4 Hal Mendasar Yang IRT Mantan Karyawan Harus Tahu Sebelum Merintis Penghasilan Tambahan Dengan Jualan

Kapasitasku ngomong soal jualan bukan dalam hal melariskan dagangan atau gimana supaya bisa punya penghasilan dari jualan yang nominalnya setara dengan gaji teman kuliah yang manajer. Soal itu harus tanya orang lain.

Pemasukan dari gaji sangat berbeda dengan pemasukan dari jualan. Ada beberapa hal mendasar yang harus ngendap dulu di kepala supaya jualan nggak bikin kita yang tadinya karyawan teladan merasa gagal jadi manusia.

SATU: Penghasilan dari jualan mensyaratkan streams of income karena masuknya uang nggak bisa kita pastikan kapannya.

Jualan apapun pasti ada bulan-bulan sepi. Beda sekali dengan gaji. Untuk menjaga kelancaran cashflow sekaligus motivasi, kita harus punya lebih dari satu macam produk barang dan/atau jasa.

Aku memilih nggak terikat ke kursusan per 2007 karena pingin ambil spesialisasi in-company training. Nggak bisa. Meski honornya tinggi, pemasukan dari in-company training nggak tiap bulan ada. Untuk meng-ajeg-kan pemasukan suka nggak suka harus melayani permintaan privat, TOEFL prep singkat kelas kecil (1-4 org) maupun kelas besar (sampai 100 org), TOEFL prep 4-24 sesi tergantung permintaan, ngisi workshop, jadi pembicara di seminar guru TK sampai jadi penerjemah.

Lek Ni-ku jual Nasi Pecel depan SD. Di ruang tamunya jual barang sachetan. Pas Lebaran, jual Rujak Cingur di teras rumah. Itu masih lagi terima permintaan rewang (bersih-bersih dan cuci piring) kalau ada tetangga atau saudara yang hajatan.

Semua blogger Barat yang ku-follow punya lebih dari satu sumber pemasukan. Ada yang jual kartu ucapan di situsnya, di pameran, dititipkan ke toko-toko, terima sponsored posts, jadi affiliate, terima jasa desain sampul buku dan jasa fotografi. Ada yang jual kursus dan workshop, tas popok, planner, jadi affiliate, jadi pembicara. Ada yang jual program coaching, beli barang di thrift shop untuk dijual lagi di eBay. Macam-macam. Makin besar skala bisnisnya (mempekerjakan karyawan, punya kantor, inventaris, gudang), makin banyak macam juga produknya. Memang harus seperti itu untuk bisa bertahan.

DUA: Hadapkan wajah ke skill-set jualan dan pasar, bukan ke modal.

Yang harus digarap pertama kali itu kemampuan dapat pembeli; meyakinkan orang untuk beli dengan satu atau lain cara. Itu skill yang harus diasah. Aku baru bisa meyakinkan org yang survey untuk nyewa rumahku setelah 3 tahun!

Aku harus kuat-kuatan nahan nafsu merubah kamar pavilyun jadi toko, teras samping jadi cafe. Ada saudara nawarkan modal untuk buka toko. Satu lagi nawarkan modal sekaligus skill nukang artistik untuk buka cafe. Aku bisa telpon ngajukan proposal lisan ke adik ipar sekarang, uangnya kuterima 15 menit kemudian. Tiga kali datang kesempatan memodalinya sendiri. Nggak kulakukan karena noko dan/atau ngafe belum jelas untung-ruginya padahal modalnya nggak cukup 1-2 juta.

Jadi kubilang ke diri sendiri, baiklah, pegang itu mimpi punya toko dan/atau cafe artistik tapi jangan langsung habis-habisan di depan. Mulai dulu di Shopee. Lihat dulu bisa nggak me-laku-kan barang yang bukan barang bekas. Kalau itu dah bisa, bisa nggak merutinkan uang masuk dari menjual barang yang bukan barang bekas. Kalau itu dah bisa, bisa nggak menghasilkan laba yang layak dibelani (=ambil resiko ngeluarkan modal yg lebih besar). Gitu juga dengan cafe. Kalau Rafi dah bisa diajak ngeladeni pembeli, coba jual mi sama minuman anget di teras. Kecil-kecilan aja, 3-4 meja, buka hanya di akhir pekan. Lihat animonya.

Modal besar sama sekali nggak bikin kerja menghasilkan laba jadi lebih gampang. Paling nggak di tahap merintis, setialah di jualan yang nggak butuh modal besar, yang bisa di-cashflow sama pemasukannya seperti jualan Nasi Pecel depan sekolahannya Lek Ni; jualan besok dimodali hasil jualan hari ini.

Kalau punya tabungan atau dapat uang warisan puluhan-ratusan juta, prioritaskan untuk dana darurat, dana pendidikan tinggi anak atau dana pensiun. Kalau belum punya rumah ya buat DP. Boleh ambil sebagian untuk modal kulakan atau usaha rumahan tapi jangan banyak-banyak. Lebih-lebih kalau jualannya atau usaha rumahannya belum jalan seperti mimpi toko dan/atau cafe-ku.

Sah-sah aja memelihara hasrat membara jadi IRT sarjana bintang lima dengan kerja dagang atau usaha rumahan. Akan tetapi, demi kebaikan rumah tangga kita sendiri, pastikan memulainya dengan menggarap kemampuan menjual, mengenali segmen pasar dan membangun keunggulan kompetitif. Kalau yang kita kejar skill-set dan pasar, bisa kita lakukan dengan sedikit bahkan tanpa modal.

TIGA: Yang ini pengalaman pribadi yang diteguhkan pengamatanku sejak masih gadis:

IRT yang mulai jualan dengan niat tulus memenuhi kebutuhan rumah tangga biasanya bertahan lama –dan berkembang– meski nggak sangat menikmati jualan, meski modalnya nekad. Kuperhatikan kesanggupan mereka bersusah-payah jauh melampaui mereka yang motifnya membuktikan diri (khususnya ke suami) atau demi punya uang yang bisa dibelanjakan sekehendak hati.

Ikhtiarku punya penghasilan yang bukan gaji sudah kumulai sejak masih gadis tapi porsi egonya, nafsu membuktikan diri aku bukan guru les biasa, kelewat besar. Nafsu membuktikan diri itu makin menjadi setelah nikah mengingat suamiku pekerja pabrik. Yang ada penghasilanku terus turun sejak nikah. Cabang franchise yang kurintis dengan teman terus merugi sampai akhirnya harus tutup. Beda sekali dengan ikhtiarku menjual barang tinggalan/lungsuran dan menyewakan rumah yang kutinggali –jadi nggak ada keren-kerennya sama sekali– yang betulan demi menjaga rumah tanggaku dari kelilit hutang. Meski nggak keren, uangnya sedikit, kontribusinya ke keuangan rumah tanggaku terasa sekali.

Ibu sahabatku di jaman kuliah nggak pernah minta uang ke suaminya sejak H1 jadi istri karena nggak bisa aja disuruh minta. Semua pengeluaran langsung dari kantong suami. Begitu gajian suaminya belanja sembako buat sebulan. Bapak sahabatku ini tipe suami yang megangi hanya uang lauk-pauk harian ke istri. Karena istrinya nggak minta, nggak dikasih.

Ibu temanku cari uang sendiri. Mulai dengan terima jahitan. Prinsip kerjanya ‘ambil apa yg bisa dikerjakan dan menghasilkan uang’. Dari situ merambah jadi perias manten, menjahit kebaya manten, menyewakan pelaminan termasuk jasa dekornya dan terima pesanan nasi kotakan. Hanya di lingkungan sekitaran rumahnya tapi dari situlah masuknya uang belanja lauk-pauk sekeluarga.

Yang awalnya sekedar cari uang lauk-pauk supaya nggak perlu minta suami, setelah sekian tahun berkembang jadi penghasilan, nerus sampai setelah suaminya yang non-PNS pensiun.

EMPAT DAN TERAKHIR: Upaya nambah pemasukan harus didampingi upaya sungguh-sungguh mengelola pemasukan yang sudah ada. Entah itu gaji suami atau uang bantuan orang tua nggak peduli sekecil apapun itu yaitu dengan:

Hidup dengan anggaran. Merencanakan semua pengeluaran. Melakukan yang perlu –meski kita nggak suka, meski kita nggak mau– supaya anggaran yang kita buat jalan. Catat semua pengeluaran untuk mengevaluasi anggaran yang kita buat.

Selama pemasukan dari jualan masih terlalu kecil, nggak apa uangnya dicampur dengan gaji suami tapi sendirikan catatan pemasukan-pengeluaran rumah tangga dengan catatan pemasukan-pengeluaran jualan. Nggak perlu pembukuan yang njlimet a la Microsoft Excel. Notes smartphone cukup. Yang penting terpisah.

Kasih tugas yang jelas; pemasukan dari suami buat pengeluaran apa, pemasukan dari jualan buat apa, pemasukan dikasih orang tua buat apa. Patuhi pembagian tugas itu. Sebisa mungkin menghindari ‘uang apa yang ada itu yang dipakai dulu’. Sama-sama uangnya tapi nggak sama keterandalannya. Uang dari njuali barang bekas kita sendiri jangan diserahi tugas mbayar listrik meski nominalnya cukup. Hukumnya: pengeluaran rutin-wajib jangan diserahkan ke pemasukan yang nggak bisa diandalkan.

Kalau suami-istri punya pemasukan sendiri-sendiri (atau pegang uang sendiri-sendiri), bikin pembagian tanggung jawab yang jelas dan tegas, yang nggak tumpang-tindih, satu pos pengeluaran jadi tanggung jawab penuh satu orang. Bicarakan pembagiannya, rundingkan. Asas tahu sama tahu, ngerti sama ngerti tanpa ngomong bukan untuk suami-istri. Paling nggak bukan untuk suami-istri di alam manusia. Asas itu untuk pasangan suami-istri di Alam Jin. Mereka yang bisa mbaca pikiran suami/istrinya. Juga jangan ragu mengurangi kendali atas gaji kalau itu berarti tanggung jawab kita juga berkurang. Total uang yang keluar dari 40 pos pengeluaran rumah tangga biasanya jatuhnya lebih sedikit kalau tanggung-jawabnya dibagi di antara 2-4 org dibanding kalau 40-40-nya dikendalikan satu orang yang sama sehemat apapun dia.

Untuk keuangan yang lebih baik,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s