[Seri Rumah Bahasa] Fasih Dengan Strategis Dalam Berbahasa

Silakan bantah di kolom comment.

Orang-orang kita suka sekali pakai bahasa Inggris untuk mengekspresikan diri atau bikin orang lain (seringnya non-bule) terkesan.

Nggak bisa nyalahkan sih. Harus bilang apa, bahasa Inggris punya nilai prestis tinggi. Aku sendiri diuntungkan sama nilai prestisnya. Sikap dan tatapan mata orang yang pada umumnya melihatku sebagai bukan siapa-siapa karena rupa dan tampilanku terlalu biasa langsung berubah begitu dengar aksenku.

Masalahnya: berbahasa Inggris demi mengekspresikan diri atau mengesankan orang-orang yang salah –yaitu orang-orang yang nggak tahu atau nggak peduli bahasa Inggris kita bagus apa nggak— nggak akan membawa kita kemana-mana. Lupakan soal fasih.

Aku pribadi berkeyakinan, buat apa repot-repot belajar bahasa Inggris kalau bukan buat fasih? Bahasa sehari-hari bukan. Bahasa Qur’an bukan. Bahasa doa-doa shalat juga bukan. Jangan bayangkan fasih level reporter CNN. Konsepku tentang fasih nggak bisa digambarkan dengan cas cis cus. Ini bukan soal seberapa panjang-lebar atau seberapa lancar kita ngomong.

Bayangkan papasan dengan bule yang lagi clingak-clinguk sendirian di gang depan rumah. Bandingkan respon ini:

‘Hi there. I’m Slamet. I live here. Can I help you?’

Dengan ini:

‘Excuse me. Do you need help with the directions?’

Dua-dua respon sama pendeknya. Secara grammar bagus dua-duanya. Dua-duanya menunjukkan niat baik. Bedanya di nafsu berinteraksi dengan si bule. Respon kedua ngasih si bule kesempatan penuh dengan enteng bilang ‘No, thanks’; membiarkan si bule yang memutuskan mau dibantu atau nggak.

Akar dari dua respon itu, kalau dibawa ke tingkatan yang lebih tinggi misal ke meja meeting dengan direktur Asia-Pasifik, yang satu perginya ke arah kiri, satunya lagi ke kanan; ke dua arah yang dampaknya berlawanan meski sama-sama bahasa Inggrisnya, sama-sama lurus secara grammar, sama-sama berangkat dari niat baik. Pengalamanku jadi penerjemah training yang disponsori pemerintah Inggris untuk para guru olahraga SD Surabaya 10 tahunan lalu mungkin bisa mengkonkretkan ideku tentang fasih.

Jadi gini, training diadakan dengan tujuan menyebarkan pesan tentang kemampuan olahraga merubah hidup seseorang sebagai perayaan atas terpilihnya Inggris sebagai tuan rumah Olympiade 2012. Nggak cuma di Indonesia. Seingatku di negara-negara Asia dan Afrika yang secara umum bidang olahraganya kurang digarap. Keseluruhan training dirancang sedemikian rupa demi membekali para guru olahraga sekolah dasar dengan ketrampilan yang mereka perlukan untuk memastikan semua anak, yang cacat sekalipun, bisa memainkan olahraga permainan, self-esteemnya bisa naik dengan pelajaran olahraga. Asumsi dasarnya adalah semua anak bisa menikmati dan berpartisipasi dalam olahraga permainan kalau cara mengajarkannya pakai metode, nggak dipasrahkan ke minat-bakat anak.

Training yang membukakan mata. Aku bilang gitu bukan karena aku paham betul apa yang diomongkan si trainer tapi karena (i) sangat lemah di olahraga. Kecerdasan kinestetikku minggat entah ke mana sejak lahir. Bagiku lulus SMA = bebas dari pelajaran olahraga, Matematika, Kimia dan Fisika. Bukan karena bodoh tapi karena 4 ilmu itu bukan bakat-minat alamiku (ii) Aku sendiri guru. Tiap hari berhadapan dengan orang-orang yang kecerdasan linguistiknya pas-pasan tapi karena satu dan lain alasan harus belajar bahasa Inggris.

Di hari pertama aku sudah langsung ‘Wow!’, langsung ‘Game on!’. Bisa bertahan hampir 12 tahun ngajar ya karena asumsi yang sama: ketrampilan berbahasa Inggris bisa diajarkan ke semua orang. Soal ketrampilan yang kita ajarkan itu nantinya nyampai ke level bisa nulis novel atau nggak memang tergantung minat, bakat dan kesempatan masing-masing individu tapi semua orang bisa diajari bahasa Inggris. Kalau aku berpikir bahasa Inggris hanya untuk orang-orang tertentu ya mana kuat jadi guru di lingkungan skor TOEFL kertas-pensil 475 ke bawah. Selama training aku nggak bisa berhenti bertanya-tanya gimana seandainya guru-guru olahragaku selama SD, SMP dan SMA nggak cuma nyuruh lari keliling lapangan atau keliling sekolah (???)

Yang memprihatinkan: yang tertarik ke apa yang ingin ditransfer lewat training ini adalah si penerjemah, bukan para trainee-nya, bukan manajemen sekolah yang dilibatkan. Aku nggak tahu masalah orang-orang kita apa; fokus orang kita pada mbleset kalau itu sudah menyangkut bule. Trainee, kepala sekolah yang sekolah-sekolahnya dilibatkan dan kepala sekolah-guru-murid sekolah tempat training diadakan sibuk menarik perhatian, membangun pertemanan dengan trainer dan/atau mengesankan mereka. Yang ditanyakan tentang kehidupan pribadi si bule, negaranya, pendapat mereka tentang Indonesia, pengalaman mereka di Indonesia, sibuk bikin acara penyambutan seremonial, bikin panggung seni, kegiatan belajar-mengajar dihentikan supaya para bule bisa masuk ke tiap-tiap kelas dan di sepanjang koridor sekolah disiapkan pameran karya siswa.

Mari kita lihat dampaknya.

Training terdiri dari 3 bagian. Dua training untuk transfer ilmu, satu studi perbandingan yang merupakan bagian dari program follow-up. Trainer yang pertama seseorang yang easy-going. Dia bisa mengimbangi orang-orang kita yang menikmati berakrab-akrab berdekat-dekat dengan orang nggak dikenal apalagi bule. Dia juga nggak spanneng di hasil training. Kurasa dia sudah paham pentingnya nurunkan ekspektasi warga negara dunia pertamanya begitu menginjakkan kaki di negara dunia ke-3 biar nggak edan.

Trainer ke-2 yang bikin semua orang stres. Salah satu trainee (yang paling pintar) bilang padaku dia merasa diremehkan, diperlakukan sebagai seseorang yang nggak tahu apa-apa. Di lain pihak aku bisa lihat si trainer merasa berhadapan dengan orang-orang yang nggak bisa diajari, yang penghargaannya ke ilmu dan guru sangat kurang, yang kemauannya untuk meng-upgrade skill dan kompetensi minus.

Studi perbandingannya sendiri melibatkan lebih banyak bule. Satu sekolah partisipan training dipasangkan dengan satu sekolah di Inggris sana. Kepala sekolah dan guru olahraga sana dikirim ke sini untuk membangun hubungan dan bikin program kerjasama dengan sister school-nya masing-masing di sini. Kepala sekolah yang kudampingi bilang terang-terangan acara penyambutan di sini berlebihan. Malah bikin mereka nggak enak karena mereka nggak akan bisa ngimbangi. Di sana nggak bisa kegiatan belajar-mengajar dihentikan seharian demi bikin acara khusus menyambut kedatangan guru-kepala sekolah dari sini.

Karena dari awal disetel sebagai hajatan sekolah, yang seharusnya diperlakukan sebagai grup master-mind diperlakukan sebagai tamu agung, yang ditunjukkan yang bagus-bagus (bukan kegiatan sekolah sehari-harinya), tertutup sudah pintu diskusi, ruang untuk feedback, tukar-pikiran, brainstorm ide/konsep, membentuk tim, merancang program follow-up untuk setahun ke depan yang serius, yang bukan cuma formalitas.

Harus kutekankan di sini: bisa sampai di kesimpulan 3 paragraf di atas bukan karena bahasa Inggrisku sama baiknya dengan bahasa Indonesia. Kalau ada yang pingin membantahku dengan bilang semua itu bisa dihindari dengan hanya menunjuk guru olahraga dan kepala sekolah yang nggak butuh penerjemah untuk dilibatkan dalam training:

Ada satu kepala sekolah yang nggak butuh penerjemah. Yang dilakukannya sama persis dengan yang dilakukan kepala sekolah yang nggak bisa bahasa Inggris sama sekali, yang segitu terintimidasinya dia bahkan nggak bisa melakukan kontak mata selama omong-omongan dengan kepala sekolah dan guru olahraga dari sister school-nya. Guru olahraga yang paling pintar yang kusebut di atas juga sama aja dengan guru-guru olahraga yang nggak bisa bahasa Inggris sama sekali: minta acara kenalan dan ngobrol santai dengan trainer sebelum masuk ke materi training dan di waktu-waktu istirahat. Semuanya minta di-entertain sama si bule; nggak tertarik ke informasi yang disampaikan di training. Itu karakteristik audiens kita. Ustadz kalau nggak bisa ndagel nggak laku di Indonesia. Acara TV, channel YouTube dan akun medsos yang pasarnya ratusan ribu sampai jutaan itu yang lucu-lucuan.

Kalau harus kumampatkan.

Di kepalaku fasih berhubungan langsung dengan pemahaman bahwa suatu bahasa mewakili suatu budaya. Ada nilai-nilai tertentu yang terkandung di dalamnya. Kegagalan menghormati nilai-nilai itu adalah kegagalan untuk fasih. Kita juga harus selalu ingat bahasa adalah representasi dari sebuah entitas ekonomi-politik yang namanya negara-bangsa. Ada seporsi ‘siapa loe siapa gue’ yang harus kita perhatikan meski kita tuan rumah mereka orang asing. Maksudku jadilah warga negara dunia ke-3 yang berharkat-martabat.

Dengan pondasi fasih yang seperti itu, bahasa Inggris level basic pun ngasih dampak. Keseluruhan training dan studi banding di atas dampaknya akan luar biasa bagi anak-anak SD kita (yang dipilih sekolah-sekolah pinggiran di Surabaya, yang secara umum menampung anak-anak dari kelas bawah) kalau saja para partisipan punya pondasi fasih tadi meski untuk berkomunikasi mereka harus dibantu penerjemah karena mereka akan sibuk bertanya selama training, tentang materi training dan betul-betul memanfaatkan studi banding untuk bertukar-pikiran dan merancang program follow-up. Semua itu bisa dilakukan dengan bantuan penerjemah walau harus kuakui nggak semaksimal komunikasi tanpa perantara.

Selama kita melihat bahasa Inggris sebagai vocabulary + grammar + structure + pronunciation, kita nggak akan bisa menggunakannya untuk menyampaikan “pesan” ke orang asing, untuk dapat kepercayaan mereka, untuk menyediakan informasi yang mereka hargai tinggi, untuk menarik hati dan dapat dukungan mereka, untuk merubah pikiran mereka tentang kita atau tentang apapun/siapapun itu. Pada prinsipnya nggak akan bisa strategis dalam berbahasa Inggris meski bisa ngomong panjang-lebar.

Di postingan berikutnya dari Seri Rumah Bahasa akan kuuraikan cara-cara untuk strategis dalam berbahasa Inggris modal belajar sendiri dari rumah.

Seiring dengan upayaku mengembalikan proficiency-ku ke levelnya 7-8 tahun lalu, harus makin sering dan intens menggunakan skill speaking/writingku. Sudah kubuat page Facebook khusus untuk tujuan ini. Ikuti aku di sana untuk lihat caraku mengasah kemampuan dari rumah secara mandiri modal internet dan media sosial. Sesekali kusisipi caraku mengenalkan bahasa Inggris ke Rafi yang sekarang umur 3 tahun.

Aku pribadi merasa perlu menunggu, memastikan dia punya minat kuat di bahasa sebelum mulai berbahasa Inggris dengannya di rumah. Kalau kurasa minatnya nggak cukup kuat, yang menurutku perlu adalah menunjukkan bahwa mamanya menguasai lebih dari satu bahasa. Soal dia menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau sebagai bahasa asing akan kuserahkan ke dia. Pilihan menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa kedua harus datang dari dalam dirinya sendiri.

Ngomong-ngomong, apa ada yang tertarik dengan topik TOEFL?

[Seri Rumah Bahasa] 3 Prinsip Belajar Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Kedua

Ada lebih dari satu cara untuk melakukan segala sesuatu. Termasuk cara belajar Bahasa Inggris. Kita mungkin harus melalui debat kusir yang sangat panjang dan melelahkan sebelum bisa menyepakati cara efektif belajar Bahasa Inggris. Malah mungkin harus jambak-jambak’an dulu untuk sepakat tentang definisi “efektif”.

Kebanyakan orang pasti mengartikan cara “efektif” sebagai cara yang paling cepat atau yang paling gampang. Sebagian lagi mungkin mengartikan cara yang paling murah. Nah, pemahaman akan cara “efektif” yang luput dari pemahaman mainstream tentang metode belajar Bahasa Inggris adalah cara yang menjamin kefasihan. Luput karena cara yang satu ini, sayangnya, tidak cepat. Bisa dibuat rendah-biaya tapi nggak bisa dicepatkan.

So, if you’re looking for someone to show you how to master English in 3 months, you’re in the wrong site.

Tapi bagi yang mencari tip belajar Bahasa Inggris rendah biaya yang akan mengantar pada fasih: Welcome to the club!

Berikut adalah tiga prinsip dasar yang harus dipatuhi selama mempelajari Bahasa Inggris kalau yang kita kejar adalah menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.

Rule#1: Spend more time working on the basic

Yang kumaksud basic di sini: basic grammar dan structure. Tapi tolong: yang kumaksud bukan menghabiskan bertahun-tahun mengerjakan soal basic grammar atau menghapal rumus rupa-rupa tense (yang ngalah-ngalahi jajan pasar) itu.

Struktur dan tata bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sama aja. Ketika kita belajar bahasa Jawa, yang kita pelajari hanya kosakata dan yang berkaitan dengan kosakata seperti pelafalan. Untuk bicara dalam Bahasa Jawa cukup dengan mengganti kata-kata bahasa Indonesianya. “Saya mencari anak-anak” jadi “Kulo madhosi lare-lare”; empat kata jadi empat kata juga. Tapi kalau makna itu kita katakan dalam bahasa Inggris, “I’m looking for the kids”, jumlah katanya nambah, jadi enam.

  1. Ada tiga aturan bahasa dalam kalimat itu yang nggak ada dalam bahasa Indonesia:
  • Tense; nyari anak-anaknya kemarin atau sekarang atau tiap hari nggak merubah bentuk kata kerjanya, tetap “mencari”
  • Phrasal verb; “look” kalau ketambahan “for” berubah maknanya; dalam bahasa kita kata depan nggak sebanyak dalam bahasa Inggris dan hanya digunakan dengan kata benda
  • Definite article; kata “si” dan “sang” kurang-lebih bisa lah menggantikan kata “the” tapi hanya dalam konteks tertentu karena dua kata itu nggak punya fungsi menunjuk “the“; “I’m looking for kids” artinya sudah beda dengan “I’m looking for THE kids“.
  1. Ada satu aturan yang beda dengan bahasa Indonesia: untuk menunjukkan jumlah lebih dari satu kita mengulang bendanya, mereka dikasih akhiran “s/es” dan banyak aturan bentuk jamak lain yang kalau dibandingkan dengan aturan bahasa Indonesia tentang tunggal/jamak kesimpulannya cuma ruwet.

Yang harus kita pahami, aturan-aturan ini bukan untuk dihapal melainkan untuk ditanamkan di kepala tanpa sadar. Jadi jangan bosan hari ini baca tulisan pendek tentang habit, besoknya mewawancarai teman tentang hobinya, besok bikin to-do list, besoknya lagi merespon pertanyaan “Tell me about yourself”; sampai 3 bulan mutar aja di situ karena sesungguhnya yang sedang kita lakukan adalah menanamkan aturan-aturan simple present tense tanpa sadar supaya kalimat seperti “I’m study at Airlangga University” nggak sampai keluar dari mulut. Juga supaya nggak perlu loading dulu untuk bilang “I don’t have his address. Does Nita have his number?” Orang yang nggak cukup lama menghabiskan waktu belajarnya di tingkat dasar pasti kesulitan bikin dua kalimat itu tanpa mikir atau tanpa salah. Yang harusnya ‘don’t’ jadi ‘not’ polosan, ‘his’ jadi ‘her’, ‘does’ jadi ‘do‘, ‘do‘ jadi ‘is‘, dan seterusnya.

Jadi bersabarlah, makin lama kita menghabiskan waktu di tingkat dasar (=menjalani latihan yang berbeda-beda yang tingkat variasinya sangat tinggi untuk tiap-tiap satu aturan bahasa), makin mulus juga perjalanan kita ke tingkat mahir.

Tip: Buat catatan harian untuk meaningful drill menerapkan simple present, simple past dan future tense. Jangan mempelajari tense lain sebelum menguasai tiga itu.

Rule#2: Mind your level of exposure

Pernah lihat orang kita dengar presentasi 30 menitnya orang bule via video YouTube dan si orang kita ini bisa menangkap satu per satu kata? Pernah terpikir berapa jam terbang listening-nya untuk bisa sampai ke level itu? Atau seseorang yang menamatkan buku berbahasa Inggris setebal bantal tanpa sekalipun nengok kamus? Pernah terpikir berapa jam terbang reading-nya?

Ditarik ke tingkat yang sangat sederhana, seseorang bisa menguasai sebuah bahasa, mau itu bahasa ibu atau bahasa asing, karena terpenuhinya dua syarat ini di titik tinggi:

  1. The level of exposure>>>tinggi
  2. The need to communicate>>>sama tingginya

Karakteristik umum pembelajar Indonesia adalah kelewat bernafsu ngomong Inggris. Maunya yang ada di kepala bisa langsung “ceprut!” keluar dari mulut. Nggak cukup sabar mengumpulkan jam terbang mendengar dan membaca.

Iya, benar, kemampuan pasif (listening/reading) sebagus apapun nggak ada artinya tanpa kemampuan aktif (speaking/writing) tapi itu sama sekali bukan berarti kalau kita “Hajar Bleh!” ngomong Inggris lama-lama pasti fasih. Cara itu hanya bisa diterapkan kalau kita hidup di lingkungan native di mana respon/feedback yang kita terima atas penggunaan bahasa Inggris kita sifatnya jujur dan segera. Contoh: nggak bisa melafalkan “egg” dengan benar saat naruh pesanan di McD sampai kasirnya hah-heh ya harus siap malu dan siap diomeli orang banyak karena nahan antrian.

Jadi bersabarlah, banyakkan jam terbang membaca dan mendengar sembari melakukan latihan ngomong dan nulis yang terkendali (=yang didasarkan pada apa yang kita baca dan dengar, bukan dari apa yang kita pikirkan atau rasakan). Buku-buku pegangan program General English disusun dengan mengingat prinsip ini.

Tip: Jangan ambil program Conversation sebelum menyelesaikan paling tidak level Intermediate program General English.

Rule#3: Get strategic with your communication

Jangan merasa cukup dengan “pokoknya yang diajak ngomong ngerti”. Untuk bisa ngobrol santai dengan bule nggak perlu bahasa Inggris bagus. Bikin tweet, caption atau status medsos juga nggak perlu fasih. Tapi: untuk bisa “dianggap” sama direktur tingkat Asia-Pasifik yang lagi kunjungan inspeksi di meja meeting perusahaan cabang tempat kita bekerja, haruskah kujelaskan?
Yang sungguhan pingin bisa, cari lah tujuan-tujuan berkomunikasi yang bikin kita pusing.

Lebih jauh soal ini kusimpan untuk postingan berikutnya.