobil Starlet tua peganganku. Mempertahankan 3 mobil = 3 x (pajak + perawatan + perbaikan).

4. Sandang

Yang nggak punya anak kecil sepertinya nggak perlu menganggarkan sandang. Untuk sementara bertahan dulu dengan yang ada. Kecuali artis atau figur publik, normalnya orang bisa menjalani hidup dengan baju dan kelengkapan yang sudah ada di lemari sampai lebih dari setahun.

Mereka yang punya anak usia sekolah, pos pengeluaran sandang ini ganti dengan Keperluan Sekolah. Batasi diri di yang nggak bisa dihilangkan seperti SPP, beli baju seragam dan sepatu yang kekecilan, beli tas yang jebol.

Kegiatan sekolah yang sifatnya nggak wajib seperti les dan ekskul khususnya yang biayanya besar, selama nggak mengkompromikan semangat bersekolah anak, libur dulu.

5. Semua pengeluaran lain yang perlu atau wajib

Nggak ada ukuran mutlak untuk pengeluaran lain yang perlu dan wajib ini. Sepenuhnya tergantung konteks kita dan rumah tangga kita. Jadi silakan masukkan pengeluaran yang nggak disebut di atas. Sebisa mungkin pastikan pengeluaran itu sungguhan membantu kita menabung. Dalam kasusku ART part-time.

Tanpa ART, aku nggak bisa nekan biaya makan. Pasti sering beli masakan jadi dan makan mi instan. Badan dan otakku sudah terlalu capek karena momong, nyapu-ngepel dan cuci-setrika baju. Aku tahu batasku: sanggup lihat barang gemlethak tapi nggak sanggup lihat lantai kotor; sanggup pakai satu daster buat sehari-semalam, 2 hari pun sanggup karena Pacet nggak bikin keringetan seperti Surabaya, tapi nggak sanggup pakai atau lihat daster nggak disetrika.

Memberhentikan Mbak Dama dalam kasusku nggak sama dengan menghemat 550 ribu. Akhirnya kepakai juga buat beli masakan jadi dan laundry baju belum senewennya (aku jadi super cranky kalau kecapekan).

Contoh lain: kalau kita bisa menghasilkan uang tambahan dengan smartphone+paket data, tentu saja 100% oke berlangganan koneksi internet super cepat. Pastikan aja uang tambahan yg kita hasilkan bukan cuma bisa nutup uang yang keluar buat beli smartphone, biaya abonemen koneksi internet dan pengeluaran modal lainnya, tapi betulan menghasilkan laba.

Terakhir, sama sekali tidak tertutup kemungkinan ada pengeluaran-pengeluaran yang mungkin nggak membantu kita menabung tapi menghilangkannya juga nggak mungkin. Contoh: menafkahi orang tua yang pensiun tanpa penghasilan, patungan dengan adik-kakak.

Kalau ini diterapkan di rumah-tanggaku, anggaranku jadinya seperti ini:

Januari 2019

Gaji suami: 6.5 juta

1. Makan: 1.675 juta (Makan suami dan keperluan pribadinya di Surabaya ditanggung uang ceperannya)

  • Sembako, toiletries & produk pembersih: 200 ribu
  • Susu & popok Rafi: 1 juta
  • Gas: 75 ribu
  • Lauk-pauk: 400 ribu

2. Papan: 500 ribu

  • Listrik: 300 ribu
  • Air: 40 ribu
  • Pulsa & paket dataku: 100 ribu (pulsa dan paket data suami ditanggung uang ceperannya)
  • Iuran sampah: 10 ribu

3. Transportasi (Ini bisa kukosongkan karena aku nggak kerja. Transportasi suami ditanggung uang ceperannya.)

4. Sandang (Ini juga bisa kukosongkan karena hampir 95% baju Rafi dapat lungsuran atau dikasih. Aku sendiri sudah >2 tahun cukup dengan yang ada di lemari mengingat aku dah nggak kerja. Beli-beli bajuku, Rafi dan suami hanya untuk keperluan khusus yang belum tentu setahun sekali. Kuserahkan ke THR dan Dana Talangan.)

5. Pengeluaran Wajib & Perlu: 2 juta

  • Mbak Dama: 550 ribu
  • Orang tua: 750 ribu
  • Asuransi: 700 ribu

Sisa Gaji: 2.375 juta

Yang penghasilan per bulannya setara dengan 520 kg beras terhitung wajib membayar zakat penghasilan. Hitung di sini. Ambilkan 2.5% dari penghasilan setelah dikurangi kebutuhan pokok Pangan, Papan, Transportasi dan Sandang. Kurangkan juga hutang kalau ada. Kalau bingung nentukan mana yang tergolong kebutuhan pokok atau bukan, bingung cicilan rumah yang kita kontrakkan, cicilan kartu kredit buat jalan-jalan dihitung hutang atau bukan, ya ambil jalan aman aja, potongkan 2.5% dari 100% penghasilan. Akan tetapi itu lebih karena prinsip kehati-hatian bukan karena memang harus dihitung dari 100% penghasilan. Semua jenis zakat memperhitungkan porsi yang diperlukan untuk men-sustain kemampuan si wajib zakat membayar zakatnya. Titik nol-nya nggak sama dengan titik nol matematika. Atau tanyakan lah ke yang lebih tahu. Pesanku cuma: jangan takut kurang karena zakat. Tunaikan meski kita merasa sangat sempit.

Diterapkan ke rumah tanggaku:

6. Zakat Profesi: (6.5 – 2.125) juta × 2.5% = 110 ribu

Langkah#2: Setelah 4 kebutuhan dasar untuk bertahan hidup selama sebulan dan pengeluaran wajib-perlu (bagi kita) terpenuhi, anggarkan Dana Talangan

Ini bukan tabungan. Ini uang cadangan untuk jaga-jaga. Kita harus siap dengan pengeluaran-pengeluaran yang datangnya satu-beberapa kali dalam setahun atau sewaktu-waktu yang harus segera dibayar. Contohnya banyak: ganti oli dan perbaikan kendaraan yang kita pakai kerja, berobat, memperbaiki kompor gas, ganti pipa air yang bocor dan sebagainya.

Soal berapa yang harus kita siapkan untuk Dana Talangan, nggak ada angka yang pasti. Yang jelas nggak usah banyak-banyak. Dave Ramsey netapkan angka USD1,000. Di Amerika sana penghasilan USD1,000 per bulan tergolong miskin. Jadi mestinya kurang dari sebulan gaji.

Menurutku 3 juta atau bahkan separuhnya cukup. Prinsipnya adalah: pastikan Dana Talangan kita selalu di angka 1.5 juta atau 3 juta. Tergantung mana yang aman di rumah tangga kita (Dana Talangan 1.5 juta jelas nggak cukup bagi yang punya mobil). Begitu terpakai 500 ribu untuk berobat misalnya, segera tutup. Andai seminggu setelah kepakai kita ada rizki lebih 300 ribu, pakai buat nutup. Jangan dipasrahkan ke gajian bulan depan lantas yang rizki lebih 300 ribunya buat rekreasi.

Intinya: Dana Talangan ini saldonya cukup sepertiga sampai separuh gaji, nggak usah terus-terusan ditambah, tapi harus dijadikan prioritas untuk dikembalikan ke saldo awal begitu kepakai meski cuma kepakai 100 ribu. Ini bukan soal berapa-berapanya. Ini soal kemampuan nge-set prioritas. Keseluruhan program menabung kita tergantung sama kemampuan ini.

7. Dana Talangan: 6.5 – (4.125 + 110) = 2.165 juta

Sisa Gaji: habis

Langkah#3: Alokasikan semua sisa penghasilan (setelah dikurangi semua yang tertulis sebelum ini) untuk tabungan

Dalam kasusku, karena Dana Talangan 2.165 juta sudah cukup, bulan berikutnya bisa langsung nabung. Tapi seandainya saldo Dana Talangan masih dirasa kurang (paling sedikit sepertiga gaji), tunggu sampai Dana Talangan ada di titik aman sebelum mulai menabung. Salah satu cara mempercepatnya adalah menyalurkan sebanyak dan sesegera mungkin uang-uang ekstra selain gaji (uang tambahan, uang dikasih, uang warisan dll) untuk Dana Talangan dan kemudian tabungan.

Andai kita harus menabung untuk lebih dari satu tujuan sekaligus, urutkan. Yang paling efektif adalah mengurut berdasar jumlah yang harus kita kumpulkan per tabungannya. Urut dari yang paling kecil ke yang paling besar. Misal aku harus nabung untuk DP rumah dan uang masuk TK Rafi secara bersamaan, urutan prioritasnya jadi:

8. Tabungan

  • Tabungan Uang Masuk TK (target: 7.5 juta)
  • Tabungan DP Rumah (target: 75 juta)

Dari perincian pengeluaran di atas, selama Dana Talangan bisa kupertahankan di angka 2 juta, tiap bulan mestinya bisa nyisihkan 2.165 juta kan. Angka itu bagi jadi dua bagian (tergantung jumlah tabungan). Sebelah sini yang tricky karena harus berapa-berapanya nggak ada patokan pasti. Yang jelas:

1. Usahakan tabungan yang jadi prioritas segera ngumpul dalam waktu sesingkat-singkatnya supaya kita termotivasi untuk “membantai” tujuan nabung berikutnya.

2. Begitu tabungan prioritas genap, uang yang tadinya kita pakai untuk setoran tabungan prioritas tambahkan ke setoran tabungan di bawahnya, jangan dipakai melonggarkan anggaran.

Aku akan bagi 2.165 juta itu jadi 1.5 juta untuk tabungan uang masuk TK (supaya bisa selesai dalam 5 bulan), sisanya yang 765 ribu masuk tabungan DP rumah.

Semua uang ekstra yang kudapat selama 5 bulan itu langsung kumasukkan tabungan uang masuk TK. Kenapa? Supaya selesai dalam waktu kurang dari 5 bulan. Kenapa? Karena begitu kita tahu kita bisa “membantai” perasaan sulitnya menabung yang bercokol di pikiran kita selama ini, ada semacam ledakan energi yang bikin kita merasa sanggup mendaki gunung menyebrang laut. Karena itu sangat, sangat, sangat kusarankan memulai dengan tabungan yang untuk sampai target nggak butuh tahunan.

Oke, sekarang gimana kalau kasusnya seperti nyusuk’i rumah warisan di atas? Cuma butuh satu tabungan tapi waktunya pendek.

Bagi dalam target 3-4 bulanan. Jangan dibagi sama rata. Makin ke belakang buat jadi makin besar. Contoh:

Trimester I: 4 juta
Trimester II: 6 juta
Trimester III: 7.5 juta
Trimester IV: 7.5 juta

Balik lagi ke tabungan uang masuk TK dan tabungan DP rumah. Di bulan Pebruari setorannya:

Peb 2019

Tabungan

  • Uang masuk TK: (1.5 juta/bulan + semua uang ekstra)
  • DP rumah: 765 ribu

Anggap aja tabungan uang masuk TK genap di bulan ke-4, maka anggaran tabungan per bulan Juni jadinya:

Jun 2019

Tabungan

• DP rumah: (765 ribu + 1.5 juta + semua uang ekstra)

Andai di bulan Juni saldo Dana Talangan kepakai bersih, jadikan Dana Talangan prioritas di bulan berikutnya. Seperti ini:

Jul 2019

7. Dana Talangan: (1.5 juta + semua uang ekstra)

8. Tabungan DP rumah: 765 ribu

Ini hanya ilustrasi. Bukan harga mati. Jangan ragu bikin penyesuaian yang perlu selama nggak menentang prinsip-prinsip berikut:

1. Hilangkan (untuk sementara) semua pengeluaran yang tidak berhubungan langsung dengan bertahan hidup dan mencari nafkah dan/atau uang tambahan. Iya, harus muka tembok memang.

2. Untuk semua pengeluaran yang nggak mungkin kita hilangkan, bawa ke titik terendah yang mungkin. Sama, butuh kekuatan mental.

3. Pastikan kita punya Dana Talangan sebelum mulai menabung.

4. Pertahankan saldo Dana Talangan di titik aman. Segera ganti begitu terpakai sebagian. Jangan ragu mem-pause program menabung jika memang perlu demi secepatnya mengembalikan saldo Dana Talangan ke titik aman.

5. Kalau harus menabung untuk lebih dari satu tujuan, bikin prioritas berdasar jumlahnya. Dulukan yang lebih kecil sembari tetap menabung untuk yang lain-lain. Selama uang dan target waktunya memungkinkan, nggak perlu digilir, satu selesai baru menabung untuk yg berikutnya. Tapi pastikan tabungan yg jadi prioritas dapat setoran paling besar+semua uang ekstra.

6. Setelah satu tabungan selesai, uang yang tadinya buat setoran tambahkan ke tabungan berikutnya. Jangan dipakai melonggarkan anggaran. Jadi makin ke sana, setoran tabungan kita makin besar. Ini yang namanya Teknik Bola Salju.

Jadi kapan kita bisa melonggarkan anggaran?

Mestinya ya setelah tujuan bersoro-soro ini tercapai. Dalam kasusku ya begitu DP rumah ngumpul. Dalam kasus nyusuk’i rumah warisan ya setelah 25 jutanya ngumpul.

Akan tetapi, ini bukan cuma aku yang bilang, semua orang yang pernah mencoba menurunkan gaya hidupnya ke tingkat basic demi memperbaiki keuangan dan berhasil:

pasti berubah luar-dalam. Nggak akan betul-betul bisa kembali ke pola pengeluaran yang lama, nggak mau kembali ke gaya hidup yang lama.

Kujamin. Because we’ve known better. Ada yang berubah di tingkatan yang paling dasar dan mendalam. Hampir seperti perjalanan spiritual. Aku nulis sampai tanganku kram pun yang belum pernah ngerasakan nggak akan paham. Harus ngalami sendiri.

Sekarang, kondisi apa yang harus ada supaya budgeting mencekik leher yang kugambarkan di atas bisa berhasil (karena ada juga yang malah bikin suami-istri cerai):

1. Kepepet. Ini bukan sesuatu yang bisa kita lakukan dengan senang hati atau karena penasaran atau karena tertantang atau demi membuktikan diri. Lupakan! Cari tantangan lain. Banyak cara lain untuk membuktikan diri. Jangan edan.

2. Bukan untuk dilakoni dalam jangka waktu lama. Dari segitu banyak contoh kasus di The Dave Ramsey Show dan #debtfreecommunity, nggak ada satu pun yang lewat dari 5 tahun. Yang berhasil adalah yang tuntas dalam waktu 2-4 tahun sebesar apapun hutangnya. Karena nggak cuma modal muka tembok wani soro nekan pengeluaran. Itu cuma titik awal. Begitu kita “membantai” satu demi satu tujuan, seperti orang kesetanan. Ada yang rumahnya dijual, pindah ke rumah lebih kecil. Mobilnya dijual, ganti mobil bekas. Barang-barang nganggurnya dijual. Semua kesempatan lembur diambil. Sudah kerja full-time masih lagi nambah sampai 2 kerja part-time. Ini yang kumaksud dengan ledakan energi tadi.

3. Harus dapat kerjasama penuh suami atau istri. Ini bukan sesuatu yang bisa kita jalani sendiri. Lebih bagus kalau anak-anak bisa diajak ngerti. Tetap bisa jalan tanpa kesukarelaan mereka meski bagi kita orang tua rasanya mungkin ibarat mencabuti kuku sendiri. Tapi mustahil tanpa kerjasama penuh suami atau istri. Titik. Kalau memang sulit dapat kerjasama pasangan, saranku, jangan putus berdoa sambil tetap melakukan yang kita bisa.

4. Kita punya support group. Komunitas Instagram, grup Facebook, anything. Jangan dihadapi sendirian. Cari orang-orang yang dalam perjuangan yang sama. Meski ketemunya cuma di dunia maya tetap sangat berarti di perjalanan ikan Salmon berenang melawan arus seperti ini.

Selama mental dan tubuh sehat, udara yang kita hirup bersih, air bersih tinggal ambil, ada yang dimakan, bisa tidur nyenyak nggak perlu takut tengah malam pintu didobrak orang-orang bersenjata, suami kita diseret, yang perempuan diperkosa, sesungguhnya semua yang penting dan berarti dalam hidup ini sudah di genggaman.

Baiklah, sudah panjang. Aku merasa sudah melakukan semua yang kubisa untuk ngasih gambaran yang sesederhana mungkin dan penjelasan yang segamblang mungkin. Tapi kurasa masih harus dibaca berulang-kali untuk paham. Ya sudahlah, yang jelas jangan sungkan untuk tanya. Kujawab sebisaku asal mau nunggu. Kadang aku butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa ngasih jawaban yang mengena, yang bukan asal respon. Mikirnya yang lama.

Oh ya, apa butuh format/template khusus untuk bikin anggaran ini? Menurutku nggak. Kubikinkan template sederhana tapi nyusul. Informasinya dulu yang ku-publish. Informasinya yang penting.

6 Prinsip Menabung Efektif

Yang terus-terusan menabung tapi uangnya nggak pernah bisa ngumpul, ngacung?

Aku cari teman.

Capek kan? I’m a saver. Sejak belum kerja pun, kalau dikasih uang Ayah atau saudara, kusimpan. Herannya, meski selalu bisa menyisihkan sebagian dari uang yang kudapat, nggak pernah bisa ngumpul. Makin sulit setelah berumah-tangga. Awal bulan nyisihkan, akhir bulan terpakai. Bulan ini nyisihkan, bulan depan terpakai. Sebelum kita sampai di titik putus asa lalu menyerah dan memutuskan hidup bagai batang pisang kintir di kali yang penting sehat uang bisa dicari, mari kita review beberapa prinsip menabung dulu. Menyisihkan sebagian dari penghasilan itu hukumnya wajib begitu berumah-tangga.

Prinsip#1: Sisihkan dulu baru belanjakan

Jangan menunggu sisa gaji di akhir bulan untuk ditabungkan. Kalau masih lajang aja penghasilan nggak pernah bisa nyisa apalagi setelah berumah-tangga? Biaya yang harus kita tanggung bertambah secara berpangkat setelah berumah-tangga; ngontrak rumah, melahirkan, motor rusak, genteng bocor dan sebuku telepon jadul biaya lain. Yang harus dilatih adalah menyisihkan sebagian gaji begitu terima lalu hidup dari sisanya.

Ini bukan soal berapa penghasilan kita. Gini aja lah gampangnya: Saat ini suami kerja dengan gaji 3 juta sebulan. Tanpa geledhek tanpa mendung suami di-PHK. Langsung dapat pekerjaan lain tapi gajinya 2 juta. Nggak ada pilihan yang lebih baik sementara biaya hidup keluar terus jadi pekerjaan itu diambil juga dengan terpaksa. Apa bulan depan ada yang mati gara-gara penghasilan berkurang sepertiga? Secara alamiah manusia akan menyesuaikan diri. Apa bedanya dengan bergaji 3 juta lalu sejutanya buat ditabung? Yang satu melakukannya dengan sengaja demi memperbaiki keadaan, yang satu dipaksa keadaan demi bertahan hidup. Ini soal keberanian membuat pilihan.

Mulai lah dari jumlah yang kecil tapi butuh komitmen jangka panjang misalnya 100 ribu per bulan untuk ditransfer ke rekening tabungan berjangka 10 tahun. Setelah setahun atau mungkin kurang dari itu kita bahkan nggak sadar penghasilan kita nggak utuh, minus 100 ribu. Setelah 3 tahun atau mungkin kurang dari itu kita bahkan nggak ingat punya tabungan berjangka.

Aturan Emas: Jangan membelanjakan gaji –untuk belanja bulanan sekalipun– sebelum bikin anggaran tertulis yang meliputi (i) semua setoran tabungan, (ii) semua tagihan di bulan itu dan (iii) semua biaya yang harus kita tutup di bulan itu.

Prinsip#2: Anggaran rumah-tangga sudah memperhitungkan semua biaya yang sifatnya pasti

Sebelum membuat anggaran rumah-tangga, kita harus punya daftar semua pengeluaran yang sifatnya pasti dalam 5 kategori berikut: harian, mingguan, bulanan, tahunan, di atas 1 tahun. Yang hidup dari gaji cenderung hanya menghitung biaya yang keluarnya rutin tiap hari/minggu/bulan seperti makan, bensin, tagihan listrik & air. Tiga macam pengeluaran ini biasanya luput dari perhitungan:

  1. Pengeluaran setahun satu sampai beberapa kali seperti pajak
  2. Pengeluaran banyak kali dalam setahun tapi nggak bisa dipastikan kapannya dan besarnya seperti buwuh
  3. Pengeluaran satu sampai beberapa kali seumur hidup seperti mantu

Coba lah mencatat semua uang keluar paling sedikit selama 3 bulan berturut-turut. Pasti kaget-kaget sendiri. Di play groupnya Azka pernah dalam sebulan sampai enam pesta ultah. Adik iparku harus nyiapkan enam kado yang nggak mungkin aja satu sepuluh ribuan. Kakak iparku tinggal di lingkungan saudara yang tiap bulan gantian bikin slametan. Tiap ada yang slametan harus nyumbang jajan atau air mineral. Aku sendiri, hampir tiap bulan ada perbaikan kecil seperti ganti lampu/keran/gagang pintu/pipa air. Tanpa memperhitungkan biaya-biaya ini, meski kecil, anggaran yang kita buat pasti keteteran, pasti defisit. Ke mana lagi kalau bukan nithili tabungan?

Pastikan kita memasukkan semua biaya yang sifatnya pasti walaupun nggak rutin tiap hari/bulan dalam anggaran belanja rumah-tangga supaya tabungan nggak bolak-balik jebol. Lebih baik menabung sedikit tapi terus bertambah daripada menabung banyak tapi nggak nambah-nambah. Bahkan ketika dengan cara mencicil sekalipun gaji nggak cukup untuk menanggung semua pengeluaran di daftar kita, punya gambaran utuh-tertulis akan s-e-m-u-a biaya yang jadi kewajiban rumah tangga kita menyulitkan membelanjakan uang tanpa perhitungan. Dapat rizki nomplok seperti warisan nggak lantas lepas kendali beli ini-itu karena alam bawah sadar akan mengingatkan dana DP rumah yang nggak ketutup oleh gaji.

Aturan Emas: Gaji bulan ini bukan cuma buat kebutuhan bulan ini. Dia harus ikut menanggung biaya di bulan-bulan lain yang bisa kita pastikan datangnya yang nggak bisa ditanggung sendirian oleh gaji di bulan ketika biaya itu harus kita tutup.

Prinsip#3: Pisah rekening tabungan dari rekening gaji

Kalau hanya memperhitungkan biaya pasti harian-mingguan-bulanan, aku bisa bikin anggaran belanja + allowance orang tua + setoran asuransi + cicilan hutang dengan total 5 juta lebih sedikit. Jadi andai gaji suami plus uang lembur dapat 6 juta, yang ditarik hanya 5 juta lebih sedikit itu tadi, sisanya yang sejuta kurang sedikit tetap di rekening gaji. Maksudnya buat ditabung. Apa saldonya nambah terus? Nggak. Adaaa aja. Uang bensin kurang, tarik; uang belanja kurang, tarik; paket data habis, tarik; saudara datang, tarik.

Pertama, anggaran yang kubuat terlalu mepet, nggak memperhitungkan biaya sosial dan pelayanan kesehatan mengingat Rafi punya alergi yang butuh penanganan spesialis anak.

Kedua, karena tinggal ke ATM, aku-suami cenderung menggampangkan. Kita merasa itu uang-uang kita sendiri ini, nggak hutang, nggak nyolong. Mengurangi tabungan terasa jadi lebih masuk akal ketika demi kesejahteraan keluarga yang seharusnya kami lakukan adalah mengurangi bepergian dengan mobil, mengurangi jam online yang nggak produktif, lebih kreatif dalam menjamu saudara yang berkunjung sekaligus menyiapkan buah tangannya, nggak menggunakan uang belanja untuk selain makan dan seterusnya.

Jadi bagi mereka yang gajinya ditransfer, penting sekali memisahkan rekening tabungan dari rekening gaji. Buka rekening lain di bank yang sama untuk memanfaatkan layanan auto debet, tanpa ATM. Ini berlaku umum: manusia lebih berat membelanjakan uang tunai daripada membelanjakan kartu kredit. Mestinya ada penjelasan ilmiahnya. Sama juga: kita lebih enteng melepas uang yang nggak mampir ke tangan kita. Yang gajinya diserahkan tunai, cari cara menyisihkan sebagian gaji buat tabungan begitu gajian. Masih jadi sekretaris dulu aku ambil arisan yang dikoordinasi kakak teman kerja. Begitu terima gaji, uang arisan langsung kutitipkan teman kerjaku itu, nggak sampai ikut aku pulang.

Aturan Emas: Dalam anggaran bulanan selalu siapkan dana untuk biaya yang keluarnya tidak rutin-tidak tetap setiap hari/minggu/bulan tapi dalam setahun pasti ada. Khususnya yang dalam setahun berkali-kali (contoh: biaya buwuh). Simpan dana ini di rekening dana talangan, tarik bila dibutuhkan. Pisahkan semua tabungan khususnya yang disiapkan untuk kebutuhan sekali sampai beberapa kali dalam seumur hidup (contoh: dana DP rumah) dari rekening gaji dan rekening dana talangan (di Instagram kusebut Rekening Kas Rumah Tangga).

Prinsip#4: Menabung untuk tujuan keuangan yang spesifik

Suatu hari aku, suami dan keluarganya pingin jalan-jalan. Pergi lah gitu aja kami naik mobil. Setelah sejam nyusur jalan tanpa arah tanpa tujuan Bapak yang tua dan lemah karena stroke mengeluh capek dan panas. Ibu yang juga tua dan lemah minta pulang. Senang nggak, capek iya.

Jalan-jalan yang hasilnya cuma capek seperti itu sebetulnya bisa dihindari. Cukup dengan melakukan satu langkah ini: sebelum berangkat tentukan dulu mau jalan-jalan ke mana dan mau ngapain. Ingat bahwa tujuan utamanya adalah menyenangkan Bapak-Ibu. Ke mana dan ngapainnya ya yang memastikan Bapak-Ibu senang. Apa mau putar-putar kota aja, bernostalgia keliling ke tempat-tempat penting di masa lalunya Bapak-Ibu? Apa mau berhenti makan? Atau beli makanan kesukaannya Bapak-Ibu buat dimakan di rumah? Kalau mau jalan-jalan ke luar area kota apa bisa perjalanan pulang-perginya nggak makan lebih dari 1 jam mengingat kondisi Bapak-Ibu?

Sembari menetapkan mau ke mana dan mau ngapain ini secara nggak langsung memperhitungkan faktor-faktor yang bisa mengagalkan pencapaian tujuan menyenangkan Bapak-Ibu tadi. Begitu juga dengan menabung. Menabung buat apa: buat pajak mobil yang jatuh tempo 6 bulan lagi supaya nggak bingung cari hutangan pas jatuh tempo nanti? Buat naruh DP rumah paling lama 3 tahun lagi sebelum si Kakak masuk sekolah karena setelah anak sekolah menabung pasti jadi makin sulit? Atau buat modal usaha? Dari situ kita tahu berapa yang harus kita sisihkan dari gaji dan baiknya disimpan di mana. Dana pajak mobil yang harus ngumpul dalam 6 bulan nggak perlu buka rekening baru di bank, buat DP rumah dan modal usaha yang butuh tahunan ngumpulkannya baiknya taruh di tabungan emas supaya nilainya nggak berkurang karena inflasi atau di tabungan berjangka yang nggak bisa kita tarik semau kita dan seterusnya.

Bukan cuma itu, menetapkan satu tujuan spesifik untuk setiap upaya menyisihkan penghasilan juga memastikan tabungan nggak terpakai untuk yang bukan tujuannya. Ketika kita tahu 300 ribu yang kita sisihkan tiap bulan ini buat pajak mobil yang harus kita bayar 6 bulan lagi, mau makai buat beli oven pasti mikir, “Kalau ini kupakai lantas pajak mobil harus diambilkan dari uang apa???” Jadi relatif lebih berat untuk butuh, tarik, butuh, tarik, butuh, tarik. Kita “dipaksa” memprioritas-ulang kebutuhan paling nggak sampai dana pajak mobil ngumpul. Baking-nya dengan wajan Teflon dulu sampai pajak ketutup.

Jadi ini mungkin prinsip menabung yang paling pengaruh ke bisa ngumpul-nggaknya uang. Ketika kita menabung hanya karena terbiasa dan suka menabung, meski selalu punya uang di rekening, cenderung tidak memperbaiki keuangan.

Aturan Emas: Satu rekening hanya untuk satu tujuan keuangan. Rekening di sini bukan cuma berarti rekening tabungan di bank. Misal: dana DP rumah di tabungan emas, dana beli mobil di tabungan berjangka 1-3 tahun, dana pensiun di asuransi jiwa, dana pendidikan tinggi di asuransi pendidikan (atau tanah sawah), dana Lebaran di simpanan sukarela koperasi dan seterusnya.

Prinsip#5: Siapkan dana darurat

Ini yang aku baru tahu. Aku sendiri heran kenapa nggak kepikiran dari dulu-dulu.

Langsung, singkat dan padat: gimana kita bisa berharap tabungan bisa ngumpul sampai banyak kalau kita nggak punya dana khusus untuk keadaan darurat yang nggak bisa kita tunda apalagi hilangkan?

Selama 7 tahun menikah, nggak terhitung berapa kali Mioku akinya mendadak mati, bannya mendadak pecah. Kalau nggak diganti, motor nggak bisa dipakai, aku-suami nggak bisa kerja. Suami kejatuhan barang berat di kepalanya. Nggak sampai pingsan tapi takut setengah mati. Kubawa ke RS untuk di-scan biar tenang hatinya. Biayanya 700 ribuan dan nggak ditanggung perusahaan karena kami nggak pakai BPJS. Bapak yang pensiun tanpa penghasilan kena stroke dan harus opname. Setiap kali Rafi harus ke spesialis anak karena alerginya harus siap 400-500 ribu belum bensinnya dan sederet panjang keadaan darurat lain yang butuh biaya.

Aku nggak mencatat pengeluaran-pengeluaran darurat seperti ini tapi kalau direkap dalam setahun, terjawab sudah kenapa usaha kerasku menabung bak mengisi ember bolong-bolong.

Dana darurat ini harus ada. Nggak cuma itu: menabung untuk dana darurat harus didulukan sebelum kita menabung buat yang lain. Masih ada lagi: jangan dipakai untuk yang tidak darurat. Tapi yang paling penting: begitu dana darurat terpakai, atur ulang semua program menabung demi memulihkan dana darurat kembali ke angka semula. Jadi dana darurat ini jumlahnya selalu tetap. Empat itu yang akan memastikan tabungan nggak bolak-balik jebol sebelum waktunya.

Soal berapa yang harus kita siapkan untuk dana darurat, saran ahli keuangan:

Dana darurat = 6 sampai 12 x biaya hidup per bulan

Saran ini didasarkan pada situasi terburuk yaitu kehilangan penghasilan karena kehilangan pekerjaan atau pencari nafkah meninggal dunia. Tenggang 6-12 bulan itu dihitung sebagai waktu untuk mendapatkan penghasilan baru. Dave Ramsey menyarankan 3-6 bulan gaji.

Meski omongan tentang dana darurat ini kutebalkan dan kugarisbawahi sendiri, jujur belum bisa kupraktekkan. Aku merasa sangat kesulitan.

Kita hidup di masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial, yang asing sama asuransi dan dana pensiun mandiri. Biaya sosial kita sangat besar, yang kita hitung sebagai keluarga bukan cuma diri sendiri-pasangan-anak tapi mencakup semua keturunannya kakek-nenek. Hajatan kelas gang setahun sekali seperti yasinan atau arisan paling nggak buat 25 orang. Itu belum ultah, syukuran berangkat umrah/haji, mantu, lahiran, tahlilan dan sebagainya. Jadi aku nggak mau membebani diri sendiri. Prinsip dana daruratnya aja yang kuambil, angkanya nggak.

Berikut jalan tengahku:

Buka rekening dana talangan yang terpisah dari rekening gaji dan dari rekening tabungan. Kunamakan rekening dana talangan karena tugasnya menutup kebutuhan darurat seperti berobat + kebutuhan darurat perbaikan kendaraan dan peralatan rumah-tangga yang kita tidak bisa hidup tanpanya + perbaikan kecil rumah seperti ganti lampu atau engsel pintu + iuran-iuran yang sifatnya wajib dan jumlahnya besar seperti iuran paving jalan perumahan + biaya sosial. Semua kebutuhan yang tidak rutin tidak tetap tapi nggak bisa kutunda atau kuhindari kuserahkan ke rekening dana talangan ini. Jadi pemahaman daruratnya kuluaskan sendiri.

Berapa yang harus kita siapkan untuk dana talangan bagiku tergantung tingkat penghasilan kita dan sebanyak apa pengeluaran darurat kita. Yang penghasilannya di bawah 3 juta sebulan baiknya nggak terlalu ambisius. Bisa punya dana talangan 500 ribu menurutku sudah hebat. Yang paling baik adalah merekap pengeluaran darurat kita selama setahun. Kalau itu terlalu banyak, pakai saja angka tertinggi pengeluaran darurat yang pernah kita tanggung. Dalam kasusku selama 7 tahun menikah: 2,5 juta. Jadi dana talangan 3 juta sudah sangat membantu rumah-tanggaku.

Aturan Emas: Orang tua bukan Dana Darurat. Rumah yang kita tinggali juga bukan Dana Darurat. Dana Darurat harus diambilkan dari penghasilan. Kalau nggak cukup? Jawabannya cuma tiga: kalau bukan gaya hidup kita yang harus turun atau harta-benda harus dikurangi ya berarti penghasilan yang harus naik.

Prinsip#6: Manfaatkan “rekening-rekening” informal untuk menabung

Ini prinsip menabung yang baru kucoba setelah pindah ke Pacet. Sepertinya sangat efektif untuk menyisihkan pemasukan sampingan yang jumlahnya kecil, nggak tetap dan nggak pasti.

Setelah berhenti ngajar aku masih mendatangkan uang tapi jumlahnya kecil, rata-rata di bawah 500 ribu, belum tentu tiap bulan dapat. Pengalamanku mengajarkan uang masuk kecil-nggak-tetap biasanya nggak jadi apa-apa, cenderung habis untuk acara “blow-out”; efek dari harus mengencangkan ikat pinggang karena gaji suami yang di atas kertas sudah habis bahkan sebelum uangnya sampai di tangan kita.

Setelah hampir 7 tahun berumah-tangga aku sudah ada dalam posisi di mana uang receh yang kukumpulkan dari kembalian, dari suami, dari yang berceceran di sepenjuru rumah bisa jadi lauk seminggu. Prinsip pemanfaatan uang receh ini kuterapkan ke uang masuk <500 ribu yang nggak bisa kupastikan datangnya itu: kumpulkan dulu dengan catatan jangan dikumpulkan di dompet, jangan dikumpulkan di rekening ber-ATM. Karena itu rekening di sub-judul kutulis dalam tanda kutip. Lebih bagus kalau uangnya nggak lewat tangan kita. Kujelaskan dengan contoh aja biar gamblang.

Contoh#1: Aku kan tinggal di kawasan wisata. Rumah kusewakan di akhir pekan. Nggak laris-manis. Rata-rata dalam sebulan sehari disewa. Itu artinya uang masuk 500-800 ribu kotor; belum dikurangi bagi hasil dengan Pak Kamto yang mendatangkan penyewa, upah Mbak Dama membersihkan rumah setelah tamu check-out, biaya kamar hotelku (kalau serumah disewa aku harus ngungsi ke hotel melati dekat rumah), potong rumput dan laundry. Kalau uang itu aku yang pegang, berani taruhan pasti habis paling lama 2 minggu setelah terima. Kemungkinan besar buat makan, paket data dan jalan-jalan. Jadi apa yang kulakukan? Uang kukumpulkan di Pak Kamto. Setelah setahun baru kupecah. Karena sekali dapat di atas 2 juta, secara otomatis terpakai bukan buat makan, paket data dan jalan-jalan tapi untuk kebutuhan-kebutuhan besar seperti uang kas untuk perawatan rumah, beli matras, sangu umrah dan biaya pengesahan pengadilan adopsi Rafi.

Contoh#2: Waktu masih aktif jualan di Shopee, uang hasil penjualan ditransfer secara otomatis ke rekeningku 3 hari setelah pembeli mengkonfirmasi barang diterima. Waktu itu uang nggak bisa ngumpul di rekening karena rekeningku itu ber-ATM. Sekarang Shopee sudah merubah pengaturannya untuk transfer uang dari pembeli ini. Tidak lagi secara otomatis. Kita harus minta secara manual. Kalau kita nggak minta maka sama Shopee uang hasil penjualan disimpan di Dompet Shopee. It’s a great arrangement! Ini salah satu alasanku tetap mempertahankan akun tokoku di Shopee. Begitu modal dan barangnya ada aku pingin jualan lagi. Meski sebulan omset kita <100 ribu, kalau kita kumpulkan di Dompet Shopee sampai setahun, bisa buat kebutuhan selain belanja sehari-hari.

Contoh#3: Ini mungkin “rekening” tabungan yang adanya cuma di kampung. Kutaruh di sini untuk ngasih gambaran lebih luas tentang apa yang kumaksud dengan “rekening informal”. Tiap kali ada tetangga hajatan, bulekku akan menawarkan “setoran” berupa kebutuhan hajatan ke yang punya hajat. Bisa beras, daging, ayam atau telur; tergantung kesepakatan. Nah, “setoran” ini akan ditarik kalau bulekku punya hajatan. Jadi kalau setorannya daging 2 kg, nariknya juga daging 2 kg, meskipun itu 10 tahun kemudian ketika harga daging sudah naik hampir 200%. Ini cara Lek Ni menabung untuk dana mantu anak ragilnya.

Contoh#4: Kalau nggak punya akses untuk “rekening-rekening” yang kusebut di atas, masih ada arisan dan koperasi. Cari arisan yang tujuannya bukan mempererat tali kasih-sayang tapi memang buat nabung. Arisan nabung ini biasanya nggak punya pertemuan tatap muka, pesertanya mungkin nggak saling kenal dan bandar/kolektor megang peran kunci. Jadi sebaiknya cari di lingkungan tetangga dan kerja untuk mengurangi resiko uang kita dibawa lari. Yang paling aman yang pesertanya sesama IRT, jumlah tarikannya kecil dan tarikannya harian/mingguan. Ini orang-orang yang nggak diakomodasi oleh bank jadi ikut arisan memang niat buat nabung. Yang kerja di perusahaan kemungkinan besar jadi anggota koperasi. Manfaatkan rekening kita di koperasi dengan terus menambah saldo simpanan sukarela.

Aturan Emas: Salurkan satu sumber uang masuk kecil-nggak tetap-nggak pasti ke satu “rekening” informal.

Ketika semua cara nabung gagal, fokus lah di prinsip menabung yang terakhir. Hampir setiap bulan aku bisa menyisihkan paling nggak 300 ribu dari uang gaji. Uang ini nggak pernah bisa ngumpul. Umurnya nggak bisa lebih dari 3 bulan. Yang bisa ngumpul justru yang “setorannya” sedikit-sedikit: arisan 20 ribuan per minggu yang kutitipkan Mbak Dama dan 250 ribuan per bulan di Pak Kamto.

Capek gali saldo tutup saldo tabungan sepertiku? Then, Let’s do this! Kita lihat hasilnya setelah setahun.

image