Rumah Yang Nggak Rata-Rata: Tulang Punggung Gaya Hidup Di Bawah Tingkat Penghasilan

Awal tahun 80-an mestinya mal belum berserak seperti sekarang. Di Jakarta sekalipun. Ayah lagi pendidikan di perguruan tingginya polisi masa itu. Bertiga dengan 2 adikku, Ayah bawa kami ke tempat yang seumur 8 tahun hidupku belum pernah kulihat di Gresik dan Surabaya. Kata-kata Ayah terekam di kepalaku, “Ini pasarnya orang kaya.” Pikiran anak-anakku merekam hari…

Cara Murah-Gampang Mendandani Kamar Anak Gadis

Perempuan itu istimewa. Sebagai guru dan budhe aku melebihkan anak perempuan. Sebagai anak aku melebihkan ibuku (walaupun aku lebih berat ke bapakku). Ke orang yang lebih tua, aku melebihkan ibu-ibu dan mbah-mbah putri. Ke yang jauh lebih muda pun aku melebihkan yang perempuan. Ke teman sebaya yang nggak; laki/perempuan kuperlakukan sama. Paling terlihat dalam nadaku…

Cara Hemat Mengindahkan Rumah

Alm. bapakku pensiunan kolonel polisi yang teguh memegang prinsip. Salah satunya: “Kalau tidak laku dijual lagi dengan harga lebih tinggi, jangan beli baru, beli bekas!” Sepanjang hidupnya, kalau ditotal, Ayah 6 kali beli mobil. Nggak ada yang baru, bekas semua. Barang-barang elektronik seperti TV atau kulkas juga nggak mau beli baru. Bagaimanapun aku ini anaknya….

Menekan Belanja Perabotan Dengan Barang Lungsuran Tanpa Jadi Murahan

Tahun lalu aku kehilangan bapak-ibu. Rumah induk 2 lantai-9 kamar-3 gudang jadi hak adikku laki. Dia ingin menjual rumah itu termasuk isinya. Rumah adikku perempuan bahkan tak cukup untuk barang-barangnya sendiri. Nuruti nafsu ngirit gitu kujual aja semua. Uangnya dibagi tiga. Bisa buat tambahan DP rumah. Tapi: bapak-ibuku mengumpulkan barang-barang rongsokan s/d barang-barang nyeni itu…