Tentang Rinda Sukma

Nggak ada financial planner profesional yang mau mendalami keuangan rumah tangga kurang dari 10 juta.

Apalagi yang mau atau bisa ambil sudut pandangnya IRT yang harus menanggung beban terberat dalam keuangan pas-pasan. Dipegangi uang gaji <10 juta suami yang tolong diingat nggak lantas jadi hak milik karena sepaket dengan tanggung-jawab mencukupkannya untuk kebutuhan seluruh anggota keluarga tanpa punya penghasilan sendiri sebagai back-up sembari menaati (=mematuhi perintah/menuruti permintaan/mendahulukan kehendak) suami sesungguhnya mengkompromikan kesehatan mental perempuan.

Blog ini kudedikasikan untuk IRT-IRT yang urat syarafnya bak senar gitar disetel kekencengan: putusnya tinggal nunggu.

Pengalamanku 8 tahun berumah tangga dengan tingkat penghasilan UMR sudah cukup membuktikan jawabannya tidak sesederhana ‘Ya naikkan penghasilan!’. Juga tidak segampang ‘Ya jangan boros!’. Aku tidak menemukan pertolongan yang kucari di sabar dan syukur. Aku menemukannya di ‘Lakukan dengan ilmu’.

Sampai 3 tahun lalu keuangan rumah tanggaku tipikal keuangan pas-pasan. Gaji cuma mampir lewat. Hitung-hitungannya sudah habis sebelum uangnya sampai di tangan. Pemasukan bulan ini habis buat pengeluaran bulan ini. Kadang sudah habis sebelum ganti bulan. Tanggal-tanggal tua mesti ngempet. Kalau toh bulan ini bisa surplus (sedikit), bulan depannya yang defisit. Upaya nabung bak ngisi ember bolong-bolong; nggak bisa ngumpul. Butuh uang lebih dari sebulan gaji, aduh, jangankan sebulan gaji, butuh uang separuh gaji aja harus minta tolong PT Penggadaian Persero. Yang aku nggak tahu rasanya: separuh gaji habis buat cicilan.

Nggak punya cicilan karena nggak pernah bisa punya uang buat DP…

Butuh satu tragedi keluarga, satu keputusan berani dan 1.5 tahunan menjalani gaya hidup korat-koret untuk bisa membalik keadaan. Rentetan kesulitan hidup yang mengantarku pada #debtfreecommunity di Instagram yang kemudian mengantarku pada Dave Ramsey. Dia lah guruku. Menyimak ajarannya, menerapkannya dalam batas kemampuanku, alhamdulillah, sejak bebas hutang Januari tahun lalu –meski nggak langsung bulan depannya– neraca rumah tanggaku berhenti defisit laten termasuk di bulan Lebaran (bahkan ketika gaji suamiku minus uang lembur), bisa punya tabungan yang saldonya terus nambah, bisa putus hubungan dengan Penggadaian.

Gitu aja rasa lapangnya masya Allah…

Perasaan sempit (uang) di jaman kita ini mem-buthek-kan pikiran dan mengerdilkan hati. Merembet ke mana-mana. Ya gimana nggak coba? Untuk pipis pun harus punya uang. Jadi kalau aku merasa tidak menemukan jawaban di sabar dan syukur, itu bukan karena defisiensi iman tapi karena standar hidup kelas menengah kota yang jadi mainstream nggak terjangkau oleh keuangan rumah tangga kurang dari 10 juta. Untuk memperbaiki keadaan jangan sabar dan syukurnya yang dipertanyakan tapi garap angka <10 jutanya atau ekspektasi kelas menengahnya. Kita harus bikin standar kelas menengah kita sendiri.

Di sebelah sini yang aku harus putar otak karena guruku Dave Ramsey bukan IRT keuangan upah minimum negara dunia ketiga. Aku tanya ke Dave gitu paling disemprot, “Apa gunanya ijazah S1-mu?”

Yang mengantarku pada pemahaman baru akan sabar dan syukur:

Bersabar dalam perjuangan memperbaiki keuangan rumah tangga tanpa pekerjaan bergaji (karena dihalangi suami ataupun atas kehendak sendiri) dan bersyukur atas keberanian berenang melawan arus konsumtif jaman modern.

Mulialah dari rumah,