Tampil Mahal Dengan Scarf Dan Selendang

Hidup di bawah tingkat penghasilan nggak terasa menyiksa bila kita punya yang kusebut Ilmu Ngangkat Derajat;

Ilmu membuat segala sesuatu kelihatan lebih mahal dari aslinya, membuat segala sesuatu yang kita ‘pegang’ kelihatan lebih bagus dari awalnya.

Aku nggak akan ngaku-ngaku master di bidang ini. Di lingkungan kelas atas ya kebanting. Kebanting dengan tanda seru. Hukum ‘ada harga ada rupa’ tetap berlaku. Tapi di lingkungan kelas menengah-bawah (bayangkan lingkungan bersepeda motor atau bermobil satu, sekelas Xenia, belinya bekas), kalau nggak kukasih tahu orang nggak akan tahu barangku 90%-nya lungsuran, suamiku pekerja kerah biru dengan bayaran UMR (uang lembur+ceperan+jaminan kesehatan).

Sejak gadis sebetulnya orang sudah muji barang-barangku (‘bagus-bagus!’) dan gayaku berpakaian (‘sederhana tapi anggun’). Masalahnya dulu itu modal barang-barang baru hasil beli sendiri, milih-milih sendiri. Ada yang dibelikan tapi tetap aku yang milih. Tingkat kesulitannya nggak bisa disamakan dengan bagus modal barang lungsuran atau barang baru pilihan orang. Lima tahunan ini mulai sering kudengar pujian untuk interior rumahku dan tampilan Rafi. Jadi maafkan kalau sombong merasa punya Ilmu Ngangkat Derajat level intermediate.

Semoga dalam 3 tahun ini bisa naik ke level advance…

Terinspirasi dari kerudung sisa oleh-oleh umrah dan selendang almarhum ibuku yang kulisting seharga 15-45 ribu di Shopee, pingin merapikan isi kepala tentang gimana scarf dan syal (yang pada prinsipnya sama saja dengan selendang) bisa bikin baju murah-meriah kelihatan mahal, baju biasa kelihatan istimewa.


Tengok tokoku di Shopee untuk “semua yang bagus tapi harganya miring karena preloved, repurposed atau obralan yang dikumpulkan satu demi satu dengan jiwa kurator. Harga di bawah 50 ribu (kecuali barang koleksi, branded dan impor).”


Kerudung segi empat berbahan tipis ini misalnya.

Yang terlintas di kepala perempuan berkerudung bisa kupastikan hanya buat kerudung.

Gini, yang pingin tampilannya kelihatan mahal dengan penghasilan UMR:

Prinsip#1: Hanya memakai bahan polos berwarna netral seperti putih, coklat susu, biru dongker atau hitam untuk baju.

Prinsip#2: Tambah warna-warna pastel yang ringan seperti merah muda, hijau dan biru untuk kerudung tapi tetap hanya bahan polos. Pilih yang bikin kulit kelihatan bersih, yang bagus dipadankan dengan warna netral pilihan kita. Contoh: baju biru dongker kan nggak masuk dipadankan dengan kerudung hijau.

Prinsip#3: Setelah punya tas-sepatu-arloji dalam satu warna netral putih atau hitam atau coklat, boleh tambah warna-warna berani seperti merah, hijau pupus atau oranye. Warna ‘berani’ favoritku datangnya dari alam: tembaga dan emas. Sama: batasi diri di bahan polos. Nggak apa bertekstur atau bermotif timbul asal satu warna jadi dari jauh terlihat polos.

Dengan kata lain hindari bahan bermotif untuk baju, kerudung, tas dan sepatu.

Dengan Ilmu Ngangkat Derajat level intermediate-ku ini kerudung segi empat bercorak seperti di foto di atas nggak kupakai sebagai kerudung. Lebih ngangkat penampilan kalau dipakai sebagai aksesoris.

Mungkin harus kutekankan. Kerudung kusamakan dengan blus, kubedakan dari rambut dan topi. Nilainya ada di menutup dan nyamannya, bukan di kemampuannya menghias kepala. Kerudung 1001-gaya gadis hijabers bikin tampilan trendi memang. Cuma, yang kelihatan mahal itu tampilan elegan, klasik, tidak berbatas waktu, tidak berbatas umur. Semua yang trendi sejatinya penuh batasan.

Gaya elegan “mainnya” bukan di baju (kerudung termasuk di dalamnya) tapi di aksesoris. Bagi yang berhijab itu berarti bros, cincin, gelang & arloji, kalung berantai panjang, scarf-selendang dan mungkin kacamata hitam.

Kubilang mungkin karena kacamata hitam pemakaiannya terbatas dan ngasih kesan angkuh-sombong di tempat-tempat tertentu seperti di kota kecil.

Yang masih belum teryakinkan scarf dan selendang bisa ngangkat penampilan, perhatikan foto-foto yang kutemu di Pinterest ini.

Gaya#1: Dipakai sebagai choker

Atau rapat mengikat leher. Perhatikan gimana biasanya bajunya. Scarf-nya itu bikin tampilan ini secara keseluruhan naik kelas dari biasa ke gaya.

Gaya#2: Dipakai sebagai kalung

Ada 1001 gaya memakai scarf-selendang sebagai kalung. Yang di foto ini belum pernah kulihat sebelumnya. Tinggal nambah kalung untuk ‘cincin’ yang akan mempertemukan ujung selendang dari sebelah kiri dan kanan. Ini ide pemanfaatan selendang polos + kalung/gelang manik plastik (yang kesan murahnya menculek-culek mata) yang brilian!

Gaya#3: Dipakai sebagai dasi

Suka sekali lihat ini karena scarfnya bukan scarf simbol status seperti Hermes. Scarf polkadot seperti ini sih bisa beli di Pasar Gedongan. Beli kainnya terus bawa ke tukang jahit untuk diobras.

Ngefans berat ke gaya monokromatis; dari atas ke bawah satu warna khususnya warna netral seperti putih, hitam, coklat dan biru dongker. Cuma gaya monokromatis memang kelihatan monoton di kita yang berwajah dan tubuh dekat dengan nggak ideal. Scarf ini obat penawarnya.

Kenapa aku melebihkan aksesoris?

Ketika kita berusaha tampil istimewa modal baju thok, kita cenderung milih baju yang terdiri dari 2 potong lebih, baju yang penuh-rame hiasan, baju yang detil hiasannya rumit. Pendeknya baju-baju yang nggak bisa sering-sering kita pakai karena nggak nyaman dan terlalu berlebihan untuk kegiatan sehari-hari. Istimewanya kita taruh di harganya, di bajunya itu sendiri, bukan di kemampuannya ngangkat kita.

Satu kunci hidup di bawah tingkat penghasilan adalah membatasi jumlah barang pribadi.

Supaya nggak kelihatan seperti orang susah, sedikitnya barang ini harus diciptakan oleh multifungsinya. Itu berlaku juga untuk isi lemari. Sebisa mungkin per potongnya nyaman dipakai sehari-hari tapi bisa dibuat pantes untuk kegiatan bukan sehari-hari. Pendeknya bisa diupgrade dengan aksesoris dalam hal ini scarf dan selendang. Jadi pilih baju yang minimal detil/hiasan, yang sederhana dari segi model, tapi bangun koleksi aksesoris yang bisa bikin baju-baju kita tampil isimewa. Yang seperti itu lebih rendah-biaya daripada ngoleksi berbagai macam model dan warna baju.

Misal:

Contoh#1: Padankan blus polos berpotongan sederhana dengan scarf dan kalung berantai panjang atau tebal atau berliontin besar untuk tampilan smart-casual yang pantes untuk acara seminar di hotel berbintang.

Contoh#2: Padankan dengan baju warna gelap yang ngasih kesan formal untuk tampilan mewah. Pakai sebagai luaran gantinya jaket atau cardigan (pilih yang lebar dan berbahan halus-licin). Pantes buat naik Air Asia ke Kuala Lumpur. Biar nggak dikira TKW. Nggak berlama-lama di loket imigrasi di bandara.

Contoh#3: Padankan dengan blus berbahan licin-halus. Pilih scarf yang juga berbahan licin-halus, yang mengandung warna yang sama dengan bawahannya (di sini hitam). Pantes buat kondangan di hotel berbintang.

Terus-terang aksesoris yang satu ini menguntungkan mereka yang tidak berhijab. Setelah kupikir lama, dengan beberapa catatan, gaya pemakaian di bawah ini mungkin bisa dicoba untuk mengupgrade gaya berpakaian berhijab dengan scarf dan selendang.

Sebagai kalung panjang

Catatan#1: Pilih baju 1-2 potong bergaris lurus sederhana seperti gamis dan baju kurung. Menurutku tampilan keseluruhannya nggak bagus kalau celana panjang+blus+hijab masih ditambah lagi dengan scarf atau selendang. Andai harus pakai celana, pilih celana panjang berpotongan pipa, padankan dengan tunik yang panjangnya hampir selutut. Andai harus pakai celana dan blus sepinggang, padankan dengan celana kulot.

Sebagai “latar” kalung panjang berliontin besar

Catatan#2: Kaku di gaya monokromatis. Jadikan warna baju dan hijab sama persis atau paling nggak senada. Scarf dan selendangnya boleh beda warna tapi pastikan kalau baju warna pekat, scarf-selendangnya juga pekat meski beda warna. Begitu juga kalau baju warna muda, pilih scarf-selendang yang juga muda meski beda warna. Kalau scarf-selendang bercorak, pastikan warna baju-hijab adalah salah satu warna di scarf-selendang. Lebih bagus kalau warna dominan scarf-selendang = warna baju. Biar nggak rebutan cari perhatian mata.

Selendang yang dibiarkan menjulur, dipakai dengan kalung panjang

Catatan#3: Pastikan bahan scarf-selendang punya “berat” yang sama dengan bahan baju. Scarf dari sutra yang berkesan ringan jangan dipadankan dengan baju berbahan tebal seperti denim yang berkesan berat. Biar nggak saingan.

Scarf segiempat besar yang dilipat lebar lalu dibiarkan menjulur, sekilas seperti rompi panjang

Catatan#4: Aku pribadi kurang suka lihat gaya berkerudung Inneke Koesherawati yang dibelitkan ketat di leher atau dimasukkan ke dalam baju. Dengan scarf dan selendang pun tetap kuhindari gaya berkerudung seperti itu. Yang lebih bagus di mataku adalah yang ujungnya dibiarkan sedikit menjuntai. Tapi bagaimanapun scarf dan selendang nggak ada gunanya dipakai dengan hijab yang menjulur sampai menutup pinggul.

Gaya berhijab yang ngasih ruang untuk gaya pemakaian scarf dan selendang seperti 4 foto di atas menurutku yang seperti ini:

Ringan, berpotongan sederhana (supaya nggak kuat-kuatan dengan scarf-selendangnya), menjulur tapi berhenti sedikit di bawah dada dan di pundak. Sekali lagi: pastikan baju-kerudung satu warna.

Di toko Shopee-ku ada yang bahannya kurang-lebih seperti yang di foto ini:

Ini dia:

Paling nggak sama bagian pinggirnya: nggak diobras. Kujual murah aja, 15 ribu. Ini baru dalam artian belum pernah dipakai. Bukan aku yang beli. Dari dulu yang kubeli sendiri hanya kerudung berbahan polos. Sisi baliknya berwarna biru. Beli satu seolah dapat dua scarf yang berbeda.


Tengok tokoku di Shopee untuk “semua yang bagus tapi harganya miring karena preloved, repurposed atau obralan yang dikumpulkan satu demi satu dengan jiwa kurator. Harga di bawah 50 ribu (kecuali barang koleksi, branded dan impor).”


Terakhir, yang bertanya-tanya siapa ibu anggun yang fotonya kusalahgunakan di sini, aku nggak tahu namanya. Kalau kita menjelajah topik scarf di Pinterest, foto ibu ini bertaburan. Kulacak dan akhirnya ketemu di Mai Tai Collection di Instagram. Rupanya dia tinggal di Prancis dan jualan insert tas branded (kurang-lebih liner untuk melindungi bagian dalam tas). Dia jenius scarf dan syal!

Pingin lebih sering menghasilkan postingan praktis seperti ini. Yang berikutnya di catatan mentalku: gimana ngasah kemampuan bahasa Inggris modal novel bekas. Ada 10-an novel impor 25-55 ribu yang kulisting di Shopee.

Karena hidup di bawah tingkat penghasilan nggak bisa modal ngempet. Harus pintar-pintar. Ibarat naik mobil, beli-belinya diturunkan ke gigi satu tapi skill-buildingnya dinaikkan ke gigi empat kalau takut nubruk dengan gigi lima.

Setuju?

6 Tip Mengisi Lemari Dan Mengelolanya Untuk Berhemat Di Belanja Baju

Siapa coba yang nggak pingin punya baju-baju bagus? Seminggu sekali bisa beli baju baru, bisa tampil bak gadis padahal umur sudah kepala empat. Perempuan-Wi lah kalau perasaan kita yang sembilan njerit lihat teman yang meski ngunggah selfie hampir tiap hari bajunya nggak pernah sama. Apapun yang dia pakai jatuhnya Gaya Tur Keren aja.

Sementara kita, tiap kali ada kondangan, stressnya sudah sejak dua minggu sebelum Hari-H; merasa nggak punya baju…

Nggak tahu ini asalnya dari mana. Mungkin karena di umur 42 ini sudah tahu persis pakaian dan warna apa yang pantes buatku, merasa sudah jauh lebih pandai dalam urusan bela-beli dan pilah-pilih dibanding gadis dulu, akhir-akhir ini sering terlintas untuk meng-upgrade penampilan. Yakin aja dengan pengetahuanku sekarang b-i-s-a punya isi lemari yang lebih mantesi dibanding semasa gadis dengan biaya yang jauh lebih rendah pula.

Meski nggak pernah merasa atau dicap modis sejak masih sering cangkruk dengan Patih Gajah Mada, tampilan gadisku jauh lebih “ngangkat” dibanding sekarang. Memang sih dulu lumayan langsing, dapat baju yang mantesi nggak sesulit sekarang setelah bobotku naik 25 kiloan… Tapi banyak juga kulihat ibu-ibu gendut yang penampilannya menarik. Cuma mereka sepertinya belanja bajunya ping bolak-balik. Sebulan bisa lebih dari sekali. Nggak seperti aku gini yang belum tentu setahun sekali.

Karena hobiku mikir, dari situ lanjut ke cari-cari cara: apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki penampilan tanpa setiap bulan harus menyiapkan anggaran khusus beli-beli baju dan perlengkapannya.

Berikut yang bisa kurumuskan. Sebagian cara mengisi lemari dan pengelolaannya yang kupraktekkan semasa gadis. Sebagiannya lagi temuan relatif baru berkenaan tip belanja baju.

Tip#1: Di lemari, simpan h-a-n-y-a baju yang pantas dan nyaman dipakai

Semua baju yang:

  • kebesaran dan kekecilan
  • kepanjangan atau cingkrang
  • jatuhnya nggak bagus
  • warnanya nggak mantesi di kulit
  • warnanya sudah sangat pudar atau dekil
  • panas karena terlalu tebal
  • malu makainya karena terlalu tipis
  • modelnya nggak mantesi
  • modelnya sangat ketinggalan jaman
  • modelnya menonjolkan kekurangan fisik
  • robeknya nggak bisa dijahit, bolongnya nggak bisa ditutupi
  • nggak pernah kita pakai karena nggak ada pasangannya

Simpan di tempat lain. Punyaku habis kubagi-bagi dan kujual. Jangan takut lihat isi lemari berkurang sampai 3/4-nya. Lebih baik cuma punya dua setel baju tapi ekstra mantesi daripada punya 20 setel tapi nggak ada satu pun yang ngangkat penampilan. Kondisi lemari terseleksi ketat seperti ini menempa kita membeli dan mengumpulkan hanya yang membaguskan penampilan.

Tip: Ingat-ingat prinsip hidup ‘ngisi lemari bukan buat banyak-banyakan tapi buat pantes-pantesan’.

Tip#2: Beli dan pakai baju dengan mengingat tiga fungsi

Setelah memastikan lemari isinya hanya yang mantesi di kulit dan badan, jadi gampang untuk strategis dalam berbelanja baju dan memanfaatkan isi lemari. Ingat, tujuan kita adalah demi feel good about ourselves di hadapan orang lain, jadi perhatikan tiga fungsi ini ketika membeli juga ketika memakai:

  • Fungsi#1: pakaian bepergian yang harus sangat diperhatikan seperti bertamu ke rumah seseorang yang kedudukannya di atas kita, acara di hotel berbintang, kondangan mewah
  • Fungsi#2: pakaian bepergian yang harus diperhatikan seperti ke mal, bank, acara sekolah anak, bertamu ke rumah rekan kerja suami, kondangan kelas rata-rata
  • Fungsi#3: pakaian yang mantesi untuk terima tamu atau pergi ke sekitaran rumah seperti minimarket atau bertamu ke tetangga dekat

Isi lemari IRT mestinya komposisinya seperti piramida, makin ke bawah fungsinya, makin banyak jumlahnya. Nggak tahu lagi dengan anggota dewan atau artis yang umurnya habis di luar rumah. Upayakan minimal punya satu setel untuk Fungsi#1 dan 2, lebih dari satu setel untuk Fungsi#3. Kalau anggaran terbatas, bisa disiasati dengan beli satu bawahan aja tapi bedakan atasan dan kerudungnya. Untuk Fungsi#1 dan #2 tambahkan aksesoris di luar sepatu/sandal dan tas.

Demi menghindari punya terlalu banyak baju di fungsi yang nggak terlalu sering kita lakukan, tata pakaian di lemari berdasarkan fungsinya. Dengan cara ini, kita selalu punya gambaran menyeluruh tentang berapa setel yang kita punya untuk masing-masing fungsi. Ini info yang sangat berharga saat bela-beli. Tanpa gambaran besar ini, sebagian orang mungkin selalu membeli pakaian yang cuma bisa dipakai buat ke sekitaran rumah. Sebagian lagi tiap beli mesti beli yang cuma bisa dipakai ke kondangan mewah. Hasilnya: bolak-balik kena serangan perasaan nggak punya baju. Tiap kali ada kondangan, beli baju. Mau kedatangan tamu penting, beli baju. Tiap Lebaran, beli baju.

Yang paling penting adalah tidak memakai pakaian yang kita siapkan untuk kondangan mewah ke mal. Sekali kita turunkan fungsi sebuah baju, nilai istimewanya ikut turun. Ada kondangan mewah berikutnya, kita dah merasa nggak punya baju.

Tip: Menghemat belanja baju lebih gampang kalau koleksi kita didominasi baju 2-3 potong. Yang hanya memakai baju satu potong seperti abaya, coba ikuti akun bellealyahya. Meski baju dan kerudungnya modelnya itu-itu aja, dia terlihat stylish.

Tip#3: Hanya membeli yang “nyambung” dengan yang lain

Yang paling bagus adalah punya “blueprint” penampilan; gambaran besar yang cukup spesifik tentang penampilan yang kita inginkan dan tahu betul baju-baju seperti apa yang bisa ngasih tampilan yang kita inginkan itu. Apa tampilan profesional yang chic? Tampilan yang praktis, ringkas, bebas-gerak, bebas ribet? Tampilan K-Pop? Tampilan lady-like yang anggun? Tampilan etnis mungkin? Begitu kita tahu gaya berpakaian yang kita inginkan, jadi gampang membangun koleksi baju-aksesoris yang membentuk satu kesatuan yang saling melengkapi. Nggak ada lagi cerita baju nggak kepakai karena nggak ada pasangannya.

Cara lain yang lebih gampang dari punya blueprint adalah menetapkan satu warna signature lalu 2-3 warna penunjang dan membatasi diri hanya membeli baju-kelengkapannya di warna-warna itu saja. Warna signature adalah warna yang sangat kita sukai. Lebih bagus kalau juga bikin kulit terlihat bersih dan/atau badan terlihat kurusan. Mulai dengan membangun main piece dalam warna signature ini. Warna signature coklat misalnya; celana panjang coklat, rok coklat, abaya coklat, tunik coklat, blus coklat, kerudung coklat, aksesoris coklat dan seterusnya. Dalam gradasi coklat yang berbeda-beda tentunya. Jangan coklat susu semua. Lalu lengkapi koleksi main piece ini dengan baju-aksesoris dalam 2-3 warna yang meng-complement coklat seperti kuning kunyit, merah muda dan tembaga/emas.

Di umur kepala empat mestinya kita sudah tahu gaya berpakaian yang “ngangkat” tampilan kita. Pengetahuan tentang apa-apa yang mantesi di kita ini sangat membantu kerja berhemat di penampilan.

Tip: Kalau masih belum tahu atau belum punya gaya berpakaian, coba cari 1-2 panutan berpenampilan di Instagram atau Pinterest. Bisa karena gaya berpakaiannya sangat kita suka (yang kita suka di badannya orang belum tentu mantesi di badan kita lho ya; jadi berhati-hati lah dalam memilih), tapi yang lebih baik adalah karena umur, postur tubuh dan warna kulit si panutan ini kurang-lebih sama dengan kita. “Baca” pola berpakaiannya atau tiru aja mentah-mentah kalau malas mikir.

Membangun koleksi baju dengan patokan satu gaya berpakaian tertentu mengijinkan kita tetap “berpenampilan” tanpa harus beli baju baru tiap bulan.

Tip#4: Setia dengan gaya dan warna-warna elegan

Di antara semua gaya berpakaian, yang paling ramah dompet ya gaya elegan. Pertama, gaya ini mengedepankan kesederhanaan. Untuk dapat satu look nggak perlu banyak piece jadi yang dibeli juga relatif lebih sedikit dibanding misalnya dengan gaya K-Pop yang kebanyakan printhilan. Kedua, ini gaya yang paling tahan sama ujian waktu. Baju dan aksesoris bergaya elegan tetap sedap dipandang meski yang makai cucu kita yang hidupnya sudah di beda jaman. Tapi yang paling kusuka, ini gaya berpakaian yang mantesi di semua umur dan semua bentuk badan. Jadi mereka yang memang cenderung ke gaya ini bisa kupastikan belanja baju dan perlengkapannya sudah hemat dengan sendirinya.

Tip: Yang berkerudung sepertiku, yang ruang gerak bergayanya dalam berpakaian relatif terbatas, gaya elegan bisa ditunjukkan dengan pilihan warna dan hiasan. Minimalkan embellishment di pakaian, minimalkan motif, minimalkan warna (dari kepala sampai kaki 1-2 warna saja) dan minimalkan aksesoris.

Tip#5: Belanja baju di 2-3 tempat saja

Kecuali kalau kita punya bakat serius dalam desain fashion seperti New Darlings, makin banyak dan berbeda-beda tempat beli baju, makin semburat juga isi lemari. Sulit dapat tampilan yang bisa konsisten “ngangkat” penampilan kita kalau isi lemari acak-semburat biarpun isinya banyak. Juga jangan berharap bisa ngumpulkan satu gaya berpakaian tertentu dengan cara belanja baju dari berbagai mal/toko/merk di seluruh Indonesia. Kecuali itu tadi: yang punya bakat luar biasa dalam desain fashion.

Satu toko atau satu merk biasanya mengusung satu gaya tertentu. Masuk lah ke satu toko/outlet merk tertentu lalu lihat keseluruhan bajunya. Kalau yang kita lihat secara garis besar nggak sesuai dengan blueprint berpenampilan kita, nggak perlu lagi lihat satu demi satu baju yang dipajang. Kenapa? Kemungkinan besar kita akan nemu paling nggak satu baju yang kita suka di toko mana pun itu, tapi cara belanja seperti ini kerjanya menentang Tip#2 dan terutama Tip#3.

Kita nggak lagi mengingat fungsi, juga cenderung lupa me“nyambung”kan baju yang lagi kita pilih-pilih ini dengan isi lemari. Kerja kita milih-milih bukan lagi berdasarkan isi lemari, bukan berdasarkan blueprint tampilan yang kita inginkan tapi berdasarkan isi toko itu. Hasilnya: kemungkinan besar yang kita pilih nggak nyambung dengan baju-baju kita yang lain sehingga nggak bisa dipadu-padankan.

Tip#6: Tetapkan 2-3 set sepatu-tas-arloji dan 2-3 set perhiasan

Aksesoris (sepatu, tas, arloji dan perhiasan) yang kita beli dan pakai dengan seksama, bikin isi lemari kelihatan lebih banyak dari yang sebenarnya. Aksesoris ini yang bisa menghasilkan tampilan yang berbeda-beda tanpa perlu gonta-ganti baju.

Bukan berarti harus punya 2-3 pasang sepatu, 2-3 tas, 2-3 arloji dan puluhan perhiasan. Sepatu, tas dan arloji dalam warna yang sama atau dalam warna yang saling meng-complement (yang bagus disandingkan), akan mengangkat penampilan kita, bikin penampilan kita jadi utuh. Efek ini nggak kita dapat dari sepatu hitam, tas oranye dan arloji emas. Juga bisa ngangkat baju lho. Arloji dan sepatu berwarna atau beraksen tembaga bikin baju-baju berwarna coklat terlihat mewah. Jadi yang harus diperhatikan itu keseragaman warna dalam satu set dan perpaduan warna antar 2-3 set yang kita punya, bukan jumlahnya.

Sebelum mulai berburu dan beli-beli kelengkapan baju, tetapkan dulu 2-3 set warna aksesoris. Lengkapi dulu satu set warna sebelum beli set warna berikutnya. Kalau yang sudah ada sepatu hitam, uang di tangan hanya cukup untuk beli tas, belilah tas hitam. Begitu uangnya ada, beli arloji hitam. Atau perak yang bagus disandingkan dengan hitam. Kesempatan berikutnya datang, mulai nyicil sepatu-tas-arloji warna lain. Bedakan modelnya. Jangan punya tas warna hitam, coklat dan putih tapi modelnya tas tote semua.

Cara mencicil strategis seperti ini juga berlaku untuk perhiasan. Tentukan dulu bahan dan warna apa yang paling meng-complement warna signature kita dan gaya berpakaian kita. Aku yang sangat menyukai gaya elegan dan warna coklat misalnya, mungkin bisa mulai dengan mengumpulkan satu set perhiasan yang terbuat dari bahan logam berwarna tembaga. Pertama bros yang pasti kepakai, menyusul berturut-turut gelang, cincin dan mungkin kalung berantai panjang. Setelah itu mulai mencicil satu set perhiasan dari mutiara imitasi. Setelah itu baru mencicil satu set perhiasan bergaya etnis karena meski nggak sangat nge-fans ke gaya etnis, warna-warna alami perhiasan etnis serasi dengan isi lemari yang didominasi coklat.

Tip: Baju-baju berwarna polos tanpa motif tanpa embellishment paling mengakomodasi permainan aksesoris. Perhiasan emas misalnya. Cincin-gelang-bros emas sederhana terlihat istimewa di baju-kerudung warna lembut monokromatis (satu warna) seperti coklat Cappucino/semu merah muda/biru langit. Lengkapi dengan clutch-sepatu-arloji beraksen emas. Dengan cara ini kita nggak perlu pakai gelang emas sampai ke siku atau liontin emas sebesar gembok pagar untuk “nunjukkan” emas-emasan kita.

“Mencuri” Gaya Belle al Yahya & New Darlings

Ini mungkin cara berhemat belanja baju yang paling efisien: mencontek gayanya orang-orang fashionable yang nggak didikte tren. Foto-foto yang kutaruh di sini kuambil dari dua akun fashion favoritku. Dua-duanya punya ribuan foto tapi sama-sama susah nemu dua baju yang dipakai lebih dari sekali. Aku kadang mikir itu baju apa tisu?? Sekali pakai..

Seperti yang sudah kubilang di atas, lemari yang isinya baju 2-3 potong menghasilkan look yang jauh lebih bervariasi dibanding yang isinya didominasi baju satu potong seperti abaya. Karena itu baju-baju Belle kelihatan itu-itu aja, nggak seberagam baju-baju New Darlings yang sebetulnya juga itu-itu aja begitu kita bisa membaca polanya. Coba kurumuskan gaya berpakaian mereka di sini. Yang sekiranya bisa bantu-bantu menghemat belanja baju tapi tetap bisa feel good about ourselves di depan orang banyak.

Belle:

  • Main piece-nya adalah abaya yang melebar ke bawah, baju kurung, celana kulot dipasangkan dengan blus lebar menutup panggul, tanpa renda/bordir/manik/sulaman, dalam warna-warna polos yang lembut.
  • Main piece tadi seringnya dipadukan dengan kerudung yang juga polosan tanpa embellishment tanpa motif, berwarna sama, senada atau kontras dengan baju
  • Untuk kesempatan istimewa baru lah mengandalkan baju ber-embellished
  • Mengandalkan satu gaya berkerudung untuk berbagai kesempatan tapi yang memang betul-betul mantesi di dia (apa karena orangnya memang cantik ya??)
  • Tanpa aksesoris, tasnya pun cenderung bermodel sama

Menurutku yang bikin Belle tampil gaya justru minimalis dan polosannya itu; dari kepala sampai kaki paling banyak dua warna, warna polos tanpa motif, tanpa embellishment, tanpa aksesoris. Baju dan gaya berkerudungnya yang itu-itu saja dikompensasi oleh pilihan warna-warna lembut dan padu-padan monokromatis atau kontras sekalian.

Terus-terang aja kesulitan merumuskan gayanya New Darlings. Ini yang bisa ku”baca”:

  • Main pieces-nya banyak tapi punya satu persamaan penting: ngepas di badan dan nyantai. Antara lain: jins dan celana panjang waist-line, rok pendek, celana pendek, kulot 3/4, pull-over, kaos, blus, kemeja, turtle-neck dan sweater dalam warna-warna dasar polos seperti biru denim, hitam dan coklat
  • Untuk kesempatan istimewa baru biasanya memakai yang selain itu: gaun dari bahan kain yang halus
  • Sepatu dan tasnya dalam berbagai model tapi juga berciri nyantai, didominasi warna coklat dan hitam. Ngefans sekali sama tas dan sepatu berbahan kulit yang warnanya coklat.
  • Aksesorisnya mengandalkan topi lebar dan topi baret, rambut (sejauh ini dia punya empat macam hair-do), kacamata besar, kacamata hitam bulat, tas dan sepatu. Kadang scarf pendek gaya koboi atau kalung berantai panjang. Nggak seperti kebanyakan perempuan yang bingung di cincin-gelang-anting-kalung.

Bisa kusimpulkan bahwa makin mandiri kita dari tren/mainstream berpakaian, ditambah makin konsisten kita dalam berpenampilan, makin gaya juga orang lihatnya. Baju-bajunya New Darlings ini sepertinya hasil adaptasi gaya berpakaian tahun 70-an dan 90-an. Nggak kelihatan aneh karena nggak ditiru mentah-mentah. Dia ambil karakteristik utamanya aja dan konsisten di situ: nyantai dan ngepas badan. Tas dan sepatunya juga konsisten nyantainya. Keunggulannya menurutku di penggunaan aksesorisnya. Aksesoris yang dia pakai cuma beberapa macam tapi nggak umum–4 macam hair do, 2 macam topi, 2 macam kacamata, scarf pendek atau kalung panjang, tas kulit coklat dan sepatu tanpa hak. Dia pilih hanya aksesoris yang menonjolkan kelebihan fisiknya (salah satunya rambutnya) dan yang menonjolkan baju-bajunya yang nyantai dan ngepas badan lalu konsisten di yang cuma beberapa macam itu.

Berikut kesimpulan terakhirku untuk bisa gaya tanpa habis-habisan di belanja baju dan kelengkapannya.

Satu: Tahu betul model baju yang mantesi di kita. Batasi diri di 2-3 model/setel baju tapi yang sungguhan mantesi.

Dua: Batasi pemilihan warna dan motif. Konsisten di warna-warna lembut polosan justru lebih gaya daripada punya baju dalam berbagai warna. Kalau nggak suka polosan, konsisten di motif kembang-kembang aja atau garis-garis aja atau polkadot aja justru lebih gaya daripada punya segala rupa motif.

Tiga: Batasi penggunaan aksesoris tapi jangan pernah keluar rumah tanpanya. Tiga sampai empat macam aksesoris aja tapi cari yang ekstra mantesinya di kita. Bisa karena menonjolkan kelebihan fisik kita, bisa karena menonjolkan model baju yang mantesi di kita, bisa karena menonjolkan warna signature kita. Lebih bagus kalau nggak umum. Aksesoris itu-itu aja tapi nggak umum malah lebih gaya daripada ganti-ganti ikut tren.

Kata kuncinya ada di memilih, membatasi diri dan konsisten.

Aku tahu nggak semua IRT merasa sangat lemah di departemen penampilan ini tapi kurasa ini isu umum. Yang punya anak masih kecil cari waktu buat mandi aja susah. Menjaga bentuk dan bobot tubuh apalagi. Padahal agak sulit loh menghormati perempuan yang nggak menghormati dirinya sendiri. Orang akan lihat level self-respect itu pertama kali di cara seorang perempuan mempresentasikan dirinya.

Kalau ada yang punya cara menghemat belanja baju yang nggak kusebut di sini tolong tulis di comment. Mungkin bisa kupraktekkan.

image